[bagian 2] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi.

sambungan dari bagian 1:

(lagi) Baca ini pertama-tama

Saya menuliskan nama Mina dan Julie saja, namun di dunia nyata saya menambahkan kata cici di depan nama tersebut. Catatan perjalanan ini hendaknya dibaca berurutan (sequential) agar mengerti dengan tepat detail perjalanan yang sudah terjadi.

Tulisan ini didedikasikan kepada Julie, seseorang yang di dalam kelembutannya tersimpan kekuatan tekad sekokoh gunung, dengan karakter kuat yang “tidak mau menyusahkan orang lain”, dengan tatapan yang penuh daya juang terus mengerahkan diri selangkah demi selangkah menuju Mahameru. Mahameru adalah hadiah untuk orang-orang pemberani seperti Julie.

Juga untuk Mina yang keyakinannya terhadap satu hal tak akan tergoyahkan bahkan hingga matahari terbit dari barat sekali pun, yang mampu membagi keyakinannya pada kita bahwa kita BISA, kita SANGGUP, kita datang hanya untuk ini…… untuk Mahameru. Mungkin ada rasa sakit yang tertahan, ada rasa ingin menyerah. Entahlah, kata-kata itu tak keluar dari mulutnya. Hanya ada kata-kata, “Ayo…” saja.

Terakhir, untuk Ayin, seorang adik kecil yang menunggu di Ranu Pane, yang rela menahan diri tidak mendaki demi tim, mungkin mengorbankan keinginan pribadi demi kawan-kawannya hanya karena merasa tidak siap dan takut merepotkan orang lain. Pendakian ini memang bukan tentang “aku”, tapi tentang “kita”. Karena Ayin, semua barang terjaga dan tersimpan rapi di Homestay. Karena Ayin juga, pendakian ini berhasil. Betapa saya sangat menghargai kepribadian Ayin yang sama sekali tak mementingkan ego tersebut.

Untuk ketiga kawan seperjuangan ini, saya harus melakukan pendakian. Bertiga saja dan dua porter terbaik, kami menggantungkan nyawa kami bersama, kami berbagi dan memang tidak ada cara lain selain ketergantungan dalam lingkaran tersebut.

Saya rasa, kita tidak boleh meremehkan apa pun di dunia ini. Kita harus selalu waspada dan bersiap-siap dengan kondisi terburuk sekali pun🙂

Pendakian bukanlah sebuah pencapaian, namun kebersamaan. Puncak adalah tujuan, namun keselamatan tim adalah nomor satu. Hanya ada 2 hal saja yang menjadi penegasan dalam pendakian kali ini:

  1. Harus mencapai puncak paling lambat pukul 7 pagi. Jika tidak, maka harus turun dari batas mana pun keberadaan kita.
  2. Apabila ada salah satu di antara kita yang tidak sanggup, maka harus turun semua.

Mari kita mulai……. “Mulai berjalan di jalan yang naik”, seperti kata Mina😀

Senin, 15 Oktober 2012

Pagi-pagi sekali pada pukul 5.30, alarm sudah membangunkan saya. Mandi dan langsung memesan taksi yang akan mengantarkan saya menuju Stasiun Tugu. Seorang teman kos saya yang juga sudah bangun di kamar lantai 2, melongo ke bawah dari teras depannya dan mengatakan, “Hati-hati ya, May” dan “Jangan lupa oleh-olehnya” hahaha hati-hatinya saya turuti, tapi oleh-olehnya tidak. Lain waktu ya, mbak Dewi😀

Ketiga kalinya naik KA ke Surabaya dan pertama kalinya naik Sancaka.

Suasana Stasiun di Pagi Hari

Makan tidak…makan tidak… akhirnya makan juga karena kelaparan😀

Pukul 12 siang, saya memutuskan untuk turun di St. Wonokromo, yaitu stasiun sebelum St. Gubeng. Dari sana, saya keluar mencari taksi menuju Bandara Juanda. Perjalanan ini hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja. Di bandara, pertama-tama saya bertemu dengan Mina pada pukul 1 lebih 30 menit. Senang sekali rasanya🙂

