Keabadian

Rasanya, baru kudengar kemarin canda tawamu ketika kau berbincang sosok ayahmu.

Banggamu, senyummu, kegembiraanmu, mungkin matamu juga berbinar-binar saat itu.

Lalu, secepat kilat ayahmu pergi mendahuluimu.

Lima belas hari ketika kita akhirnya bertemu lagi,

kau tampak gemuk, tapi pastilah jiwamu bertumbuh lebih dewasa lagi sekarang.

Bukan, aku tak bilang kau kekanak-kanakan.

Aku hanya bilang kesadaran tentang ketidakkekalan keabadian saja,

seperti energi yang tak tercipta dan termusnah.

Begitu juga hubunganmu dan ayahmu,

tak akan putus ditelan ruang dan waktu.

Kau anak kebanggaannya,

jiwanya telah merasuk dalam dirimu.

Tetap berjuang saja,

biar semesta yang menjadi saksimu.

Advertisements

Harta duniawi

Aku hanya tak tau saja apa yang dianggap oleh orang-orang tentang harta. Aku hanya tak mengerti saja mengapa aku harus terperosok masuk ke dalam perputarannya. “Aku tak mau!” Aku mendesak diriku untuk mempercayai kata-kataku barusan. Bagian lain diriku berkata, “Mengertilah, kau harus tetap bergulat dalam perputarannya!”. “Tidak!”. “Tidak?. “Ya, tidak!”.

Aku diam. Berpikir. Berpikir dalam diam.

Fakta dunia yang kita tinggali seperti ini adanya. Bahkan kata-kata demikian jika diterbitkan dalam buku, dikeluarkan dari mulut para motivator, pun akan dihargai dengan sejumlah harta yang banyak disebut-sebut sebagai uang.

Diam dan mengertilah. Dalam diam aku mengerti.

Titik keberadaanku

Aku masih bergerak dalam sendiri, mengamati hal-hal di sekelilingku.
Aku masih mencoba untuk memahami arti semuanya, mungkin tanpa jawaban.

Kini, kalau pun kuterhubung dalam internet, aku berada dalam kesendirian.
Itu pilihanku. Rasanya jenuh saja dengan rutinitas lampau.
Ketika facebook masih mengisi hari-hariku, ruang-ruang chatting penuh canda tawa,
Ketika seringkali kubaca apa saja yang terlintas dalam timeline twitter, juga membaca mailing list di beberapa group yang kuikuti.

Aku, hanya butuh keluar dari itu semua.
Lepas. Akhirnya, lepas.

Beberapa waktu lalu, mungkin dalam ilusi yang seolah nyata.
Rohku keluar dari badanku dalam beberapa saat.
Aku melihat diriku yang sedang duduk termangu sendirian,
di atas kasur di kos coklat.
Lalu hilang, mungkin rohku menyatu kembali dengan badan fisikku.

Kurasa di titik kini keberadaanku,
aku seperti menyadari sesuatu.

Aku tak tau apa itu,
apakah aku terlalu lama meninggalkan diriku?

Kematian

Aku tak tau, di mana-mana kulihat kematian.
Di mana-mana aku seperti melihat kehilangan.

Ada bagian dalam diriku yang ingin memungkiri itu semua.
Banyak orang mati. Semua orang mati.

Aku hidup.
Aku hidup untuk melihat kematian.
Atau kematianku sendiri?

 

Tak seperti yang kuduga

Ditulis di ruang kebersamaan kos putri coklat mulai pukul 22:51 WIB. Kos ini bukanlah kos yang kutempati lagi. Sudah tepat satu minggu aku berpindah tempat tinggal dari kos coklat ke kos monjali. Awal ceritanya seperti yang akan kuceritakan ini.

—– melanjutkan menulis di kamar Dhika pada pukul 01.28 WIB pada hari Minggu, setelah tertunda 2 jam. Tertunda menulis karena sempat makan Soto Kudus di trotoar Jl. Adi Sutjipto di waktu tunda tadi. Soto ini sangat enak. Selain itu, dijual juga nasi pindang sehingga jika kita menyusuri Jl. Adi Sutjipto setelah batas kota ke utara, tepat di seberang Gedung Wanitatama, kita akan membaca tulisan dengan huruf besar SOTO KUDUS DAN NASI PINDANG berlatar spanduk berwarna kuning telur. Nah, parkir saja kendaraan kita di depannya dan siap-siap menyantap makanan hangat beraroma ini. Minuman rahasiaku adalah ice lemon tea gratisan. Memanfaatkan jeruk nipis yang sudah terpotong, kuperas dan kucampur bersama es teh manis yang kupesan seharga Rp. 2.500,- sehingga akan menjadi ice lemon tea. Harga soto kudus satu porsi adalah Rp. 8.000,- sedangkan harga nasi pindangnya adalah Rp. 9.000,-.

