Keabadian

Rasanya, baru kudengar kemarin canda tawamu ketika kau berbincang sosok ayahmu.

Banggamu, senyummu, kegembiraanmu, mungkin matamu juga berbinar-binar saat itu.

Lalu, secepat kilat ayahmu pergi mendahuluimu.

Lima belas hari ketika kita akhirnya bertemu lagi,

kau tampak gemuk, tapi pastilah jiwamu bertumbuh lebih dewasa lagi sekarang.

Bukan, aku tak bilang kau kekanak-kanakan.

Aku hanya bilang kesadaran tentang ketidakkekalan keabadian saja,

seperti energi yang tak tercipta dan termusnah.

Begitu juga hubunganmu dan ayahmu,

tak akan putus ditelan ruang dan waktu.

Kau anak kebanggaannya,

jiwanya telah merasuk dalam dirimu.

Tetap berjuang saja,

biar semesta yang menjadi saksimu.

2 thoughts on “Keabadian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s