Public Lecture: User-Driven Innovations in Mobile Multimedia Tools, and Applications

Foto Bersama Pembicara, Dosen dan Beberapa Rekan Mahasiswa (by: Wawan)

Hari Rabu tanggal 28 November 2012 pada pukul 13.30 – 15.00 di Ruang A1.06 FMIPA UGM telah dilaksanakan kuliah umum “User-Driven Innovations in Mobile Multimedia Tools, and Applications”.

Di awal pembicaraan, A/Prof. Dian Tjondronegoro memperkenalkan Mobile Innovation Lab di Queensland University of Technology. Kampus ini terletak di Brisbane, Australia. Continue reading

Advertisements

Gong Xi – 8,5 kg

Gong Xi, nama anjing jantan miliknya Bp. Aruji. Matanya yang kecil bukan karena sipit atau pun keturunan dari bapak ibunya. Matanya hanya tak dapat digunakan secara sempurna saja. Memasuki usianya yang ke-10 bulan, badannya semakin membesar, pun tidak seperti bapak ibunya. Minggu kemarin (18/12), Bp Aruji mengatakan berat badannya sudah mencapai 8,5 kg. Gong Xi yang lahir bertepatan di hari Imlek tahun ini, hatinya sangat baik, penurut dan tidak suka grasa-grusuΒ seperti bapaknya, alias mondar-mandir secara serampangan.

Kecintaan dan rasa sayangku pada anjing bisa kuekspresikan pada anjing-anjingnya Bp. Aruji yang lebih dari 5 ekor. Senangnya πŸ™‚

3 Tahun, Terangkum dalam 3 x 30 Menit

Aku mengatakan pada diriku saat ini, “Aku memiliki waktu 30 menit untuk menuliskan apa yang sudah kulakukan di Jogja selama ini secara singkat.”

Aku merasa sangat perlu memikirkan kembali hal ini, lantas akan kulupakan. Menuju ke masa depan, kadang kala masa lalu cukup diambil hikmahnya saja. Tak perlu membayang-bayangi langkah kita. Catatanku tentang apa saja yang kulakukan dan kapan, dengan siapa aku bertemu, apa yang kami bicarakan, sepertinya selalu kusimpan dengan baik. Permasalahannya adalah, data-data tersebut masih berupa puzzle yang belum terangkum. Kurasa, aku belajar mendokumentasikan hidup dari papaku. Beliau orang yang sangat rapi, bahkan melebihiku.

Baiklah, mari mulai mengingat, menulis dan melihat sedikit contekan.

