Ikeda’s Quotes | Health

Good health equals Buddhism. Daily life equals faith. Taking care to avoid traffic accidents and making efforts to stay in good health, therefore, are all part of our Buddhist practice. It is important that we live wisely, striving with the awareness each day that all the actions and activities we undertake for the sake of faith contribute to our good health and well-being. (Daily Encouragement 26/12Ikeda)

“You can be as smart as you like, but if you don’t build a strong body when you’re young, it’ll be of no use to you when you go out into society. Health is very important. Study is very important. True education combines both.” (Light of Education, pg. 198 or The Teachers of My Childhood)

Others: http://www.ikedaquotes.org/health-illness

Fisioterapi: Arus Paradik dan SWD

swd
sedang di-swd

“Stress is a reaction, not situation… so you can choose not to react”. Saya selalu mengingat kata-kata tersebut. Maka, saya memilih untuk menghadapi semua yang terjadi dengan gembira seperti sebuah petualangan yang menantang 🙂

Saya tidak mau menganggap bahwa sakit membuat saya menderita karena masih banyak orang lain yang “lebih layak menderita” dibandingkan saya. Sakit membuat saya lebih mensyukuri hidup dan membuat semakin sadar bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung dikelilingi oleh teman-teman baik dan orang tua yang selalu sabar 🙂

Hari ke-6 ini, dokter mengatakan bahwa kondisi saya cepat pulih. Senyum saya tidak terlalu miring lagi, ujarnya. Kegembiraan lain saya rasakan ketika dokter mengatakan bahwa dosis obat akan dikurangi dan saya bisa mulai fisioterapi.

Saya mengatakan pada dokter bahwa saya sangat jarang mandi malam, terkena kipas angin langsung apalagi AC dan juga hampir selalu memakai helm full face, namun… saya bilang ke dokter bahwa saya suka mendaki gunung dan menyukai dinginnya angin di alam bebas, terutama daerah pegunungan.

Gubrakkk hahahaha dokter bilang dia mau mendaki Gn. Rinjani, kemungkinan besar itulah penyebabnya. Gangguan di syaraf 7 ini bisa jadi karena sewaktu angin yang masuk melalui telinga menuju syaraf 7 terjepit, makanya mengakibatkan gangguan fungsi wajah terutama tersenyum. Beneran loh, syaraf 7 itu hubungannya dengan senyum. Ada banyak sekali referensi di Internet tentang 12 syaraf wajah dan bell’s palsy. Monggo di-searching saja. Continue reading “Fisioterapi: Arus Paradik dan SWD”

Berteman Akrab dengan Ms. Bell’s Palsy…

Masih ingat bukan perkenalan saya dengan Ms. Bell’s Palsy? Jika belum, monggo dilihat di sini dulu, temans 🙂

Menurut catatan resmi rekam medis saya di RS Bethesda, saya sudah tersedot masuk ke dalam dunianya Ms. Bell’s Palsy ini sejak empat hari yang lalu. Di dunianya Ms. Bell’s Palsy, empat hari sama dengan empat tahun.  Jadi, empat tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merasakan suka dukanya hidup bersama Ms. Bell’s Palsy. Empat tahun membuat saya mengerti bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh Ms. Bell’s Palsy ketika melakukan aktivitas mengotak-atik wajah sisi kanannya, juga ikut bergembira ketika Ms. Bell’s Palsy perlahan menyadari beberapa masalah mulai hilang, termasuk hilangnya rasa kebas di lidahnya. Ia mulai bisa melahap semua makanan dengan kenikmatan yang lebih sempurna dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Ngomong punya ngomong, ada juga kisah Abu Nawas dari Negeri 1001 Malam tentang sudut pandang kesempurnaan. Saya ceritakan sedikit seingat-ingatnya saya ya…

