[bagian 1] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi.

Berbicara tentang foto terakhir, ini foto terbaik saya. Lihatlah betapa lebar senyum saya =)

Baca ini pertama-tama

Saya menuliskan nama Mina dan Julie saja, namun di dunia nyata saya menambahkan kata cici di depan nama tersebut. Catatan perjalanan ini hendaknya dibaca berurutan (sequential) agar mengerti dengan tepat detail perjalanan yang sudah terjadi.

Jumat, 5 Oktober 2012

Saya lumayan dikejutkan dengan email dari Mina yang mengajak naik gunung. Naik gunung? Dengan takjub tak bergeming (lebay nih), saya reply: iya, kapan pun Mina. Ternyata dua minggu lagi. Gubrakkk hahaha namun, sejak dahulu kala saya sudah pernah mengucapkan, “Your wish is my command“, maka mulai tanggal ini, doa-doa saya hingga hari-H hanyalah soal gunung…gunung..dan gunung, termasuk satu doa keramat, “Semoga kuliah hari Kamis, 18 Okt, diliburkan”. Benar loh. Kuliah diliburkan karena dosen saya harus ke Medan menghadiri rapat APTIKOM. Mina mengajak Julie dan Julie mengajak Ayin. Jadilah kami berempat berencana melakukan pendakian yang hanya ada satu kepastian, yaitu: tanggal 17 Oktober harus berada di Puncak Semeru. Iya, tanggal 17 Oktober adalah hari yang paling bagus untuk berada di puncak gunung: MAHAMERU – tanah tertinggi pulau Jawa. Tanggal itu adalah hari ulang tahun Mina dan peringatan 2 tahun penerimaan Gohonzon saya.

Betapa menakjubkannya rencana yang kami buat selama 10 hari.  Pada tanggal 5 sore, rencana pasti yang sudah kami buat yaitu:

  • Transportasi Tumpang-Ranu Pane akan menggunakan Jeep Pak Laman, seharga 450ribu. PP 900ribu.
  • Diperlukan porter.
  • Diperlukan fotokopi KTP 2 lembar dan surat keterangan sehat dari dokter.
  • Perjalanan akan dimulai pada tanggal 15 Oktober.

Sabtu, 6 Oktober 2012

Nah, di tanggal ini pikiran saya tiba-tiba menjadi normal. Saya menyadari sepertinya tidak mungkin naik Semeru dengan orang-orang yang belum pernah mengenal gunung sebelumnya. Beneran. Saya mengingat track menuju Puncak yang gila-gilaan mungkin bisa membuat ngilu dan nyeri di bahu Mina yang masih ada “besi”nya. Saya juga berpikir jika pendakian dilakukan di gunung lain yang hanya butuh 2 hari, mungkin Julie bisa ikut. Perasaan saya tiba-tiba dipenuhi kekhawatiran. Akhirnya saya mengirim email tawaran lain, yaitu naik Merapi dan Nglanggeran saja.

Minggu, 7 Oktober 2012

Di tanggal ini, kami fix akan melakukan pendakian berempat dan Mina memilih kita tetap ke Semeru. Tekad naik gunung memang harus 100%. Untuk mengatasi kekhawatiran yang mungkin sebenarnya hanya dirasakan oleh saya, saya ada sharing bahwa saya melakukan 10 jam daimoku setiap kali hendak melakukan pendakian karena apa pun bisa terjadi di gunung. Sepertinya, pendakian kali ini, saya hanya bisa menggantungkan diri saya sepenuh-penuhnya pada doa.

Senin, 8 Oktober 2012

Mina sudah membeli tiket pesawat tujuan Surabaya, flight J66QG Sriwijaya Air  tanggal 15 Oktober tengah hari, sedangkan Julie masih dalam proses izin cuti di kantornya. Saya melihat betapa seriusnya mereka ini. Tekad mereka untuk naik gunung benar-benar kuat. Itinerary edisi 1 pun sudah dibuat, juga sudah mulai kami diskusikan perlengkapan pribadi yang akan dibawa. Pada malam harinya, kami tiba-tiba kembali ke kekhawatiran awal, yaitu meragukan apakah benar-benar gunung Semeru yang akan didaki.

