Buku Mengungkap Misteri Hidup dan Mati | Quotes

Apakah Hidup itu?

Mengapa sesuatu yang Paling Dekat dengan Kita Dibiarkan menjadi Sesuatu yang Penuh Misteri?

Bukanlah manusia yang tak ingin menjamahnya, tapi semakin banyak unsur hidup tersingkap, semakin banyak pula teka-teki muncul. Seakan kemajuan ilmu pengetahuan bukannya untuk memecahkan, tetapi justru menemukan teka-teki baru. Begitu juga dengan kematian. Apakah maut merupakan suatu akhir dari segalanya tanpa ada yang tersisa? Aapakah ini merupakan pintu gerbang menuju kehidupan baru? Ataukah hidup akan berlanjut terus selamanya dalam bentuk lain?

Paragraf tersebut adalah resensi yang saya baca di sampul belakang buku berjudul “Mengungkap Misteri Hidup dan Mati”.

Keterangan buku:

  • Diterjemahkan dari: Unlocking the Mysteries of Birth and Death, 2003
  • Tahun terbit: 2011
  • Cetakan ke: 1
  • Penerbit: PT Ufuk Publishing House
  • Penulis: Daisaku Ikeda
  • ISBN: 978-602-8801-65-2

Isi:

  • Kelahiran
  • Usia Tua
  • Penyakit dan Ilmu Pengobatan Buddhisme
  • Kematian
  • Potensi Hidup yang Tak Berbatas
  • Sembilan Kesadaran
  • Nam-myoho-renge-kyo

buku mmhm

Prakata

Frasa latin “Memento mori” berarti ingatlah bahwa kau harus mati. Kita memahami arti hidup yang sesungguhnya hanya di saat kita berhadapan langsung dengan realitas kematian. (Daisaku Ikeda)

Buku ini pertama kali dicetak pada tahun 1986 dan dicetak ulang pada tahun 2003 dengan beberapa revisi yang mempertimbangkan fakta-fakta ilmiah baru dan perspektif-perspektif baru tentang kehidupan dan kematian, termasuk penambahan, koreksi serta penyempurnaan dalam pengalihbahasaan. Satu kalimat yang mewakili tujuan penerbitan buku ini terdapat dalam Prakata yang ditulis oleh Daisaku Ikeda, yaitu:

“Isi buku ini merupakan penjelasan parsial mengenai kontribusi yang dapat diberikan ajaran-ajaran Nichiren bagi masa depan umat manusia dengan memberikan perspektif yang jelas tentang dunia dewasa ini serta membantu kita mempelajari cara menafsirkan filsafat kontemporer, ilmu pengetahuan, serta alam semesta itu sendiri.”

Berikut ini adalah kutipan-kutipan yang saya ringkas dari buku MMHM:
Terdapat kata-kata yang dicoret, maksudnya adalah untuk mempersingkat kalimat atau memberi definisi pada kata-kata tertentu.

Pengantar

  • Menurut Buddhisme, penyebab yang sesungguhnya (red: penyebab dasar ketidakbahagiaan) bukanlah sekadar bahwa kita punya masalah, melainkan bahwa kita tidak memiliki kekuatan dan kearifan untuk menyelesaikan masalah itu.
  • Dalam membahas masalah kebahagiaan, Buddhisme tidak terlalu memusatkan perhatian pada cara menghilangkan penderitaan dan kesulitan, yang dipahami sebagai sesuatu yang inheren atau melekat dalam kehidupan, tetapi lebih pada bagaimana seharusnya kita memupuk potensi-potensi yang ada di dalam diri.
  • Kekuatan dan kearifan, jelas Buddhisme, berasal dari daya hidup.
  • Jika kita mengembangkan cukup daya hidup, kita tidak hanya mampu menghadapi berbagai kesulitan hidup tetapi juga dapat mengubah kesulitan itu menjadi penyebab kebahagiaan dan keberdayaan.
  • Buddhisme menguraikan empat penderitaan universal – kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian.
  • Sutra Bunga Teratai juga mengungkapkan makna sesungguhnya nirwana dan tanah suci.
    Kita tidak harus meninggalkan semua keinginan guna mencapai nirwana karena kita dapat mengubah hawa nafsu menjadi penyebab kebahagiaan dan selanjutnya, penyebab kearifan yang tercerahkan.
  • Tanah suci tidak mesti berada setelah kematian. Kita pun berdiam di tanah suci itu, sekarang ini, jika kita meyakini Sutra Bunga Teratai, yang mengungkapkan bahwa kita dapat mengubah dunia ini – meski dunia ini penuh dengan penderitaan dan kesedihan – menjadi sebuah tanah suci, sarat dengan kegembiraan dan harapan.