Lalu, kami berdua menunggu Julie dan Ayin. Syukurlah, tidak ada delay sehingga kami bisa lebih cepat menuju Tumpang. Lebih cepat 15 menit sepertinya. Dalam perjalanan yang penuh canda tawa, rasanya sangat menyenangkan. Ayin yang baru saya kenal pun ternyata adalah pribadi yang lepas kendali. Ups, bercanda. Pribadi yang tanpa beban maksud saya, sehingga enak diajak bercanda🙂

Kami melewati area yang terkena lumpur lapindo di Sidoarjo dan ada niat sesaat untuk berhenti dan berfoto, namun hanya sebatas niat saja. Ketika memasuki kota Malang yang justru menawarkan pemandangan yang cantik, Mina sudah tertidur. Beliau benar-benar capek sepertinya karena aktivitasnya yang begitu padat sebelum perjalanan ini.

Foto paling rapi dan bersih selama perjalanan ini🙂

Sebelum pukul 6 sore, kami sudah tiba di Tumpang, tepatnya di Indomaret depan pasar Tumpang. Pak Laman dengan jeep hijaunya sudah menunggu kami. Kami berbelanja untuk makanan selama perjalanan, yaitu roti. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum makan malam. Perjalanan ke Ranu Pane butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit. Kami pun sempat mampir ke rumah Pak Laman, dan saya sempat berbincang sejenak dengan istrinya yang pernah membuatkan saya dan teman-teman segelas teh selamat datang sewaktu menginap di rumah Pak Laman dalam pendakian sebelumnya. Ibu, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan hati ibu dan bapak🙂

Kami juga melakukan pendaftaran di kantor TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Sejujurnya saya tidak berani mengajak ketiga teman saya masuk ke dalam karena takut tidak diberi izin dan takut para petugas tidak yakin pada wajah-wajah teman saya yang imut itu untuk mendaki. Intinya, saya takut dipersulit. Ternyata tidak. Hanya sebatas pertanyaan-pertanyaan biasa saja, lalu Pak Laman ikut masuk dan mengobrol dengan para petugasnya.

Satu dokumen serius yang harus saya tanda tangani adalah: surat pernyataan akan mendaki sebatas Kalimati saja dan Taman Nasional tidak bertanggung jawab pada keselamatan kita jika “berani” muncak. Baiklah. Semua hal ada resikonya. Saya tanda tangan dan sebagai saksi, Julie ikut menandatanganinya. Biaya masuk per orang adalah Rp. 7.500,- dan satu kamera dihargai Rp. 5.000,-. Dokumen yang ditandatangani sepertinya lebih sedikit dibandingkan di Ranu Pane, dan biayanya lebih mahal Rp. 500,- hahaha😀

Mari menuju Ranu Pane🙂

Cahaya semakin redup pada sore menuju malam. Saya dan Ayin mulai merasa dingin di bagian belakang mobil, namun kami benar-benar menikmati perjalanan sambil berdiri dengan melihat pemandangan-pemandangan indah, juga berbagi cerita-cerita perkenalan awal seperti keluarga, shinjin, dan bahkan kami berbicara tentang bintang-bintang di angkasa. Akhirnya, kami capek sendiri dan kembali duduk. Sombongnya saya bilang ke Pak Laman, tidak perlu ditutupi mobil jeep ini. Sombong juga karena menolak pemberian syal dari Mina dan Julie hahahaha Dinginnya perjalanan, saya rasa adalah penyebab utama Ayin tidak sehat di malam harinya. Saya benar-benar sangat menyesal pada kondisi Ayin.

Sesampainya di desa Ranu Pane, yaitu desa tertinggi di bawah gunung Semeru, Pak Laman membantu kami mencari porter. Hari itu lepas hari raya Karo, yaitu hari raya suku Tengger sehingga sedikit sulit untuk mencari porter. Mereka biasanya akan berziarah ke makam pada hari-hari itu. Syukurnya kami masih bisa mendapatkan porter yang terbaik, yaitu mas Rianan dan kakak iparnya, mas Mono. Kami turun dari jeep. Saya dan Ayin sangat senang melihat kehangatan di kursi depan mobil dan Mina masih asik mengotak-atik ipad nya. Saya rasa Ayin juga setuju jika harus menjaga senior dengan baik🙂

Kami diundang makan malam oleh mas Rianan dan keluarga, menikmati kue kering perayaan hari raya dan menghangatkan diri di tungku api tempat mereka memasak. Saya senang sekali saat itu karena bisa kembali berkumpul dengan masyarakat desa yang ramah. Selepasnya, kami langsung menuju ke Homestay Pak Tasrip/Homestay Family. Ini adalah satu-satunya homestay di Ranu Pane dan termasuk penginapan terbaik menurut saya.