2010

  • 28 Februari, aku mulai menghitung jumlah daimoku secara resmi. Hingga tanggal 16 Maret, ci Rita menemaniku berdaimoku bersama setiap malam. Saat itu, ada 2 doa yang harus tuntas. Pertama, memutuskan apakah aku benar-benar akan mengambil S2 dan membentuk Pundarika di Palembang. Daimoku 1 juta pertama ini dicapai pada tanggal 4 Januari 2011.
  • 28 Februari ini, Tua Ang, teman pemudiku di Palembang berulang tahun. Esok harinya, tanggal 1 Maret, beliau wafat dengan tenang.
  • 15 Mei, aku menghadiri Women Peace Conference yang diselenggarakan oleh Soka Gakkai Indonesia dengan menghadirkan Seko Ong sebagai pembicara seminar yang inspiratif dan membangun. Isi dari seminar ini menguatkan hatiku sewaktu mendengar berita kegagalanku dalam ujian masuk di ITB.
  • 29 Mei, terburu-buru aku berangkat ke Yogyakarta. Saat itu adalah hari Sabtu, sedangkan Senin tanggal 1 Juni, kuliah Pra S2 perdana dimulai di Kampus UGM. Ya, akhirnya aku kembali ke pilihan pertamaku, yaitu UGM. Ternyata, kota yang kuinginkan adalah Yogyakarta, bukan Bandung. Ibu Yani banyak sekali membantuku mengurus kehidupan awal di kota Yogyakarta.
  • 30 Mei, perayaan hari Wanita dilaksanakan di Palembang. Kegiatan pertama yang tidak kuikuti di Palembang dan jumlah peserta tidak mencapai target. Aku tidak berjuang. Saat itu, Ci Rita mengatakan bahwa aku harus membuat evaluasi sehingga kegiatan yang akan datang dapat mencapai target. Aku belajar banyak dari kegagalan itu.
  • 31 Mei, kuliah pra S2 dimulai. Kuliah ini berlangsung hingga pertengahan Agustus. IPK ku memenuhi target. Kurasa, pada saat itu aku adalah orang yang paling bahagia di dunia πŸ˜€
  • 6 Juni, pertama kali aku mengikuti Pertemuan Diskusi di Shibu Yogyakarta. Tanggal itu juga, di Jakarta diadakan rapat pimpinan Generasi Muda se-Indonesia dan pertama kalinya sejak tahun 2005, aku tidak menghadiri rapat tersebut. Di Pertemuan Diskusi pertama itulah aku bertemu dengan Apri, Puput dan Keiko san. Tanggal itu adalah tanggal yang sangat bersejarah bagiku.
  • 24 Juli, pertama kalinya aku berangkat ke Jakarta naik travel mengikuti Bunkasai Generasi Muda di Honbu.
  • 17 Agustus, aku melaksanakan kampanye daimoku yang biasa dilaksanakan setiap tahunnya oleh Divisi Pemudi untuk mendoakan kedamaian dan kemakmuran Negara Indonesia.
  • 29 Agustus, aku mengikuti Ujian Buddhisme Tingkat Menengah di Yogyakarta bersama 2 orang lainnya.
  • 31 Agustus, aku pindah ke kosku sendiri, yaitu kos Coklat di Condong Catur, Mancasan Lor. Sebelumnya, aku menempati kos Ibu Yani karena Ibu Yani pulang ke Palembang selama liburan semester.
  • 2 September, kuliah Perdana.
  • 13-15 September, aku bersama Ajhies dan Puput naik Gn. Slamet via Kaliwadas. Ini adalah satu-satunya gunung yang kudaki pada tahun 2010. Saat itu keinginan mendaki sudah tidak terbendung lagi hahaha
  • 16 September pukul 00.35 WIB, ternyata engkongku wafat. Orang tuaku tak memberitahukan padaku. Baru keesokan paginya, aku mendapat kabar. Itu pun dari seorang teman. Mereka benar-benar tidak mau membuatku khawatir. Pada hari itu juga, aku segera naik kereta api ke Jakarta dari Banyumas, lantas naik pesawat ke Palembang yang tiketnya dibelikan dahulu oleh Ilham, teman naik gunungku. Satu-satunya jatah tiket kereta api yang tersisa pada H+3 lebaran tersebut diberikan oleh teman-temanku untukku dan mereka sendiri menunda kepulangannya. Sungguh terharu dan berterima kasih pada mereka.
  • 17 Oktober, aku menerima GOHONZON. Dulu sebelum ke Jogja, ci Evi mengatakan padaku lebih baik menerima Gohonzon di Jogja dan aku merealisasikannya. Seharusnya Gohonzon ini kuterima pada tanggal 19 September, namun saat itu adalah hari penutupan peti jenazah Engkongku.
  • Akhir Oktober ketika sedang UTS di Kampus, Merapi meletus dan aku mendaftarkan diri menjadi relawan di Jalin Merapi. Pengalaman ini berlangsung selama 4 bulan dan tak terlupakan.
  • 20-21 November, Seko Ong kembali datang ke Indonesia untuk memberikan Seminar dan aku menghadirinya. Aku selalu belajar banyak darinya.
  • 5-7 Desember, Rapat Pimpinan Soka Gakkai Indonesia diadakan. Beberapa minggu sebelumnya, Urara san menanyakan padaku apakah bersedia menjadi Ketua Pemudi Shibu Yogyakarta dan aku menjawab iya. Usai rapat, aku baru mengetahuinya bahwa belum ada laporan resmi ke Jakarta dan semua biaya transportasi dan akomodasiku ternyata ditraktir oleh Pimpinan Shibu Jogja hahaha terima kasih πŸ™‚
  • Malam tahun baru kuhabiskan dengan ex-bf ku dengan berkeliling kota Jogja dan tepat tengah malam, aku berdaimoku menyambut tahun baru.

