Pikiran

Kabut berbisik,
Dingin membekap udara,
Di kejauhan, samar-samar ilusi liar bermain,
nakal dan tak tertahankan,
mata melihat,
hati menggeliat,
namun pikiran memporak-porandakan semuanya.
Salahkah pikiran yang berilusi,
mengadu pada malam yang pekatnya hitam,
naluri liarnya sepekat darah?
Semua berkecamuk dalam dada.
Hanya ia yang tau,
Ia yang sedang mengkristalkan pikiran selagi dedaunan meneteskan embun,
setetes demi setetes,
berirama sempurna.

Advertisements

Kesadaran

Sssttt…. Kubisikkan satu rahasia di telinga kananmu, teman.

Saat itu ketika aku menyadari satu hal mengapa aku menjadi seorang Buddhis,

alasanku adalah ketiadaan alasan,

bahwa aku tak mempertanyakan kehidupan lagi.

Pikiran kita berbatas pada satu waktu,

tiada batasan hanya terlampaui seiring proses berpikir saja, teman.

Lalu, jawaban-jawaban akan menghampirimu dalam sekejap,

begitu tiba-tiba dan klik! Sadar!

Cahaya

Aku meraba-raba dalam kegelapan sempurna,

dalam sebuah goa tiada cahaya.

Gelap. Lembab. Dingin.

Gemericik air terdengar berirama.

Sang pikiran menerobos akal,

mencari cara untuk segera keluar menyambut cahaya.

Sang hati menduga-duga,

apakah kehidupan berarti cahaya?