Mengejar dosen pembimbing

Kamis, 31 Mei 2012. Perasaanku sedikit kacau. Malam sebelumnya, aku tak tidur menyelesaikan tulisan proposal penelitian S2. Malam itu tiba-tiba saja aku seperti mendapat ilham untuk segera menuntaskan apa yang sudah kumulai tiga bulan lalu. Tulisan tersebut selesai lalu kukirim melalui email ke dosen pembimbing diikuti sms konfirmasi. Aku tidur. Siangnya ketika terbangun, aku kembali mengirimkan sms untuk dapat waktu bimbingan. Tanpa menunggu jawaban, aku berniat untuk mencari dosenku di kampus utara dan kampus selatan lalu kembali ke kampus utara. Kulakukan panggilan telepon ke dosenku. Lalu di-reject. Sms masuk, “Msh rapat.” Ku-reply dengan pertanyaan apakah memungkinkan jika bimbingan pada hari itu. Tak ada jawaban lagi. Aku pulang kembali ke kos.

Hari mulai sore saat itu, mungkin sekitar pukul 3pm. Di lampu merah Kaliurang, sempat kuabadikan moment yang ada di foto. Lampu merah itu memang terlihat sangat besar, sama persis yang dirasakan oleh Ci Lenny, myoho-sister ku yang datang di akhir Desember tahun lalu. Beliau begitu terkesima melihat lampu merah di Jogja. Ci Vivi yang pernah mendengarkan hal tersebut dari Ci Lenny pun akhirnya membuktikan kebenaran yang sulit dipercaya itu ketika berkunjung ke Jogja. Akhirnya, kesimpulan kami pun sama: Di Jogja, terdapat beberapa lampu merah yang memang lebih besar daripada ukuran mayoritas. Lampu merah Jogja ini biasa juga dikenal akrab sebagai “Bang Jo”, yaitu “abang ijo” yang artinya lampu merah hijau. Bang Jo ini memang mempunyai dua arti khusus. Selain lampu merah, Bang Jo juga dikenal sebagai kedai penjual minuman seperti juice dan milkshake. Pintar-pintarlah kita membedakannya ya, jangan terkecoh hahahašŸ˜€

Kembali lagi ke obrolan mengejar dosen…….

Aku berada di kos. Aku lupa aktivitas apa yang kulakukan sesampainya di sana. Seperti membuka laptop lalu… aku tak ingat. Hal yang kuingat adalah aku baru mulai berdaimoku – baru menyebut beberapa kaliĀ nam-myoho-renge-kyo ketika Hpku berbunyi. Dosenku me-reply smsku. Hal di luar dugaanku. Beliau menyuruhku datang ke ruangannya. Secepat kilat aku menuju ke sana.

Aku menunggu kembalinya dosenku dari rapat di fakultas dengan duduk-duduk di kursi panjang depan ruangannya. Ada seorang lagi yang juga akan bimbingan – Mahasiswa S3 yang sempat kudengar pembicaraannya akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan masalah banjir. Dia akan membuat aplikasi untuk pendeteksian dini terhadap banjir dengan menganalisis data-data yang diperoleh pada tahun sebelumnya. Penelitiannya sangat menarik. Aku kagum dalam hati.

Menunggu dia selama tiga puluh menit lebih, akhirnya tiba juga giliranku. Dosenku membaca tulisanku lalu corat-coret di beberapa bagian yang salah seperti penulisan daftar pustaka dan landasan teori yang terlalu panjang. Beliau mengatakan bahwa aku boleh mengikuti sidang Proposal pada bulan ini – bulan Juni. Ahhh, leganya. Aku pulang sambil senyum-senyum sendiri. Lima belas menit menuju pukul 7pm aku tiba di kos. Mandi dan seusainya juga secepat kilat aku langsung menuju rumah Shibucho untuk sodaikai dengan dihadiri oleh fujinbucho Bogor yang sedang mengunjungi Jogja karena akan menghadiri pernikahan saudaranya. Malam itu, aku senyum tiada hentišŸ™‚

2 thoughts on “Mengejar dosen pembimbing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s