Outliers | Tracking the X factor of success

Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers mengamati pola kesuksesan individual maupun kelompok dan membuat sebuah pernyataan akhir, yaitu bahwa sebenarnya orang-orang yang kita anggap outlier bukanlah outlier sama  sekali.

Mengapa demikian? Karena tidak hanya kekayaan dan kecerdasan saja yang memengaruhi kesuksesan seseorang, namun ada banyak faktor yang terlibat di dalamnya, seperti faktor kebudayaan, tempat tinggal, sejarah keluarga, dan tanggal lahir. Sukses itu rumit, tidak instan dan tidak ada faktor x yang berupa keberuntungan. Malcolm Gladwell akan menelusuri jejak-jejak rahasia kesuksesan tersebut dalam halaman demi halaman dan contoh demi contoh yang terbagi menjadi dua bagian besar dari buku ini, yaitu KESEMPATAN dan WARISAN BUDAYA.

Misteri Roseto – bagian pendahuluan mengawali cerita kita tentang perbedaan kesehatan penduduk sebuah desa kecil di Pennsylvania, Italia yang bernama Roseto. Orang-orang di desa tersebut meninggal karena usianya yang sudah uzur. Itu saja. Kondisi tersebut mendorong sebuah penelitian yang secara tidak sengaja dilakukan oleh dr. Wolf  dan seorang sosiolog bernama John Bruhn. Mereka mendapati bahwa untuk memahami kesehatan orang-orang Roseto yang sangat prima, mereka tidak boleh hanya memikirkan berbagai pilihan dan tindakan pribadi seseorang saja, namun harus menghubungkannya dengan masyarakat sekitar. Mereka harus melihat ke luar individu itu. Mereka harus memahami budaya yang menjadi bagian dirinya, siapa teman serta keluarganya, dan asal kota keluarganya. Mereka harus menghargai pemikiran bahwa nilai dari dunia yang kita diami dan orang-orang di sekeliling kita memiliki efek yang sangat besar atas siapa diri kita.

Warga Roseto hidup sehat karena tempat asal mereka, karena dunia yang telah diciptakan untuk mereka sendiri di kota kecil mungil di perbukitan. Mereka telah menciptakan sebuah struktur sosial yang hebat dan protektif yang mampu melindungi mereka dari tekanan dunia modern. Di desa tersebut tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, tidak ada kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit kejahatan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang hidup di garis kemiskinan. Mereka memiliki etos egaliter di dalam hidup bermasyarakat, yang mendorong orang-orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaannya dan menolong orang-orang yang kurang sukses menguburkan kegagalannya.

Di bidang pekerjaan Wolf, mereka memiliki sebuah nama untuk tempat seperti Roseto – sebuah tempat di luar pengamatan manusia yang normal, di mana aturan normal tidak ditemukan di tempat itu. Roseto adalah sebuah outlier.

BAGIAN SATU | KESEMPATAN

Efek matius – bab satu.

Tidak banyak yang berpikir bahwa batas usia memegang peranan penting dalam olahraga tertentu, misalkan hoki di Kanada. Pemain hoki berbakat di Kanada memiliki hukum alamnya sendiri, yaitu para pemain berbakat dilahirkan pada bulan Januari, Februari dan Maret. Hal ini pertama kali diamati oleh seorang psikolog Kanada bernama Roger Barnsley pada pertengahan tahun 1980-an tentang fenomena usia relatif. Penjelasannya sederhana, yaitu karena batasan umur penerimaan untuk berbagai kelas usia hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain dengan bersama-sama seseorang yang baru berumur sepuluh tahun di akhir tahun itu – dan pada usia itu, dalam periode praremaja, jarak dua belas bulan bisa membuat perbedaan fisik yang sangat besar.

Perbedaan kecil itu bisa menghasilkan sebuah kesempatan yang akan membuat perbedaan itu menjadi sedikit lebih besar, dan hal tersebut akan memunculkan kesempatan yang lainnya, yaitu membuat perbedaan yang awalnya kecil menjadi semakin besar – dan seterusnya sampai pemain hoki itu menjadi seorang outlier. Tetapi dia tidak memulainya sebagai outlier. Dia hanya memulainya dengan sedikit demi sedikit.

