Bukan “Melankolia Pasar Bubrah”

Akhir April 2012 tertanggal 28 dan 29. Weekend. Cuaca sangat cerah. Berdua saja, aku dan Adhi mendaki Gn. Merapi yang timurnya mengarah ke Klaten, baratnya mengarah ke Magelang, dan selatannya mengarah ke Sleman. Kami mendaki dari balik kota Yogyakarta, yaitu dari utara – Boyolali, via Selo yang jalurnya bersih karena terbebas dari aliran lava pada saat meletusnya Merapi di akhir 2010. Waktu tempuh dari kosku di daerah Condong Catur, Jogja menuju basecamp di Selo dengan mengendarai motor adalah 2,5 jam. Satu jam setengah perjalanan di awal sangatlah membosankan karena panasnya mentari yang berpadu dengan suasana perkotaan monoton di sepanjang ring road – Magelang – Muntilan. Namun satu jam sisanya, Adhi dengan terampil melewati lika-liku perjalanan yang berkelok tajam diiringi sapaan lembut udara pegunungan dan kabut tipis di hutan sebelah kanan jalan. Motor metic miliknya mbak Dwi yang kami pinjam sangat efektif karena bisa memuat 2 carrier seukuran 80L dan 35L. Satu carrier besar yang dipinjam dari PT diletakkan di depan, satu lagi kupakai dengan tali bahu yang dikendorkan sedikit sehingga bisa disenderkan bagian bawahnya pada jok. Tidak perlu ilmu pengendalian tubuh dan tidak perlu kesemutan terlalu lama karena posisi yang tak nyaman. Dalam perjalanan, kami sempatkan berhenti di satu warung makan pondokan sebelah kiri jalan. Terlihat sekilas warungnya menawarkan makanan yang lezat. Memang lezat. Kami membeli dua porsi ayam bakar+nasi beserta 1 porsi ikan goreng kecil untuk makan malam nanti – di gunung itu. Aku lupa jenis ikannya.

Di bawah ini adalah foto hasil packing beberapa logistik dan perlengkapan yang kami bawa. Tentunya tenda dome, nesting, flysheet, kompor butterfly dibawa oleh Adhi. Carriernya pastilah lebih berat dibandingkan dengan yang kubawa. Terima kasih juga atas pinjaman carriernya, Adhi🙂

Packing

Pukul 12.30pm, kami tiba di basecamp. Adhi sempat minum segelas teh hangat dan kami mengobrol dengan 2 orang. Satu bernama Koplo – mahasiswa di Solo yang akan mengadakan penghijauan di lereng merapi bersama teman-temanya pada keesokan harinya. Satu lagi, seorang gadis asal Jakarta yang mendaki dalam rombongan besar. Selain itu, aku juga sangat senang mengamati ibu-ibu yang sedang memasak menggunakan kayu bakar, seperti biasanya. Di samping kanan basecamp, selada hasil panen tertata rapi di halaman. Para wanita sedang memasukkan selada  yang hijaunya menggoda ke dalam plastik-plastik besar dan para lelaki sedang memindahkan kantongan plastik tersebut ke atas mobil pick-up yang siap mengangkutnya entah ke mana. Mungkin saja ke pasar. Samping kiri basecamp ada kios kecil yang berjualan sovenir dengan 1 rak kaca alumunium. Sisa ruang di area basecamp ini dipenuhi oleh motor-motor yang diparkir dengan rapi. Dari basecamp, kami menuju pintu rimba yang terdapat icon New Selo. Baru sebentar jalan menandjak, telapak kakiku sakit. Mungkin penyesuaian saja. Sempat menepi sebentar, lalu lanjut berjalan lagi. Sesampainya di sana, kulaksanakan ritual wajib di awal pendakian: pipis di toilet yang ternyata tidak gratis, namun tetap saja gratis karena kukatakan pada sang penjaga, “Maaf mas, saya tidak bawa uang di kantong.”