Wow, menulis cerita tahun 2010 saja memerlukan waktu 30 menit haha padahal tak berhenti menulis. Baiklah, itu batas kecepatanku. Satu jam lagi, tulisan ini pasti usai. Continue reading

Pendakian “Tek-tok” Gn. Dempo

Sudah lebih dari 2 bulan lalu pendakian ini berlangsung, yaitu tanggal 8 September 2012. Satu hari saja karena pendakian ini kami langsungkan secara tek-tok, nama lain dari pendakian naik langsung turun.

WacanaΒ  pendakian diutarakan oleh mbak Ayak pada tanggal 29 Agustus 2012 melalui whatsapp. Malam harinya kami langsung bertemu di Solaria. Mbak Ayak sudah bekerja sekarang, jadi dia menraktir makanku hahaha πŸ˜€ Kami juga bertemu dengan Otoy di sana. Mbak Ayak adalah seniorku di Mapala Flams-NL dan Otoy adalah saudara seangkatanku. Aku masih ragu-ragu apakah akan pergi karena tujuanku pulang ke Palembang sebenarnya karena menghadiri perabuan teman yang wafat pada tanggal 18 Agustus lalu, juga karena hendak berkumpul bersama keluarga. Baiklah, akhirnya aku mengiyakan satu hari sebelum hari-H dan kami mengemas pendakian tersebut hanya berlangsung dalam 1 hari saja ditambah 2 hari perjalanan pp yaitu tanggal 7-9 September 2012.

Aku dan mbak Ayak. Kami berdua saja. Perempuan. …dan kami akan naik melalui Jalur Rimau yang sangat jarang dilalui oleh para pendaki, sedangkan turun akan melewati Jalur Rimba.

Kamis, 6 September 2012

Malam hari tanggal 6, aku dan mamaku pergi ke JM untuk berbelanja logistik dan sepasang kaos kaki. Maklum, aku tak membawa satu peralatan gunung pun ke Palembang. Aku juga menghubungi mbak Ayak untuk meminjam semua peralatan, seperti carrier dan sepatu gunung. Mbak Ayak membantuku meminjamkannya dengan Kadafi dan Dessy, junior kami di Mapala. Tidak mungkin aku membawa tas selempang ke gunung bukan? hahaha karena pendakian ini tek-tok, kami tak perlu mempersiapkan banyak hal. Terima kasih ya, Kadafi dan Dessy πŸ™‚

Jumat, 7 September 2012

Selepas makan siang, aku dan mbak Ayak bertemu di Sekretariat Mapala di kampus Methodist. Siang itu dari rumah aku hanya menggunakan kaos oblong, celana jeans coklat muda, tas ransel laptop dan sandal jepit saja. Di Sekret, kami packing ulang, mengganti tas laptopku dengan tas gunungnya Kadafi. Barang-barang yang tidak kami bawa, kami titipkan ke Kadafi untuk disimpan di Sekret.

Usai itu, kami naik bus kota tujuan km. 12, lalu berganti angkot menuju Terminal Alang-alang Lebar. Sesampainya di Terminal, kami mengambil 2 tiket bus Telaga Biru yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh mbak Ayak. Aku lupa berapa harga tiketnya. Mungkin sekitar 60 ribu. Di Terminal, kami juga bertemu dengan Otoy karena Otoy membawakan pempek pesanan mbak Ayak yang akan diberikan kepada mak Arief yang rumahnya akan kami tumpangi selama 2 malam itu.

