Demikianlah yang kubaca: The Way of Youth!

Menjawab problematika masa remaja, buku karangan Daisaku Ikeda berjudul The Way of Youth ini hadir memberikan solusi berdasarkan sudut pandang Budhisme yang universal.

Buku ini terdiri dari sembilan topik persoalan hidup remaja yang dikemas dalam bentuk tanya jawab, yaitu:

  • hubungan remaja dan keluarga,
  • menemukan persahabatan dan cinta sejati,
  • belajar dan bekerja yang sesuai dengan passion,
  • pentingnya memiliki impian besar dan tujuan dalam hidup,
  • membangun kepercayaan diri,
  • melakukan tindakan welas asih serta kemampuan remaja dalam memandang secara keseluruhan terhadap isu-isu global.

Daisaku Ikeda mengungkapkan cara paling mudah agar setiap remaja dapat mengasah potensi diri sendiri untuk menemukan kebahagiaan sejati dan menjadi manusia yang berkualitas.

Terus terang, aku sangat berharap buku ini segera dicetak ulang setelah rilis pertamanya di tahun 2004, dan tahun ini harapanku terwujud. Delapan tahun buku yang termasuk dalam kategori pengembangan diri ini menemaniku dengan jawaban-jawaban yang to the point terhadap lebih dari 75 pertanyaan para remaja yang terkait persoalan sehari-hari dalam kehidupan. Tak satu pun kalimat dalam buku ini yang sia-sia. Setiap lembar yang kita baca selalu penuh dengan nasihat, yang dikatakan oleh Daisaku Ikeda sebagai nasihat dari seorang yang sudah lebih lama mengarungi bahtera hidup. Daisaku Ikeda sangat yakin pada kekuatan tak terbatas yang dimiliki oleh para remaja dan mengatakan pada mereka, “Kalian adalah harapan umat manusia! Masing-masing mempunyai masa depan cerah. Masing-masing memiliki potensi berharga yang menunggu untuk dikembangkan. Kesuksesanmu, kemenanganmu akan menjadi kemenangan bagi kita semua. Kemenanganmu akan mengarahkan abad ini, abad perdamaian dan umat manusia, abad terpenting bagi setiap manusia.”

Pertanyaan-pertanyaan yang diangkat dalam buku ini berasal dari dialog Daisaku Ikeda dengan para remaja pria dan wanita melalui surat-menyurat maupun diskusi tatap muka. Meskipun diskusi ini berlatar pada filosofi yang diajarkan Nichiren Daishonin, seorang guru Budhis dari abad ke-13 yang hidup di Jepang, filosofi ini bersifat universal karena didasarkan pada penghargaan yang tinggi atas kehidupan dan nilai setiap individu sehingga jawaban-jawaban yang diberikan dapat diterima oleh kalangan mana pun dengan latar belakang yang berbeda.

*********************************

Bab 1 | Keluarga

“Saat umurku kira-kira delapan belas tahun, ayahku hanya mengatakan hal-hal yang membosankan dan konyol dan membuatku sangat marah. Aku sudah muak mendengarnya. Namun sepuluh tahun kemudian, aku mulai merasa apa yang dikatakan ayahku ada benarnya juga. Aku bertanya-tanya, ‘Dari mana ayahku bisa begitu bijak?‘”

Enam subtopik keluarga, khususnya hubungan para remaja dengan orang tua akan menuntun kita (1) bagaimana harus bersikap menghadapi orangtua yang suka memarahi, (2) bagaimana kita bisa mengekspresikan kepribadian dikala orangtua selalu mengkritik, misalnya tentang pakaian dan rambut kita, (3) bagaimana jika memiliki orangtua yang tidak kaya yang oleh Daisaku Ikeda dijawab bahwa, “Saat kita mengembangkan pikiran yang seluas dan segemerlap istana megah, maka tidak satu pun – ke mana pun kita pergi atau apa pun yang kita hadapi di dalam hidup – bisa menggoyahkan atau menghancurkan kebahagiaan kita.” Dari jawaban tersebut, kita pun bisa mengambil kesimpulan bahwa kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan.

Bagian ini juga memaparkan permasalahan umum yang dihadapi oleh remaja tentang (4) menjaga hubungan yang baik dengan orang tua dan (5) cara kita menghadapi nasihat seperti pendapat bahwa “Aku tidak suka saat orang lain, terutama orangtuaku, menunjuk-nunjuk kekuranganku.” Salah satu kutipan jawaban terhadap pernyataan tersebut adalah, “Mempersilahkan orang lain untuk menunjukkan kekuranganmu serta membantumu dalam mengatasi kebiasaan buruk hingga ke akar-akarnya akan dapat, dalam jangka panjang, menempa suatu kepribadian yang nantinya akan berguna bagimu. Sebaliknya, apabila akar-akar dari kebiasaan buruk itu tetap ada, lambat laun mereka akan sangat memengaruhi hidupmu, membawamu ke arah yang membahayakan dan merusak. Jika dapat menyadari hal ini, kau akan melihat bahwa menolak untuk mendengarkan nasihat adalah sikap yang bodoh. Penting sekali bagi kita untuk bersikap bijak.”.