Icon New Selo

Selama perjalanan awal, Adhi menyesuaikan diri dengan carrier pinjaman yang tak biasa ia gunakan. Tidak ada track bonus, hanya berupa tandjakan yang tiada henti. Setelah mendaki sekitar setengah jam melewati ladang penduduk, Adhi mengistirahatkan punggungnya di lahan kosong yang kecil. Ia gunakan ponco sebagai alas, sedangkan aku jalan terus. Jalanku lambat, jadi aku yakin saja bahwa Ia bisa dengan cepat menyusulku kembali. Kami berjanji akan bertemu di pos 1 yang akhirnya baru bertemu di pos 1,5. Satu hal yang memang aneh, jalanku sudah lambat namun tak satu pun pendaki yang pernah melewatiku. Ternyata jalur ditutup untuk !evakuasi dan hanya ada dua rombongan yang menandjak saat itu. Rombongan kami dan satu rombongan dari Magelang. Kami tau fakta ini setelah tiba di Pasar Bubrah nanti ketika kami mendapati sebuah penampakan yang lebih aneh lagi. Satu-satunya kelompok yang melewati kami berdua di awal perjalanan tadi hanyalah beberapa pendaki yang akan membantu evakuasi mahasiswa UIN Airlangga yang tergelincir di jalur puncak. Salah satu volunteernya adalah Koplo.  Mereka mengambil tindakan pendahulu sebelum tim SAR tiba.

Maka bisa dipastikan bahwa aku hanya berjalan seorang diri saja. Aku memilih jalur mana yang akan kulewati meski Adhi mengatakan semua jalur akan mengarah ke atas. Pertama-tama aku bertemu dengan seorang bapak yang kuduga petani. Tidak ada lahan palawija lagi di sini, dalam benakku. Lantas apa yang dicari oleh bapak tersebut?

Terus saja berjalan, kudengar obrolan orang-orang yang ramai. Ah! Mereka turun melewati jalur yang berbeda dariku. Aku mengeraskan suaraku dan bertanya, “Apakah jalur yang kulalui sekarang benar?” Meski mereka menjawab iya, aku mundur lagi dan mengikuti jalur mereka. Lebih aman dan mudah dilalui. Satu rombongan lagi yang kutemui, kutanyakan pada mereka apakah pos 1 masih lama dicapai. Mereka bilang tidak tau yang mana pos 1, namun sebentar lagi aku akan menemui satu tempat datar yang luas untuk beristirahat.

Hampir sampai dan aku ceroboh. Kepalaku terantuk dengan keras pada sebuah dahan yang melintang di depan dahiku. Lumayan juga efek mengejutkannya.

Aku tiba di tempat ini dan menunggu Adhi sambil mengambil beberapa foto. Kabut datang dan pergi. Saat kabut pergi, terlihat puncak Merapi yang menurutku sedikit lucu, seperti topi anak kecil yang memiliki dua telinga di atas kepalanya. Aku tertawa dalam hati saja saat itu😀

Jalur yang Tertutup oleh Kabut

Puncak Merapi dengan Langit Birunya

Kami lanjutkan perjalanan berdua. Dia sabar-sabar saja menemani jalanku yang lambat. Tandjakan terjal masih kami lewati dan baru sedikit nandjak di tangga batu, Adhi mengajakku untuk melewati jalur lumut. Kami sempat pastikan apakah belokan ke kanan memasuki jalur itu sudah benar. Ternyata benar meskipun di tengah perjalanan kami sempat memastikan kebenarannya lagi dan lagi. Selain kami berdua, ada dua orang yang tadi kukatakan merupakan pendaki dari kelompok satunya yang juga masih diperbolehkan naik. Berempat di akhir jalur lumut kami mencari-cari cara untuk keluar. Adhi memeriksa di kiri jalur sedangkan satu pendaki lain memeriksa di kanan. Jalur ini lebih cepat satu jam, ujar Adhi. Benar. Tim SAR yang kami temui di persimpangan jalur lumut dan jalur batu baru saja tiba di dekat kami. Memanggil kami dan meminta kami naik. Aku dan Adhi memilih untuk tetap tinggal dan bersantai sejenak sambil bercanda dan mengambil foto keindahan Gn. Merbabu.

