Tak seperti yang kuduga

Ditulis di ruang kebersamaan kos putri coklat mulai pukul 22:51 WIB. Kos ini bukanlah kos yang kutempati lagi. Sudah tepat satu minggu aku berpindah tempat tinggal dari kos coklat ke kos monjali. Awal ceritanya seperti yang akan kuceritakan ini.

—– melanjutkan menulis di kamar Dhika pada pukul 01.28 WIB pada hari Minggu, setelah tertunda 2 jam. Tertunda menulis karena sempat makan Soto Kudus di trotoar Jl. Adi Sutjipto di waktu tunda tadi. Soto ini sangat enak. Selain itu, dijual juga nasi pindang sehingga jika kita menyusuri Jl. Adi Sutjipto setelah batas kota ke utara, tepat di seberang Gedung Wanitatama, kita akan membaca tulisan dengan huruf besar SOTO KUDUS DAN NASI PINDANG berlatar spanduk berwarna kuning telur. Nah, parkir saja kendaraan kita di depannya dan siap-siap menyantap makanan hangat beraroma ini. Minuman rahasiaku adalah ice lemon tea gratisan. Memanfaatkan jeruk nipis yang sudah terpotong, kuperas dan kucampur bersama es teh manis yang kupesan seharga Rp. 2.500,- sehingga akan menjadi ice lemon tea. Harga soto kudus satu porsi adalah Rp. 8.000,- sedangkan harga nasi pindangnya adalah Rp. 9.000,-.

Kami, aku dan Dhika, terbiasa bercengkerama panjang dan lebar, berdiskusi banyak hal, menghabiskan waktu-waktu di tengah malam sembari menikmati kuliner di pinggir-pinggir jalan protokol Yogyakarta. Satu kehilangan dan kerinduan itu yang paling kurasakan ketika menempati kembali kos monjali. Sungguh terbiasa aku pulang malam dan tidur pagi selama hampir 2 tahun terakhir ini. Berteleponan hingga subuh. Belajar. Membaca. Curhat. Bergosip. Berdoa, bahkan ber-melankolis-ria seorang diri di kamar seukuran kurang sedikit dari 3×3 dalam satuan meter, di kos coklat yang sangat nyaman dengan air kran yang selalu dingin tersebut. Hal-hal yang sudah menjadi rutinitas di kos coklat ini terlihat sulit diterapkan di kos monjali.

Sudah sampai titik klimaks tingkat jenuh berada di kos coklat merupakan salah satu alasan kepindahanku ke kos monjali. Di awal kedatanganku, kos monjali kutempati karena salah satu penghuninya pulang ke Palembang selama 3 bulan. Sekembalinya ia, aku pindah ke kos coklat. Sekarang, setelah ia lulus, aku kembali menempati kos monjali tersebut.

Kos monjali penuh dengan kenangan. Kupikir jika aku mengawali dan mengakhiri masa-masa kuliah di tempat tinggal yang sama akan terasa indah dan perfect! Ternyata itu hanya pikiranku saja. Itu hanyalah anganku saja.

Kuduga, aku masih menjadi aku yang dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta.

Kuduga, pandangan mataku, perasaan hatiku, pendengaran telingaku, bau khas yang tercium olehku, masih saja sama seperti dulu.

Kuduga, aku identik dengan aku dulu.

Ternyata, yang tak kuduga adalah aku berubah.

Dua tahun cukup mengubahku, yang kuyakini sebagai perubahaan ke arah positif.

Ah, mungkin saja negatif. Ehm, positif. Negatif? Positif dan negatif hanya label saja yang tak begitu penting untuk menggambarkan fakta sesungguhnya karena sesungguhnya yang kurasakan selama dua tahun ini adalah dua tahun yang penuh pembelajaran dan penuh dengan kesulitan yang menumbuhkan. Berharga!

Aku hanya ingin tetap menjaga “harga” dari sebuah perjalanan ini hingga akhir. Masa seperti apa yang akan kulalui, pertama-tama akan kusambut dengan senyuman. Kedua, dengan menantangnya. Ketiga, adalah menuntaskannya dan MENANG 🙂

2 thoughts on “Tak seperti yang kuduga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s