Candu

CANDU

ke·can·du·an v ki kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yg lain): kelihatan menonjol ~ nya pd segala macam permainan; banyak pemuda yg sudah ~ morfin (KBBI)

Pernahkah Anda berpikir bahwa ada “candu” yang menjangkiti Anda?

Saya? Ada hal-hal yang semula saya lakukan dengan alasan ketertarikan, namun akhirnya menjadi ketagihan.

Pernahkah Anda melakukan satu hal berulang-ulang hingga akhirnya Anda merasa muak dengan semua itu?

Saya? Ada hal-hal yang membuat saya muak. Di titik itulah saya meyakini bahwa saya harus segera berubah.

——————————-

teman dekat dari “candu” adalah:

DEPRESI

Sebenarnya sangat malas untuk menulis kata-kata seperti ini. Sungguh membosankan rasanya. Namun, jika saya mau mengamati perasaan saya dari waktu ke waktu, tentu saja saya harus meninggalkan jejak tertulis.

Saat ini adalah titik “depresi” saya. Saya dalam keadaan yang sangat sadar mengetahui bahwa saya tidak berdaya dan tidak dapat bangkit karena merasa telah “terperosok” ke dalamnya lobang. Apa yang saya sadari adalah saya mengerti perasaan orang yang:

  • depresi semakin depresi dan semakin depresi.
  • tidak bisa tidur.
  • tidak ada motivasi untuk bangun.
  • dihantui dengan masa lalu.
  • takut untuk hidup di masa depan.
  • hidup dalam kesendirian.
  • khawatir dan gelisah.
  • sangat yakin bahwa tidak ada orang yang mengerti dirinya.

Kesendirian bisa membuat orang menjadi gila. Terlalu banyak berpikir pun bisa begitu. Sendiri yang saya maksud adalah “bergelut dengan ketakutannya sendiri”.

Bagaimana dengan kesibukan? Kesibukan membuat semuanya kembali ceria, meskipun kadang hanya sementara jika akar permasalahan diri sendiri belum terselesaikan.

Depresi dalam konteks psikologi berarti: gangguan jiwa pada seseorang yang ditandai dengan perasaan yang merosot (seperti muram, sedih, perasaan tertekan). (KBBI)

Berbicara soal “depresi”, hal yang paling parah adalah ketika kita tidak ada teman berbagi. Ketiadaan teman dapat membuat kita semakin depresi dan menyempitkan “dunia” kita.

Saya tau satu hal tentang diri saya, yaitu: saya tidak mudah berbagi cerita-cerita pribadi dengan “teman-teman bermain” saya. Saya lebih suka menemukan solusi saya sendiri dan berpetualang dengan perasaan saya.

Tentu saja ada saatnya ketika saya tidak tahan lagi. Saat itulah, saya akan mencari Anda dan menumpahkan semua perasaan saya😀

Saya menduga, depresi ini seperti ungkapan “kepala pecah tujuh” yang tertulis di Gohonzon, yaitu kondisi ketika kita tidak memiliki “prajna/chi-e/kebijaksanaan”, diri yang selalu diliputi oleh kegelapan-kegelapan pokok/hawa nafsu. Ya, saya yakin seperti inilah kondisi depresi.

Kita memberi terlalu banyak “tuntutan” pada diri kita sendiri dan kita tidak sanggup memenuhinya karena ketidakmampuan kita. Makanya, kita stress sendiri yang berujung pada depresi.

——————————-

PAGI HARI

Tadi pagi saya tidak mampu beranjak dari tempat tidur. Alasannya sederhana: Malam harinya saya tidak bisa tidur, grasa-grusu di atas kasur hingga akhirnya terlelap sendiri. Saya selalu tidur pada waktu Adzan Subuh berkumandang dan suara burung-burung bergerombol yang terdengar ramai di kamar saya.

Pagi-pagi tadi hujan deras, saya sempat memikirkan jemuran saya yang basah (lagi). Saya membuka mata saya dan melihat keadaan sekitar saya semuanya berputar – gitar saya, meja, lemari, cermin di dinding, rak buku. Kepala saya pusing. Saya menutup mata lalu membukanya kembali. Masih saja sama. Saya semakin mengkambing-hitamkan hujan untuk kembali bermalas-malasan. Jadilah saya bangun pukul 1 siang.

Konsekuensinya jika saya bangun pukul 1 siang, saya tidak akan rela tidur pukul 1 malam karena artinya saya hanya hidup selama 12 jam. Maka, lingkaran setan itu terus berulang. Harus ada satu hari ketika saya merelakan beberapa jam terbuang untuk kembali ke pola tidur normal. Dua pilihan itu adalah: tidur pukul 10 malam sehingga hidup saya hanya 9 jam pada hari itu, atau tidur tetap pukul 5 subuh, namun memaksa diri bangun pukul 7 pagi. Pilihan ke-2 sepertinya lebih saya sukai.

Saya membaca beberapa artikel tentang “tidur”, antara lain: (1) sebisa mungkin kita memiliki jam alami untuk bangun tidur, bukan dibangunkan oleh alarm. (2) tidurlah jika Anda merasa lelah. (3) lama waktu tidur setiap orang berbeda. (4) bad sleeping = bad learning. (5) jangan mengonsumsi alkohol sebelum tidur. (6) siang hari kita butuh istirahat siang agar lebih fresh, seperti tidur selama 15-30 menit, dsb.