Mengambil Foto di Samping Cantigi

Mulai dari jalur ini hingga puncak, pohon cantigi, panorama puncak Gn. Merbabu dan biruunya awan menemani perjalanan kami. Jika melewati jalur lumut yang sudah tertutup ini, tak perlu lagi melewati pos 2. Kami tiba di akhir perjalanan setelah melewati batu-batu cadas pada pukul 04.30pm. Adhi kelaparan. Ia makan goodtime rasa coklat dan minum air hangat. Lalu, Ia memakai jaket karena merasa dingin. Sore itu, udara memang dingin dengan tiupan angin yang tak terlalu kuat. Jalur menuju Pasar Bubrah yang merupakan batas vegetasi sudah nampak. Pasar Bubrah terletak tepat di balik bukit pertama dari jalur tempat kami beristirahat.

Menikmati Merbabu dalam Istirahatnya yang Sejenak

Jalur Menuju Pasar Bubrah dengan Puncak Merapi sebagai Latar

Hampir pukul 06.00pm, kami sampai. Sepi. Kosong. Tak satu tenda  pun berdiri di atas tanah Pasar Bubrah pada Sabtu sore itu. Persis seperti yang diungkapan oleh Adhi dan PT tentang “melankolia pasar bubrah” ketika hanya berdua saja mereka di Merapi seluas dan setinggi itu pada pendakian tahun lalu. Tenda kyberpass satu frame kami berdiri di balik batu terbesar. Terlindung dari angin. Dua tenda dari kelompok satunya berdiri berdampingan dengan tenda kami. Belasan orang berada di sana, dan aku seorang perempuan sendiri saja. Komando, arahan-arahan dan semangat terbagi di antara mereka yang akan mengevakuasi pendaki yang terjatuh tadi, melalui HT dan teriakan-teriakan. Tim SAR dan beberapa pendaki volunteer menurunkan korban dari puncak. Terlihat kerlipan lampu senter yang seakan-akan mengabarkan sinyal kecemasan. Gelap. Dingin. Membawa beban. Harus selamat. Ya, akhirnya selamat. Berhenti untuk istirahat sejenak. Wajah-wajah penuh kelelahan. Sesaat sebelum mereka tiba, Adhi masih sibuk bercengkerama dengan penghuni Pasar Bubrah sembari mengikat tali-tali dome pada batu-batu besar. Kubantu dengan menyenterinya, memilih batu-batu yang akan digunakan, juga ikut kebingungan mencari tali-tali yang ternyata cukup banyak dibutuhkan. Aha! Senangnya sewaktu teringat penemuan tali rafia yang mengikat matrasku, juga tali yang tersimpan rapi di dalam carrier Adhie. Kami Adhie mengobrol banyak dengan Mbah Gondrong, salah satu pendaki volunteer yang berakhir dengan Adhie meminjamkan senter kepadanya untuk digunakan sewaktu evakuasi korban dari Pasar Bubrah ke basecamp.

Tiba di Pasar Bubrah

Semua tim evakuasi turun. Mereka tiba selamat di basecamp pada pukul 11 malam itu. Pasti dalam kelegaan yang luar biasa. Kembali sepi. Kami memasak air, menghangatkan nasi dan makan makanan lezat yang dibeli tadi siang. Aku minum nescafe hangat. Adhie minum nescafe dan cocacola. Makan chiki dan coklat yang tinggal sedikit karena dimakan selama perjalanan tadi, juga nata de coco. Kami mengobrol asyik dan bercanda sembari makan sampai kekenyangan.

Pukul 09.00pm. Kebelet pipis. Keluar tenda. Wow! Pasar Bubrah bermetamorfosis menjadi Pasar Malam. Minggunya akan menjadi Pasar Minggu. Ramai. Berisik. Tidak melankolis sama sekali. Kami mencari tempat yang pas untuk menyuburkan tanah. Balik lagi ke dalam tenda. Ambil kamera. Menyepi ke atas, tepat di depan Merbabu. Tanpa bunyi, petir menyambar puncak Merbabu. Berkilatan. Segaris putih seperti perak warnanya berlomba-lomba menyentuh dataran Merbabu. Titik-titik terang nampak di jalur pendakian. Kehujanankah pendaki yang sedang berjalan di sana?

