Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy

Semalam, ketika sedang daimoku, entah mengapa tiba-tiba saya teringat beberapa gejala tak biasa yang telah terjadi dalam beberapa hari ini. Seketika saya searching di Google dengan kata kunci “muka kebas” dan terkejutlah saya menemukan satu artikel yang membahas tentang penyakit “Bell’s Palsy (BP)” yang sering dikait-kaitkan dengan stroke ringan padahal bukan sama sekali.

Kontradiksi dari rasa terkejut saya adalah rasa sangat bersyukur karena saya menyadari penyakit ini ketika masih dalam tahap awal. Tiga atau empat hari lalu, belakang telinga kanan saya nyeri ketika dipegang dan saya memeriksakannya ke dokter gigi seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Ternyata, itu bukan masalah gigi, tapi gejala pendahulu dari penyakit BP. Saya merasa mata sebelah kanan saya berbayang ketika membaca teks di buku dan layar TV. Lidah sisi kanan saya juga tidak dapat mengecap dengan baik. Puncak kekhawatiran saya adalah ketika sedang berkumur dan airnya tumpah sendiri melalui bibir sisi kanan saya. Ketika membasuh muka pun, saya kesulitan menutup rapat mata kanan saya sehingga kemasukan air.

Sembari daimoku dan membaca artikel “Bell’s Palsy”, saya mempraktekkan semua gejalanya, termasuk bersiul dan betapa terkejutnya ketika saya tidak bisa melakukan hal tersebut. Sesaat saya menghentikan daimoku dan segera berkaca. Saya coba tersenyum dan BLANK! Senyum saya tidak simetris. Saya membuka mulut lebar-lebar (baca: mangap), pun sama saja. Bibir saya miring ke kiri. Saya coba mainkan hidung saya dan saya tak bisa merasakan hidung sisi kanan bila digerakkan. Saya mulai menekan semua bagian wajah kanan saya dan terasa nyeri di beberapa tempat, terutama tulang pipi dan alis mata. Dari semua bacaan dan uji coba yang saya lakukan, saya membuat asumsi bahwa saya terkena penyakit “Bell’s Palsy’ pada wajah sebelah kanan.

Akhirnya tadi pagi saya ke dokter syaraf di RS Bethesda dan dokter mengatakan bahwa saya “dianggap” penderita BP. Mengapa dianggap? Karena saya juga harus memeriksakan diri ke dokter THT untuk melihat apakah sakit di belakang telinga kanan justru adalah penyebab semuanya. Saya belum tau harus bagaimana kecuali minum obat dan berdoa lebih banyak daripada biasanya. Lima hari yang akan datang saya akan mulai terapi karena untuk saat ini, dalam kondisi yang masih radang, dokter belum mengizinkannya🙂

Saya jabarkan seperlunya tentang penyakit BP ini ya:

Mengapa saya katakan bahwa saya beruntung?

Bisa dikatakan bahwa saya periksakan penyakit ini tidak lebih dari 3 hari setelah kena. Kutipan dari artikel kompasiana mengatakan bahwa:

”Ibu kena Bells Palsy, dan sudah agak terlambat karena ibu tidak memanfaatkan golden-period tiga hari setelah kena untuk mendapatkan perawatan medis. Pemulihannya akan makan waktu lama,” kata dokter

Berarti, saya beruntung bukan?😀 …. dan saya positif berpikir bahwa saya akan pulih dalam waktu dekat dengan berdoa dan berobat🙂

Apa itu Bell’s Palsy? Mengapa seperti nama kue?

Itu bukan kue. Bell adalah nama penemu penyakit tersebut.

Nama penyakit ini diambil dari nama Sir Charles Bell, dokter ahli bedah dari Skotlandia yang pertama menemukan dan mempresentasikan di Royal Society of London pada tahun 1829. Ia menghubungkan kasus tersebut dengan kelainan pada syaraf wajah. Meski namanya unik, penyakit ini akan mengganggu secara estetika ataupun fungsi wajah. Jika tidak ditangani maka akan terjadi kecacatan dengan muka miring atau penyok. (sumber)

Penyakit ini menyerang syaraf  7 (nervus fascialis). Saraf 7 yang merupakan saraf tepi ini berfungsi mengatur otot-otot pergerakan organ pada daerah wajah, antara lain di daerah mulut dan gerakan seperti meringis dan bibir maju ke depan. Pada daerah mata, syaraf ini juga mengatur seputar pergerakan kelopak seperti memejam, pergerakan kelopak bola mata, dan mengatur aliran air mata. Saraf 7 juga ada serabutnya yang menuju ke arah kelenjar ludah dan juga ke bagian pendengaran….. Penjelasan detail bisa dibaca di sini.

