Mei 2012

Pukul 5:06 AM, tanggal 5/12/2012, bertempat di kamar 1 Kos Coklat dengan kondisi mata masih terbuka lebar @_@

Bulan Mei ini merupakan bulan yang penuh makna bagiku. Pertama karena akhir Mei tepat dua tahun aku berada di kota Jogja. Kedua karena akan ada dua kegiatan penting berkaitan dengan hari wanita, yaitu perayaan hari wanita Soka Gakkai Indonesia di Jakarta dan Jogja. Ketiga karena akan menghadiri Pentas Tari Lintas Generasi dalam rangka HUT ke-60 tahun Yayasan Siswa Among Beksa dan 1 abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Pendopo nDalem Kaneman. Tentu saja undangan ini kuperoleh dari shibucho (istilah dalam Soka Gakkai yang merujuk pada Ketua Daerah Jogja) dan fujinbucho (Ketua Daerah Bagian Ibu) 🙂

Bulan Mei ini juga kutargetkan menyelesaikan 2 buku bacaan, yaitu: Outliers yang ditulis oleh Malcolm Gladwell dan Revolusi Manusia Baru bab 6 yang ditulis oleh Daisaku Ikeda. Tentu saja tak ketinggalan bacaan wajib, yaitu Soka Spirit. Dalam buku catatanku di awal Desember 2007 sewaktu diadakan rapat pimpinan GM Soka Gakkai di Jakarta, ketua pemudi nasional menjelaskan 3 hal mengenai revolusi yang akan mulai kita lakukan bersama, yaitu revolusi waktu, revolusi belajar dan revolusi pertemuan. Revolusi belajar yang dibahas pada saat itu adalah membaca habis Soka Spirit. Manfaat dari membaca secara rutin tersebut semakin terasa, terutama setelah dijalankan terus-menerus hingga sekarang 🙂

Bacaan selanjutnya adalah materi-materi yang berkaitan dengan proposal tesis, yaitu tentang prometheus, software agent, jadex dan k-means.

Film yang sudah dan akan ditonton adalah Warriors of the Rainbow: Seediq Bale, The Avenger, A Monster in Paris dll…

Ehm, bulan ini juga aku sudah dan akan bertemu dengan tiga sahabat yang berkunjung ke Jogja. Menyenangkan sekali jika ada sahabat yang datang, yaitu seorang sahabat muslim, kristiani dan budhis 🙂

Lainnya adalah kegiatan-kegiatan rutin yang menyenangkan, seperti bersih-bersih kamar setiap dua minggu sekali, home visiting, daimoku campaign pribadi, lari dan olahraga sore, mengikuti shodaikai dan zadankai, makan-makan dan ngobrol santai bersama para sahabat di waktu-waktu yang berbeda, juga beberapa kegiatan insidensial seperti mengirimkan buku-buku ke sahabat yang berada di pulau Bangka, nonton bersama teman Gakkai, serta mengajari seorang sahabat lainnya cara mengendarai motor.

Kira-kira begitulah hari-hari yang akan kujalani di bulan ini…

Harddisk eksternal minta format

Tidak tenang aku beberapa hari ini, pasalnya harddisk eksternal yang rewel minta format setiap kali akan dibuka di laptop manapun. Ciri-cirinya: hanya tertulis local disk (e:) catt: penamaan tergantung drive yang digunakan. Akhirnya, browsing dengan satu kata kunci “harddisk eksternal minta format”, kutemukan beberapa solusi. Kucoba solusi termudah dan hore! berhasil.

Caranya: ketikkan perintah chkdsk /r /f e: pada command prompt.

Chkdsk merupakan singkatan dari check disk. Tool ini disediakan dalan sistem operasi DOS dan Windows yang berguna untuk mengotak-atik harddisk kita. Sedangkah perintah /r dan /f pada fungsi chkdsk berguna untuk :

  • /r menemukan bad sectors dan memulihkan informasi yang bisa dibaca (termasuk /f dan /p). Data yang tak terbaca akan hilang. Jika CHKDSK tidak dapat mengunci volume, maka pengecekan akan dilakukan pada saat komputer dihidupkan kembali.
  • /f memperbaiki error pada volume. Volume harus terkunci. Jika CHKDSK tidak dapat mengunci volume, maka pengecekan akan dilakukan pada saat komputer dihidupkan kembali.

Dalam hal ini, volume merujuk pada nama drive kita. Jadi, mengunci volume bisa berarti mengunci drive kita agar operasi check disk dapat berjalan dengan baik. Penjelasan tambahan monggo dilihat di wikipedia.

