Fisioterapi: Arus Paradik dan SWD

swd

sedang di-swd

“Stress is a reaction, not situation… so you can choose not to react”. Saya selalu mengingat kata-kata tersebut. Maka, saya memilih untuk menghadapi semua yang terjadi dengan gembira seperti sebuah petualangan yang menantang :)

Saya tidak mau menganggap bahwa sakit membuat saya menderita karena masih banyak orang lain yang “lebih layak menderita” dibandingkan saya. Sakit membuat saya lebih mensyukuri hidup dan membuat semakin sadar bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung dikelilingi oleh teman-teman baik dan orang tua yang selalu sabar :)

Hari ke-6 ini, dokter mengatakan bahwa kondisi saya cepat pulih. Senyum saya tidak terlalu miring lagi, ujarnya. Kegembiraan lain saya rasakan ketika dokter mengatakan bahwa dosis obat akan dikurangi dan saya bisa mulai fisioterapi.

Saya mengatakan pada dokter bahwa saya sangat jarang mandi malam, terkena kipas angin langsung apalagi AC dan juga hampir selalu memakai helm full face, namun… saya bilang ke dokter bahwa saya suka mendaki gunung dan menyukai dinginnya angin di alam bebas, terutama daerah pegunungan.

Gubrakkk hahahaha dokter bilang dia mau mendaki Gn. Rinjani, kemungkinan besar itulah penyebabnya. Gangguan di syaraf 7 ini bisa jadi karena sewaktu angin yang masuk melalui telinga menuju syaraf 7 terjepit, makanya mengakibatkan gangguan fungsi wajah terutama tersenyum. Beneran loh, syaraf 7 itu hubungannya dengan senyum. Ada banyak sekali referensi di Internet tentang 12 syaraf wajah dan bell’s palsy. Monggo di-searching saja.

Hari ini, saya akan fokus menyampaikan informasi treatment yang sedang saya jalani setiap hari hingga 2-3 minggu ke depan, yaitu arus paradik dan swd (Short Wave Diathermy).

memo

Electrical Stimulation: Arus Paradik

Saya membaca karya tulis yang dibuat oleh salah satu mahasiswa D3 Akademi Fisioterapi Widya Husada Semarang dengan judul: Penatalaksanaan Fisioterapi pada Bell’s Palsy Kiri dengan Modalitas Electrical Stimulation dan Message atau bisa lihat proposalnya di sini.

Arus Paradik ini merupakan salah satu metode dari electrical stimulation. Pada bagian akhir, penulis menyimpulkan bahwa:

Electrical Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat menimbulkan kontraksi otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh gerak  yang normal serta bertujuan untuk mencegah/memperlambat terjadinya atrofi otot. Pada kasus Bell’s Palsy ini rangsangan gerak dari otak tidak dapat disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi. Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk menimbulkan kontraksi otot. Rangsangan arus faradik yang dilakukan berulang- ulang dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk melakukan gerakan sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai fungsinya.

Saya tidak menemukan efek negatif treatment arus paradik terhadap wajah dalam karya tulis tersebut. Namun, di karya tulis kedua yang saya baca tentang Peran Fisioterapi terhadap Bell’s Palsy, saya menemukan “efek samping”nya.  Di bawah ini adalah pengertian dari arus paradik berdasarkan karya tulis tersebut:

Stimulasi listrik adalah teknik yang menggunakan arus listrik untuk mengaktifkan saraf penggerak otot dan ekstremitas yang diakibatkan oleh kelumpuhan akibat cedera tulang belakang (SCI), cedera kepala, stroke dan gangguan neurologis lainnya.

Dalam pengertian tersebut, sebenarnya tidak dianjurkan melakukan stimulasi listrik (arus paradik) pada wajah karena dapat merusak otot-otot wajah yang halus. Ini kutipan selanjutnya:

Tidak ada ruang bagi penggunaan arus faradik pada wajah karena bisa menyebabkan kontraktur sekunder pada wajah. Selain itu, sebagian besar pasien merasa tidak mampu menahan nyeri  pada wajah karena stimulasi sensorik yang tidak nyaman. Hal  ini dikarenakan bahwa arus faradic memiliki frekuensi 50 siklus per detik, sehingga menghasilkan kontraksi tetanik pada otot-otot yang terangsang. Meskipun untuk saat ini adalah kontraksi otot arus faradic melonjak untuk menghasilkan kontraksi alternatif dan relaksasi namun berhubung tipe tatanik pada kontraksi yang menghasilkan 50 pulse hanya dalam satu detik, tidak diperlukan pada wajah. Otot-otot wajah yang sangat tipis dan halus dan tidak bisa mentolerir jenis arus ini yang dapat merusak dan menghasilkan kontraktur sekunder. Jika kontraktur sekunder terjadi, semua bentuk stimulasi listrik harus ditinggalkan sementara untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada otot. Wajah harus segera direnggangkan dan dipijat lembut.