Contoh lain bisa dilihat dalam bidang pendidikan yang pada akhirnya akan menimbulkan gejala sosial.

Perbedaan awal dalam kecerdasan tidak menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Ia bertahan terus. Dan untuk ribuan siswa, keadaan yang merugikan itu menjadi perbedaan antara masuk kuliah – dan memiliki kesempatan untuk menjadi warga kelas menengah – dan tidak.

Konsekuensi ini berarti kita melewatkan kesempatan untuk mengangkat orang lain ke puncak. Kita membuat peraturan yang mengacaukan keberhasilan. Kita terlalu awal menilai seseorang akan berakhir gagal. Kita terlalu terpesona mengabaikan mereka yang gagal. Dan yang lebih penting lagi kita menjadi terlalu pasif.

Solusinya untuk pemain hoki, kita bisa membuat dua atau bahkan tiga liga hoki, dibagi berdasarkan bulan kelahiran. Biarkan pemain berkembang dalam jalur yang berbeda kemudian pilihlah tim pemain bintang. Bila semua atlet Ceko dan Kanada dilahirkan pada akhir tahun memiliki kesempatan yang sama, tim nasional Ceko dan Kanada akan memiliki lebih banyak pilihan atlet.

Sekolah bisa melakukan hal yang sama. Sekolah TK dan SD bisa membuat beberapa kelas dan membiarkan anak-anak belajar dan berkompetisi dengan siswa lain yang memiliki tingkat kedewasaan yang sama. Secara administratif memang akan lebih rumit. Tetapi hal ini tidak akan menelan biaya yang lebih banyak dan cara tersebut akan membuat kesempatan lebih merata bagi mereka yang telah dihadapkan dengan sistem pendidikan yang kurang adil. Kita bisa mengendalikan mesin keberhasilan, tetapi kita tak melakukannya. Alasannya karena kita terus bergantung kepada pemikiran bahwa kesuksesan adalah sebuah penghargaan atas kerja keras seseorang dan bahwa lingkungan tempat kita tumbuh serta peraturan yang kita buat tidak memiliki pengaruh sama sekali.

Kaidah 10.000 jam – bab dua.

Bill Joy, pendiri perusahaan Sun Microsystems di Lembah Silikon pernah mendapatkan kesempatan yang luar biasa di masa mudanya untuk mempelajari pembuatan program pada sebuah sistem time-sharing saat menjadi mahasiswa tingkat pertama di universitasnya pada tahun 1971. Universitas Michigan tempat Bill Joy kuliah adalah universitas pertama di dunia yang menerapkan time-sharing. Bill Gates dari Microsoft telah melakukan pembuatan program pada kelas delapan di tahun 1968. Mozart menciptakan karya awal yang merupakan karya besarnya (No. 9, K. 271) setelah menciptakan berbagai concerto selama sepuluh tahun lamanya. The Beatles pernah harus bermain selama delapan jam di Hamburg sehingga bila ditotalkan mereka telah bermain selama 270 malam dalam waktu satu setengah tahun dan diperkirakan saat meraih sukses di tahun 1964, mereka telah naik panggung sebanyak seribu dua ratus kali.

Apa yang benar-benar membedakan sejarah mereka bukanlah bakat yang luar biasa tetapi berbagai kesempatan istimewa yang diperolehnya. The Beatles, entah karena alasan apa, diundang ke Hamburg. Tanpa Hamburg, The Beatles mungkin akan menyusuri jalur kesuksesan yang berbeda. Bill Gates memahami betapa beruntungnya dia bersekolah di Lakeside di tahun 1968 di mana Ia bisa menggunakan komputer. Malcolm menuliskan sembilan kesempatan yang menjadi waktu berlatih tambahan bagi Gates sewaktu SMA sehingga ketika Gates akhirnya keluar dari Harvard di tahun kedua dan mendirikan perusahaannya sendiri, Ia sudah berlatih membuat program secara nonstop selama tujuh tahun lamanya.

Mayoritas para penguasa Lembah Silikon di tahun1975 adalah orang-orang yang terlahir pada tahun 1954 atau 1955, seperti Bill Gates, Paul Allen, Steve Ballmer, Steve Jobs, Eric Schmidt, Scott McNealy, Vinod Khosla, Andy Bechtolscheim dan Bill Joy.

