Purnama hari ini

Saat Anda jalan pulang ke rumah malam ini, tolong Anda berhenti sejenak dan tataplah langit malam dan biarkan hati Anda berbicara kepada sang rembulan dalam dialog tanpa kata-kata. Mungkin Anda akan mengarang sebuah syair dan mencatatnya dalam buku harian Anda untuk hari ini. Saya ingin Anda memiliki semangat puitis yang demikian. (Daisaku Ikeda)

Malam ini, 5 Juni 2012. Hanya menatap langit seperti biasa. Setiap malamnya, hanya kuikuti saja pertumbuhan bulan yang semakin membulat hari demi hari hingga hari ini – bulat utuh. Purnama hari ini lebih besar sekitar 5% dari biasanya menurut yang diberitakan kompas.com. Indahnya, namun sangat disesalkan aku tak sempat mengabadikannya. Kusimpan dalam ingatan saja…

Link lain mengenai astronomi yang enak dibaca bisa dilihat di langitselatan.com. Selamat membaca ^_^

Mengejar dosen pembimbing

Kamis, 31 Mei 2012. Perasaanku sedikit kacau. Malam sebelumnya, aku tak tidur menyelesaikan tulisan proposal penelitian S2. Malam itu tiba-tiba saja aku seperti mendapat ilham untuk segera menuntaskan apa yang sudah kumulai tiga bulan lalu. Tulisan tersebut selesai lalu kukirim melalui email ke dosen pembimbing diikuti sms konfirmasi. Aku tidur. Siangnya ketika terbangun, aku kembali mengirimkan sms untuk dapat waktu bimbingan. Tanpa menunggu jawaban, aku berniat untuk mencari dosenku di kampus utara dan kampus selatan lalu kembali ke kampus utara. Kulakukan panggilan telepon ke dosenku. Lalu di-reject. Sms masuk, “Msh rapat.” Ku-reply dengan pertanyaan apakah memungkinkan jika bimbingan pada hari itu. Tak ada jawaban lagi. Aku pulang kembali ke kos.

Hari mulai sore saat itu, mungkin sekitar pukul 3pm. Di lampu merah Kaliurang, sempat kuabadikan moment yang ada di foto. Lampu merah itu memang terlihat sangat besar, sama persis yang dirasakan oleh Ci Lenny, myoho-sister ku yang datang di akhir Desember tahun lalu. Beliau begitu terkesima melihat lampu merah di Jogja. Ci Vivi yang pernah mendengarkan hal tersebut dari Ci Lenny pun akhirnya membuktikan kebenaran yang sulit dipercaya itu ketika berkunjung ke Jogja. Akhirnya, kesimpulan kami pun sama: Di Jogja, terdapat beberapa lampu merah yang memang lebih besar daripada ukuran mayoritas. Lampu merah Jogja ini biasa juga dikenal akrab sebagai “Bang Jo”, yaitu “abang ijo” yang artinya lampu merah hijau. Bang Jo ini memang mempunyai dua arti khusus. Selain lampu merah, Bang Jo juga dikenal sebagai kedai penjual minuman seperti juice dan milkshake. Pintar-pintarlah kita membedakannya ya, jangan terkecoh hahaha 😀

Kembali lagi ke obrolan mengejar dosen…….

Aku berada di kos. Aku lupa aktivitas apa yang kulakukan sesampainya di sana. Seperti membuka laptop lalu… aku tak ingat. Hal yang kuingat adalah aku baru mulai berdaimoku – baru menyebut beberapa kali nam-myoho-renge-kyo ketika Hpku berbunyi. Dosenku me-reply smsku. Hal di luar dugaanku. Beliau menyuruhku datang ke ruangannya. Secepat kilat aku menuju ke sana.

Aku menunggu kembalinya dosenku dari rapat di fakultas dengan duduk-duduk di kursi panjang depan ruangannya. Ada seorang lagi yang juga akan bimbingan – Mahasiswa S3 yang sempat kudengar pembicaraannya akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan masalah banjir. Dia akan membuat aplikasi untuk pendeteksian dini terhadap banjir dengan menganalisis data-data yang diperoleh pada tahun sebelumnya. Penelitiannya sangat menarik. Aku kagum dalam hati.

