…Berakhir dengan Obrolan ala Warung Pecel Lele

buku

Sumpah! Aku tak bisa menulis ketika menyambi dengar lagu-lagunya si mbah J#ncuk – Sujiwo Tejo. Konsentrasi menjadi terpecah. Sebentar, kumatikan lagunya dahulu baru kututurkan ceritaku tentang buku-buku ini padamu.

Akhir-akhir ini, hidup sepertinya baru dimulai selepas pukul 3 sore dan berakhir di pukul 3 pagi. Setidaknya itu yang terjadi padaku. Demikian pula hari ini. Pukul 3 setelah mengenyangkan perut, pergilah aku ke toko buku Gramedia Sudirman. Aku hendak melihat harga sebuah buku ekspedisi cincin api Kompas. Beberapa ribu lagi harganya mencapai dua ratus ribu. Ehm, kuputuskan nanti saja baru kubeli. Aku ingin menghadiahkan buku ini kepada seseorang🙂 Aku menunggu harga tersebut turun menjadi seratus empat puluh ribu. Akankah turun? Menurutku begitu. Berharap saja akan ada pameran buku, bedah buku atau acara semacamnya.

Banyak sekali buku yang menarik di Gramedia yang tidak dijual di Togamas. Aku menghabiskan waktu ketika matahari masih bersinar terang. Tak kutau jam berapa karena aku tak memakai jam dan telepon genggamku pun mati. Lalu, hatiku membawaku ke Togamas Gejayan. Harga buku di sana selalu diskon. Itulah mengapa aku memilih Togamas.

Selain Gramedia dan Togamas, tempat belanja bukuku adalah Soping. Di Soping, banyak sekali buku-buku bajakan yang dijual lebih murah setengah harga dari yang semestinya. Pernah satu kali aku membeli buku bajakan tersebut dan sumpah! aku tak tenang membacanya. Aku dihantui perasaan bersalah karena aku telah merugikan si penulis.

Sama seperti di Gramedia, di Togamas pun aku menghampiri beberapa rak yang sangat kusuka, yaitu: rak buku filsafat, rak buku sejarah, rak buku sastra dan rak buku ilmu komputer. Novel-novel dan buku baru biasanya diletakkan di atas meja lebar setinggi lutut. Keempat buku yang kubeli tersebut semuanya kudapatkan di sana.

Buku pertama yang kupilih adalah “Republik #Jancukers”nya mbah Sujiwo Tejo. Aku menyukai pemikirannya. Pernah kutonton video Tedx yang menghadirkan Sujiwo Tejo sebagai pembicara hubungan antara matematika dan musik. Apa yang ia katakan adalah apa yang kupikirkan. Aku memutuskan bahwa kami satu aliran.

Buku ke-dua adalah bukunya Goenawan Mohamad yang berjudul “Catatan Pinggir” ke-8. Catatan Pinggir atau yang lebih populer dengan sebutan Caping ini adalah kumpulan esai pendeknya. Biasa aku membaca tulisannya di internet, tapi aku lebih memilih untuk memiliki bukunya🙂

Buku ke-tiga adalah buku “Markesot Bertutur”. Buku ini sebenarnya adalah buku yang sudah diterbitkan di tahun 1993, namun tahun ini dicetak ulang, bahkan sebanyak 3 kali. Pemikiran dari Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib sangat membuka cakrawala berpikirku. Tahun lalu, beberapa kali aku mengikuti acara pengajian di rumah Bantulnya. Satu ketika, ia berceramah soal “Urip Kemalaekatan”, tentang “cahaya di atas cahaya”. Ia bercerita banyak hal yang membuatku mengangguk-angguk setuju dan aku semakin bisa melihat beberapa kemiripan konsep antara Buddhisme dan Muslim. Lain waktu di acara mengenang sekian tahun wafatnya Rendra (aku lupa berapa tahun?), ia bercerita kenangannya bersama Gus Dur yang saat itu sedang dirawat di rumah sakit.