Dulu, hiduplah seseorang di Negeri 1001 Malam yang mengeluhkan rumahnya yang sempit kepada Abu Nawas. Abu Nawas memberikan ide agar setiap hari orang tersebut membeli berbagai macam perabotan untuk dimuat ke dalam rumahnya hingga tidak ada ruang kosong lagi. Setelah sesak begitu, Abu Nawas meminta ia untuk menjualnya kembali satu per satu. Lantas, orang tersebut mulai merasa senang karena rumahnya perlahan mulai “nampak” lebar dan lebih luas daripada biasanya 🙂

Ya begitulah. Sama saja dengan rasa sempurna yang dikecap oleh Ms. Bell’s Palsy tersebut: sebuah cita rasa yang berbeda.

Ok, cukup basa-basinya hahaha

Mari mulai…….

X-Ray Foto – Mastoid

merapiLaboratorium Klinik Pramita yang saya kunjungi untuk memotret isi telinga kiri-kanan saya ini terletak di selatan gedung Grha Sabha Pramana – UGM. Senang sekali rasanya menikmati cerahnya Merapi di hari yang sudah tidak pagi lagi itu. Saya sempatkan mengabadikan moment tersebut sepulang dari Pramita untuk menghibur hati saya 🙂 Continue reading “Berteman Akrab dengan Ms. Bell’s Palsy…”

Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy

Semalam, ketika sedang daimoku, entah mengapa tiba-tiba saya teringat beberapa gejala tak biasa yang telah terjadi dalam beberapa hari ini. Seketika saya searching di Google dengan kata kunci “muka kebas” dan terkejutlah saya menemukan satu artikel yang membahas tentang penyakit “Bell’s Palsy (BP)” yang sering dikait-kaitkan dengan stroke ringan padahal bukan sama sekali.

Kontradiksi dari rasa terkejut saya adalah rasa sangat bersyukur karena saya menyadari penyakit ini ketika masih dalam tahap awal. Tiga atau empat hari lalu, belakang telinga kanan saya nyeri ketika dipegang dan saya memeriksakannya ke dokter gigi seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Ternyata, itu bukan masalah gigi, tapi gejala pendahulu dari penyakit BP. Saya merasa mata sebelah kanan saya berbayang ketika membaca teks di buku dan layar TV. Lidah sisi kanan saya juga tidak dapat mengecap dengan baik. Puncak kekhawatiran saya adalah ketika sedang berkumur dan airnya tumpah sendiri melalui bibir sisi kanan saya. Ketika membasuh muka pun, saya kesulitan menutup rapat mata kanan saya sehingga kemasukan air.

Sembari daimoku dan membaca artikel “Bell’s Palsy”, saya mempraktekkan semua gejalanya, termasuk bersiul dan betapa terkejutnya ketika saya tidak bisa melakukan hal tersebut. Sesaat saya menghentikan daimoku dan segera berkaca. Saya coba tersenyum dan BLANK! Senyum saya tidak simetris. Saya membuka mulut lebar-lebar (baca: mangap), pun sama saja. Bibir saya miring ke kiri. Saya coba mainkan hidung saya dan saya tak bisa merasakan hidung sisi kanan bila digerakkan. Saya mulai menekan semua bagian wajah kanan saya dan terasa nyeri di beberapa tempat, terutama tulang pipi dan alis mata. Dari semua bacaan dan uji coba yang saya lakukan, saya membuat asumsi bahwa saya terkena penyakit “Bell’s Palsy’ pada wajah sebelah kanan.

