Pendakian “Tek-tok” Gn. Dempo

Sudah lebih dari 2 bulan lalu pendakian ini berlangsung, yaitu tanggal 8 September 2012. Satu hari saja karena pendakian ini kami langsungkan secara tek-tok, nama lain dari pendakian naik langsung turun.

Wacana  pendakian diutarakan oleh mbak Ayak pada tanggal 29 Agustus 2012 melalui whatsapp. Malam harinya kami langsung bertemu di Solaria. Mbak Ayak sudah bekerja sekarang, jadi dia menraktir makanku hahaha😀 Kami juga bertemu dengan Otoy di sana. Mbak Ayak adalah seniorku di Mapala Flams-NL dan Otoy adalah saudara seangkatanku. Aku masih ragu-ragu apakah akan pergi karena tujuanku pulang ke Palembang sebenarnya karena menghadiri perabuan teman yang wafat pada tanggal 18 Agustus lalu, juga karena hendak berkumpul bersama keluarga. Baiklah, akhirnya aku mengiyakan satu hari sebelum hari-H dan kami mengemas pendakian tersebut hanya berlangsung dalam 1 hari saja ditambah 2 hari perjalanan pp yaitu tanggal 7-9 September 2012.

Aku dan mbak Ayak. Kami berdua saja. Perempuan. …dan kami akan naik melalui Jalur Rimau yang sangat jarang dilalui oleh para pendaki, sedangkan turun akan melewati Jalur Rimba.

Kamis, 6 September 2012

Malam hari tanggal 6, aku dan mamaku pergi ke JM untuk berbelanja logistik dan sepasang kaos kaki. Maklum, aku tak membawa satu peralatan gunung pun ke Palembang. Aku juga menghubungi mbak Ayak untuk meminjam semua peralatan, seperti carrier dan sepatu gunung. Mbak Ayak membantuku meminjamkannya dengan Kadafi dan Dessy, junior kami di Mapala. Tidak mungkin aku membawa tas selempang ke gunung bukan? hahaha karena pendakian ini tek-tok, kami tak perlu mempersiapkan banyak hal. Terima kasih ya, Kadafi dan Dessy🙂

Jumat, 7 September 2012

Selepas makan siang, aku dan mbak Ayak bertemu di Sekretariat Mapala di kampus Methodist. Siang itu dari rumah aku hanya menggunakan kaos oblong, celana jeans coklat muda, tas ransel laptop dan sandal jepit saja. Di Sekret, kami packing ulang, mengganti tas laptopku dengan tas gunungnya Kadafi. Barang-barang yang tidak kami bawa, kami titipkan ke Kadafi untuk disimpan di Sekret.

Usai itu, kami naik bus kota tujuan km. 12, lalu berganti angkot menuju Terminal Alang-alang Lebar. Sesampainya di Terminal, kami mengambil 2 tiket bus Telaga Biru yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh mbak Ayak. Aku lupa berapa harga tiketnya. Mungkin sekitar 60 ribu. Di Terminal, kami juga bertemu dengan Otoy karena Otoy membawakan pempek pesanan mbak Ayak yang akan diberikan kepada mak Arief yang rumahnya akan kami tumpangi selama 2 malam itu.

Pukul 3 sore, bus beranjak. Kami duduk tepat di belakang sopir. Ahhh… hatiku senang sekali. Aku bernostalgia dengan perjalanan ini. Sudah 4 tahun aku tak mengunjungi Pagaralam. Kami sempat berhenti di rumah makan untuk santap siang. Masih saja seperti dulu, kami memesan nasi bungkus dan makan di samping Musholla, tak jauh dari rumah makan. Lesehan.

Aku banyak tidur selama perjalanan. Di dalam bus, terdapat juga satu rombongan Mapala Unsri yang aku lupa namanya. Pukul setengah 12 malam, kami tiba di rumah mak Arief. Mbak Ayak yang akrab dengan mak Arief bercengkerama panjang lebar dan aku lebih banyak menjadi pendengar yang baik🙂

Sekitar pukul 1 malam, kami tidur. Mbak Ayak sebelum tidur masih sempat makan nasi dengan sarden, sedangkan aku sibuk “menggerogoti” kue lebarannya mak Arief🙂

Sabtu, 8 September 2012

Pukul 05.45 WIB: Bangun Tidur

Kami bangun tidur. Cuci muka dan sikat gigi. Saat itu, desa-desa di bawah Gn. Dempo sedang kesulitan air karena musim kemarau yang belum usai. Kami memilih untuk ikut berhemat air. Kami sarapan seadanya dan minum segelas teh manis hangat buatan Arief. Mak Arief pagi-pagi benar sudah berangkat ke PTPN untuk bekerja.