Selasa, 9 Oktober 2012

Diskusi keraguan ini masih berlanjut hingga lepas tengah malam memasuki tanggal 9 Oktober hingga keesokan siang harinya. Mina bertanya apa beda ketiga gunung tersebut? Jawaban saya seperti ini:

  • Gunung Semeru lebih bagus pemandangannya dan lebih sulit dari Merapi.
  • Gunung Nglanggeran cocok untuk pemula.
  • Gunung Semeru biasa pendaki yang sudah sering naik gunung baru ke sana.

Namun, bukan soal perbedaan yang menjadi kunci kekhawatiran saya. Saya khawatir dengan mountain sickness yang akan menyerang, yaitu penyakit ketinggian yang bisa berujung pada kematian. Tentang kata “kematian” tidak saya sampaikan dalam email hahaha saya menulis gejalanya saja, seperti pusing-pusing, mual dan muntah. Tidak ada cara lain untuk mengatasi penyakit ini kecuali turun.

Setelah berdiskusi dengan gencar, akhirnya rencana kembali ke semula, yaitu pendakian Semeru.

Pada malam harinya, saya melaporkan rencana pendakian saya kepada mas Mbenk yang saya anggap sebagai senior dan mentor naik gunung, sekaligus sahabat baik yang selalu menjaga saya di setiap pendakian yang sering kami lakukan bersama. Saya dianggap gila dengan rencana pendakian ini, dinasehati agar jangan menuruti ego dan mungkin ini ke-2 kalinya mas Mbenk marah besar dengan saya . Puas saya kena semprot di malam itu hahahaha… Ada nasehat mas Mbenk di malam itu yang saya ukir di hati:

Mind set yang harus dimiliki sebagai tolok ukur pertama adalah harus insting kuat dan mengenali medan, dan juga kekuatan mental. Kalau nuruti ego saja justru bahaya. (kalimat sudah saya ubah ke bentuk formal)

Saya terus-menerus memikirkan hal ini secara mendalam. Setan dan dewa di hati saya berdebat panjang-lebar. Akhirnya, saya tetap pada keputusan saya dan tentu saja saya tetap menyimpan sebuah rahasia kecil, yaitu saya tak pernah mengabari mas Mbenk lagi tentang kepastian saya tetap ke Semeru. Minta maaf ya, mas Mbenk. Saya benar-benar keras kepala dan berego tinggi, seperti yang diketahui mas selama ini🙂

Rabu, 10 Oktober 2012

Doa di hari ini semakin serius karena mengingat kata-kata mas Mbenk di malam sebelumnya. Inilah harapan yang kami doakan bersama, yaitu:

  1. Urusan jeep, porter, penginapan beres. Dpt porter terbaik dan kuat, dpt kamar kosong di Homestay Family dan Pak Laman bisa lsg jemput di Terminal Arjosari Malang.
  2. Semua perlengkapan pendakian terpenuhi. Semua perlengkapan yg kurang bisa dipinjam.
  3. Jadwal tepat waktu.
  4. Kesehatan dan stamina prima.
  5. Pendakian berjalan mulus.
  6. Cuaca cerah. Angin sepoi2 saja. Tidak panas dan tidak terlalu dingin.
  7. Pendakian gembira. Semua semangat.
  8. Logistik cukup.
  9. Mencapai Puncak jam 6 pagi tgl 17 Okt.
  10. Biaya pendakian seminimal mungkin.
  11. Perjalanan dari dan ke Ranu Pane lancar.
  12. Kita pulang hidup-hidup lol🙂

Ada 1 doa rahasia yang tak terselip di sana, yaitu: semoga uang saya cukup hahaha… dan hanya ada 1 doa yang tidak terkabul, yaitu Pak Laman tidak bisa menjemput di Terminal karena jeep dilarang oleh angkot-angkot di sana. Terminal adalah daerah kekuasaan sopir angkot. Namun, travel yang kami tumpangi dari Bandara Juanda dapat langsung mengantar kami ke Tumpang. Secara pasti, 12 poin doa terkabulkan semua. Terima kasih, Gohonzon🙂

Tanggal ini juga, cutinya Julie sudah disetujui. Fix. Hingga hari ini, saya masih belum ada gambaran seperti apa sosok Ayin itu. Julie menjelaskan bahwa Ayin adalah tipe orang seperti saya dengan berat 52 kg dan tinggi 158. Wow, sama persis dengan saya🙂

Malam itu, usai berbincang dengan tamu hotelnya, Mina mencetuskan ide pendakian ke gunung Bromo dalam sebuah email berjudul “Gng Bromo”. Akhirnya, gunung Bromo kami masukkan dalam jadwal. Mana berani saya menolak hahahaha joke2… namun target utama tetap saja seperti yang dikatakan oleh Mina: 17 Oktober berada di puncak gunung untuk merasakan kemenangan. Bagi saya pribadi, gunung Bromo tetap saja merupakan gunung rekreasi. Artinya, tak perlu peralatan pendakian untuk menggapai kalderanya.