Akhirnya tadi pagi saya ke dokter syaraf di RS Bethesda dan dokter mengatakan bahwa saya “dianggap” penderita BP. Mengapa dianggap? Karena saya juga harus memeriksakan diri ke dokter THT untuk melihat apakah sakit di belakang telinga kanan justru adalah penyebab semuanya. Saya belum tau harus bagaimana kecuali minum obat dan berdoa lebih banyak daripada biasanya. Lima hari yang akan datang saya akan mulai terapi karena untuk saat ini, dalam kondisi yang masih radang, dokter belum mengizinkannya 🙂 Continue reading “Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy”

Rutinitas

buku headfirstBuku Head First lain yang hampir selesai saya baca adalah buku Head First Java. Buku edisi Head First ini, ujar teman saya si Zain, lebih manusiawi hahaha mungkin maksudnya, user-oriented. Ya, buku ini sangat menarik dan tidak membosankan, tapi kalau sudah masuk ke materi yang berat… ya tetap saja sulit hahaha

Kalau saya bepikir tentang progress dan target penyelesaian tesis, saya akan stress sendiri. Beneran deh. Jadinya, sekarang saya membagi-bagi target besar tersebut menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, yaitu kegiatan harian. Kesannya sangat lambat, tapi saya memang harus melalui tahapan ini, yaitu belajar Java. Ah, semester 6 yang akan mulai di awal Februari ini harus menjadi semester akhir bagi kuliah saya.

Sudah tiga bulan lebih saya tidak pergi ke gunung. Otak saya sudah hampir sepenuhnya di tesis dan itulah hal yang saya tunggu-tunggu. Beberapa waktu lalu saya ingat satu hal penting sewaktu menyelesaikan Skripsi S1, yaitu: tak pernah satu hari pun saya tidak memikirkan skripsi. Maka, sekarang pun harus seperti itu. Itulah yang mungkin dinamakan sebagai FOKUS dan KONSENTRASI.

Kemarin saya juga sudah menyelesaikan satu bab lagi dari buku The Geography of Bliss. Ada satu hal yang belum saya mengerti yaitu tentang “pertumbuhan berpangkat”. Kutipan lengkapnya seperti ini:

Tanamlah bibit-bibit kebahagiaan dan pada akhirnya hukum pertumbuhan berpangkat dicapai, maka saya yakin kebahagiaan akan menyebar bagaikan kebakaran padang rumput di California.

Saya juga ingin menuliskan kelanjutan kalimatnya yang menarik meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan berpangkat:

Lantas untuk sementara waktu, apa yang harus dikerjakan? Saya kira kita terus menyemaikan benih. Toh sebenarnya yang penting itu menanamnya bukan memanennya. Seperti dikatakan banyak filsuf, kebahagiaan itu adalah hasil sampingan. Sebagaimana pengamatan Nathaniel Hawthorne, kebahagiaan adalah kupu-kupu yang bertengger di bahu kita tanpa disuruh.

Jadi , alih-alih berusaha secara aktif membuat tempat atau orang lebih bahagia, mungkin lebih baik kita menerima saran penulis Kanada Robertson Davies: “Jika Anda tidak bahagia, sebaiknya Anda berhenti mengkhawatirkan ketidakbahagiaan dan melihat perbendaharaan apa yang Anda miliki dari ketidakbahagiaan Anda.”

Saya sudah tidak pernah membaca buku sampai pagi lagi sekarang dan hanya membacanya di saat-saat luang saja, seperti moment ketika menunggu. Saya juga memberanikan diri untuk menunda semua bacaan yang bukan prioritas, maksudnya bacaan yang tidak ada hubungannya dengan topik tesis. Pada awalnya memang berat, tapi kebiasaan tersebut akan membuatnya menjadi ringan seiring dengan waktu. Continue reading “Rutinitas”

Cabut Gigi

foto dental

Me: Terima kasih banyak, dok. Berapa?

Drg. Budiono: Gratis. Buat mbak Maya kali ini bonus saja.

Me: Wow 🙂 #mulai_senyum_senyum_ga_jelas

Drg. Budiono: Uangnya buat nonton di XXI + popcorn. Cukup kan?

Me: Hahahaha iya dokter bisa aja 😀

Begitulah percakapan yang menutup perbincangan saya dengan Drg. Budiono kemarin malam di ruang prakteknya, samping Apotek Waringin.