Pukul 3 sore, bus beranjak. Kami duduk tepat di belakang sopir. Ahhh… hatiku senang sekali. Aku bernostalgia dengan perjalanan ini. Sudah 4 tahun aku tak mengunjungi Pagaralam. Kami sempat berhenti di rumah makan untuk santap siang. Masih saja seperti dulu, kami memesan nasi bungkus dan makan di samping Musholla, tak jauh dari rumah makan. Lesehan.

Aku banyak tidur selama perjalanan. Di dalam bus, terdapat juga satu rombongan Mapala Unsri yang aku lupa namanya. Pukul setengah 12 malam, kami tiba di rumah mak Arief. Mbak Ayak yang akrab dengan mak Arief bercengkerama panjang lebar dan aku lebih banyak menjadi pendengar yang baik πŸ™‚

Sekitar pukul 1 malam, kami tidur. Mbak Ayak sebelum tidur masih sempat makan nasi dengan sarden, sedangkan aku sibuk “menggerogoti” kue lebarannya mak Arief πŸ™‚

Sabtu, 8 September 2012

Pukul 05.45 WIB: Bangun Tidur

Kami bangun tidur. Cuci muka dan sikat gigi. Saat itu, desa-desa di bawah Gn. Dempo sedang kesulitan air karena musim kemarau yang belum usai. Kami memilih untuk ikut berhemat air. Kami sarapan seadanya dan minum segelas teh manis hangat buatan Arief. Mak Arief pagi-pagi benar sudah berangkat ke PTPN untuk bekerja.

Pukul 07.45 – 08.15 WIB: Menuju Tugu Rimau

Kami sudah menunggu sangat lama di depan rumah mak Arief hingga lewat pukul 7 pagi. Kami menunggu angkot yang akan menuju Rimau, tepatnya angkot yang memiliki rute hingga pintu masuk pendakian jalur Rimau. Sepertinya memang tidak ada angkot yang seperti itu hahaha akhirnya kami memutuskan untuk menyewa ojek, namun harga yang ditawarkan sangat tinggi, yaitu 100 ribu/ojek. Kami terus berjalan menuju Puskesmas yang katanya merupakan posko Ojek. Di perjalanan, kami bertemu satu angkot yang bisa kami sewa seharga 80 ribu saja.Β  Bapak sopirnya sangat ramah dan kami mengobrol sepanjang 30 menit perjalanan, termasuk obrolan tentang pemetikan pucuk teh yang sekarang menggunakan mesin, bukan tenaga manusia secara manual lagi. Bapak tersebut mengatakan bahwa kualitas teh Dempo menurun karena mesin tidak dapat membedakan pucuk teh terbaik dan tidak sehingga daun-daun yang baik dan jelek pun tercampur. Kupikir, pada awalnya memang begitu. Namun semakin lama, tanaman teh tersebut akan seragam tingginya sehingga memang lebih efektif dan efisien menggunakan mesin. Hal yang perlu dipikirkan adalah, para pemetik teh harus mencari pekerjaan pengganti yang selama ini menjadi mata pencarian utama mereka πŸ™‚

Menunggu Angkot yang Tak Kunjung Datang

Tugu Rimau yang dibangun menjelang Pon XVI

Titik Awal Pendakian 1820 mdpl

Pemandangan menuju Tugu Rimau ini sangat-sangat indah. Sejauh mata memandang terhampar kebun teh yang berwarna hijau keemasan diterpa mentari pagi. Para penduduk bekerja dengan pakaian khasnya. Mereka membawa keranjang dengan meletakkan pegangan di dahinya dan menggunakan sepatu boat, juga baju yang berlapis-lapis untuk menghindari panas matahari. Suasana perjalanan tersebut membawa kesejukan bagi kami. Awan-awan rendah memenuhi langit di pagi itu dan cuaca sangat mendukung. Jalanan beraspal terus saja menandjak hingga ke titik awal pendakian. Jalur kendaraan ini memang lebih bagus dibandingkan jalur menuju Kampung 4 yang merupakan pintu masuk ke Pintu Rimba. Sepengetahuanku, memang hanya terdapat 2 pintu masuk saja menuju puncak Dempo ini. Jika boleh merekomendasikan, aku memilih Jalur Rimau dibandingkan Rimba.