Selain itu, tujuh puluh lima orang terkaya dalam sejarah manusia, empat belas orang di antaranya adalah orang Amerika yang dilahirkan dalam jarak waktu sembilan tahun di pertengahan abad ke sembilanbelas.

Semua outlier tersebut memperoleh kesempatan yang istimewa, selain visi dan bakat.

Kesuksesan adalah bakat ditambah latihan. Semakin dekat para psikolog menelaah karier mereka yang berbakat maka sepertinya semakin kecil peranan bakat bawaan dan semakin besar peranan latihan.

Permasalahan dengan orang genius, bagian 1 – bab tiga.

Lewis Terman, seorang profesor muda di fakultas psikologi di Stanford University menekuni bidang pengujian kecerdasan untuk orang-orang yang memiliki bakat tinggi. Pada saat Terman menyelesaikan penelitiannya, dia telah mendapatkan catatan sekitar 250.000 siswa SD sampai SMA dan mendapatkan 1.470 anak dengan IQ rata-rata di atas 140 dan yang tertinggi mencapai 200. Anak-anak genius itu kini dikenal sebagai “Termites,” dan mereka menjadi subjek dari salah satu penelitian psikologis yang paling terkenal dalam sejarah. Menurutnya, semua tanda menunjukkan bahwa para subjek memiliki potensi menjadi “tokoh terpandang.” Terman meyakini bahwa kelompok Termites ini akan menjadi kelompok elit di Amerika Serikat. Namun, Terman telah membuat kesalahan. Terman tidak paham siapa outlier itu sesungguhnya dan itu adalah kesalahan yang terus kita buat sampai hari ini.

Hubungan antara kesuksesan dan IQ hanya terbatas pada beberapa hal saja. Begitu seseorang memiliki IQ sekitar 120, memiliki tambahan nilai IQ sepertinya tidak serta-merta berarti memiliki kelebihan dalam dunia nyata. Psikolog Inggris bernama Liam Hudson menulis, “…dan hal ini juga berlaku saat perbandingannya jauh lebih dekat – antara IQ 100 dan 130. Tetapi efeknya sepertinya tidak begitu signifikan bila kita membandingkan dua orang dengan IQ yang sama-sama cukup tinggi. Seorang ilmuwan yang matang ber-IQ 130 memiliki kemungkinan yang sama besar untuk memenangkan Hadiah Nobel dengan seseorang yang memiliki IQ 180”.

Dari beberapa data yang disajikan, terlihat bahwa untuk menjadi seorang pemenang Hadiah Nobel, Anda harus cukup pintar untuk masuk ke kampus yang paling tidak sebagus Notre Dame atau University of Illinois. Itu saja.

Contoh lain, siswa minoritas Michigan meskipun memiliki nilai yang lebih rendah pada tes penyatuan, tidak berarti mereka tidak memiliki banyak sifat lainnya yang lebih penting seperti pemikiran yang kreatif.

Ini adalah kesalahan Terman. Ia jatuh cinta dengan kenyataan bahwa Termites-nya adalah orang-orang yang berada di puncak skala nilai kecerdasan. Pada saat Termites mencapai usia dewasa, kesalahan Terman mudah untuk dilihat. Hanya beberapa orang geniusnya yang dikenal orang secara nasional. Mereka cenderung memiliki pendapatan yang bagus – tetapi tidak sebagus itu. Sebagian besar memiliki karier yang dinilai biasa-biasa saja, dan cukup banyak pula yang memiliki karier yang bahkan oleh Terman dinilai sebagai kegagalan. Tidak ada satu pun dari sekelompok besar genius ini yang memenangkan Hadiah Nobel.

Akhirnya, Terman menyimpulkan pada bukunya yang berjudul Genetic Studies of Genius jilid keempat bahwa, “Kita telah melihat, bahkan kecerdasan dan keberhasilan sangat jauh hubungannya.”

Permasalahan dengan orang genius, bagian 2 – bab empat.