Pukul 07.45 – 08.15 WIB: Menuju Tugu Rimau

Kami sudah menunggu sangat lama di depan rumah mak Arief hingga lewat pukul 7 pagi. Kami menunggu angkot yang akan menuju Rimau, tepatnya angkot yang memiliki rute hingga pintu masuk pendakian jalur Rimau. Sepertinya memang tidak ada angkot yang seperti itu hahaha akhirnya kami memutuskan untuk menyewa ojek, namun harga yang ditawarkan sangat tinggi, yaitu 100 ribu/ojek. Kami terus berjalan menuju Puskesmas yang katanya merupakan posko Ojek. Di perjalanan, kami bertemu satu angkot yang bisa kami sewa seharga 80 ribu saja.  Bapak sopirnya sangat ramah dan kami mengobrol sepanjang 30 menit perjalanan, termasuk obrolan tentang pemetikan pucuk teh yang sekarang menggunakan mesin, bukan tenaga manusia secara manual lagi. Bapak tersebut mengatakan bahwa kualitas teh Dempo menurun karena mesin tidak dapat membedakan pucuk teh terbaik dan tidak sehingga daun-daun yang baik dan jelek pun tercampur. Kupikir, pada awalnya memang begitu. Namun semakin lama, tanaman teh tersebut akan seragam tingginya sehingga memang lebih efektif dan efisien menggunakan mesin. Hal yang perlu dipikirkan adalah, para pemetik teh harus mencari pekerjaan pengganti yang selama ini menjadi mata pencarian utama mereka🙂

Menunggu Angkot yang Tak Kunjung Datang

Tugu Rimau yang dibangun menjelang Pon XVI

Titik Awal Pendakian 1820 mdpl

Pemandangan menuju Tugu Rimau ini sangat-sangat indah. Sejauh mata memandang terhampar kebun teh yang berwarna hijau keemasan diterpa mentari pagi. Para penduduk bekerja dengan pakaian khasnya. Mereka membawa keranjang dengan meletakkan pegangan di dahinya dan menggunakan sepatu boat, juga baju yang berlapis-lapis untuk menghindari panas matahari. Suasana perjalanan tersebut membawa kesejukan bagi kami. Awan-awan rendah memenuhi langit di pagi itu dan cuaca sangat mendukung. Jalanan beraspal terus saja menandjak hingga ke titik awal pendakian. Jalur kendaraan ini memang lebih bagus dibandingkan jalur menuju Kampung 4 yang merupakan pintu masuk ke Pintu Rimba. Sepengetahuanku, memang hanya terdapat 2 pintu masuk saja menuju puncak Dempo ini. Jika boleh merekomendasikan, aku memilih Jalur Rimau dibandingkan Rimba.

Jalanan ini dibangun pada tahun 2004 ketika Pagaralam menjadi tuan rumah PON XVI untuk cabang olahraga Paralayang. Lokasi yang akan kami tuju ini juga berdekatan dengan lokasi Paralayang tersebut. Ketika kami tiba, terlihat beberapa bangunan permanen di sana, namun tidak ada penjaganya sama sekali. Hanya kami berdua saja dan kami langsung naik tanpa mendaftarkan diri terlebih dahulu. Gunung Dempo ini sepertinya bukan termasuk Taman Nasional, hanya PTPN VII saja yang bertanggung jawab atasnya.

Pukul 08.20 – 09.05 WIB: Menuju Shelter 1

Baru berjalan sebentar saja aku sudah jatuh cinta dengan jalur pendakian ini🙂

Kami memilih waktu pendakian yang tepat, yaitu bukan musim penghujan. Track tanah yang masih tertata rapi, akar-akar pohon yang begitu kuat serta tidak banyak sampah. Aku benar-benar menyukai jalur rimau ini. Sangat suka🙂

Pohon Pakis Hutan🙂

Track yang sangat bagus, bukan?