Nah loh, harus bagaimana jadinya? Nanti saya tanya dengan dokter-dokter yang saya kenal dulu ya :D

Terakhir, ada satu referensi yang menyebutkan tidak apa-apa melakukan stimulasi listrik ini jika masih dalam tahap awal karena hal tersebut tidak akan merusak syaraf.

Pemberian terapi dengan stimulasi dengan arus galvanic ini dilakukan dua minggu setelah penderita mendapat serangan, hal ini dilakukan mengingat proses awal regenerasi saraf berlangsung, kurang lebih 14 hari onset serangan awal, sehingga pemberian terapi ini tidak akan merusak saraf yang akan melakukan perbaikan sendiri (Self Regeneratif).

Tujuan diberikan stimulasi listrik ini adalah untuk mencegah terjadinya atropi otot dan memperkuat otot yang masih lemah, setelah proses regenerasi selesai. Daerah yang distimulasi adalah titik-titik penggerak (motor point) dari otot-otot wajah yang terkena lesi.

Pemanasan: SWD (Short Wave Diathermy)

Apabila terjadi panas menggunakan Micro/Short Wave Diathermy, maka daerah yang menjadikan fokus penyinaran adalah daerah tulang Mastoideus, dimana terjadi jebakan syaraf dan inflamasi oleh jaringan disekitar kanalis yang mengalami pembekakan, diharapkan dengan adanya penyinaran ini, mampu mempercepat proses inflamasi, dengan resorbsi cairan radang, sehingga penekanan saraf tidak terlalu lama. (sumber)

Celoteh Akhir

Dua treatment yang saya jabarkan di atas tersebut mewakili dua cara menyembuhkan Bell’s Palsy ala fisioterapis. Arus paradik untuk stimulasi listrik dan SWD untuk pemanasan. Cara ketiga adalah dengan message/latihan.

Massage pada wajah dapat dilakukan sedini mungkin, begitu penderita mendapatkan serangan, hal ini berguna selain melancarkan sirkulasi darah, juga membantu mengurangi rasa tebal dan menjaga kondisi fisiologis otot wajah.

Latihan yang dimaksud disini adalah menggerakkan otot-otot wajah yang lemah sesuai dengan fungsinya, misalnya mengerutkan dahi, mendekatkan ujung alis kanan dan kiri (ekspresi wajah), memejamkan mata, mengangkat sudut bibir dan lain-lain gerakan pada wajah. Latihan ini harus sering dilakukan oleh penderita, baik ketika berada di rumah maupun saat sedang menjalani fisioterapi.

Setiap penderita Bell’s Palsy dianjurkan untuk melakukan perawatan sendiri di rumah sesuai dengan yang telah diajarkan saat dilakukan fisioterapi. Latihan, massage dan kompres hangat pada sisi wajah harus dilakukan minimal sehari dua kali. Hal ini untuk membantu melancarkan sirkulasi darah, sehingga rasa tebal pada sisi yang lemah bisa berkurang, selain juga menjaga kondisi fisiologis otot. Dianjurkan pula bagi penderita pada saat latihan sebaiknya di depan cermin, sehingga dapat mengetahui derajat kelemahan dan selalu dapat mengevaluasi dan memonitor setiap peningkatan kekuatan ototnya.

Ayo kita sembuhkan perlahan-lahan penyakit ini dengan latihan wajah yang konsisten, terapi listrik dan panas, juga minum vitamin otak (kortikosteroid). Dokter bilang, penyakit ini akan sembuh total dalam waktu 6 bulan. Wow! Sebuah petualangan yang panjang! Namun, teman saya bilang, 1-2 bulan juga bisa sembuh, malahan ada yang bilang bisa sembuh dalam 3 minggu. Jadi, siapa yang akan menentukan kita sembuh dalam berapa lama? :D

.

.

.

.

nb: boleh-baca-boleh-tidak.

Saya sempat konsultasikan lagi apakah Bell’s Palsy ini bisa diakibatkan oleh gigi geraham saya yang tidak tumbuh sempurna. Jawaban dari teman saya yang dokter gigi adalah: tidak, karena gigi geraham bagian bawah menyebabkan gangguan syaraf 5. Neurologist (dokter syaraf) saya tadi setelah saya perlihatkan foto dental juga mengatakan hal yang sama. Jadi, sudah 3 dokter yang mengatakan tidak ada masalah dengan gigi geraham saya. Saya akan pending dahulu urusan gigi geraham ini :)

Saya infokan sedikit tentang gigi geraham dari hasil obrolan semalam via WhatsApp dengan teman saya. Siapa tau berguna :D

Dia bilang biasanya kita cabut gigi geraham bungsu karena: nyeri terus menerus, posisi tumbuh abnormal, menyebabkan karies gigi sebelahnya dan menyebabkan kista/tumor.

2 thoughts on “Fisioterapi: Arus Paradik dan SWD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s