Kami menyewa dua kamar. Satu orang dikenai biaya sewa sebesar Rp. 75.000,-. Usai mandi, kami melakukan packing ulang, lalu gongyo daimoku. Pukul 11 malam, kami tidur. Ayin merasa badannya dingin. Mungkin juga masuk angin. Kami berpelukan di depan tunggu api. Minum air hangat hanya boleh dilakukan selepas badan sudah normal kembali. Jika badan sangat dingin, langsung minum air hangat, sepertinya tidak terlalu baik juga. Di sini Ayin mengatakan bahwa, esok hari sepertinya ia tak akan ikut mendaki. Pukul 1 dini hari, kami kembali ke kamar masing-masing. Saya pikir ia akan sulit tidur juga pada malam itu.

Selasa, 16 Oktober 2012

Pagi-pagi pukul 6 kami sudah bangun. Senang sekali rasanya pagi ini. Kami akan memulai sebuah petualangan baru. Sarapan yang kami minta adalah nasi goreng dan teh manis. Nafsu makan saya tidak terlalu bagus pagi itu. Akhirnya saya tidak bisa melakukan pup ritual pagi hahaha Botol air hangat Mina tertinggal di homestay. Saya senang sekali karena itu berarti Mina tidak akan minum kopi selama perjalanan😀 Saya masih berkeyakinan bahwa air putih dan susu tetap minuman terbaik di gunung. Kabar tidak baiknya adalah Ayin memutuskan untuk tidak ikut. Di tengah perjalanan, saya terus-menerus berpikir, “Semeru, mengapa harus selalu bertiga?” Sisakan satu undanganmu untuk satu temanku di lain waktu ya :)”

Pintu Rimba | 08.35 WIB

Terima kasih atas undanganmu, Semeru🙂

Usai mendaftar ulang di kantor Taman Nasional, kami melanjutkan perjalanan ke Pintu Rimba. Ternyata Mas Ningot yang menjaga pendaftaran masih mengenali wajah saya hahaha jadi malu🙂 Di sisi kanan terdapat lahan pertanian penduduk yang subur berupa palawija seperti bawang dan kubis. Setelah berjalan lurus melewati Pintu Rimba, kita akan dihadapkan pada jalan bercabang dua. Jalan yang harus kita pilih adalah yang sebelah kiri, yaitu jalan setapak (konblok).

Mas Rian dan mas Mono mengajak kami melewati jalan pintas yang katanya dapat menghemat waktu 1 jam. Jalanan tersebut akan mengarahkan kami ke Pos 1. Jalurnya menandjak dan menurun curam di akhir. Perjalanan ini sulit tapi tidak terasa. Ada saat-saatnya kami merasa capek dan memilih untuk diam saja. Badan kami bereaksi seiring dengan perjalanan, yaitu otot-otot mengeras hahaha

Ranu Kumbolo | 2400 mdpl | 12.00 WIB

Pada pukul 12 siang, kami tiba di Ranu Kumbolo setelah melewati 4 pos. Sejujurnya, bila hanya sampai sini saja pendakian, saya sudah merasa puas. Namun, Mina dan Julie masih mau melanjutkan perjalanan… Kami beristirahat selama 1 jam saja. Makan. Tidur sebentar lalu menikmati danau yang ditutupi kabut. Pukul 1 siang, kami melanjutkan perjalanan lagi.

Pondokan yang baru dibangun sebagai kompensasi shooting film 5 cm.

