Cabut Gigi

foto dental

Me: Terima kasih banyak, dok. Berapa?

Drg. Budiono: Gratis. Buat mbak Maya kali ini bonus saja.

Me: Wow🙂 #mulai_senyum_senyum_ga_jelas

Drg. Budiono: Uangnya buat nonton di XXI + popcorn. Cukup kan?

Me: Hahahaha iya dokter bisa aja😀

Begitulah percakapan yang menutup perbincangan saya dengan Drg. Budiono kemarin malam di ruang prakteknya, samping Apotek Waringin.

Drg. Budiono ini adalah dokter yang sudah menyembuhkan penyakit saya 2 tahun lalu ketika saya sudah berobat ke mana-mana dan tidak menemukan jalan keluar. Pada 2011 lalu tepat di hari Imlek ketika bangun tidur, rahang saya hanya bisa terbuka kira-kira 1-2 cm saja dan semakin memburuk pada hari-hari berikutnya, yaitu dengan disertai nyeri di bagian pipi, belakang telinga, dll. Saya tidak dapat mengobati rahang saya di Palembang karena hanya memiliki cuti beberapa hari saja dan harus segera kembali ke Jogja. Sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa akar masalah saya terletak pada gigi. Alhasil, saya pergi ke physiotherapist di EastWest, ke dokter ahli bedah tulang dan ahli bedah mulut di RS Panti Rapih, juga melakukan beberapa rontgen. Malahan, saya sempat menelepon tabib alternatif yang direkomendasikan oleh teman saya yang menganjurkan saya untuk minum madu 2 sendok setiap malam, dll….

Saat itu saya kembali ke daimoku dan berdoa dengan tekad bahwa penyakit ini harus sembuh sebelum hari ulang tahun saya, yaitu di awal bulan April.

Tepat di hari saya akan cabut gigi di bulan Maret, papa saya meminta saya untuk menemui Bp. Aruji, shibucho Jogja (baca: pimpinan tingkat Shibu dalam Soka Gakkai). Bp. Aruji dan istri menganjurkan saya mencari second opinion dengan dokter gigi langganannya. Maka, pergilah saya untuk yang pertama kalinya ke Drg. Budiono. Drg. Budiono memberikan saya antibiotik dan obat kumur Betadine. Beberapa hari setelah minum obat, rahang saya tiba-tiba normal kembali. WOW! Sangat menakjubkan! Saya sembuh! Saya sembuh hanya dengan menghabiskan uang yang tidak terlalu banyak dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah, saya belajar banyak dari pengalaman ini. Memperoleh jodoh dokter yang baik adalah sangat penting karena jika tidak, kita berobat ke mana-mana pun akan sia-sia saja.

Nah, setelah saya sembuh di bulan Maret 2011 lalu, saya tidak memeriksakan diri ke dokter gigi lagi. Keluhan saya hanya berupa tengkuk leher yang suka pegal-pegal, kepala kadang pusing, dan punggung yang kadang terasa nyeri. Saya selalu dihantui dengan penyakit gigi tapi kemalasan menghalangi saya untuk memeriksakan diri ke dokter. Saya membuat praduga sendiri hingga awal Oktober 2012 saya merasa pipi kiri saya nyeri ketika mengunyah makanan. Saya menghubung-hubungkan nyeri pipi itu dengan sakit gigi saya dan saya kembali berdoa saja. Saya sembuh lagi dan saya lupa lagi untuk ke dokter.

Saya rasa teman saya, Yuvi, sudah bosan dengar keluhan gigi saya karena dia yang selalu menemani saya berobat ketika di Jakarta sampai sekarang tempat saya cerita tentang gigi saya. Saya pergi juga ke dokter kemarin dengan membawa foto dental terbaru (yang lama sudah tak bisa pakai lagi) karena bosan ditanyakan melulu oleh Yuvi apakah sudah ke dokter hahahahaha

Hasil konsultasi saya dengan dokter mengatakan bahwa sakit syaraf (ex: sakit kepala, dll) yang memang diakibatkan oleh sakit gigi sebenarnya pertama-tama harus didahulukan oleh sakit gigi. Kalau tidak, berarti itu murni sakit syaraf. Saya jadi berpikir bahwa saya memang tidak boleh makan daging terlalu banyak dan harus cukup tidur, juga tidak boleh stress karena antara jasmani dan rohani saling mempengaruhi dan berdampak pada kesehatan.

Hasil foto dental mengatakan bahwa gigi saya meskipun berada di bawah gusi, gigi tersebut tidak mengganggu gigi-gigi lainnya. Hanya saja, gigi saya rentan infeksi karena kotoran gigi yang menempel terlalu lama. Artinya, saya harus sering-sering menggunakan tusuk gigi untuk membersihkan kotoran di graham hahaha

Sementara, gigi saya tidak perlu dicabut. Dokter juga merekomendasikan penggunaan sikat gigi yang soft karena biasanya saya menggunakan yang medium. Sudah hampir satu bulan saya mengikuti saran dokter untuk sikat gigi sehabis sarapan dan selanjutnya saya akan sikat gigi 3x sehari. Oh ya, setelah lebih dari 4 tahun saya menggunakan pasta gigi Enzim, saya merasa pasta gigi tersebut cocok buat saya dan memang bisa mengurangi karang gigi. Saya sudah membuktikannya loh hahahaha😀

One thought on “Cabut Gigi

  1. Pingback: Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy « Woosah – Bernafas di Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s