Penyebabnya apa?

Macam-macam, ada yang bilang karena virus Herpes simplek, virus Herpes zoster dan virus Epstein-Barr. Namun terdapat juga penjelasan lain yang menghubungkannya dengan suhu dan udara dingin, yaitu karena angin dingin yang masuk ke dalam tengkorak, yang membuat syaraf di sekitar wajah sembab lalu membesar. Bagaimanapun belum ada penelitian yang memastikan penyebab sakit ini. (sumber)

Gejalanya seperti apa?

Artikel dari Konimex mengatakan bahwa gejala awal Bell’s Palsy beragam, antara lain mata menjadi kering, telinga bergemuruh, susah mengangkat alis, kelopak mata tidak bisa ditutup, bola mata memutar ke atas dan pada akhirnya kelumpuhan di separuh wajah.

Sedangkan menurut Klinik Prodia adalah:

  • Terjadinya asimetri pada wajah
  • Rasa baal/kebas di wajah
  • Air mata tidak dapat dikontrol dan sudut mata turun
  • Kehilangan refleks konjungtiva sehingga tidak dapat menutup mata
  • Rasa sakit pada telinga terutama di bawah telinga
  • Tidak tahan suara keras pada sisi yang terkena
  • Sudut mulut turun
  • Sulit untuk berbicara
  • Air menetes saat minum atau setelah membersihkan gigi
  • Kehilangan rasa di bagian depan lidah

Diagnosis dan Pengobatan

Untuk diagnosis, silahkan baca di sini, sedangkan untuk pengobatan, menurut Prodia, kebanyakan pasien Bell’s Palsy dapat sembuh dengan atau tanpa pengobatan. Namun, biasanya dokter akan merekomendasikan terapi obat (kortikosteroid dan obat antivirus) atau terapi fisik untuk mempercepat pemulihan. Pembedahan jarang sekali menjadi pilihan untuk terapi Bell’s Palsy.

obat

Dikatakan bahwa obatnya berupa kortikosteroid dan saya sempat mencari penjelasan 2 jenis obat dari dokter syaraf saya dan 1 dari dokter THT karena dokter syaraf saya mengatakan telinga saya yang sakit mungkin mengindikasikan adanya infeksi di saluran telinga juga. Mengenai telinga, saya masih harus melakukan rontgen ‘mastoid’ terlebih dahulu. Tiga obat tersebut adalah:

  • Methycobal 500 MCG (Merupakan kortikosteroid yg paling banyak dicari dokter yg memiliki indikasi, antara lain penyakit neurologi/penyakit saraf tepi)
  • Medixon 4 MG
  • Spedifen 400 MG (Ini obat dari dokter THT. Spedifen mengandung ibuprofen arginine. Ibuprofen adalah obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) yang digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang, dan membantu untuk meredakan gejala arthritis (osteoarthritis, rheumatoid arthritis, atau remaja artritis), seperti peradangan, pembengkakan, kekakuan dan nyeri sendi.)

Pencegahan

Enam pencegahan yang dapat dilakukan menurut dr. H. Yahmin Setiawan, antara lain:

  • Jika berkendaraan motor, gunakan helm penutup wajah full untuk mencegah angin mengenai wajah.
  • Jika tidur menggunakan kipas angin, jangan biarkan kipas angin menerpa wajah langsung. Arahkan kipas angin itu ke arah lain. Jika kipas angin terpasang di langit-langit, jangan tidur tepat di bawahnya. Dan selalu gunakan kecepatan rendah saat pengoperasian kipas.
  • Kalau sering lembur hingga malam, jangan mandi air dingin di malam hari. Selain tidak bagus untuk jantung, juga tidak baik untuk kulit dan syaraf.
  • Bagi penggemar naik gunung, gunakan penutup wajah / masker dan pelindung mata. Suhu rendah, angin kencang, dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi tinggi menyebabkan Anda menderita Bell’s Palsy.
  • Setelah berolah raga berat, JANGAN LANGSUNG mandi atau mencuci wajah dengan air dingin.
  • Saat menjalankan pengobatan, jangan membiarkan wajah terkena angin langsung. Tutupi wajah dengan kain atau penutup. Takut dibilang “orang aneh”? Pertimbangkan dengan biaya yang Anda keluarkan untuk pengobatan.