Ranu Kumbolo Berkaboet

Menuju Oro-oro Ombo, kami melewati tanjakan cinta. Baru kali ini saya berjalan lambat dan tersendat, mungkin karena sedikit letih. Tapi, saya tetap saja menyebut nama lelaki itu untuk yang ketiga kalinya🙂 Tanjakan ini memiliki mitos barangsiapa yang tidak berhenti dan tidak menoleh ke belakang sembari menyebut nama lelaki yang kita cintai, maka cinta sejati tersebut akan terwujud🙂
Saya menoleh juga akhirnya, melihat Julie di belakang. Lebih penting seorang teman yang nyata dibandingkan lelaki di pikiran saya bukan? hahaha kami sempat beristirahat di atas tandjakan dan melihat Ranu Kumbolo yang begitu indah. Kami berjalan sedikit ke depan, dan terhampar Oro-oro Ombo kecoklatan. Coklat muda yang berakhir pada Cemoro Kandang kehijauan dengan pohon cemara sebagai ciri khasnya. Langit sangat biru saat itu dengan awan tebal beraneka pola. Betapa indahnya alam pada siang itu. Mina dan Julie berjalan dengan penuh semangat. Saya tetap di belakang saja karena menghindari debu di jalan setapaknya. Ada dua pilihan jalan di Oro-oro Ombo, yaitu: atas dan bawah. Kami memilih jalan atas dibandingkan harus menuruni jalur curam. Saya rasa jika saat itu lavender mekar dengan warna ungunya dan bunga berwarna kuning pendampingnya juga mekar, kami akan memilih jalur bawah saja. Boleh dikatakan pemilihan waktu pendakian kami tidak tepat jika berkaitan dengan musim bermekarnya bunga. Hanya saja, pendakian tak  berbicara soal bunga saja bukan?

Hebatnya Julie adalah tetap tersenyum di jalan sulit yang dilaluinya

Jalan atas di Oro-oro Ombo

Setapak berdebu menuju Cemoro Kandang

Cemoro Kandang | 2500 mdpl | 14.30 WIB

Memasuki Cemoro Kandang, kami sempat duduk-duduk lagi menikmati cemara dan pemandangan savana🙂

Saya merasa kami berjalan dengan lebih semangat menuju Jambangan. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti lama dan Mina memutar lagu Ikeda Kayokai hahahaha dari yang instrumental saja hingga yang berlirik Indonesia. Saya mau tertawa jika ingat ini hahahaha baru kali ini pendakian saya diwarnai dengan lagu-lagu Gakkai. Ya ampun! Ini benar-benar sebuah perjalanan hati ya😀

Kami tak berbicara sebanyak perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Saya juga sibuk dengan pikiran saya sendiri dan deg-degan apakah Semeru akan memperlihatkan puncaknya pada kami setiba di Jambangan nanti. Ternyata jawabannya adalah tidak. Kabut pekat menutupinya dengan sempurna. Selama perjalanan, kami juga bertemu satu rombongan pendaki ber-13 yang hendak turun. Tak banyak obrolan yang terjadi dengan mereka. Pukul 16.15, kami tiba di Jambangan.

Cap kehadiran saya di setiap gunung😀

Istirahat sejenak🙂

Menginterogasi para porter hahahahahaha

Usai mendengarkan lagu Ikeda Kayokai, lanjut jalan…

Kalimati | 2700 mdpl | 16.35 WIB

Dari Jambangan hingga Kalimati yang berada di ketinggian 2700 mdpl, kami banyak mengambil foto, berlomba pada kabut. Senangnya hati kami karena Semeru membuka tirai kabutnya dan memperlihatkan puncaknya – Mahameru. Saya melihat senyum bahagia di wajah teman-teman saya🙂

Menuju Kalimati. Bersiap melihat padang edelweiss🙂

Mahameru membuka tirai kabutnya, edelweiss turut merasakan kebahagiaannya bersama kami🙂

Lewat pukul 5 sore, kami sudah berada di dalam tenda, sibuk membersihkan kaki dan tangan yang kotor termasuk kuku-kukunya hahaha dan tentu saja sembari menikmati milo hangat. Mas Rian pandai sekali memasak sehingga makan malam itu terasa sangat nikmat. Menuju pukul 7 malam, kami sudah kembali ke tenda yang dibangun di dalam pondok. Hujan deras turun pada saat itu dan kami sangat bersyukur atas ide porter tentang lokasi pendirian tenda. Kami mengecek itinerary yang sudah dibuat sebelumnya dan merasa senang karena target tercapai🙂

Sejauh ini, semuanya berjalan sesuai dengan rencana kecuali hujan. Kami berdaimoku cukup lama, mungkin sekitar 15 menit lebih. Saya bahagia sekali karena sangat jarang saya bisa berdaimoku dengan mengeluarkan suara di dalam tenda, apalagi dengan membuka Omamori Gohonzon. Doa pada malam itu sangat fokus pada kesuksesan pendakian. Usai gongyo malam, kami tidur.