Jalanan ini dibangun pada tahun 2004 ketika Pagaralam menjadi tuan rumah PON XVI untuk cabang olahraga Paralayang. Lokasi yang akan kami tuju ini juga berdekatan dengan lokasi Paralayang tersebut. Ketika kami tiba, terlihat beberapa bangunan permanen di sana, namun tidak ada penjaganya sama sekali. Hanya kami berdua saja dan kami langsung naik tanpa mendaftarkan diri terlebih dahulu. Gunung Dempo ini sepertinya bukan termasuk Taman Nasional, hanya PTPN VII saja yang bertanggung jawab atasnya.

Pukul 08.20 – 09.05 WIB: Menuju Shelter 1

Baru berjalan sebentar saja aku sudah jatuh cinta dengan jalur pendakian ini πŸ™‚

Kami memilih waktu pendakian yang tepat, yaitu bukan musim penghujan. Track tanah yang masih tertata rapi, akar-akar pohon yang begitu kuat serta tidak banyak sampah. Aku benar-benar menyukai jalur rimau ini. Sangat suka πŸ™‚

Pohon Pakis Hutan πŸ™‚

Track yang sangat bagus, bukan?

Menikmati Alam πŸ˜€

Pendakian Pertama dengan Mbak Ayak

Ruang Kosong di antara Pepohonan

Demi foto berdua, kamera diletakkan di mana saja asal fokus hahaha

Mbak Ayak mengatakan bahwa track ini dibuat oleh anggota Kopasus. Pantas saja bagus hahaha

Kami tak beristirahat selama perjalanan, namun berhenti cukup lama untuk sarapan pagi ke-2 di Shelter 1. Menu pagi itu adalah mie+telur, minum susu Milo, dan makan puding hahaha sangat kenyang πŸ˜€

Kami tak berhemat logistik sama sekali karena kami membawanya cukup banyak. Kondisi pendakian sebelum dan sesudah bekerja memang berbeda hahaha

Kami tak bisa bersantai-santai terlalu lama di sana karena kami belum bisa memprediksi waktu tempuhnya secara pasti. Hanya mbak Ayak yang sudah pernah melewati jalur Rimau ini satu kali dan aku sangat senang karena cerita beliau sebelum pendakian ini sama persis dengan yang kuhadapi saat itu, yaitu tracknya yang bagus dan waktu yang lebih cepat menuju puncak, meskipun tracknya lebih sulit. Continue reading

……masih terus berjuang!

Hari ini, aku ingin menuliskan dua kalimat dari Ikeda Sensei:

Betapa pun mengantuk dan capeknya Anda, hanya ketika Anda menang atas diri sendiri, Anda akan memiliki hari kemenangan.

dan

Orang kelas satu tidak memandang usia atau kedudukan, tidak pernah berhenti belajar dengan rajin dan mau mendisiplinkan diri mereka sendiri.

Selanjutnya, aku ingin mengeluhkan menceritakan tentang kesehatanku. Entah apa penyebabnya, akhir-akhir ini kepala di bagian belakang dekat tengkuk leher rasanya sering sakit pada saat bangun tidur maupun dalam kesehariannya. Kolestrol? Tidak juga, karena aku sudah tak makan daging lagi dalam seminggu ini. Rasanya memang sedikit berat melewati hari dengan sakit seperti ini. Kadang, telinga bagian belakang juga nyeri. Mataku tiba-tiba suka tidak bersahabat jika terlalu lama di depan komputer. Namun, hal ini bukanlah masalah besar sekarang. Aku bersyukur bahwa tubuhku masih dapat memberikan respon seperti ini. Masalah besar justru terjadi jika hal ini berlarut-larut tak kuatasi.

