Cerita Kemenangan

Dua hari lalu, tak sengaja saya menonton “Hitam Putihnya” om Dedy tepat ketika ia mengatakan: “Belajar yang baik adalah belajar dari pengalaman sendiri, namun belajar yang benar adalah belajar dari pengalaman orang lain”.

Saya kira inilah mengapa kita perlu mendengarkan cerita kemenangan dari orang lain. Senior saya di Soka Gakkai juga pernah mengatakan bahwa, “Jika kita tidak menunjukkan bukti kemenangan yang nyata dalam pekerjaan kita, kita tidak dapat memperlihatkan prinsip bahwa kepercayaan Buddhisme mewujudkan diri dalam kehidupan sehari-hari.”

Pertemuan Shibu hari Minggu kemarin (20/01), terdapat dua cerita kemenangan yang benar-benar menginspirasi. Saya akan ceritakan singkat:

Cerita pertama disampaikan oleh seorang bapak muda. Beliau adalah pasangan suami-istri Jepang namun ingin tinggal dan mencari pekerjaan agar berguna untuk kosenrufu Indonesia. Beliau pernah mengatakan bahwa, “Untuk kofu, kita harus memiliki landasan stabil di masyarakat. Meski kondisi belum stabil, saya mau terima kasih dengan Ikeda Sensei.”

Doa tentang pekerjaan yang sangat rinci oleh beliau, antara lain:

  • Pekerjaan yang gembira
  • Bidang yang akan tumbuh
  • Orang-orang yang bekerja baik
  • Gaji 30 juta lebih
  • Diberikan mobil+sopir
  • Diberikan asuransi, visa, tiket pesawat pulang tiap tahun untuk berdua
  • Diberikan rumah+fasilitas
  • Diberikan bonus 4 bulan gaji

Sewaktu mendengarnya, dalam hati saya mengatakan WOW!

“Ada doa yang tidak terwujudkan, tetapi bila tetap daimoku, maka hasilnya bisa 5x lipat”, kira-kira begitulah bimbingan dari Pak Kawashima kepada beliau berdua ketika mengetahui ada satu kriteria yang belum terpenuhi, yaitu gaji yang diperolehnya sebesar 19 juta.

Beliau mengatakan bahwa daimoku adalah kunci dari segalanya. Saya masih ingat bahwa bulan November lalu, daimoku suami-istri yang dicapai dalam 3 bulan adalah 2 juta dan dua bulan terakhir ini, daimoku beliau adalah 700.000. Daimoku 3 jam sehari dan 5 jam saat weekend membawa beliau yang pada awalnya tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali menjadi dapat bekerja di Indonesia.

Cerita kedua adalah cerita dari teman saya di bagian pemudi, Apriyani. Beliau telah lulus ujian pendadaran kemarin dan telah menampilkan sebuah mahakarya sebagai tugas akhirnya pada Gelar Resital Tari 2013 hari Sabtu lalu (19/01). “Apriyani dari Lampung menggarap kehidupan Ronggeng dasar gerak tari Jaipong dan pencak silat berjudul Panggung Kahirupan”, begitulah kutipan yang saya baca di bagian Sambutan Ketua Prodi Tari.

Menari untuk hidup, hidup untuk menari

Geol berhenti tak kan ada nasi

Geol bertambah kehiduupan cerah

Setiap geolan berarti nafas kehidupan keluarga

Ronggeng…

Ngigel piken hidup, hidup piken ngigel

Mimiti nu pang kalot na, dugi pang ngara na

Mimiti nu lumrah, dugi kanu salah

Do sorang, di lakon, demi janten Ronggeng

Saya bukanlah penari, tapi saya bisa mengerti sedikit apa yang hendak disampaikan dalam tarian Apri. Saya yakin bahwa keberhasilan seorang penari, salah satunya adalah bisa membuat orang-orang awam seperti saya mengerti arti tarian tersebut.

di ISIMenonton Pagelaran bersama teman-teman Gakkai dan orang tua Apri

Apri, TitaMaya – Apri – Mariana – Tita

Pagelaran kemarin menampilkan 7 mahakarya mahasiswa yang semuanya sangat bagus. Mahasiswa ISI benar-benar hebat loh! Selain Apri, masih ada Tita dan Ira yang juga saya kenal sewaktu bersama-sama melaksanakan Pentas Seni “Sakura Yang Abadi” 2 tahun lalu. Saya sangat senang melihat mereka sekarang sudah lulus. Benar-benar sangat senang🙂

Bravo untuk kalian yaaaaa……

Teruslah berkarya dan membuat Indonesia lebih baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s