Bercengkerama pada malam

Kita bercengkerama pada malam, pada syair-syair real time yang sekejap keluar dari pikiran hati kita, juga komat-kamit bacaan yang kau sukai dan yang kusukai. Kita berbagi, saling mengoreksi pemikiran, mengoreksi gambar-gambar yang sempat merekam kenangan kita, juga tulisan-tulisan penggambaran hidup yang kita anggap penuh kepastian, meski kepastian kita hanyalah ketidakpastian itu sendiri. Kita bahkan berbicara petualangan-petualangan yang akan kita lalui sebagaimana bangganya kau pada ayahmu, sang petualang sejati. Kubaca dan kudengarkan dengan seksama cerita tentang ayahmu, kujadi teringat akan ayahku di rumah. Kurasa dekat dengan ayahmu meski aku tak pernah mengenalnya, pun bertemu langsung.

Dalam malam-malam yang kita lalui, kadang kau tinggalkan aku sendiri untuk berangkat tidur lebih awal dengan mimpi-mimpi buruk yang akan membangunkanmu lagi. Kadang aku yang tertidur hingga esok yang siang pun masih kusapa dengan selamat pagi. Kadang malam kurasa seperti ilusi, ilusi cinta bahwa malam hanya milik kita berdua. Ilusi bahwa dunia hanya milik kita berduakah?

Tidak mau aku peroleh cinta ilusi darimu, seperti kau yang tak juga inginkan hal itu. Nyata kita produktif bahwa impian akan kita raih bersama, setidaknya ketika kaki kita masih berpijak di tanah kota ini. Mungkinkah batas kita hanyalah Yogyakarta 1.0?

Detak jantungmu tak berdegup

Malam ini, hujan lagi.

Hujan yang tak biasa.

Gelap di langit Jogja.

Kita berkendaraan.

Menembus udara pekat.

Kuselipkan tanganku di saku jaketmu,

dan aku coba senderkan kepalaku di bahumu,

mencoba tuk rasakan detak jantungmu.

Namun,

apa boleh buat.

Sayang,

jaketmu terlalu tebal membatasi pendengaranku.

Sedetik, kuberpikir.

Sekarang kuberpikir.

Wajar saja.

Wajar karena kuberharap di tempat yang salah.

Bukan jantungmu, tapi bahumu yang kuletakkan kupingku.

Demikianlah yang kubaca: The Way of Youth!

Menjawab problematika masa remaja, buku karangan Daisaku Ikeda berjudul The Way of Youth ini hadir memberikan solusi berdasarkan sudut pandang Budhisme yang universal.

Buku ini terdiri dari sembilan topik persoalan hidup remaja yang dikemas dalam bentuk tanya jawab, yaitu:

  • hubungan remaja dan keluarga,
  • menemukan persahabatan dan cinta sejati,
  • belajar dan bekerja yang sesuai dengan passion,
  • pentingnya memiliki impian besar dan tujuan dalam hidup,
  • membangun kepercayaan diri,
  • melakukan tindakan welas asih serta kemampuan remaja dalam memandang secara keseluruhan terhadap isu-isu global.

Daisaku Ikeda mengungkapkan cara paling mudah agar setiap remaja dapat mengasah potensi diri sendiri untuk menemukan kebahagiaan sejati dan menjadi manusia yang berkualitas.

Terus terang, aku sangat berharap buku ini segera dicetak ulang setelah rilis pertamanya di tahun 2004, dan tahun ini harapanku terwujud. Delapan tahun buku yang termasuk dalam kategori pengembangan diri ini menemaniku dengan jawaban-jawaban yang to the point terhadap lebih dari 75 pertanyaan para remaja yang terkait persoalan sehari-hari dalam kehidupan. Tak satu pun kalimat dalam buku ini yang sia-sia. Setiap lembar yang kita baca selalu penuh dengan nasihat, yang dikatakan oleh Daisaku Ikeda sebagai nasihat dari seorang yang sudah lebih lama mengarungi bahtera hidup. Daisaku Ikeda sangat yakin pada kekuatan tak terbatas yang dimiliki oleh para remaja dan mengatakan pada mereka, “Kalian adalah harapan umat manusia! Masing-masing mempunyai masa depan cerah. Masing-masing memiliki potensi berharga yang menunggu untuk dikembangkan. Kesuksesanmu, kemenanganmu akan menjadi kemenangan bagi kita semua. Kemenanganmu akan mengarahkan abad ini, abad perdamaian dan umat manusia, abad terpenting bagi setiap manusia.”

Pertanyaan-pertanyaan yang diangkat dalam buku ini berasal dari dialog Daisaku Ikeda dengan para remaja pria dan wanita melalui surat-menyurat maupun diskusi tatap muka. Meskipun diskusi ini berlatar pada filosofi yang diajarkan Nichiren Daishonin, seorang guru Budhis dari abad ke-13 yang hidup di Jepang, filosofi ini bersifat universal karena didasarkan pada penghargaan yang tinggi atas kehidupan dan nilai setiap individu sehingga jawaban-jawaban yang diberikan dapat diterima oleh kalangan mana pun dengan latar belakang yang berbeda.

********************************* Continue reading “Demikianlah yang kubaca: The Way of Youth!”