16 dan 17 Mei 2012

Dua hari ini kuberaktivitas seperti biasa. Masih saja bergumul bersama buku, film dan tesis, juga kegiatan insidensial seperti survei lokasi untuk kegiatan Hari Wanita SGI dan jalan-jalan sebagai bonusnya🙂

Berbicara soal buku, buku Peaks and Valley ini bagus sekali, sama bagusnya dengan buku Who Moved My Cheese yang pernah kubaca dari pengarang yang sama – Spencer Johnson, M.D., mungkin sekitar 5 tahun lalu. Buku ini dibeli seharga Rp. 15.000,- saja sewaktu promo buku di Gramedia Sudirman – Yogyakarta. Buku ini membuka wawasan baru kita dalam memandang kehidupan yang bagai rekaman detak jantung, yang bila garis lurus digambarkan sebagai kematian. Puncak, lembah dan dataran. Intermezo: berbeda loh antara dataran dan daratan. Sewaktu menulis tadi, hampir saja aku terjebak dengan dua makna kata tersebut.

Bagaimana keluar lebih cepat dari lembah, bertahan lebih lama di puncak, memperbanyak puncak dan mengurangi lembah. Tiga point yang menjadi bahasan dari buku setebal 144 halaman ini memang layak disebut sebagai permata kecil dan berharga. Selamat membaca.

Petualangan membacaku baru sampai di halaman ke-77 dan tiba-tiba aku teringat satu hal. RJ pernah mengatakan bahwa hidup bagaikan mendaki dari satu puncak ke puncak lainnya, naik dan turun bagaikan jari tangan. Jika kita ingin mencapai satu puncak yang lebih tinggi, kita pasti akan menuruni lembah terlebih dahulu dan yang paling penting adalah kita tau puncak seperti apa yang akan kita tuju sehingga kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang kita lakukan sudah mengarah ke sana?” Satu lagi dia mengatakan bahwa sebelum kita menuju ke puncak selanjutnya, kita harus selalu ingat untuk kembali ke start point dari hati kepercayaan kita.

Semakin membaca dan melakukan tindakan, kutemui kebenaran apa yang pernah dikatakan olehnya, juga oleh salah satu pembicara yang akan membawakan Seminar Hari Wanita di Jakarta tanggal 19 dan 20 nanti. Namanya adalah Seko Ong. Tahun 2010 lalu, aku pernah mengikuti seminarnya yang begitu menginspirasi. Tahun ini pun aku tak akan melewatkannya.

Pada gambar di atas, ada satu potret tertulis CV. Mitra Transport. Ya, kubeli tiket travel Jogja-Jkt untuk esok hari di sana. Tiket kali ini mengalami kenaikan harga sebesar Rp. 20.000,-, mungkin karena bertepatan dengan long weekend.

Rekaman acara Sakura “Yang” Abadi akhirnya juga sudah ter-dvd-kan. Esok akan kubawa sekalian ke Jakarta untuk dibagikan ke teman-teman pengisi acara  Dynamic Dance dan Kumitaiso. Monggo dilihat di sini berita acara Pentas Kebudayaan memperingati 100 hari wafatnya sahabat kami tercinta, Sofian Yang pada tanggal 24 September 2011 lalu: Blog, Tulisan om Lio, Facebook

Dalam dua hari ini juga, sempat kutonton film berjudul The Way yang dibintangi oleh Martin Sheen. Film ini bercerita tentang Tom, seorang suami berprofesi sebagai dokter mata yang istrinya telah meninggal dan sejak saat itu, anak laki-lakinya (diperankan oleh Emilio Esteves) tidak mau meneruskan sekolah kedokterannya yang sudah sampai tingkat akhir. Anaknya lebih memilih untuk melihat dunia dan akhirnya meninggal karena terjebak dalam badai hanya satu hari setelah memulai perjalanannya ke Camino de Santiago, tempat yang menjadi tujuan perjalanan spiritual yang paling cepat ditempuh selama 1 bulan. Akhirnya, Tom melanjutkan perjalanan tersebut sembari membawa abu jasad anaknya. Berawal dari cerita tentang keluarga, film ini berlanjut ke cerita tentang persahabatan. Ada satu percakapan yang kusuka, yaitu apa yang dikatakan oleh anak laki-laki tersebut kepada ayahnya tentang perbedaan menjalani hidup dan memilih hidup (the life we live and the life we choose). Pemandangan dalam film ini sangat indah dan syair lagu-lagunya pun bermakna. Menginspirasi! Info rinci bisa dilihat di sini.

Kemarin (16/5) juga, seharian aku merangkai kata untuk proposal tesis, khususnya melengkapi tinjauan pustaka dan landasan teori. Progressnya cukup lambat. Pikiranku sering teralihkan pada beberapa hal. Semua ada fasenya dan kunikmati saja kelemahan keunikan pemilihan prioritasku, sejenis pemikiran yang menghibur diri sendiri – yang sebenarnya tak boleh terjadi.

Hari ini (17/5), aku bersama Jess dan mamanya, om Lio dan Yasuko san mengadakan survei lokasi di Kaliurang untuk acara hari wanita tanggal 27 nanti. Wisma Kumala miliknya Pak Aruji di dekat Gardu Pandang ini juga berdekatan dengan Ullen Sentalu – Museum Seni dan Budaya Jawa. Tiket masuk sebesar Rp. 25.000,- dan akhir dari tour selama hampir 1 jam ini, kita akan disuguhi minuman awet muda – sejenis ramuan yang terdiri dari campuran 7 macam tanaman tradisional. Aturan di tempat ini adalah: tidak boleh mengambil foto. Hanya taman di luar lokasi saja yang boleh difoto. Ini salah satu foto kolam di taman tersebut yang sempat kuabadikan:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s