Beberapa Doktrin Dasar

  • Tidak mungkin ada pencerahan yang terlepas dari realitas hawa nafsu dan tidak mungkin ada nirwana tanpa dampingan penderitaan kelahiran dan kematian.
  • Dua doktrin utama – “tiga ribu fenomena dalam sekejap hidup” serta “sembilan kesadaran” – merupakan puncak Buddhisme Mahayana.
  • Doktrin penting bahwa hawa nafsu adalah pencerahan mengajarkan bahwa tidak seharusnya kita memadamkan keinginan atau menganggap keinginan itu dosa, sebaliknya, sebaiknya kita meninggikan keinginan itu untuk mencapai kondisi hati yang lebih mulia.

Sepuluh Dunia

  • Menurut pemikiran ini (red: paradigma India kuno mengenai perpindahan), ke dunia atau alam mana seseorang yang belum tercerahkan dilahirkan, ditentukan oleh hal-hal yang orang itu lakukan dalam masa-masa hidupnya yang telah lalu, dan bahwa manusia mengulang siklus kelahiran dan kematian dalam keenam dunia ini tanpa henti.
  • Buddhisme menghaluskan konsep enam jalan ini dengan menjelaskan bahwa enam jalan tidak hanya sebagai dunia eksternal tetapi juga sebagai keadaan internal.
  • Rangkuman pandangan enam jalan oleh Nichiren: “Saat melihat wajah seseorang dari waktu ke waktu, kita dapati kadang dia penuh kegembiraan, kadang murka, dan kadang tenang. Ada kalanya keserakahan tampak di wajahnya, ada kalahnya kebodohan, dan ada kalanya berhati busuk. Amarah adalah dunia neraka, ketamakan adalah dunia arwah kelaparan, kebodohan adalah dunia binatang, berhati busuk adalah dunia asura, kegembiraan adalah dunia surga, dan ketenangan adalah dunia manusia.”
  • Selagi berpindah-pindah di antara keenam jalan, kita berhasil mencapai kearifan dan wawasan yang disyaratkan untu memahami sifat hakiki kehidupan, kita akan dapat mewujudkan kondisi Kebuddhaan.
  • Buddhisme mengidentifikasi tiga dunia lagi selain keenam dunia yang lebih rendah, yaitu dunia pendengar ajaran (Pembelajaran), dunia orang-orang yang sudah menyadari sebab-musabab (Kesadaran), serta dunia para Bodhisattva. Dan satu dunia lagi, yang merupakan kondisi tertinggi, yakni dunia Budha atau kondisi Kebuddhaan.
  • Dalam membahas ketiga kondisi ini, Nichiren menulis: “Fakta bahwa segala hal di dunia ini bersifat sementara sudah sangat jelas bagi kita. Bukankah ini karena dunia kedua kendaraan (Pendengar Ajaran dan Kesadaran) memang ada dalam dunia manusia? Bahkan penjahat yang tak kenal kasihan pun mencintai istri dan anak-anaknya. Dia juga memiliki sebagian Dunia Bodhisattva di dalam dirinya.

Dunia yang Ke-sepuluh

  • Tak peduli betapa besar kita dikaruniai kekayaan, keamanan finansial, keluarga yang bahagia, dan pekerjaan yang baik, kebahagiaan semacam itu sama sekali tidak bisa dianggap kekal.
  • Kebahagiaan absolut dalam Kebuddhaan tidak terpengaruh oleh perubahan lingkungan atau kesulitan.
  • Walaupun tidak berarti bebas dari penderitaan dan masalah, kebahagiaan absolut jelas menunjukkan dimilikinya daya hidup yang kokoh dan penuh semangat serta kearifan yang berlimpah untuk menantang dan mengatasi semua penderitaan dan kesulitan yang mungkin kita temui.
  • Kebuddhaan juga ditandai dengan welas asih yang mendalam terhadap orang lain serta kearifan yang tak berbatas.
  • Semua unsur yang memungkinkan kita menjalani hidup yang benar-benar manusiawi terkandung dalam keadaan Kebuddhaan.
  • Upaya untuk memperbaiki masyarakat dan lingkungan dengan sendirinya bermula dari upaya internal kita sendiri untuk mencapai Kebuddhaan.
  • Memantapkan perdamaian dan kemakmuran global yang abadi merupakan tujuan yang melandasi penyebaran Buddhisme ke seluruh masyarakat.
  • Mewujudkan sifat Buddha yang memang melekat dalam diri seseorang akan menjadi pemecahan mendasar tidak hanya bagi keempat penderitaan universal – kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian – tetapi juga, yang lebih luas, bagi semua penderitaan lainnya.