Kami, aku dan Dhika, terbiasa bercengkerama panjang dan lebar, berdiskusi banyak hal, menghabiskan waktu-waktu di tengah malam sembari menikmati kuliner di pinggir-pinggir jalan protokol Yogyakarta. Satu kehilangan dan kerinduan itu yang paling kurasakan ketika menempati kembali kos monjali. Sungguh terbiasa aku pulang malam dan tidur pagi selama hampir 2 tahun terakhir ini. Berteleponan hingga subuh. Belajar. Membaca. Curhat. Bergosip. Berdoa, bahkan ber-melankolis-ria seorang diri di kamar seukuran kurang sedikit dari 3×3 dalam satuan meter, di kos coklat yang sangat nyaman dengan air kran yang selalu dingin tersebut. Hal-hal yang sudah menjadi rutinitas di kos coklat ini terlihat sulit diterapkan di kos monjali.

Sudah sampai titik klimaks tingkat jenuh berada di kos coklat merupakan salah satu alasan kepindahanku ke kos monjali. Di awal kedatanganku, kos monjali kutempati karena salah satu penghuninya pulang ke Palembang selama 3 bulan. Sekembalinya ia, aku pindah ke kos coklat. Sekarang, setelah ia lulus, aku kembali menempati kos monjali tersebut.

Kos monjali penuh dengan kenangan. Kupikir jika aku mengawali dan mengakhiri masa-masa kuliah di tempat tinggal yang sama akan terasa indah dan perfect! Ternyata itu hanya pikiranku saja. Itu hanyalah anganku saja.

Kuduga, aku masih menjadi aku yang dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta.

Kuduga, pandangan mataku, perasaan hatiku, pendengaran telingaku, bau khas yang tercium olehku, masih saja sama seperti dulu.

Kuduga, aku identik dengan aku dulu.

Ternyata, yang tak kuduga adalah aku berubah.

Dua tahun cukup mengubahku, yang kuyakini sebagai perubahaan ke arah positif.

Ah, mungkin saja negatif. Ehm, positif. Negatif? Positif dan negatif hanya label saja yang tak begitu penting untuk menggambarkan fakta sesungguhnya karena sesungguhnya yang kurasakan selama dua tahun ini adalah dua tahun yang penuh pembelajaran dan penuh dengan kesulitan yang menumbuhkan. Berharga!

Aku hanya ingin tetap menjaga “harga” dari sebuah perjalanan ini hingga akhir. Masa seperti apa yang akan kulalui, pertama-tama akan kusambut dengan senyuman. Kedua, dengan menantangnya. Ketiga, adalah menuntaskannya dan MENANG  🙂

Fokus

Semakin banyak sumber daya (resources) seharusnya samakin memudahkan kita dalam memahami suatu hal. Sulitnya justru karena hasil yang tercapai adalah memahami banyak hal, namun hanya sepotong saja. Apa yang kita pahami sebagai holistik atau utuh bukanlah perkara mudah karena pertama-tama yang harus kita lakukan adalah fokus pada suatu hal. Satu hal demi satu hal. Fokus seperti luv yang menghasilkan titik api jika dikenai cahaya mentari dalam waktu tertentu yang konstan. Sepuluh ribu jam – itu yang diyakini secara internasional, yaitu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Fokus mengerjakan sesuatu seolah-olah kita tidak dapat melanjutkan hidup jika belum tercapai.

Fokus hingga akhir tahunku setelah beruntung lulus sidang proposal dengan revisi sana-sini adalah menyelesaikan kuliah. Jika fokus tersebut lebih difokuskan lagi atau lebih tepat dinamakan plans untuk mencapai goal, maka terdapat lima hal yang harus dituntaskan. Pertama adalah menguatkan konsep tentang apa yang akan dibuat secara rinci dan mempelajari tools yang akan digunakan. Misalnya java, jadex, xml, prometheus dan k-means clustering. Kedua hingga kelima adalah menyelesaikan tahap analisis, rancangan, implementasi dan berakhir dengan pengujian.