Menunggu dia selama tiga puluh menit lebih, akhirnya tiba juga giliranku. Dosenku membaca tulisanku lalu corat-coret di beberapa bagian yang salah seperti penulisan daftar pustaka dan landasan teori yang terlalu panjang. Beliau mengatakan bahwa aku boleh mengikuti sidang Proposal pada bulan ini – bulan Juni. Ahhh, leganya. Aku pulang sambil senyum-senyum sendiri. Lima belas menit menuju pukul 7pm aku tiba di kos. Mandi dan seusainya juga secepat kilat aku langsung menuju rumah Shibucho untuk sodaikai dengan dihadiri oleh fujinbucho Bogor yang sedang mengunjungi Jogja karena akan menghadiri pernikahan saudaranya. Malam itu, aku senyum tiada henti 🙂

Martabak HAR ada di Jogja

Wow! Kemarin malam tak sengaja kulihat di kiri jalan Gejayan, tak jauh dari lampu merah ringroad utara, terpampang tulisan besar “MARTABAK HAR” dengan ciri khas foto pendiri (Haji Abdul Rozak/HAR) dan tahun berdirinya “since 1947”.

Kedai ini berawal dari pemiliknya yang ingin membuat usaha yang tidak merugikan orang banyak. Jawabannya adalah dengan membuka usaha kuliner. Dengan tepung dan telor saja bisa mengenyangkan banyak orang. Pemilik kedai keluarga ini turun-temurun dan memiliki banyak cabang di kota aslinya, Palembang. Bahkan sebelum membuka cabangnya di Yogyakarta beberapa hari lalu, martabak HAR sudah ada terlebih dahulu di Jakarta dan Bandung. Haji Abdul Rozak juga sangat terkenal dengan sifat dermawannya, terutama kebiasaannya memberi derma kepada anak yatim di bulan Ramadhan setiap hari berturut-turut. Kebiasaan baik tersebut pun dilanjutkan oleh keluarganya hingga saat ini.

Langsung menuju ke TKP sekarang…..

*************************

Sesampainya di TKP, aku senyum-senyum sendiri. Rasanya seperti pulang kampung. Penuh deg-degan. Dari parkiran motor depan kedainya saja, aroma kuah martabak sudah tercium persis seperti yang biasa kunikmati di Palembang. Antrian motor ber-plat BG menghiasi malam yang masih ramai. Aku dan Dhika masuk. “Akhirnyo, martabak HAR ado juga di Jogja ye, mas? hahaha….”, kusapa mereka yang sedang membuat martabak. Aku memesan satu porsi martabak telor bebek dan Dhika memesan satu porsi martabak telor ayam. Untuk minuman, kami sama-sama memesan es kacang merah. Aku makan dengan sangat lahap sampai Dhika saja merasa heran karena tak pernah melihat aku makan senafsu itu hahaha 😀

Dhika tak suka makan kambing, jadi sepotong kecil daging kambing yang ada di kuah martabak campuran kentang dan rempah-remah itu diberikan kepadaku, termasuk sedikit kuahnya juga kuambil karena dia juga tak makan banyak kuah. Sedangkan potongan cabai hijau dicampur dengan kecap asin hanya kuambil kecapnya saja untuk dicampur ke kuah karena aku tak bisa makan cabai. Wow, lezatnya ^_^ 90% serupa dengan hidangan di Palembang, hanya kurang garing saja martabak yang dijual di sini.

Harga yang diberikan memang sedikit lebih mahal dibanding Palembang. Tapi tak masalah, yang penting adalah kangenku pada kuliner Palembang terobati. Harga es jeruknya Rp. 6.000,-, empat kali lipat dari harga es jeruk yang dijual di kantin kampus. Aku hanya ingin melihat saja apakah yang dijual adalah benar-benar es jeruk. Ternyata benar, meskipun kuningnya masih kuning muda. Masih bersyukur aku bukan kuning pucat yang serupa warna krem yang disajikannya.

Siapkan kocek lalu monggo nikmati sajian martabak terenak ini. Sebagai mahasiswa, harga-harga tersebut terbilang cukup mahal loh ^^