Hormatku pada Semeru

Datang silih berganti, apa saja. Tak usai dan berkelanjutan. Ketika kesibukan tak kuhentikan, maka tak akan pernah sebuah tulisan berhasil dituntaskan.

Preambule

SEMERU nama gunung itu, gunung tertinggi di pulau Jawa, dan MAHAMERU adalah puncaknya, tanah tertinggi persemayaman para Dewata.  Jalur dari batas vegetasi menuju puncak, yakni bentukan segitiga yang nampak dari Jambangan dililit oleh Sang Naga dan para buyut mendiami puncaknya, sedangkan para peri tetap saja berada di danau bawahnya. Ya. Itu danau yang disebut Ranu Kumbolo. Tanyalah “orang pintar” atau tetua. Semoga mereka menjawab ya dan kau percaya dengan ceritaku.

Bagaimana pun, gunung ini spesial. Aku memiliki hubungan khusus dengan gunung ini, terutama di dua tempatnya: Tanjakan Cinta dan jalur menuju puncak. Angka tiga seolah-olah melengkapi cerita tadi – Sang Naga, buyut dan para peri. Jika 2009, dua laki dan satu perempuan, maka 2012 menjadi satu laki dan dua perempuan. Aku, Rony dan Melati. Bertiga kami diundang oleh gunung ini.

Mengapa kita mendaki gunung? Tentu saja karena gunung tersebut mengundang kita. Selamat datang di Semeru 🙂

Sabtu, 4 Agustus 2012

Tanggal empat bulan Agustus usai Purnama semalaman menerangi upacara Kasada di Bromo, pukul tiga sore, aku dan Rony menyewa dua ojek yang satunya seharga 125 ribu menuju Ranu Pane dari Cemoro Lawang. Sensasi lautan pasir yang lembut beradu pada roda motor, kencang berputar maju, terkadang hingga miring, membuatku berkeringat dingin. Berdarah suku Tengger mungkin membuat dua pengendara motor tersebut pakar dan dapat kami percayai. Kami selamat.

Motor berhenti tepat di depan Loket Pendaftaran Pendaki. Berceloteh panjang lebar dengan petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tak membuat kami dibebaskan dari kewajiban menyertai surat keterangan sehat dari dokter untuk pendakian yang hanya boleh sampai batas Kalimati saja. Dalam sesuatu yang disebut masalah, selalu ada keberuntungan, dan keberuntungan tersebut bernama Pak Laman. Beliau memberikan tumpangan mobil Jeep cuma-cuma dari Ranu Pane menuju Tumpang, pengantaran ke klinik, juga akomodasi di rumahnya. Sebelum keberuntungan datang, aku dan Rony sudah memutuskan untuk menginap di Losmen Tasrip (Homestay Family). Sudah terbayang hangatnya air untuk mandi, empuknya kasur sebagai alas tidur dan kelezatan makan malam yang disajikan oleh Ibu Tasrip yang ramah, namun semuanya tiba-tiba menjadi blink. Kami mengubur angan seketika meski lebih dari 12 jam dalam tidur dan terjaga, pikiran masih dipenuhi oleh tiga fasilitas tersebut. Melati akan kami jumpai 30 menit dari pukul lima sore saat kami berangkat menuju Tumpang. Dia naik ojek dari Tumpang, sebelumnya dari Terminal Arjosari dengan angkot, dan taksi dari Bandara Malang. Dalam Jeep, bertiga bertumpukan, kami menyantap Good Time.

View dari Ranu Pane menuju pertigaan Bromo-Tumpang-Ranu Pane

Menikmati perjalanan

Pukul tujuh malam, sesampainya di Tumpang, usai memperoleh Surat Keterangan Sehat yang menyatakan: tekanan darah, berat dan tinggi badan, kami menyantap mie bakso di samping rumah Pak Laman. Pulangnya, teh manis hangat buatan Ibu Laman sudah tersedia di atas meja. Aktivitas malam sebelum bersembunyi di balik kantong tidur masing-masing adalah sikat gigi dengan air sedingin es dan membolak-balik buku tamu yang penuh coretan terima kasih dari para pendaki, terutama mapala.

Minggu, 5 Agustus 2012

Kami bangun sebelum pukul enam pagi, sikat gigi, minum teh manis hangat, lalu berangkat. Perjalanan satu setengah jam kami tempuh dari pukul 06.30. Good Time tetap menemani perjalanan menuju Ranu Pane dari rumah Pak Laman di Tumpang. Dua bungkus Good Time yang dibeli oleh Rony sudah habis dalam perjalanan, batal menjadi bekal pendakian. Kami sisihkan tiga keping biskuit tersebut untuk bapak penyopir truk sayur yang mengantar kami, juga uang rokok sebesar 50 ribu sebagai ucapan terima kasih.