Semua hal harus direncanakan. Spontanitas sesungguhnya adalah rencana-rencana matang yang berbuah kebiasaan sehingga spontanitas hanya mengeluarkan saja apa yang sebenarnya sudah melekat dalam diri kita. Gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan untuk gagal. Setidak-tidaknya itu yang dikatakan oleh seorang tokoh yang namanya terlupakan olehku.

Film dan buku #2

Dekill, terima kasih atas kiriman film-filmnya. Baru tiga film yang kutonton. Pertama, Lost in Translation (2003): Film ini di luar ekspektasiku. Bisa dibilang, aku sedikit kecewa. Namun selalu ada nilai yang bisa dipetik dari film yang menceritakan dua tokoh utama – orang Amerika yang harus beradaptasi dengan kehidupan di Jepang. Kedua, Dead Poets Society (1989): Robin Williams sebagai aktor utamanya memang selalu piawai menampilkan karakter kuat yang menceritakan tentang perubahan. Serupa dengan film “Patch Adams (1998), namun kali ini Robin Williams tampil sebagai guru poetry di sekolah asrama anak laki-laki yang terbaik di kotanya. Sekolah tersebut dibangun dari empat pilar: Tradition – Honor – Dicipline – Excellent.  Pesan utamanya adalah: Carpe Diem, Seize The Day! Klimaks dari film ini ada di akhir. Sudah bisa ditebak endingnya, namun tetap saja mengharukan. Ketiga adalah film yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang guru penderita sindrom tourett. Judulnya adalah Front of the Class (2008). Never ever give up on your dream! It’s okay to be different! Begitulah kira-kira kesimpulanku terhadap film-film yang kutonton kemarin sore hingga malam.

Beberapa hari menjelang sidang proposal, hatiku sedikit tidak tenang. Sangat deg-degan. Bukannya belajar malah menonton film dan membaca buku 😀

Di Jogja, terdapat tiga toko buku (TB) Gramedia: Gramedia Sudirman, Amplas dan Mall Malioboro. dan tiga TB Togamas: Togamas Gejayan, Galeria Mall, dan Jalan Solo. Lalu, ada satu kompleks penjualan buku yang sering kukunjungi yaitu Soping. Letaknya di samping Taman Budaya. Nah, beberapa hari ini ada moment diskon besar-besaran untuk buku-buku terbitan Mizan yang dijual di TB Togamas Galeria. Sayangnya hari ini (5 Juni) adalah hari terakhir diskon 🙂

Aku membeli dua buku berjudul “Black Beauty” – buku tentang kuda dan satu lagi yang berjudul “One Person Multiple Careers”. Kurasa aku harus membaca buku ini, terutama atas persetujuanku terhadap pernyataan: “Saya sering merasa ditarik ke segala penjuru – bukan karena saya tidak bisa fokus, melainkan karena saya punya begitu banyak minat dan ide.”

Buku “Black Beauty” akan dibaca terlebih dahulu oleh Mbak Har, mbak yang menjaga kos dan kami. Mbak Har suka sekali membaca. Beberapa waktu lalu, dia membaca buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Lain waktu dia juga pernah membaca buku “The Moneyless Man”. Bahkan sebelum-sebelumnya, dia membaca sajak puitis Kahlil Gibran. Malam ini dipertengahan acara “Bukan Empat Mata”, mbak Har mengatakan, “Ah, matikan TV. Lebih baik membaca sekarang”. Nice kan?

Salah satu buku yang juga harus dilahap pada bulan ini adalah “Bunga Buddhisme Cina” karangan Daisaku Ikeda. Buddhisme Nichiren Daishonin terkenal sebagai Buddhisme 4 guru 3 negara. 4 guru, yaitu Sakyamuni – Tien Tai – Dengyo – Nichiren Daishonin. 3 negara, yaitu India – Cina – Jepang. Maka, buku tersebut akan menceritakan masa-masa perkembangan Buddhisme di Cina yang dibawa melewati jalur Utara dari India dengan Tien Tai sebagai pelaksana utama ajaran Sutra Bunga Teratai dan Dengyo – mahaguru dari Jepang yang nantinya akan membawa sutra tersebut dari Cina ke Jepang.

Nanti, dipertengahan bulan Juni, kita akan sama-sama melihat apakah masih ada buku lain yang menarik untuk dibaca. Tentunya, selain buku-buku teori komputasi, basis data dan agen cerdas. Ehm, e-book “Head First Java” pemberian si dekill juga harus segera diprint dan dipelajari dari nol. Bulan Juni ini akan menjadi bulan yang seru – bulan yang penuh dengan film dan buku 🙂