Saya tidak bisa tidur sama sekali. Saya sangat khawatir dan sedikit takut juga. Teman akrab saya, Cempluk, pernah punya pengalaman buruk dengan pendirian tenda di dalam pondok. Sepanjang malam, saya memikirkan cerita itu, apalagi petir terus-menerus memotret tenda kami. Tikus-tikus tanah sangat mengganggu dengan menimbulkan bunyi yang cukup berisik. Para porter bercengkerama pelan. Saya memutuskan untuk keluar tenda dan buang air kecil sembari melihat situasi. Langit bertabur bintang. Saat itu mungkin sekitar pukul 9 malam.

Ketika saya kembali ke dalam tenda, saya kembali memikirkan, mengapa saya melakukan pendakian ini, mengapa Semeru, dan mengapa bersama mereka. Satu-satunya perasaan saya adalah perasaan sangat bahagia, tetapi ini sebuah kebahagiaan berbeda. Kebahagiaan ini belumlah tuntas jika misi pendakian belum sukses. Mina sudah minum bodrex pemberian porter di malam itu. Tolak angin juga sudah diminum oleh Julie. Sebelum summit attack, hati saya memang sering tidak tenang, tapi malam itu paling tidak tenang. Kedua teman saya bisa tidur dengan sangat nyenyak. Kelihatannya begitu, meskipun usai bangun, Julie mengatakan bahwa beliau juga tidak bisa tidur pada awalnya. Berarti satu-satunya orang yang bisa tidur nyenyak pada malam itu adalah Mina hahaha

Saya harus berguru ketenangan padanya😀 lol

Gn. Semeru ini bagi saya sangat identik dengan Budhisme. Kepercayaan Jawa kuno membuat cerita asal-asul Semeru dengan sangat jelas, yaitu diambil dari nama Gn. Semeru di India. Puncaknya pun identik dengan kata “dewa”, yaitu fungsi pelindung yang sering digunakan dalam Budhisme dan Hindu.

Gunung ini yang sering saya katakan sebagai gunung spesial dan gunung yang paling saya sukai, akhirnya bisa saya daki bersama teman-teman saya. Lebih tepatnya, bersama senior saya dalam pertapaan Budhisme (lebay nih pake kata pertapaan). Satu hal yang membuat pendakian ini sempurna adalah itu, rasa takjub saya terhadap dua orang di kiri-kanan yang bergumul dalam sleeping bag mereka masing-masing, kawan seperjuangan yang bahkan “mengikuti” saya hingga ke gunung hahahaha

Jika sudah begini, saya sudah tak memiliki tempat persembunyian aman lagi di dunia hahaha bercanda. Ini beneran pendakian terbaik saya karena Anda berdua😀

Rabu, 17 Oktober 2012

MAHAMERU | 3676 mdpl | 06.15 WIB

Pendakian menuju puncak ini tidak mudah, namun hal utama yang membuat saya bersemangat adalah waktu pencapaian dari Kalimati ke Arcopodo adalah tepat, yaitu 1 jam. Artinya, kami bergerak dalam irama yang semestinya.

Pukul 11 malam di hari sebelumnya kami sudah bangun dan mempersiapkan diri. Usai minum susu dan makan sedikit, kami memandang ke angkasa dan sepakat tentang 1 bintang yang bersinar paling terang.

Menjelang pukul 12 malam, kami memulai pendakian. Bagi saya, udara malam itu adalah udara sempurna. Tidak terlalu dingin dan angin tak kencang bertiup. Kekuatan doa benar-benar terbukti. It works! Daimoku works! Hujan berhenti tepat pada waktunya.

Di tengah perjalanan menuju Arcopodo, pukul 12 tepat terjadi juga di tanggal 17 Oktober 2012. Tidak ada kemeriahan sama sekali untuk seorang Mina yang sedang berulang tahun. Pasti semua ucapan datang lewat media komunikasi elektronik dan internet, namun tidak pada detik itu. Selamat ulang tahun dan saya tidak bisa memberikan kejutan apapun🙂 Namun, saya akan menemani ke puncak (alah sombongnya kamu, May) hahaha beneran itu, tapi bicaranya hanya sebatas dalam hati saja🙂

Pukul 1 dini hari, kami tiba di Arcopodo dan numpang menghangatkan badan di api unggun buatan para porter yang menemani orang-orang bule. Mayoritas bule pendaki pada hari itu berasal dari Prancis. Ada juga yang dari New Zealand.