Kamis, 11 Oktober 2012

Hal paling penting yang sangat meyakinkan saya tentang Julie yang akan mendaki adalah jawabannya terhadap pernyataan saya yang berupa, “Saya tidak tau bagaimana kemarin ibu Mina merayu cc untuk ikut naik gunung.” hahahaha dan Julie menjawab, “Ce Mina ga rayu, tapi ajak aja, dan ce juga mau ikuti bimbingan Ikeda Sensei, dakilah gunung abad 21.” Gubrakkk… hal kedua yang saya yakin adalah betapa tidak sopannya saya selama ini memanggil Mina yang lebih senior tanpa kata depan “c”.

Mengenai kalimat “dakilah gunung abad 21”, saya merasa inspirasi ini datang dari puisi Ikeda Sensei yang berjudul “Youth, Scale the Mountain of Kosen-rufu of the 21st Century!”. Puisi tersebut juga melahirkan sebuah lagu dengan judul yang sama🙂

Saya rasa di hari ini saya juga terinspirasi untuk melakukan persiapan pendakian dengan sebaik-baiknya dari kalimat Mina di email terakhir, yaitu “Menang Bersama Sensei dan Menjadi Ratu Daimoku”. Saya menganggap setiap pendakian sebagai perjalanan hati, atau perjalanan spiritual dan kali ini, aura itu benar-benar terasa.

Hari ini juga, Ayin membeli sebuah rain coat untuk dibawa mendaki. Kami memutuskan satu hal yang penting di hari ini, yaitu: barang yang ada bisa dibawa, yang tidak ada akan dipinjam, dan yang benar-benar tidak ada akan disewa. Beli adalah keputusan akhir.

Sebagai mahasiswa berkantong pas-pasan, saya sangat menyadari perlunya mengatur pengeluaran dengan sebaik mungkin hahaha meskipun kawan-kawan seperjuangan saya bukanlah mahasiswa lagi, saya rasa prinsip pengaturan uang bersifat universal.

Satu saja alasan sederhana mengapa tidak membeli, yaitu karena mungkin saja ini pendakian pertama dan terakhir mereka, sehingga membeli bukanlah pilihan yang tepat. Setidaknya untuk saat ini.

Jumat, 12 Oktober 2012

Persiapan fotokopi KTP dan surat keterangan dokter sudah kami siapkan semua. Saya membayar 7ribu dan Mina membayar 11ribu untuk sebuah surat dokter yang tingkat validasinya rendah karena membuat di Puskesmas. Hanya Julie dan Ayin saja yang membayar 25ribu, mungkin itu karena mereka periksa di dokter klinik beneran hahaha Surat ini hanya menyatakan tekanan darah saja, bahkan terdapat Puskesmas tidak bertanggung jawab yang bisa seenaknya mengubah angka tekanan darah🙂

Bagaimana pun juga, ini adalah persiapan wajib untuk pendakian Semeru. Apabila pendaftaran dilakukan di Tumpang, kita membutuhkan 2 rangkap. Jika di Ranu Pane, 1 saja cukup.

Hari ini juga kami memutuskan untuk membawa 2 kamera, 1 miliknya Ayin dan 1 lagi milikku. Kamera poketku ini selalu kubawa ke gunung-gunung sejak 2007. Pernah jatuh di puncak dan casingnya sedikit remuk bahkan pernah basah-basahan sewaktu caving. Kamera ini kubawa dalam setiap aktivitasku karena kamera ini identik dengan kenangan terhadap almarhum nenekku. Saya selalu membawanya seperti saya membawa hati nenekku bersamaku, bersama dalam mataku dan lensa kamera yang merekam keindahan semesta.

Sabtu, 13 Oktober 2012

H-2. Hari ini bisa dibilang adalah hari terakhir persiapan kami. Semua persiapan sudah fix, yaitu: list perlengkapan kelompok dan pribadi, list logistik, jadwal dan rincian biaya. Semua logistik (makanan) akan dibawa oleh Julie dan Ayin dari Batam. Kami juga menentukan meeting point di hari ini, yaitu Bandara Juanda pukul 14.05 tanggal 15 Oktober, bertepatan dengan jadwal pendaratan pesawat Julie dan Ayin dari Batam.