Latihan Wajah

Nah, menurut dr. Sri Rejeki, kita juga bisa melatih wajah kita untuk mempercepat kesembuhan:

Latihan dilakukan minimal 2 – 3 kali sehari.
Kualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya, untuk itu lakukan sebaik mungkin.
Pada fase akut dapat dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah untuk meningkatkan aliran darah pada otot-otot wajah.
Lanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu  yang dapat merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakkan otot-otot wajah.
Lakukan latihan di depan cermin.

Gerakan yang dilakukan  berupa:

  • Tersenyum
  • Mencucurkan mulut kemudian  bersiul
  • Mengatupkan bibir
  • Mengerutkan hidung
  • Mengerutkan dahi
  • Menarik sudut mulut secara manual dengan telunjuk dan ibu jari
  • Mengangkat alis secara manual dengan  keempat jari panjang (selain ibu jari)
  • Menutup mata.

Terakhir…

Terakhir, saya akan lampirkan beberapa twit dari EastWest tentang BP. EastWest ini adalah klinik fisioterapi yang pernah saya ‘cicipi’ 2 tahun lalu atas rekomendasi dari teman saya.

  • Bell’s Palsy atau Lumpuh Wajah adalah suatu kelainan pada syaraf wajah yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu sisi wajah dan menyebabkan wajah miring/mencong. Berbeda dari gangguan peredaran darah otak, kelumpuhan wajah sesisi ini tidak dibarengi dengan kelupuhan anggota tubuh lainnya.
  • Penyebab Bell’s Palsy belum diketahui secara pasti, tetapi diduga terjadi pembengkakan pada syaraf wajah sebagai reaksi terhadap virus, penekanan atau berkurangnya aliran darah.
  • Bell’s palsy pun erat kaitannya dengan cuaca dingin dan bisa menyerang orang yang bekerja di ruangan ber-AC secara langsung. Angin dingin membuat syaraf di sekitar wajah sembab dan membesar. Pembengkakan syaraf nervous fascialis ini mengakibatkan pasokan darah ke syaraf tersebut terhenti.
  • Saraf fasialis, demikian nama serabut saraf yang mengurus bagian wajah dan merupakan bagian dari 12 pasang saraf otak. Saraf ini berasal dari bagian batang otak yang disebut pons. Dalam perjalanannya menuju kelenjar parotis, saraf fasialis ini harus melalui suatu lubang sempit dalam tulang tengkorak yang disebut kanalis Falopia. Setelah mencapai kelenjar parotis, saraf fasialis ini akan bercabang menjadi ribuan serabut saraf yang lebih kecil yang mempersarafi daerah wajah, leher, kelenjar liur, kelenjar air mata, 60% bagian depan lidah dan sebagian telinga. Namun, jika penderita kelumpuhan wajah mengalami kelumpuhan di daerah lain seperti tangan atau kaki, maka itu disebut stroke.
  • Bell’s palsy terjadi secara tiba-tiba namun tidak menular. Penyakit ini berisiko menyerang remaja berusia 20-an, perempuan hamil, dan lanjut usia setelah 60 tahun. Penderita diabetes melitus dan pasca flu juga tak luput dari risiko penyakit ini.
  • Berbeda dengan serangan stroke, pada Bell’s palsy tidak disertai dengan kelemahan anggota gerak. Hal ini disebabkan oleh letak kerusakan saraf yang berbeda. Stroke disebabkan oleh rusaknya bagian otak yang mengatur pergerakan salah satu sisi tubuh, termasuk wajah. Sedangkan pada Bell’s Palsy, kerusakan terjadi langsung pada saraf yang mengurus persarafan wajah.

Saya percaya sepenuhnya pada dokter saya dan saya bertekad akan sembuh total sebelum hari Imlek, 10 Februari 2012. Saya berjuang!🙂

14 thoughts on “Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy

  1. Pingback: Berteman Akrab dengan Ms. Bell’s Palsy… « Woosah – Bernafas di Jogja

  2. Berapà lama sembuhnya sis?
    Saya juga kena dan dokter saya jg yohan. Skr dah fisioterapi ke 9, lidah dah ok tp muka masih menceng klo senyum

  3. Kemarin sya juga langsung kedokter, takutnya bukan bp tp stroke. Klo saya terapi + minum obat. Skr dah masuk mnggu kedua. Moga aja ceopet sembuh.
    Btw mbà nana hanya terapi n obat saja kah?
    Thanks

  4. saya baru saja terkena bellpelsy< baru 5 hari, tapi karena pas liburan gini sulitnya mencari dokter dan pengobatan. ditambah kondisi lingkungan kerja saya yang tidak libur…🙂
    tapi saya tetap semangat untuk segera sembuh,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s