Dari Arcopodo tentu saja kami terus berjalan naik. Sebelum Cemoro Tunggal, ada jalur yang longsor. Porter mengatakan hal itu disebabkan oleh hujan deras yang baru saja terjadi. Dia perbaiki sebentar, lalu kami melanjutkan perjalanan.

Lumayan sering kami berhenti, mungkin hanya untuk tiduran sebentar, atau duduk saja. Matikan lampu dan arahkan kepala ke atas untuk melihat bintang di angkasa🙂

Semakin tinggi mendaki, terlihat bintang mulai sejajar dengan pandangan kita. Kami lebih banyak diam pada malam itu. Penyesuaian tubuh terhadap ketinggian lagi-lagi terjadi di sini. Perasaan ini kadang kala bertentangan, antara lebih baik turun saja daripada meneruskan perjalanan, lebih baik mengutamakan keselamatan dibandingkan puncak. Namun, mata mereka memastikan bahwa mereka akan baik-baik saja dan kamu bertenang hatilah, Maya.

Usai pendakian, Mina mengatakan bahwa pada saat itu memang tidak ada jalan untuk turun. Hanya ada satu pilihan untuk terus melangkah maju meskipun hanya bertahan 5 langkah sebelum rasa kantuk menyerang.

Hanya pada malam itu saja saya berharap pagi segera datang dan mentari segera memancarkan kehangatannya. Sayangnya, hal tersebut tidak tercapai.

Menjelang pukul 6 pagi, hujan deras turun membasahi bumi Mahameru. Di sinilah titik penentuan akhir. Turun atau tetap naik. Pilihan kita tetap sama, yaitu naik. Matahari tertutup oleh awan, hanya semburat jingga saja yang memenuhi angkasa di pagi ini. Usai hujan, pelangi sangat indah berada di sisi barat. Menurutku, pelangi itu membentuk 240 derajat. Seharusnya sempurna jika tak tertutup oleh tebing-tebing. Bayangan gunung yang saya cintai juga berada di dalam lingkaran pelangi tersebut. Segala hal terjadi bukan untuk kesia-siaan. Pelangi pagi ini membuktikan hal tersebut.

Pukul 6.15 pagi, kami tiba di MAHAMERU. Diam saja semuanya. Tak sepatah pun yang keluar dari mulut kami dalam jeda waktu yang cukup lama.

Pukul 6.30 pagi, kawah mengeluarkan wedus/asap pekat kehitaman dengan memperdengarkan bunyi seperti suara letusan senapan, namun lebih menggelegar. Saya senang karena sempat merekamnya dalam kamera saya🙂 Satu kesalahan saya adalah tidak mengambil foto kami bertiga dengan latar belakang asap tersebut. Tak ada letusan lain selama satu jam menunggu tersebut.

Tidak ada acara foto-foto sebelum kami melaksanakan Gongyo pagi. Sejujurnya, mengambil foto pada saat itu rasanya sangat berat. Saya tidak tau apa yang membebani saya, mungkin kalimat pertama yang diucapkan oleh Mina perihal penagihan janji memanggil beliau dengan sebutan cici hahahahaha saya tidak bisa mengucapkan kata itu. Kata tersebut tidak mau keluar dari mulut saya hahaha mungkin masih tersangkut di hati.

Dua orang yang paling berjasa di pagi itu, saya rasa adalah mas Rian dan mas Mono. Di akhir pendakian, Mina sampai mengatakan bahwa pegangan tangan mas Rian sangat tulus, pegangan yang menjaga dan berbagai macam pujian lainnya.

Julie pun diam saja di puncak itu, bahkan pada saat berdaimoku selama 15 menit. Suaranya pelan saja. Tidak seperti biasanya. Pikiran apa yang ada memenuhi benak beliau?