Ada yang dinamakan oleh psikolog Robert Sternberg sebagai “kecerdasan praktis”, yaitu kecerdasan yang meliputi hal-hal seperti “mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.” Ini adalah keahlian dalam bagaimana melakukan sesuatu tanpa harus tahu kenapa kita harus mengetahuinya atau mampu menjelaskannya. Sifatnya praktis: ini bukanlah pengetahuan formal. Ini adalah pengetahuan yang membantu kita untuk membaca situasi dengan jelas dan mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan yang lebih penting lagi, ini adalah jenis kecerdasan yang terpisah dari kemampuan analisis yang diukur oleh IQ. Dalam istilah teknisnya, kecerdasan umum dan praktis adalah “orthogonal”: memiliki salah satu di antaranya tidak otomatis memiliki yang lainnya. Kita bisa memiliki kecerdasan analisis yang tinggi dan kecerdasan praktis yang sangat kecil, atau memiliki kecerdasan praktis yang tinggi dan kecerdasan analisis yang rendah, atau memiliki kedua jenis kecerdasan itu.

Jadi, dari manakah kecerdasan praktis itu berasal? Kita tahu asal kecerdasan analisis. Itu adalah sesuatu yang ada di dalam gen kita. IQ adalah sebuah alat untuk mengukur keahlian bawaan. Tetapi keahlian sosial adalah pengetahuan. Keahlian sosial adalah serangkaian keahlian yang harus dipelajari. Keahlian tersebut harus muncul dari suatu tempat, dan sepertinya tempat dimana kita mendapatkan sikap dan keahlian seperti ini adalah dari keluarga kita.

Mungkin penjelasan terbaik tentang proses ini datang dari sosiolog Annette Lareau, yang beberapa tahun lalu melakukan penelitian yang menakjubkan terhadap sekelompok siswa kelas tiga yang terdiri dari dua belas keluarga. Hasilnya bukanlah dua belas pemikiran yang berbeda tentang cara membesarkan anak, namun hanya ada dua buah “falsafah” dalam menjadi orangtua dan keduanya terbagi hampir sama rata. Orangtua dari keluarga kaya mendidik anak-anaknya dengan sebuah falsafah dan keluarga yang tidak kaya mengajarkan falsafah yang lainnya.

Orangtua kaya benar-benar terlibat penuh dengan waktu bebas anak-anaknya dan sering berdiskusi dengan anak-anaknya. Mereka mengharapkan anak-anak mereka untuk mengungkapkan pikirannya, bernegosiasi, mempertanyakan orang dewasa yang memiliki kewenangan. Sedangkan pada keluarga miskin, apa yang dilakukan seorang anak dilihat oleh orangtuanya sebagai sesuatu yang terpisah dari dunia orang dewasa dan tidak ada hubungannya. Reaksinya pasif dan tidak mau maju ke depan.

Lareau menyebut gaya orangtua kelas menengah ke atas sebagai “concerted cultivation.” Mereka berusaha untuk secara aktif “memelihara dan menilai bakat, opini, dan keahlian seorang anak.” Sebaliknya, orangtua miskin cenderung mengikuti strategi “keberhasilan seiring pertumbuhan alami.” Mereka melihat tanggung-jawab mereka adalah mengurus anak-anaknya tetapi membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang sendiri.

Lareau menekankan bahwa gaya yang satu tidak lebih baik secara moral dari yang lain. Menurut pendapatnya, anak-anak dari keluarga miskin seringkali memiliki perilaku yang lebih baik, tidak begitu merengek, lebih kreatif dalam menggunakan waktunya, dan memiliki kemandirian yang lebih berkembang. Tetapi dalam arti yang lebih praktis, gaya concerted cultivation memiliki kelebihan yang sangat besar.

***************************ingin kulanjutkan tulisan ini, tapi tak sekarang. Waktu tlah menghentikannya😦

Tiga pelajaran dari Joe Flom – bab lima.


BAGIAN DUA | WARISAN BUDAYA

Harlan, Kentucky – bab enam.

Teori etnik mengenai jatuhnya pesawat terbang – bab tujuh.

Bertani padi dan ujian matematika – bab delapan.

Kesepakatan Marita – bab sembilan

Sebuah kisah dari Jamaika – Epilog

2 thoughts on “Outliers | Tracking the X factor of success

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s