Helm cinta kasih

Helm cinta kasih adalah sebutan Dhika untuk helm teratasku – helm berwarna merah tanpa kaca penutup. Helm ini punya kisahnya sendiri. Dia dikirim dari Palembang tak berapa lama aku tinggal di Jogja. Ya, mungkin sekitar bulan Juni 2010. Sebelumnya, dia pun kubeli tanpa sengaja. Mamaku, setelah kubonceng dalam jarak yang lumayan jauh bahkan setelah melewati pos polisi mengatakan, “May, ternyata mama tak pakai helm”. “Ya ampun!” Aku shock!. Langsung kuputar balik motorku mencari penjual helm terdekat dan kutemukan dia yang warnanya mencolok. Bulan Septembernya, helm ini kutinggalkan bersama Meme, seorang teman karibku di masa SMP yang sekarang sudah menikah dengan lelaki Jogja. Saat itu, Meme yang baik hati mengantarkanku ke stasiun Lempuyangan untuk berangkat menuju Bumi Ayu dengan kereta api ekonomi. Helm dibawa pulang dan disimpan di rumahnya hampir dua bulan hingga lewat masa awas Gn. Merapi.

Selama masa ketiadaan helm, kupinjam helm nomor 4 pada Dara – penghuni kamar terujung yang jendelanya menghadap ke luar rumah. Dara juga adalah penghuni pertama kamar nomor 1 yang kutempati sekarang. Setelah Dara, ada Bimbi yang tinggal di kamar tersebut. Setelah Bimbi, akulah yang menempatinya sebagai penghuni ke-3 di kamar nomor 1.

Helm nomor 4 tersebut akhirnya kubeli dari Dara seharga Rp.100.000,-. Helm ini sudah memiliki kerusakan permanen pada kaitan click di bawah dagu. Kacanya sudah sedikit lecet dan banyak tempelan di sana-sini, termasuk tempelan foto Barack Obama yang disampingnya tertulis Indonesia. Tidak apa-apa toh aku membutuhkannya. Tak enak saja hati ini jika meminjam barang selama berminggu-minggu sehingga keputusan terbaikku adalah dengan membelinya. Saat itu, entah karena kemalasan atau ketiadaan waktu yang membuatku tak mengambil helm di rumah Meme.

Helm nomor 1 dimiliki oleh Hanny, penghuni kamar ujung yang jendelanya menghadap ke bekas kamar Dara. Hanny adalah sepupu Dara yang baru masuk kos coklat setelah Dara pindah kos. Helm orange bercorak macan juga dirancang tanpa kaca penutup. Di atasnya, helm milik Hanny yang kamarnya menghadap ke garasi. Dua Hanny ini bila berdiri berdampingan akan membentuk angka 10 hahaha

Helm nomor 3 adalah miliknya Putri atau biasa dipanggil Ulik oleh semua teman kos, terkecuali aku. Tidak terbiasa saja rasanya. Putri adalah teman kos yang sering kusapa “Selamat pagi, dunia :)” kapan pun ia membuka jendelanya. Jendela kami tanpa kaca, jadi tak mungkin disebut kaca jendela. Jendela kami, juga pintu, meja dan lemari dibuat dari kayu yang dirancang kuno. Unik.

Di atas helmku, ada helm Endah. Sekarang, hanya Endah, Putri dan aku saja yang merupakan penghuni pertama – angkatan Pak Safi’i. Disebut demikian karena sejarah kos coklat yang kami tempati ini memiliki 3 penjaga. Penjaga pertama adalah Pak Safi’i. Kedua adalah Ria yang membalikkan tanggung jawab sehingga kamilah yang menjaga dia – seorang anak yang belum genap 17 tahun umurnya. Ketiga dan semoga yang terakhir hingga usai masaku tinggal di sini adalah mbak Har.

Endah belum memiliki motor, tapi karena sering diantar-jemput oleh aak-nya, dia pun memiliki helm sendiri. Di atasnya, helm nomor 6 adalah helmnya Putri lagi. Helm Putri juga merupakan helm cinta kasih. Dhika yang juga belum bisa naik motor, biasanya akan bergantian menggunakan dua helm cinta kasih tersebut ketika dijemput oleh aak tukang ojek tercintanya. Aku pun sering meminjam helm Putri ketika membonceng teman karena helm Putri memiliki kaca penutup, tidak seperti helm cinta kasih merahku.

Helm terakhir yang tak tersusun adalah helmnya Okta dan Tika. Helm Okta berwarna abu-abu dan besar sehingga Hanny “0” tidak bisa menyusunnya karena takut terjatuh, sedangkan helmnya Tika tak kami sadari keberadaannya. Rajin sekali dia menyusun helm-helm tersebut dikala selepas maghrib kita sedang makan malam dan mengobrol asyik. Aku sedang makan sup buah saat itu yang mungkin mentrigger teman-teman lain untuk ikut membeli sup buah juga. Okta dan Hanny “0” yang akan pergi membelinya – sekitar 7 bungkus sup buah di terminal Condong Catur. Mereka bilang sup buah di sana sangat enak. Aku belum sempat mencobanya. Nanti sajalah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s