Drg. Budiono ini adalah dokter yang sudah menyembuhkan penyakit saya 2 tahun lalu ketika saya sudah berobat ke mana-mana dan tidak menemukan jalan keluar. Pada 2011 lalu tepat di hari Imlek ketika bangun tidur, rahang saya hanya bisa terbuka kira-kira 1-2 cm saja dan semakin memburuk pada hari-hari berikutnya, yaitu dengan disertai nyeri di bagian pipi, belakang telinga, dll. Saya tidak dapat mengobati rahang saya di Palembang karena hanya memiliki cuti beberapa hari saja dan harus segera kembali ke Jogja. Sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa akar masalah saya terletak pada gigi. Alhasil, saya pergi ke physiotherapist di EastWest, ke dokter ahli bedah tulang dan ahli bedah mulut di RS Panti Rapih, juga melakukan beberapa rontgen. Malahan, saya sempat menelepon tabib alternatif yang direkomendasikan oleh teman saya yang menganjurkan saya untuk minum madu 2 sendok setiap malam, dll….

Saat itu saya kembali ke daimoku dan berdoa dengan tekad bahwa penyakit ini harus sembuh sebelum hari ulang tahun saya, yaitu di awal bulan April. Continue reading “Cabut Gigi”

Cerita Kemenangan

Dua hari lalu, tak sengaja saya menonton “Hitam Putihnya” om Dedy tepat ketika ia mengatakan: “Belajar yang baik adalah belajar dari pengalaman sendiri, namun belajar yang benar adalah belajar dari pengalaman orang lain”.

Saya kira inilah mengapa kita perlu mendengarkan cerita kemenangan dari orang lain. Senior saya di Soka Gakkai juga pernah mengatakan bahwa, “Jika kita tidak menunjukkan bukti kemenangan yang nyata dalam pekerjaan kita, kita tidak dapat memperlihatkan prinsip bahwa kepercayaan Buddhisme mewujudkan diri dalam kehidupan sehari-hari.”

Pertemuan Shibu hari Minggu kemarin (20/01), terdapat dua cerita kemenangan yang benar-benar menginspirasi. Saya akan ceritakan singkat:

Cerita pertama disampaikan oleh seorang bapak muda. Beliau adalah pasangan suami-istri Jepang namun ingin tinggal dan mencari pekerjaan agar berguna untuk kosenrufu Indonesia. Beliau pernah mengatakan bahwa, “Untuk kofu, kita harus memiliki landasan stabil di masyarakat. Meski kondisi belum stabil, saya mau terima kasih dengan Ikeda Sensei.”

Doa tentang pekerjaan yang sangat rinci oleh beliau, antara lain:

  • Pekerjaan yang gembira
  • Bidang yang akan tumbuh
  • Orang-orang yang bekerja baik
  • Gaji 30 juta lebih
  • Diberikan mobil+sopir
  • Diberikan asuransi, visa, tiket pesawat pulang tiap tahun untuk berdua
  • Diberikan rumah+fasilitas
  • Diberikan bonus 4 bulan gaji

Sewaktu mendengarnya, dalam hati saya mengatakan WOW!

“Ada doa yang tidak terwujudkan, tetapi bila tetap daimoku, maka hasilnya bisa 5x lipat”, kira-kira begitulah bimbingan dari Pak Kawashima kepada beliau berdua ketika mengetahui ada satu kriteria yang belum terpenuhi, yaitu gaji yang diperolehnya sebesar 19 juta.

Beliau mengatakan bahwa daimoku adalah kunci dari segalanya. Saya masih ingat bahwa bulan November lalu, daimoku suami-istri yang dicapai dalam 3 bulan adalah 2 juta dan dua bulan terakhir ini, daimoku beliau adalah 700.000. Daimoku 3 jam sehari dan 5 jam saat weekend membawa beliau yang pada awalnya tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali menjadi dapat bekerja di Indonesia. Continue reading “Cerita Kemenangan”