Pendekatan Nichiren terhadap Agama

  • Nichiren berusaha menyisihkan aspek-aspek agama yang menghalangi manusia memasuki jalan menuju kesadaran penuh, tanpa menyerang para pengikut aliran-aliran Buddha tertentu dan tanpa berusaha memperluas alirannya sendiri saja.
  • Arti penting empat diktum Nichiren untuk dunia modern terletak bukan pada pembuktian kesalahan aliran-aliran Buddha Jepang, melainkan pada pengembangan sepenuhnya kekuatan positif hidup manusia.

Nam-myoho-renge-kyo

  • Menara ini (red: Pusaka) menggambarkan tingginya derajat hidup manusia serta melambangkan kehidupan orang-orang yang mewujudkan Kebuddhaan yang melekat dalam diri mereka.
  • Dengan melantunkan Nam-myoho-renge-kyo, kita dapat mengubah keempat penderitaan menjadi empat kebajikan tercerahkan yang memancar dari relung keberadaan kita.
  • Nam-myoho-renge-kyo, seperti yang akan kita telaah nanti, menunjukkan Hukum pokok dari hidup dan alam semesta, dan karena itu merupakan penyebab agar semua makhluk tercerahkan.
  • Nam adalah pernyataan berserah diri, dan Myoho-renge-kyo, judul Sutra Bunga Teratai, digunakan sebagai nama untuk realitas hakiki ini.
  • Ajaran ini (red: Sutra Bunga Teratai) mengemukakan kebenaran bahwa Kebuddhaan telah ada dalam hidup semua orang secara kekal abadi.
  • Tujuan akhir Buddhisme adalah membantu seluruh umat manusia menyadari sifat hakiki hidup.
  • Frasa ini (red: Nam-myoho-renge-kyo) memadukan dua aspek inti Buddhisme: kebenaran itu sendiri, serta praktik untuk mengembangkan kearifan untuk menyadari kebenaran itu.
  • Saya yakin bahwa Sakyamuni dan Nichiren sama-sama tercerahkan oleh kebenaran yang sama, dan bahwa ajaran mereka berbeda hanya karena perbedaan masa hidup mereka, khalayak mereka, budaya tempat mereka bergerak dan unsur-unsur lain.
  • Ajaran Nichiren mengandung inti semua ajaran Buddhisme.
  • Buku ini saya mengacu pada ajaran Sakyamuni, Nichiren, Nagarjuna, T’ien-t’ai, serta pemikir-pemikir Buddhis lainnya.
  • Arti penting Buddhisme terletak baik dalam penemuan sifat Buddha dalam semua makhluk dan dalam penerapan metode praktis untuk memunculkan sifat itu, sehingga manusia dapat menarik makna semaksimalnya dari hidup mereka.

Bab I – Kelahiran

  • Setiap makhluk hidup mewujudkan sifat Buddha-nya, masing-masing menyumbangkan nada indahnya pada konser simbiosis yang agung.
  • Buddhisme menjelaskan bahwa tak satu apa pun dan tak satu orang pun hadir dalam ketersendirian.
  • Setiap individu membentuk lingkungannya, yang mempengaruhi seluruh keberadaan lainnya.
  • Semua hal saling mendukung dan saling terkait, membentuk sebuah kosmos yang hidup, yang oleh filsafat modern mungkin disebut sebuah kesatuan semantis.
  • Bila dipandang dengan kerangka kesalingtergantungan, hubungan kausal berbeda secara mendasar dengan gagasan sebab akibat mekanistik yang menurut ilmu pengetahuan modern berpengaruh besar pada alam.
  • Pandangan mekanistik ini menghendaki agar pertanyaan-pertanyaan eksistensial sengaja dikesampingkan.
  • Pemahaman kausasi dengan definisi yang lebih luas dalam Buddhisme memperhitungkan juga keberadaan manusia dan membahas secara langsung berbagai ketidakpastian yang pedas.
  • Apakah penyebab usia tua dan kematian? Kelahiran adalah penyebab usia tua dan kematian.
  • Kamu adalah tuan bagi dirimu sendiri. Apakah bisa orang lain menjadi tuanmu? Bila kau memegang kendali atas dirimu sendiri, kau telah menemukan seorang tuan yang sangat berharga.
  • Jadilah pelita bagi dirimu sendiri. Jadilah tempat berlindung bagi dirimu sendiri. Andalkan dirimu sendiri. Berpegang teguhlah pada Dharma sebagai pelita, jangan mengandalkan apa pun lainnya.
  • Istilah diri besar dalam Buddhisme menunjukkan keterbukaan dan keluasan karakter saat kita merangkul penderitaan manusia sebagai penderitaan kita sendiri.