Hari ini juga saya memutuskan untuk membeli tiket kereta api Sancaka tujuan Surabaya dengan kelas bisnis pagi, booking travel NAOMI dari bandara Juanda-Tumpang seharga @Rp. 80.000,- dan pergi ke kos Adhi untuk meminjam matras, kompor kupu-kupu, nesting, flysheet dan sleeping bag.

Pada malam harinya saya mengatakan hal yang tidak dapat saya percaya, yaitu sebuah janji bahwa saya akan memanggil Mina dengan sebutan cici jika Mina bisa sampai di MAHAMERU.

Saya berpikir akan memberikan hadiah apa untuknya. Saya tidak ada uang ide. Sekilas saya melihat bimbingan Sensei dan saya buka di halaman bimbingan tanggal 17 Oktober. Ada kata “alam semesta”nya. Tepat. Kubalik, lalu tertulis 16 Maret dan terdapat kalimat “kemenangan hari ini bukanlah terletak pada…..” . Tepat. Kurobek kertasnya, lalu kulaminasi esok harinya. “Ini adalah hadiah terbaik yang dapat saya berikan saat ini”, pikirku.

Inilah bimbingan dari Ikeda Sensei tersebut:

17 Oktober

I hope that each of you will study broadly and develop your understanding of life, society and the universe, based on your faith in Nichiren Buddhism. This type of learning enables you to cultivate a rich state of life, or inner world, drawing forth profound wisdom and limitless leadership ability from the depths of your life.

16 Maret

March 16, Kosen-rufu Day. The spirit of this day lies not in magnificent ceremonies or high-sounding words. It lies in being victorious. That is the most crucial thing in all endeavors. In life and in kosen-rufu, we either win or lose. I would like you to be absolute victors in both. No matter what excuses we try to make, giving in to defeat brings misery and loses us the respect of others. I hope each of you without exception will adorn your life with indestructible triumph.

Minggu, 14 Oktober 2012

Tidak terjadi percakapan apa-apa antara kami berempat. Saya juga tidak berani mengganggu Mina dan Julie yang pasti sedang sibuk dengan kegiatan Gakkai di kaikan Batam. Ayin memang jarang saya ceritakan di tulisan ini karena saya tidak terlalu mengenalnya hahaha maaf ya, dek😀 namun di akhir perjalanan, kami berteman sangat akrab. Satu hal yang membuat saya sangat senang di hari ini adalah ketika saya hendak meminjam matras dengan PT. Saya juga mengagumi dia hahaha… Ada banyak lelaki yang saya kagumi🙂 Dia bahkan meminjamkan carrier Rei 80L dan tenda Lafuma kapasitas 4 orangnya ke saya, juga tidak lupa bonus ekspresi tak percaya dengan pendakian Semeru esok hari yang akan kami eksekusi🙂

Usai meletakkan semua perlengkapan di kos, saya segera ke Bivak – tempat sewa perlengkapan untuk mengambil kompor kupu-kupu dan nesting. Kami memang menyiapkan dua set agar memasak nanti bisa lebih cepat.

Di sore harinya, saya membersihkan ulang semua perlengkapan yang akan dibawa dan packing. Siap 2 carrier: 80L Rei dan 35L Karimor milikku sendiri. Tak lupa kubawa 1 tas kecil laptop yang dialihfungsikan sebagai day-pack untuk ke puncak. Namun nantinya, tasku tersimpan rapi di homestay karena Ayin membawa day-pack deuternya. Tentu saja deuternya lebih kokoh dibandingkan tasku🙂

Malam ini saya tidur larut malam juga dan tidur dengan nyenyaknya karena percaya bahwa daimoku 27 jam 30 menitku akan bekerja. Lebih tepatnya, saya pasrah saja dengan apa yang akan terjadi pada hari esok dan tiga hari ke depan.

bersambung ke bagian 2 (tamat)

2 thoughts on “[bagian 1] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi.

  1. Pingback: [bagian 2] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi. « Woosah – Bernafas di Jogja

  2. Pingback: Ketetapan Hati Tanpa Dilema (lagi) « Woosah – Bernafas di Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s