Bercengkerama pada malam

Kita bercengkerama pada malam, pada syair-syair real time yang sekejap keluar dari pikiran hati kita, juga komat-kamit bacaan yang kau sukai dan yang kusukai. Kita berbagi, saling mengoreksi pemikiran, mengoreksi gambar-gambar yang sempat merekam kenangan kita, juga tulisan-tulisan penggambaran hidup yang kita anggap penuh kepastian, meski kepastian kita hanyalah ketidakpastian itu sendiri. Kita bahkan berbicara petualangan-petualangan yang akan kita lalui sebagaimana bangganya kau pada ayahmu, sang petualang sejati. Kubaca dan kudengarkan dengan seksama cerita tentang ayahmu, kujadi teringat akan ayahku di rumah. Kurasa dekat dengan ayahmu meski aku tak pernah mengenalnya, pun bertemu langsung.

Dalam malam-malam yang kita lalui, kadang kau tinggalkan aku sendiri untuk berangkat tidur lebih awal dengan mimpi-mimpi buruk yang akan membangunkanmu lagi. Kadang aku yang tertidur hingga esok yang siang pun masih kusapa dengan selamat pagi. Kadang malam kurasa seperti ilusi, ilusi cinta bahwa malam hanya milik kita berdua. Ilusi bahwa dunia hanya milik kita berduakah?

Tidak mau aku peroleh cinta ilusi darimu, seperti kau yang tak juga inginkan hal itu. Nyata kita produktif bahwa impian akan kita raih bersama, setidaknya ketika kaki kita masih berpijak di tanah kota ini. Mungkinkah batas kita hanyalah Yogyakarta 1.0?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s