Arti Penting Menara Pusaka

  • Nichiren menulis: “Kita hias menara pusaka diri kita dengan empat aspek (kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian).”
  • Bab itu (red: Kemunculan Menara Pusaka dari Sutra Bunga Teratai) secara keseluruhan dapat ditafsirkan sebagai kiasan kelahiran dan hidup manusia.
  • Dengan menyamakan kemunculan menara pusaka dengan kemunculan seseorang dalam kelahiran, Nichiren menulis, “Dunia Kesucian Pusaka adalah rahim sang ibu” dan “proses kemunculan dari rahim ini disebut ‘menyeruak dan tampak’.”
  • Menara Pusaka mengilustrasikan bahwa hidup kita dan alam semesta adalah satu.

Apa Penyebab Hidup?

  • Buddhisme memandang alam semesta sebagai suatu wujud hidup. Alam semesta penuh berisi hidup, dan di mana pun kondisinya tepat, kehidupan akan mucul.
  • Buddhisme menjelaskan bahwa ada empat tahap hidup: eksistensi selama kelahiran, eksistensi selama masa hidup, eksistensi selama kematian dan eksistensi selama periode antara kematian dan kelahiran kembali, atau tahap pengantara. Hidup diyakini mengulang siklus empat tahap ini selama-lamanya.
  • Setiap saat, hidup dalam semua bentuknya menyimpan dorongan untuk mencipta, secara inheren aktif, dan memiliki kekuatan positif untuk menumbuhkan diri.
  • Buddhisme mengajari kita bahwa sebab internal (karma yang dibawa melalui tahap pengantara) berinteraksi dengan sebab eksternal untuk memunculkan keadaan dan kondisi kelahiran.
  • Dalam pandangan Buddhis tidak hanya spermatozoa dan sel telur, tetapi hidup itu sendiri – dalam tahap eksistensi pengantara dan dengan karma yang mencocokkan kondisi konsepsi, hereditas, serta kondisi keluarga dan sosial yang akan menerima lahirnya hidup – masing-masing diperlukan agar hidup manusia mewujud dan berkembang.
  • Hidup dan karma sang ibu, ayah, dan anak – semuanya harus segaris.

Takdir, Hereditas, dan Lingkungan

  • Ada dua teori yang membahas pembentukan karakter: teori bawaan, yang menekankan faktor-faktor hereditas, dan teori empiris, yang menekankan pengaruh lingkungan. Karakter seseorang kemungkinan besar dibentuk oleh interaksi keduanya.
  • Jika Anda ingin memahami sebab yang ada di masa lampau, lihatlah akibat yang tampak di masa sekarang. Dan jika Anda ingin memahami akibat apa yang akan muncul di masa depan, lihatlah sebab yang ada di masa sekarang.

Pandangan Buddhis Mengenai Perpindahan

  • Budhisme mengajarkan bahwa yang berpindah (red: berpindahnya hidup individu dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya) adalah karma.
  • Karma mengacu pada potensi-potensi di dalam alam bawah sadar yang tercipta melalui tindakan-tindakan seseorang di masa lampau atau sekarang, di mana karma tersebut setelah diaktifkan oleh stimulus luar, terwujud nyata sebagai akibat di masa sekarang atau masa depan.
  • Menurut Buddhisme, hidup tidak memakai wujud fisik apa pun setelah kematian, dan suatu “roh” atau “sukma” juga tidak terus ada sebagai wujud yang tetap.
  • Tidak ada diri tetap yang terus hidup sebagai wujud yang tidak berubah. Sakyamuni menyimpulkan bahwa karma sendirilah yang berlanjut.
  • Pengaruh tindakan kita dibawa dari satu masa hidup ke masa hidup berikutnya, melampaui hidup dan mati sosok manusianya.