——————————-

BERGERAK

Saya memang depresi, tapi dengan kesadaran penuh saya tau 1 hal, yaitu: “Saya tidak melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kaliya“. Kondisi ini adalah masalah baru bagi saya, bukan  masalah lama yang terulang kembali. Saya belum pernah merasa tidak berdaya terhadap beberapa hal dalam hidup saya dan sekarang saya merasakannya.

Saya percaya bahwa, jika saya mampu melewati dan bisa belajar dari masalah ini, SAYA BISA BERTUMBUH. Pertumbuhan tidak terjadi ketika kita sedang bergelut dalam masalah, namun ketika kita sudah berhasil mengatasinya dan bisa belajar darinya.

Prinsip “Ketika kita memilih untuk berada di sini mengakibatkan kita tidak bisa berada di sana” sangatlah penting. Satu hal yang saya pelajari adalah, “Bagaimana cara membuat pilihan-pilihan dalam hidup?

Saya terus bergerak, seperti ucapan Prof. Habibie dalam film Habibie-Ainun yang saya ingat meski tak sama persis: “Kita seperti berada dalam terowongan kereta api yang gelap dan jika terus bergerak, kita akan sampai juga ke cahaya di ujung terowongan”.

Menakjubkan bukan? …. atau seperti kutipan film 5cm bahwa “kita harus menggantungkan cita-cita kita 5cm di depan mata agar kita dapat melihatnya setiap saat“.

Kata “bergerak” ini sangat dahsyat dampaknya.

Orang yang tersesat, jika terus bergerak pasti akan menemukan jalan keluar.

Orang yang kedinginan, jika terus bergerak membakar kalori, ia akan terasa hangat.

Yah, kira-kira beginilah cara saya memotivasi diri saya dari hari ke hari di kota Yogyakarta ini. Saya harus tetap menjadi diri saya sendiri dengan prinsip-prinsip yang saya yakini. Saya harus memutuskan banyak hal seorang diri. Saya tau bahwa saya hanya dapat mengandalkan diri saya sendiri untuk bangkit. Pada akhirnya, memang seperti itu. Semua teman, bahkan orang tua yang terus-menerus memberikan dukungan namun kalau kita kehilangan semangat juang, kita tetap tak akan maju.

——————————-

ACT (by Daisaku Ikeda)

Accept

Kesulitan melahirkan kebesaran. Semakin besar tantangan dan kesulitan yang kita hadapi, semakin besar kesempatan yang kita miliki untuk tumbuh dan berkembang sebagai manusia. Hidup tanpa kesulitan, hidup yang mudah dan nyaman, tidak menghasilkan apapun dan tidak meninggalkan apapun untuk kita.

Challenge

Hidup adalah proses tantangan yang terus menerus. Mereka yang hidupnya penuh dengan tantangan yang tidak terbatas mewujudkan pertumbuhan yang tidak terbatas pula. Pada masa perubahan yang bergejolak, yang paling dibutuhkan manusia adalah vitalitas untuk menantang keadaan mereka, kearifan untuk membuka gudang harta pengetahuan, dan berjuang tanpa henti untuk menciptakan nilai.

Transform

Kecenderungan manusia adalah mencoba menghindari tantangan dan mencari lingkungan yang mudah dan nyaman. Namun kebahagiaan tidak dapat ditemukan di tempat lainnya – kebahagiaan ditemukan di dalam diri kita. Jalan hidup sesungguhnya adalah mengubah tempat kita sekarang menjadi surga kebahagiaan tertinggi.
——————————-

BAHAGIA

Pertanyaan terakhir setelah semua pemaparan itu adalah, “Apakah saya bahagia” Ya, tentu saja hahaha saya sangat bahagia. Saya membedakan antara fungsi logika dan fungsi perasaan saya. Kadang memang tak terpisahkan. Namun, bagi saya: BAHAGIA ADALAH TANTANGAN. Bisakah manusia merasakan bahagia sekaligus depresi pada satu waktu yang sama? Menurut teori ichinen sanzen, tidak bisa karena jiwa manusia berubah sekejap, bukan sekejap memiliki sekian kondisi jiwa. Saya merasa bahwa perasaan bahagia saya ini sering bergantian dengan perasaan depresi. Saya jadi berpikir, apakah benar saya depresi? Ah, jangan-jangan itu hanya perasaan saya saja🙂 Jangan-jangan saya yang terlalu berlebihan “melihat” tantangan di depan mata🙂

Anda tidak setuju dengan arti bahagia bagi saya? Boleh-boleh saja dong. Buku “The Geography of Bliss (by Eric Weiner)” yang hampir selesai saya baca menuliskan makna kebahagiaan yang dipahami oleh 10 negara. Sekaligus menutup tulisan ini, saya tuliskan isinya yaaaa :

  1. Belanda: Kebahagiaan adalah Angka
  2. Swiss: Kebahagiaan adalah Kebosanan
  3. Bhutan: Kebahagiaan adalah Kebijakan
  4. Qatar: Kebahagiaan adalah Menang Lotre
  5. Islandia: Kebahagiaan adalah Kegagalan
  6. Molodva: Kebahagiaan adalah Berada di Suatu Tempat Lain
  7. Thailand: Kebahagiaan adalah Tidak Berpikir
  8. Britania Raya: Kebahagiaan adalah Karya yang Sedang Berlangsung
  9. India: Kebahagiaan adalah Kontradiksi
  10. Amerika: Kebahagiaan adalah Rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s