Martabak HAR ada di Jogja

Wow! Kemarin malam tak sengaja kulihat di kiri jalan Gejayan, tak jauh dari lampu merah ringroad utara, terpampang tulisan besar “MARTABAK HAR” dengan ciri khas foto pendiri (Haji Abdul Rozak/HAR) dan tahun berdirinya “since 1947”.

Kedai ini berawal dari pemiliknya yang ingin membuat usaha yang tidak merugikan orang banyak. Jawabannya adalah dengan membuka usaha kuliner. Dengan tepung dan telor saja bisa mengenyangkan banyak orang. Pemilik kedai keluarga ini turun-temurun dan memiliki banyak cabang di kota aslinya, Palembang. Bahkan sebelum membuka cabangnya di Yogyakarta beberapa hari lalu, martabak HAR sudah ada terlebih dahulu di Jakarta dan Bandung. Haji Abdul Rozak juga sangat terkenal dengan sifat dermawannya, terutama kebiasaannya memberi derma kepada anak yatim di bulan Ramadhan setiap hari berturut-turut. Kebiasaan baik tersebut pun dilanjutkan oleh keluarganya hingga saat ini.

Langsung menuju ke TKP sekarang…..

*************************

Sesampainya di TKP, aku senyum-senyum sendiri. Rasanya seperti pulang kampung. Penuh deg-degan. Dari parkiran motor depan kedainya saja, aroma kuah martabak sudah tercium persis seperti yang biasa kunikmati di Palembang. Antrian motor ber-plat BG menghiasi malam yang masih ramai. Aku dan Dhika masuk. “Akhirnyo, martabak HAR ado juga di Jogja ye, mas? hahaha….”, kusapa mereka yang sedang membuat martabak. Aku memesan satu porsi martabak telor bebek dan Dhika memesan satu porsi martabak telor ayam. Untuk minuman, kami sama-sama memesan es kacang merah. Aku makan dengan sangat lahap sampai Dhika saja merasa heran karena tak pernah melihat aku makan senafsu itu hahaha😀

Dhika tak suka makan kambing, jadi sepotong kecil daging kambing yang ada di kuah martabak campuran kentang dan rempah-remah itu diberikan kepadaku, termasuk sedikit kuahnya juga kuambil karena dia juga tak makan banyak kuah. Sedangkan potongan cabai hijau dicampur dengan kecap asin hanya kuambil kecapnya saja untuk dicampur ke kuah karena aku tak bisa makan cabai. Wow, lezatnya ^_^ 90% serupa dengan hidangan di Palembang, hanya kurang garing saja martabak yang dijual di sini.

Harga yang diberikan memang sedikit lebih mahal dibanding Palembang. Tapi tak masalah, yang penting adalah kangenku pada kuliner Palembang terobati. Harga es jeruknya Rp. 6.000,-, empat kali lipat dari harga es jeruk yang dijual di kantin kampus. Aku hanya ingin melihat saja apakah yang dijual adalah benar-benar es jeruk. Ternyata benar, meskipun kuningnya masih kuning muda. Masih bersyukur aku bukan kuning pucat yang serupa warna krem yang disajikannya.

Siapkan kocek lalu monggo nikmati sajian martabak terenak ini. Sebagai mahasiswa, harga-harga tersebut terbilang cukup mahal loh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s