Dari ki-ka: Bp. Sopir, Bp. Laman, Rony dan Melati

Good Time yang setia menemani perjalanan

Sesampainya di Losmen Tasrip, angan-angan kami terwujud. Mandi air hangat dan makan pagi yang lezat. Sebagian barang yang tak dibawa mendaki, kami titipkan ke Ibu Tasrip dan oleh Ibu Tasrip, barang-barang kami diletakkan dalam sebuah kamar berukuran kecil yang terkadang dipakai cucunya jika datang berkunjung ke Ranu Pane.

Usai mendaftarkan diri secara resmi sebagai pendaki Semeru, kami mengawali pendakian dari Pintu Rimba pada pukul 11.00 dan tiba di Ranu Kumbolo setelah melewati empat posko pada pukul 15.30. Sepi dan sunyi. Tenda kami pasang, matras dan sleeping bag kami atur senyaman mungkin. Matahari masih bersinar ketika kami naik Tanjakan Cinta menuju Oro-oro Ombo. Rony hendak mengambil beberapa foto, namun matahari enggan mengabarkan terbenamnya ia. Maka, semoga saja pemandangan savana luas cukup memuaskan Rony. Sesekali nampak asap mengepul di puncaknya, menari mengikuti arah angin. Bertiga kami menikmati sore yang tenang, sore yang tidak ada siapa-siapa lagi. Ketika langit mulai gelap, kami menuruni Tanjakan Cinta yang tak berubah menjadi Turunan Cinta. Dingin mulai merambat, namun tetap saja kami enggan mencari kayu untuk api unggun. Alhasil, api pun hidup segan mati tak mau dengan membakar ranting-ranting tipis seadanya. Tak peduli dengan hal tersebut, kami memasak saja, memasak mie dan bakso, serta membuat milo hangat.

Bintang berjuta mengukir langit bersama rembulan. Malam masih tetap senyap hingga terlihat kilauan senter dari atas Tanjakan Cinta. Lebih dari lima pendaki turun dan bermalam di Ranu Kumbolo. Kami akhirnya mempunyai teman lain dan Kumbolo tidak menjadi horor lagi, setidaknya tidak membuatku berpikir macam-macam 🙂

Pintu Rimba

Di depan pos 3 yang roboh, Melati mencoba beban para porter

Melewati pos 4, penampakan ini akan membuat kita tersenyum 🙂

Selamat datang di Ranu Kumbolo

Oro-oro Ombo, savana nan luas

Continue reading “Hormatku pada Semeru”

Melihat Indonesia dari Kasada

KASADA, nama upacara yang kuhadiri di Bromo pada awal Agustus silam. Aku berjalan sembari melihat, sejenak kadang kuterhenti. Wajah Indonesia sesungguhnya berada tepat di mataku. Aku tak hanya takjub dengan keindahan lautan pasir, pun takjub dengan ramainya orang – berekreasi, berjualan, berdoa, juga berebutan menadah sesaji di sekitaran kawah.

Antri dari dan ke Puncak Bromo

Siap menadah hasil sesaji sebelum jatuh ke kawah

Berteduh dari panasnya matahari. Kecapaiankah?

Hilir mudik si Bapak dengan wajah dan tubuh yang terselimuti pasir

Meski masih kecil, aku pun ikut menadah!

Ayam yang menggelepar, bernafas menggoyangkan tubuhnya

Memulihkan diri dari pingsan

Siang itu, tanggal 3 Agustus 2012, kusaksikan orang-orang yang katanya bukan bersuku Tengger membentuk pola acak di puncak Bromo, pinggiran hingga bibir kawah. Erupsi mengakibatkan bebatuan di sekitar kawah diselimuti pasir. Besi dan tembok pagar pembatas, juga pegangan anak tangga rusak. Bahkan pasir menutupinya hingga kita nyaris tak melihat pijakan beralas semen lagi. Aku menitikkan air mata di puncak itu. Bukan karena pasir yang menerpa mataku, namun pilu melihat keadaan sekitarku. Aku melihat banyak orang tua dengan muka lusuh bercampur debu, ibu-ibu berkerudung yang berpeluh, anak-anak kecil berpanasan ——–. Semua menadah hasil sesaji yang dilemparkan oleh orang-orang Tengger ke dalam kawah. Siapa yang lebih cepat dan sigap, akan dapat. Jala menjadi alat bantu mereka dan karung dijadikan tempat penyimpanannya. Kulihat juga ayam yang menggelepar. Sekarat mungkin. Seorang bapak kusaksikan pingsan dan beberapa mengelilinginya, memijat kepalanya, memberikan minum dan mengusapnya dengan minyak. Belum sadar ia ketika kutinggalkan.

Rony Zakaria – Dia perantaraku melihat semua ini. Terima kasih Rony. Aku bisa melihat wajah Indonesiaku sekali lagi di sana, di Bromo.

Kembali

Satu bulan usai kembali ke alam,
kini kembali ke orang-orang,
kembali ke buku-buku,
kembali ke benda-benda,
kembali melihat ke dalam diri.

Berkelana dalam semesta,
dalam dimensi yang berbeda,
dengan esensi yang tetap sama,
yakni berjalan dan mengembara,
mengambil dan memberi,
bergembira bersama.