Merbabu dan kami terpisah oleh lampu-lampu terang di desa bawah. Di atas, bintang bertaburan dengan indahnya. Sejuta bintang. Bulan setengah.

Kilatan Petir di atas Merbabu

Puas mengambil foto. Tidur. Tak bisa aku! Terlalu berisik. Adhi keluar tenda mengambil foto bintang-bintang. Tidak ada istilah “melankolia pasar bubrah” sama sekali. Beberapa kali aku masih tetap kebelet pipis. Keluar dan bersembunyi di belakang batu besar. Pipis ditemani travel box Mitu baby. Berisik! Berisik sekali! Akhirnya, terjaga sepanjang malam. Adhi kedinginan. Kami menahan dingin masing-masing. Itu saja.

Pagi menjelang. Pukul 5 subuh, aku keluar bersama Adhi dan mengabadikan beberapa moment indah potret angkasa dan lautan awannya. Mentari perlahan menyembul di balik putihnya awan. Berdiri di dataran yang seolah-olah memiliki dunianya sendiri. Negeri di atas awan. Aku percaya selalu ada ruang kosong di antara awan-awan. Di sanalah kami sedang berada.

Menunggu Mentari

Langit yang Mulai Berwarna

Semburat Mentari Pagi yang Segera akan Terbit

Aha! Mentari Terbit Utuh

Mengabadikan Moment Pagi Hari

Negeri di atas Awan

Perkemahan di bawah Puncak Merapi

Dari sini, kita bisa melihat puncak Gn. Merbabu, Gn. Lawu, Gn. Sumbing dan Gn. Sindoro. Indah sekali, teman🙂

Pukul 06.30am. Masuk kembali ke dalam tenda. Menyiapkan bekal untuk makan di puncak yang pada akhirnya tak satu pun makanan yang kami sentuh ketika berada di sana. Kekhawatiran terhadap kurangnya air minum yang hanya 4 botol yang kami bawa pun tak terbukti. Perjalanan menuju puncak sangat menyenangkan. Pukul 7 pagi, udara sangat cerah. Pemandangan bagus dan kondisi tubuh dalam keadaan sangat prima.

View Puncak dari Dalam Tenda

Tenda Pendaki di Sisi Barat Pasar Bubrah

Jalur Pendakian Menuju Puncak

Melangkah ke Depan, Menandjak ke Atas

Naik Dikala Para Pendaki Turun

Batas Pejalanan

View dari Puncak

Puncak Merapi yang Dulunya Dikenal sebagai Puncak Garuda

Kawah Merapi

Bau belerang. Pasir tipis mengudara. Dari Puncak, foto terakhir yang kuambil pada pukul 08.52am adalah foto kawah Merapi. Satu jam setengah menuju puncak dan satu jam perjalanan turun. Pukul 13.00pm setelah sempat tidur seusai makan di pukul 10.30am dan melihat-lihat foto, kami turun. Saat terbangun dari tidur, Pasar Bubrah kembali sepi. Hening dan hanya kami yang mengemaskan barang-barang. Perjalanan usai.

Pukul 16.00pm, kami beranjak pulang dari Selo menuju Jogja. Hujan di tengah jalan. Tanpa jaket. Aku masuk angin. Tiba kembali di kos pukul 18.00pm. Makan malam bersama Adhi. Kuhubungi orang tua yang telah menelepon berkali-kali sewaktu kami masih di Merapi. Beliau berdua khawatir. Ternyata berita evakuasi korban Merapi sempat heboh. Mereka peroleh informasi tersebut dari TV One dan keesokan harinya banyak ditulis di surat kabar Yogyakarta. Cuek. Media memang sering membesarkan kasus untuk mencari sensasi. Aku mandi air hangat sesampainya kembali di kos dan minum tolak angin 1 sachet. Kuakhiri dua hari spesial tersebut dengan tidur yang sangat nyenyak untuk menyambut Senin siang – kuliah.

One thought on “Bukan “Melankolia Pasar Bubrah”

  1. Pingback: [bagian 1] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi « Woosah – Bernafas di Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s