Menikmati Alam😀

Pendakian Pertama dengan Mbak Ayak

Ruang Kosong di antara Pepohonan

Demi foto berdua, kamera diletakkan di mana saja asal fokus hahaha

Mbak Ayak mengatakan bahwa track ini dibuat oleh anggota Kopasus. Pantas saja bagus hahaha

Kami tak beristirahat selama perjalanan, namun berhenti cukup lama untuk sarapan pagi ke-2 di Shelter 1. Menu pagi itu adalah mie+telur, minum susu Milo, dan makan puding hahaha sangat kenyang😀

Kami tak berhemat logistik sama sekali karena kami membawanya cukup banyak. Kondisi pendakian sebelum dan sesudah bekerja memang berbeda hahaha

Kami tak bisa bersantai-santai terlalu lama di sana karena kami belum bisa memprediksi waktu tempuhnya secara pasti. Hanya mbak Ayak yang sudah pernah melewati jalur Rimau ini satu kali dan aku sangat senang karena cerita beliau sebelum pendakian ini sama persis dengan yang kuhadapi saat itu, yaitu tracknya yang bagus dan waktu yang lebih cepat menuju puncak, meskipun tracknya lebih sulit.

Pukul 12.15 WIB: Shelter 2

Dugaan kami salah tentang Shelter 2. Kami pikir Shelter 2 bisa ditempuh selama 2 jam saja, ternyata lewat. Dari Shelter 2 menuju Top Dempo, jalanan terus saja menandjak. Semakin menantang. Cuaca masih tetap mendukung. Udara sedikit dingin meski mentari bersinar cerah. Ekosistem mulai berubah di ketinggian ini hingga terlihat hutan lumut yang pohon-pohonnya tanpa daun, hanya batang-batang pohon yang lembab saja. Jika tidak berhati-hati, jalur ini bisa membuat kita nyasar karena cukup tertutup. Mbak Ayak bilang, jalur hutan lumut tersebut mirip di film The Lord of The Ring😀

Shelter 2

Istirahat Sejenak🙂

Aku mencintai track ini🙂

Usai Menandjak

Tali Seupil Macam ini Mana Bisa Buat Pegangan? hahaha

Hutan Lumut yang Tertutup😀

Pukul 14.00 – 14.45 WIB: Top Dempo

Akhirnya kami tiba juga di Top Dempo 3.159 mdpl menjelang pukul 14.00 WIB🙂

Kami mengambil foto berdua, lalu turun ke Lembah. Rencana semula memang hendak menuju Kawah, namun waktu sudah tak mencukupi. Puncak memang bukan segalanya, bukan? Dua kali ke Dempo dan aku belum pernah main-main di kalderanya hahaha benar-benar belum berjodoh. Hal ini sama seperti kita bertamu ke rumah orang, kita baru diperbolehkan duduk-duduk di ruang tamunya saja dan belum masuk ke toiletnya. Mengapa toilet? Karena toilet akan kita datangi jika kita membutuhkannya. Hal ini berarti, Puncak Dempo belum kubutuhkan saat ini. Next time ya😀

Selamat Datang di Top Dempo🙂

Menuju Lembah

Ber-syal-kan Mapala Flams-NL

Ungkapan Syukur dalam Sholat yang Khusyuk

Ikuti Ego ke Puncak atau Turun? Turun Saja Kita…

Di lembah, kami berdoa sesuai keyakinan kami masing-masing. Usai itu, kami makan siang. Kami melihat kabut yang datang dan pergi di puncak sana. Tidak ada sesiapa pun di lembah itu. Kami mengambil beberapa gambar, lalu turun.

Tahun 2007 di lembah ini, masih teringat jelas dalam benakku tentang kak Agok yang mendukungku hingga ke dalam tenda. Saat itu, kondisiku sangat drop. Dingin di bulan Desember rasanya masuk hingga ke organ tubuhku. Kantuk yang tak tertahankan membuatku hendak tidur sepanjang perjalanan. Aku berjalan sambil tidur dan akhirnya, tak sanggup lagi kutuntaskan perjalanan. Ketika aku masuk ke dalam tenda yang dipenuhi oleh seniorku, laki dan perempuan, minuman hangat dan sleeping bag langsung menghangatkan badanku. Perlahan aku mulai membaik. Setelah makan malam, mereka semuanya mengaji di dalam tenda dan aku mendengarkannya sampai aku benar-benar tertidur lelap.