Bagi saya, semua pendakian Semeru sangatlah mengharukan. Kisah apa yang terjadi di Puncak sebaiknya saya simpan rapat-rapat saja di hati saya🙂

Hadiah dari Semeru di 17 pagi🙂

Matahari yang terselimuti oleh awan

Gongyo pagi di tanah tertinggi pulau Jawa🙂

Cuaca sangat cerah di pagi itu

Mina – Mas Mono – Maya – Julie – Mas Rianan

Turun ke Kalimati | 2700 mdpl | 10.00 WIB

Sudah hampir pukul 8 ketika kami turun. Cerahnya langit turut pergi, berganti kabut pekat. Tiada sesiapa pun di sana. Para bule sehabis mengunjungi kawah Jonggring Saloka yang sebenarnya tidak diperbolehkan pun sudah turun. Mas Rian memperlihatkan kami asap berwarna kehijauan yang mulai nampak di kawah. Asap beracun itu jugalah yang menewaskan Soe Hok Gie. Satu kutipan terkenal dari Gie adalah:

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami.

Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan.

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.

Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya.

Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.

Karena itulah kami naik gunung.

Saya orang terakhir yang turun dari puncak. Saya sempatkan menatap kabut puncak pagi itu dalam diam sebelum berpisah lagi. “Sampai bertemu lagi, Mahameru”, saya teriakkan kata-kata itu terakhir kalinya.

Kami berjalan saja dalam diam. Saya masih tak percaya bahwa saya akan memanggil Mina dengan sebutan cici. Saya begitu takjubnya melihat Mina dan Julie. Mereka BISA dan mereka masih tetap HIDUP. Kekuatan hati seperti apa yang ada pada diri mereka? Motivasi apa yang menggerakkan kaki mereka? Saya hanya tau satu hal saja, bahwa saya mendaki bersama orang-orang hebat dan saya sangat berejeki. Kegembiraan apa yang melebihi ini?

Berjalan dalam kepekatan kabut

View di depan berupa Gn. Bromo dan perbukitan

Mendekati Cemoro Tunggal yang telah tumbang

Lebih kurang pukul 10 pagi, kami tiba di Kalimati. Kami bersih-bersih sejenak sembari menikmati minuman nata de coco, lantas tidur selama satu jam sebelum melanjutkan perjalanan dan saya tidur dengan sangat nyenyaknya. Kami terbangun oleh panggilan mas Rian untuk makan siang. Pendakian dengan porter ternyata sangat menyenangkan, seperti tanpa beban🙂

Makan siang saat itu adalah makan siang terlama saya. Saya merasa hidup saya berubah total hahahahahaha dan merasa bahwa hidup saya tidak akan pernah sama lagi. Saya melihat senyum yang sangat-sangat lebar pada Mina dan Julie. Saya rasa, saya sulit untuk tersenyum pada siang itu hahahaha saya tidak tau harus merasa apa pada saat makan dan di titik ini, saya berjuta terima kasih pada Julie yang menunggui saya makan hingga usai hahaha

Turun ke Ranu Kumbolo | 2400 mdpl | 15.00 WIB

Perjalanan kembali sangat menyenangkan dari Kalimati hingga Ranu Kumbolo. Saya sedikit-sedikit mulai membiasakan diri memanggil cici ke Mina hahaha benar-benar seperti hal terbodoh berharga yang pernah saya lakukan seumur hidup saya dan Julie sebagai saksi satu-satunya. Saya semakin menghormati Mina dan Julie sejak turun dari puncak. Inilah yang saya namakan perjalanan hati dimana rasa percaya adalah nomor satu🙂

Semenjak turun dari puncak, semuanya merasa sangat sehat dan berenergi. Tidak ada beban lagi. Kegembiraan sempurna.

Sesampainya di Ranu Kumbolo, kami mengisi perut kembali. Sekitar pondokan sangat ramai orang bercengkerama. Hujan lumayan deras turun lagi. Saya takut Mina dan Julie tidak terbiasa dengan gaya para pendaki yang penuh canda tawa dan suka menggoda para korban perempuan hahahahaha (habis nulis ini, saya dicin-cang oleh pendaki)

Berjalan… berjalan… dan terus berjalan…

Hamparan luas Oro-oro Ombo

Mentari di seperempat jam pukul tiga sore

Turun ke Ranu Pane | 20.45 WIB

Menuju ke Pos 4, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Kami menunggu lama di Ranu Kumbolo hingga hujan reda. Meneruskan perjalanan hingga malam menjelang. Kami tak banyak bicara, hanya terus melangkah saja. Jika saat itu ada piring cantik, mungkin sudah saya berikan ke Julie yang lebih dari 3x kepalanya terantuk pada “pokok” (baca: pohon). Melihat kembali kebun penduduk, hati menjadi senang. Pada perjalanan itulah, kaki kanan saya keseleo. Mas Rian menunjukkan kebaikan hatinya dengan mengurut pergelangan kaki saya🙂

Setelah melaporkan diri pada petugas Taman Nasional bahwa kami telah tiba dengan selamat, kami bergegas ke homestay sambil bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Ayin, si adik kecil yang kami tinggalkan seorang diri di homestay.