Arti Karma

  • Pengaruh karma terus terbawa dari satu masa hidup ke masa hidup berikutnya, dan tetap ada selama tahap laten antara kematian dan kelahiran kembali.
  • Hukum karma menjelaskan keadaan kelahiran seseorang, sifat seseorang, serta perbedaan antara semua makhluk hidup dan lingkungannya.
  • Yang membuat seseorang itu mulia atau hina bukanlah kelahiran, melainkan tindakan yang dilakukan..
  • Karma yang paling berpengaruh pada saat ajal akan menentukan kecenderungan dasar kondisi hidup seseorang di masa hidup berikutnya.
  • Pengaruh karma tertentu akan padam setelah energi karma itu dilepaskan sepanjang hidup seseorang.
  • Sutra Bunga Teratai mengajarkan bahwa sebab utama untuk mencapai Kebuddhaan adalah sifat Buddha yang melekat dalam setiap individu, dan bahwa keyakinan pada Sutra Bunga Teratai membuka jalan menuju pencapaian itu.
  • Perubahan kondisi batin seseorang dapat memicu perubahan yang serupa pada orang lain.

Karma dan Teknologi Kedokteran

  • Tanpa mengubah kondisi batin kita di tingkat terdalam, kita ditakdirkan untuk mengalami kesedihan yang diakibatkan oleh apa pun sebab yang sudah kita ciptakan di masa lalu.
  • Dalam mendefinisikan kualitas kehidupan, kita tidak boleh menarik batas lalu menyatakan semua yang berada di luar batas itu tak layak didiami.
  • Menyediakan peralatan untuk melakukan tes prakelahiran memang penting, tetapi kita juga harus menciptakan suatu sistem sosial yang dapat mendukung dan membimbing orangtua dalam situasi seperti ini.
  • Pada akhirnya, penyebab masalah kesehatan terletak jauh di luar ranah kedokteran, di wilayah yang oleh Buddhisme diidentifikasikan sebagai karma.
  • Sementara ilmu kedokteran mengejar kesehatan, Buddhisme menelaah untuk tujuan apa manusia dilahirkan ke dunia ini, sehingga memungkinkan mereka menjalani kehidupan yang bernilai setinggi mungkin.
  • Terlahir ke bumi ini dan menikmati setiap detik kehidupan hingga saat terakhir – inilah tujuan mempraktikkan Buddhisme.

Hidup dan Lingkungannya yang Tak Terpisahkan

  • Lingkungan laksana bayangan dan hidup bagaikan tubuh. Tanpa tubuh, tidak ada bayangan, dan tanpa hidup, tidak ada lingkungan. Begitu pulalah, hidup dibentuk oleh lingkungannya.
  • Alih-alih hanya tunduk pada lingkungan kita yang bergejolak dan selalu berubah, kita manusia dapat memengaruhi lingkungan kita dari dalam ke luar.
  • Selagi kita memupuk sifat Buddha kita, tindakan-tindakan kita akan semakin sejalan dengan kearifan dan welas asih yang mendalam.

Alam Semesta adalah Hidup

  • Josei Toda: “Kita menggunakan kata diri, tetapi kata ini sesungguhnya mengacu pada alam semesta. Bila kita bertanya bagaimana hidup alam semesta berbeda dengan hidup kita masing-masing, satu-satunya perbedaan yang kita temukan adalah perbedaan tubuh dan akal kita. Hidup Anda dan hidup alam semesta adalah sama.”
  • Alam semesta adalah hidup itu sendiri.
  • Hidup, bersama dengan alam semesta, bersifat kekal dan abadi.
  • Toda mengatakan, “Persis seperti kita tidur dan bangun lalu tidur lagi, kita hidup dan mati lalu hidup lagi, mempertahankan hidup kita untuk selamanya.”
  • Hidup adalah suatu wujud yang sekaligus merupakan makrokosmos yang tak berhingga dan setiap mikrokosmos dari tak terbilang makhluk hidup. Hukum mistik adalah nama yang kita berikan pada wujud yanng maha mulia dan tak tersangkalkan ini – hukum universal – dan kita semua adalah perwujudannya.

Memandang ke Depan

  • Ketika pengaruh karma kita menghasilkan suatu rintangan atau kesulitan, hal ini sebenarnya merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk memperbaiki keadaan hidup kita.
  • Saat kita menyadari kekuatan kita untuk mengatasi semua rintangan, kita akan mengundang masa depan yang gemilang bagi diri kita sendiri dan dalam proses itu dapat mengembangkan keadaan hidup yang jauh lebih kuat.
  • Menemukan tujuan hidup memainkan peran yang vital dalam menghadapi yang kedua dari keempat penderitaan – usia tua -.

……bersambung.

One thought on “Buku Mengungkap Misteri Hidup dan Mati | Quotes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s