Bunga Cantigi – Pahlawan di Gunung😀

Gunung Dempo ini mempunyai ceritanya sendiri.

Gunung Dempo ini adalah kawah candradimuka bagi Mapala Flams-NL, organisasi yang kuikuti semasa kuliah yang mengajarkan aku banyak hal tentang idealisme hidup.

Pukul 18.30 WIB: Pintu Rimba

Melewati batu cadas yang kering tak tersentuh air pada pukul 15.30 dan dinding lemari menjelang pukul 17.00, kami tiba juga di Pintu Rimba. Lututku sakit sekali di jalan menuju Pintu Rimba. Rasanya memang sedikit sulit untuk berjalan. Mbak Ayak merasa sakit pada jari-jari kakinya karena sepatu yang terlalu ketat. Dia melepas satu sepatunya dan berjalan “kaki ayam”.  Aku senang berjalan dengan orang yang kuat hatinya seperti mbak Ayak. Rute turun melalui Pintu Rimba ini memang sulit karena tracknya yang sedikit curam.

Dalam perjalanan,  kami bertemu dengan beberapa kelompok pendaki. Ada mahasiswa Muhammadiyah dan juga rombongan mahasiswa Unsri yang datang bersama kami dengan bus Telaga Putri kemarin. Mereka pada sore hari itu belum tiba juga di lembah, padahal hari mulai menggelap.

Ada satu kejadian ketika mbak Ayak yang berjalan di depan tiba-tiba berteriak menyapa orang ala pendaki. Lalu dia diam lagi. Di Dinding Lemari, dia juga enggan menoleh ke belakang. Sesampainya di Pintu Rimba, kuajak untuk berfoto, namun mbak Ayak juga menolaknya. Hahaha mbak Ayak memang memiliki kemampuan lebih untuk “melihat” dan “merasakan” yang tidak dimiliki olehku🙂

Melewati Batu Cadas yang Kering

Melewati Dinding Lemari

Akhirnya, tiba juga di Pintu Rimba🙂

Pukul 19.30 WIB: Kampung 4

Yang benar saja! Kami berdua nyasar di Kebun Teh. Sungguh terlalu! Hahaha lama kami berputar-putar di kebun teh. Mbak Ayak bilang, pohon-pohon teh yang biasa menjadi petunjuk sudah berubah. Hari itu memang sudah malam sehingga kami tidak bisa melihat jalur di depan dengan cermat.  Nyasarlah kami cukup lama dengan keadaan sedikit panik. Nanti sesampainya di rumah mak Arif, mbak Ayak baru menceritakan alasan kepanikannya. Konon, memang pernah ada pendaki yang “sengaja disasarkan” di tempat ini karena melakukan “kesalahan”. Aku juga takut di malam itu sewaktu mendengar suara babi hutan. Ya ampun! Dulu seniorku pernah bilang pada saat Diksar bahwa jalur babi hutan ada di kebun teh ini. Aku jadi teringat lagi hahaha

Akhirnya kami menemukan jalur semestinya. Menuju ke kampung 4, kami melihat rombongan sapi pula yang menghalangi perjalanan pulang kami. Berdua kami menunggu dan mengecoh sapi-sapi itu agar masuk kembali ke kebun teh. Aku juga tau dari mbak Ayak kalau sekarang terdapat pagar yang membatasi kebun teh dan kampung 4 tempat pemukiman penduduk. Cukup lama kami bermain-main dengan sapi. Aku sempat tak percaya pada saat mbak Ayak mengatakan pernah ada orang yang diseruduk sapi-sapi itu. Lampu dari senter kami gunakan untuk mengalihkan sapi-sapi tersebut dari jalan yang akan kami lalui.

Setelah sampai tepat di pagar, ternyata masih ada juga 2 ekor sapi di sana hahaha kami melewatinya dengan mudah. Lalu sampailah kami di warung mbak Rina, warung langganannya mbak Ayak. Kami makan mie lagi di warung itu dan minum teh manis hangat. Mbak Ayak membeli sepasang sandal jepit untuk mengganti sepatunya yang menyakitkan jari-jarinya🙂

Mbak Ayak bercerita pada saat Diksar, anak-anak Mapala kami suka “ngutang dulu” ketika kehabisan uang di warung mbak Rina. Jadi, bersahabat baiklah mereka. Sudah lama aku di Jogja hingga tidak tau lagi berita-berita di Mapalaku kecuali dari cerita-cerita mbak Ayak yang biasa dipanggil Makwo (mak ketuo/ibu ketua) itu, ataupun dari anak-anak Mapala angkatan baru.

