JSF CRUD dengan Hibernate (Bag. 1)

Database kuliah.sql

Pertama-tama buat database dengan nama kuliah yang memiliki tabel dosen, mahasiswa dan mata kuliah. Silahkan isi data tabel tersebut.

CREATE TABLE `dosen` (
  `nidn` varchar(10) NOT NULL,
  `nama` varchar(50) NOT NULL,
  `jk` char(1) NOT NULL,
  `alamat` varchar(50) NOT NULL,
  PRIMARY KEY (`nidn`)
)

CREATE TABLE `mahasiswa` (
  `nim` varchar(10) NOT NULL,
  `nama` varchar(50) NOT NULL,
  `jk` char(1) NOT NULL,
  `alamat` varchar(50) NOT NULL,
  PRIMARY KEY (`nim`)
)

CREATE TABLE `matakuliah` (
  `kode` varchar(10) NOT NULL,
  `nama` varchar(50) NOT NULL,
  `sks` int(1) NOT NULL,
  PRIMARY KEY (`kode`)
)

New Project: KuliahCRUD

Versi yang digunakan dalam program ini adalah IDE NetBeans 7.1.2 dan server Apache Tomcat 7.

Buat New Project dengan memilih File > New Project. Pilih Web Application.1

Beri nama Project Name: KuliahCRUD dan simpan di default location.2

Pilih JavaServer Faces dan Hibernate karena kita akan menggunakan dua framework tersebut. Pilih Database Connection dengan nama kuliah yang sudah kita buat tadi.3 Continue reading

Advertisements

Rapuh

Sejak Rabu lalu (20/02) ketika saya mengetahui ketidaktepatan penggunaan metode clustering dalam tesis saya, saya merasa benar-benar down. Tiba-tiba saya menjadi blank. Entahlah…

Ini adalah hari ke-5 dan saya juga tidak melakukan aktivitas belajar JSF seperti biasa. Sekarang, ketika saya kembali belajar, banyak hal yang harus saya ingat-ingat kembali. Ini urusan coding dan memperlajari bahasa pemrograman baru. Jadi, jika tidak serius dan konsisten dalam belajar, maka sekeras apapun kita belajar di tahap sebelumnya, kita akan mudah untuk menjadi lupa. Saya merasa sangat kesal dengan diri sendiri. Saya hanya merasa rapuh saja. Saya ingin hal ini cepat berakhir.

Sudahlah, mari kita ulangi lagi belajarnya.

Berpikir Ala Fotografer

Penting juga sepertinya berpikir ala fotografer.

Sebelum menekan tombol “klik”, apa yang hendak kita “capture” dalam sebuah frame sudah ada di benak kita.

Gambaran besar selalu ada sebelum kita mengeksekusi sesuatu.

Saya pikir, hidup juga haruslah seperti itu.

Kita mengarahkan pikiran kita pada hasil akhir apa yang akan kita ciptakan 🙂

*ditulis di Kongkalikong, Dine & Coffee House*

kongkalikong

Malam Sincia Tanpa Keluarga

makan bersama

Tidak bisa dibohongi ada rasa “gregetan” ketika malam ini, malam yang saya “stabilo” sebagai malam terpenting dalam 1 tahun tidak saya lewati bersama keluarga. Malam ini adalah malam pertama dalam 26 tahun hidup saya dimana saya merayakan Sincia tanpa makan besar bersama keluarga.

Namun, si om Lio yang baik hati bilang daripada saya galau di malam 30, lebih baik ikut makan bersama para pemuda+pak Aruji hahahaha akhirnya, pergilah saya ngumpul bersama mereka. Makan besar juga toh 😀

Pulangnya kita makan duren di Timoho. Malam ini, menyenangkan 🙂 Saya melewatinya dengan nuansa baru dan esok hari pun, saya akan mengikuti pertemuan Sincia pertama bersama keluarga besar Gakkai, sementara teman-teman kampus saya berencana mendaki Gn. Nglanggeran. Wow 🙂

Sandal Jepit

sandal jepit

Saya membaca berita tersebut di surat kabar pagi ini. Dua hari lalu, saya juga membaca topik berita yang serupa di detik.com dan di facebook salah satu dosen UGM.

Saya sendiri termasuk dalam golongan pencinta sandal-jepit. Ke mana-mana bila perlu pakai sandal saja. Namun, kita hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki nilai dan aturan. Tentu saja kita tak bisa seenaknya sendiri, karena apa yang kita anggap benar belum tentu tepat menurut norma masyarakat.

Terlepas dari urusan tersebut, hanya satu hal saja yang ingin saya pastikan dalam diri saya, yaitu: Ketika kita berpakaian rapi, artinya kita menghargai lawan bicara kita*, menghargai forum yang kita ikuti dan tempat yang kita datangi. Jadi, bentuk penghargaan kita pada orang lain salah satunya ditentukan dari cara berpakaian kita.

Sekali lagi, ini bukan tentang “aku”, tapi tentang “kamu” – bagaimana aku menghargai kamu. Itu saja 🙂

———-

*hasil seminar Seko Ong