Buku ke-empat adalah novel “The Geography of Bliss” karangan Eric Weiner. Ini adalah sebuah novel perjalanan oleh Eric yang ingin mencari tau apa yang membuat orang-orang bahagia di setiap negara yang ia kunjungi. Aku tertarik dengan isi novel ini karena mengisahkan “apa sebenarnya kebahagiaan itu?”. Ternyata beda negara, beda pula kebahagiaannya🙂

Tentang kebahagiaan, ada dua cerita yang menurutku sedikit tragis:

  • Film “into the wild” bercerita tentang satu pemuda yang lulus dari Universitas dan memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Alaska (jika aku tak salah). Ia hendak mencari kebahagiaan. Ketika ia mengetahui apa itu kebahagiaan, ia sudah dekat dengan maut dan akhirnya meninggal. Baginya, kebahagiaan adalah ketika bisa berbagi dengan orang lain.
  • Buku “Balada si Roy” adalah buku yang kubaca di masa SMP. Buku ini bercerita tentang si Roy yang berkelana ke negara-negara Asia. Ia bergaul ala anak muda di masanya dan tak lupa masuk ke dalam lingkungan dimana heroin dan gadis adalah dewa. Di bab 10 bukunya, diceritakan bahwa Roy mendapatkan kabar bahwa ibunya sakit. Selama ini, ia sudah tau hal tersebut. Ketika mendapatkan telegram bahwa ibunya sakit keras, Roy langsung kembali ke Indonesia, namun sudah terlambat. Ibunya meninggal dan ia meraung-raung menyesali perbuatannya selama ini. Di kampung halamannya tersebut, perempuan yang menjadi pacarnya mengaku pada Roy bahwa ia sudah memilih lelaki lain untuk menjadi suaminya. Hati Roy langsung hancur dan ia merasa tidak ada lagi hal lain yang ingin ia lakukan dalam hidup. Mimpinya mati bersama ibunya. Jika di sawah, Anda melihat gubug dan seorang lelaki yang sedang membajak sawah, mungkin ia adalah Roy🙂

Makan Malam

Apa hubungan makan malam dan buku? Tentu saja hubungannya adalah sebab akibat. Jika uang dihabiskan untuk membeli buku, maka aku harus menghemat uang makan🙂 Tenang saja, aku tak pernah menyesal. Aku selalu ikhlas mengganti kenikmatan lidahku dengan kata-kata yang memenuhi pikiranku🙂

Aku selalu tau harus makan di mana bila sedang banyak uang dan di mana bila uangku tinggal recehan hahahaha dan kali ini aku makan di Pecel Lele langgananku.

………sebelum motor kuparkir di tempat…..

Mbak Penjual (Mbak): Haiiiiiii…………..

Aku: Hallloooooooo *sambil membuka helm

Mbak: Sudah lama tak terlihat. Pesan apa? Nila?

Aku: Iya ne hahaha berapa ya nasi+nila?

Mbak: 8 ribu

Aku: Tambah es teh?

Mbak: 10 ribu

Aku: Iya, itu aja hahaha uangku pas 10 ribu

————–makan————–

Mbak: Dari mana?

Aku: Togamas, beli buku

Mbak: Buku apa?

Aku: Bukunya Cak Nun dan Sujiwo Tejo. Kenal mbak?

Mbak: Iya kenal…. Tiap hari lihat di TV

Aku: Oh gitu haha aku ga tau mbak. Jarang nonton. Tuh bukunya di tas. Ambil aja sendiri.

Mbak: Ga apa-apa ya kubuka tasnya?

Aku: Ga apa-apa. Ga ada rahasia, mbak.

————–diskusi buku ————-

Aku: Aku suka dengan Cak Nun, mbak. Tahun lalu suka diajak teman ikut acara di rumahnya.

Mbak: Itu ponakanku (Cak – panggilan buat mas di Madura) juga ikut terus.

Aku: Wah…. Ternyata….. hahahaha *tertawa bahagia

Ya, obrolan kami sangat seru. Seperti biasanya, kami memang suka berkelakar sambil makan malam. Penjual pecel lele tersebut, si mbak dan suaminya serta keponakan yang suka kupanggil cak itu memang orang-orang yang menarik. Mereka adalah penjual cerdas yang berkarakter. Akhirnya, aku dan si cak bertukaran nomor telepon. Nantinya, ia akan menghubungiku jika ada acara di rumah Cak Nun lagi🙂

Sebelum pulang, kuteringat untuk mengucapkan, “Selamat hari ibu, mbak” kepada mbak penjual pecel lele tersebut🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s