Pukul 20.30 WIB: Rumah Mak Arief

Dari Kampung 4 menuju Rumah Mak Arief kami dijemput oleh temannya mbak Ayak yang kebetulan sedang berada di sana. “Mungkin baru kali ini ada Inova yang memasuki Kampung 4”, celoteh mbak Ayak. Sesampainya di rumah mak Arief, mak Arief sendiri masih belum pulang dari pabrik. Kami langsung tertidur dengan lelap setelah membersihkan diri.

Minggu, 9 September 2012

Hari ini pun masih sama. Kami tak bertemu dengan mak Arief. Beliau benar-benar seorang ibu yang bekerja keras. Aku kagum padanya🙂

Pagi ini kami mulai dengan sarapan pagi dengan menu pempek dan pisang goreng. Harganya sangat murah dan rasanya cukup enak. Setelah itu, kami mampir ke Koperasi PTPN untuk membeli teh dan kopi. Aku juga membeli cukup banyak dengan cita-cita akan kubawa pulang ke Jogja. Namun akhirnya, teh dan kopi tersebut hanya berhenti di Palembang saja hahaha teh hitam Gunung Dempo ini diekspor ke luar negeri dan rasanya sangat enak. Aku sungguh menyukainya🙂

Pukul 9 pagi kami sudah siap pulang ke Palembang. Dalam perjalanan mencari ojek, kami bertemu dengan Ayah Anton. Ayah Anton adalah kuncen Gunung Dempo. Pada saat kami berdua berjalan, Ayah Anton menghampiri. Kupikir tukang ojek hahaha minta maaf, Ayah. Aku lupa wajahnya Ayah😀

Mbak Ayak akrab sekali dengan Ayah Anton dan tentu saja masih mengenalinya dengan baik. Ayah bercerita bahwa Ibu Monyet sedang ada di rumah sakit karena alasan kesehatan. Istrinya suka sekali memanggil semua pendaki dengan sebutan monyet, makanya semua pendaki memanggil istri Ayah Anton dengan sebutan Ibu Monyet hahaha

Alasan kami tidak menginap di rumah Ayah Anton adalah: takut tidak diperbolehkan mendaki berdua saja, apalagi kami adalah perempuan🙂

Ayah Anton lah yang akhirnya mencarikan kami ojek ke Terminal Pagaralam, tentunya dengan harga yang lebih murah. Jika bukan Ayah Anton, pasti kami akan diberikan harga yang sangat tinggi oleh tukang-tukang ojek itu. Kami pulang dengan bus Telaga Putri juga. Bus ini hanya bisa menjemput kita langsung di PTPN pada malam hari di saat lalu lintas tak ramai, jika pagi hari, kita harus menghampirinya sendiri di Terminal.

Terima kasih Ayah Anton.

Gunung Jempol di Lahat

Jalan Indralaya yang kami lewati sangat-sangat macet. Aku pusing sekali melihat kendaraan yang tak bergerak tersebut. Semua jenis kendaraan tumplek-blek di sana, mulai dari tronton, truk, kendaraan pribadi beroda empat maupun dua. Wajar saja sebenarnya karena hanya jalan itu satu-satunya penghubung kota Palembang dan Lampung – kota penyeberangan laut ke pulau Jawa. Akhirnya hampir pukul 8 malam kami baru tiba di Kertapati, Palembang.

Dari Kertapati, kami naik bus kota menuju Sekret Mapala di km. 3,5. Tukang bus kota pastilah menyangka kami orang luar Palembang sehingga meminta ongkos yang lebih dari biasanya. Di Palembang ini, jika kita tidak memiliki keberanian untuk “berdebat” dengan kenek bus kota atau orang-orang nakal yang usil seperti itu, kita pasti akan dipermainkan.

Hidup di jalan-jalan Palembang memang seperti itu, tapi aku tetap saja mencintai kota kelahiranku ini🙂

2 thoughts on “Pendakian “Tek-tok” Gn. Dempo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s