Kami benar-benar dikejutkan dengan apa yang telah ia capai selama 2 hari. Mungkin saja, jika Ayin diberikan waktu lebih untuk tinggal di Ranu Pane, ia akan segera diangkat menjadi ibu RT atau anggota PKK hahahaha

Menyenangkan sekali kami bisa berkumpul bersama, berempat. Bertukar cerita dan mendengarkan candaan Ayin yang lucu-lucu hahahahahaha ya ampun! Saat ini sangat-sangat menyenangkan. Bahagianya saya🙂

Kami bertiga dan Ayin seperti orang yang telah lama sekali tak berjumpa. Melihat ia sehat dan baik-baik saja, kami tersenyum🙂

Mereka memasak mie rebus dan sarden, sedangkan saya menikmati hangatnya air di kamar mandi.

Alangkah sempurnanya malam itu🙂

Kami seperti satu keluarga bahagia yang menutup malam dengan Gongyo Daimoku.

Tidur ternyenyak saya selama perjalanan ini tercapai.

Kamis, 18 Oktober 2012

Pulang. Itu saja. Saya tak bisa mengungkapkan perasaan saya secara detail. Saya hanya tau satu hal, yaitu saya adalah manusia terbahagia di dunia🙂

Pak Laman menjemput pada pukul 8 pagi. Kami mampir di rumah mas Mono, lalu disuguhi makanan. Mampir di rumah mas Rianan, sama saja, bahkan kami bawa pulang satu botol Sprite nya🙂

Terima kasih banyak mas Mono dan mas Rian, ibu Tasrip, Pak Thomas dan istri, pak Laman dan ibu, mas Ningot, mas Mbenk, Adhi dan PT, juga orang tua dan teman-teman kami yang telah mendoakan keberhasilan pendakian ini.

Terima kasih banyak telah percaya pada saya sepenuhnya, ci Mina, ci Julie dan Ayin – si adik kecil kami. Kehormatan saya bisa belajar banyak dari Anda semua yang saya kagumi. Sederhana saja mengapa saya mengatakan Ayin sebagai adik, yaitu karena satu-satunya adik saya yang tinggal di kampung halaman juga berkelahiran di tahun yang sama seperti Ayin. 88 memang angka yang menakjubkan🙂 Lagian, ini adalah pendakian hati dimana hati kita terpaut satu sama lain (alah) Mari kita bersulang!

Jalur savana menuju Gn. Bromo

Birunya langit mengantar kepulangan kami

Sawah terap yang sangat indah🙂

Lalat di atas sekuntum bunga daisy🙂

Perjalanan kita sudah usai, kawan🙂

.

.

Kamis, 1 November 2012

Saya membungkuk hormat pada Anda semua,

orang-orang yang mencintai keberanian hidup.

5 thoughts on “[bagian 2] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi.

  1. Pingback: [bagian 1] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi. « Woosah – Bernafas di Jogja

  2. mayaaaaaaa…dasar kau emang “edhan”, wakakaaa… kau tau, setelah aku bilang abis baca tulisanmu ini sama mas mbenk, aku juga kena semprot abis-abisan, kata dia “dua perempuan ego tingkat dewa” perlu di training bareng di gunung neh, ampuuuunnnn… :p

    iya kali yak, jadwalin naek ber-3 mas mbenk yoookkk😀 #nanti biaya porter ditanggung dia aja, kalo nda mau kita jadiin porter#

    • hahahaha mas mbenk dah 500x naik semeru😀

      kita bilang ke mas mbenk tak perlu repot2 training kita, suruh tidorrr saja peluk guling di tenda.

      “3” ini mirip dgn cerita kakak di rinjani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s