Aku akan mulai mengubah pola makanku dengan makanan yang lebih bergizi, higienis dan berserat. Plototin komputer tidak akan terus-terusan, namun memberikan jeda agar mata dan tulang belakang bisa beristirahat dengan baik. Aku juga akan mengubah pola tidurku dengan tidur sebelum pukul 1 malam dan bangun sebelum pukul 7 pagi. Aku akan rutin jogging 2x seminggu pada hari Selasa dan Jumat untuk meningkatkan daya tahan tubuhku, untuk melatih lutut dan pergelangan kakiku yang bermasalah. Aku akan tetap membiasakan diri untuk menegakkan tulang belakangku dalam menulis, membaca, berjalan, berdoa, termasuk ketika beraktivitas di kamar mandi hahaha

Dalam proses kembali ke ritme makan seperti biasa, aku membeli beberapa makanan favoritku lagi. Sejak pertengahan tahun lalu, aku cukup mengencangkan ikat pinggang dalam soal makan karena harus mengatur uang dengan keperluan travellingku. Sekarang, di saat aku tidak akan ke mana-mana, aku akan kembali mengalokasikan uangku untuk keperluan peningkatan gizi. Setidaknya, nanti jika wisuda, wajahku sedikit chubby hahaha seperti kata papaku setiap kali bertemu, pasti beliau akan mengatakan, “Maya, gemukkanlah sedikit badanmu itu supaya bagus, apalagi pipimu, terlihat seperti orang yang kekurangan makan saja”.

Aku jadi ingat satu cerita di bulan September lalu sewaktu mau kembali ke Jogja dari Palembang. Papaku bahkan membelikanku susu kental manis cap bendera untuk kubawa ke Jogja agar bisa kuminum bersama susu Milo. Ya ampun! Seperti di Jogja tidak ada orang yang menjual susu saja hahaha aku selalu merasa terharu dengan bekal yang dibelikan papaku ketika hendak kembali ke tanah rantau ini. Pernah juga sekali waktu, beliau membekaliku dengan minyak angin aroma terapi yang katanya sangat bagus buatku. Bahkan, minyak angin itu pun sebenarnya banyak dijual di Jogja. Hidupku di Jogja, yang pasti, cukup jauh dari bayangannya πŸ™‚

Ritz yang hanya dijual di Carefour Jl. Adi Sucipto Continue reading

Ketetapan Hati Tanpa Dilema (lagi)

Menolak untuk melihat alam di kota ini ternyata cukup sulit. Selalu ada saja kesempatan itu. Senang? Oh sangat senang. Tapi saat itu saja. Sesampainya kembali aku di kamar kos, aku merasa sangat bersalah dengan diri sendiri karena telah menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan tesis. Kemarin pun terulang kembali. Ada seseorang dari Palembang yang datang ke kota ini. Orang tersebut adalah orang yang kukenal baik. Kami menyempatkan diri berjalan-jalan ke Parangtritis tanpa singgah terlebih dahulu, lalu meneruskan perjalanan membelah daerah Gunung Kidul, melewati desa Panggang dan berujung di Imogiri. Tidak tau berapa puluh kilometer yang kami habiskan.

Meskipun daerah Gunung Kidul penuh dengan ladang penduduk yang ditanami akasia dan pohon jati, tetap saja aku merasa sedih melihat lahan mereka yang lebih banyak batunya dibandingkan tanahnya sendiri. Kami sempat berhenti satu jam melihat ibu-ibu petani memisahkan batu dari tanah dan yang sedang mengeraskan tanahnya dengan alat bantu berupa batang pohon berdiameter 10-15 cm dengan permukaan rata. Temanku berkata bahwa jasa UGMlah yang menjadikan penduduk Gunung Kidul lebih sejahtera, dari sisi sosial masyarakat maupun pertaniannya sendiri.

Continue reading