Last but not least, permasalahan yang dihadapi oleh remaja pada topik keluarga adalah (6) jika terlalu banyak peraturan yang dibuat oleh orang tua seolah-olah orang tua kita tidak mengerti bahwa kita bukan anak kecil lagi. Lantas, bagaimana cara kita untuk bisa meyakinkan orang tua tentang hal tersebut? Jawaban yang diberikan berikut ini sangatlah tepat, yaitu bahwa,kebebasan yang sejati adalah saat kau memutuskan untuk mendedikasikan dirimu pada suatu hal dengan sepenuh hati. Bukan menghabiskan uang seperti air. Bukan memiliki waktu bebas untuk selamanya. Bukan pergi berlibur lama sekali. Melakukan segalanya sekehendak hati bukanlah kebebasan – itu hanyalah hasrat untuk memuaskan diri sendiri. Kebebasan yang sejati terletak pada tantangan yang tiada henti untuk mengembangkan dirimu, untuk mencapai tujuan pilihanmu.”

*********************************

Bab 2 | Persahabatan

Sebuah kehidupan tanpa persahabatan adalah dunia tanpa cahaya matahari.

Persahabatan sejati adalah suatu hubungan yang kalau temanmu sedang menderita kau ikut sedih dan memberikan semangat agar mereka tidak patah semangat. Dan nantinya, mereka melakukan hal yang sama untukmu. Sesederhana itu saja pemahaman Daisaku Ikeda mengenai persahabatan. Namun, persoalan utama yang kita semua hadapi adalah (1) bagaimana aku bisa tahu siapa teman-temanku yang sebenarnya?

Dua belas subtopik tentang persahabatan dimulai dari pertanyaan tersebut, lalu berlanjut ke pertanyaan (2) bagaimana memilih teman yang baik? dan (3) bagaimana jika orangtuaku tidak setuju dengan teman-teman bergaulku? Sebuah kitab suci Budhis menyatakan bahwa orang baik sekali pun bila bergaul dengan orang jahat bisa juga menjadi jahat. Oleh karena itu, sebaiknya kita tegas terhadap diri sendiri dalam menyikapi prilaku yang salah dan merusak. Dan dengan menegaskan pada orang lain bahwa tindakan mereka dapat mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan, kita dapat mendorong mereka untuk bergerak ke arah yang lebih positif. Malah, kejujuran kita bisa membuat ikatan persahabatan yang tulus dengan orang itu menjadi semakin dalam. Dengan kata lain, teman yang “tidak baik” bisa menjadi teman yang baik.

Seorang remaja juga mengajukan beberapa pertanyaan lainnya pada Daisaku Ikeda, seperti: (4) Apa yang kau lakukan di saat seorang teman tiba-tiba tidak mau berbicara lagi padamu? dan (5) bagaimana kalau semua teman memperlakukanmu dengan dingin?

Meski tampaknya sulit, apabila kau diabaikan, ditolak, atau diolok-olok, cobalah untuk tidak terlalu mencemaskannya. Menurut kepercayaan Budhis, mereka yang memperlakukan orang lain dengan buruk akan menerima akibatnya. Merekalah yang sebenarnya justru perlu dikasihani. Jika ditolak, kau harus belajar untuk bersikap tabah. Penting bagimu untuk percaya pada diri sendiri. Demikianlah jawaban lain yang diberikan oleh Daisaku Ikeda terhadap para remaja yang (6) khawatir dalam membina pertemanan.

Persoalan selanjutnya yang tak terhindarkan dalam persahabatan adalah (7) tekanan dari teman-teman, misalnya tekanan agar minum alkohol dan konsumsi obat-obat terlarang hanya untuk diterima dalam sebuah kelompok. Banyak juga remaja yang bertanya-tanya (8) bagaimana cara untuk memelihara persahabatan seiring dengan berjalannya waktu? Persahabatan dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan kedalaman hubungan, yaitu persahabatan yang didasarkan pada dinikmatinya waktu secara bersama-sama, persahabatan yang diwarnai dengan sikap saling mendukung dan terakhir adalah pertalian antara teman-teman seperjuangan yang bercita-cita sama dan mendedikasikan hidupnya untuk tujuan yang sama pula. Menurutku, memang tidak perlu khawatir soal waktu dalam persahabatan. Pertemuan satu kali pun dapat dibina menjadi persahabatan abadi. Persahabatan yang dalam itu langka sehingga dibutuhkan kesabaran dalam membinanya, seperti yang dikatakan oleh Daisaku Ikeda bahwa, “memelihara persahabatan semacam itu bagaikan menanam sebatang pohon raksasa yang prosesnya akan berbeda dengan proses menanam semak-belukar.”

Dalam prosesnya, seringkali kita menjumpai orang yang tidak kita sukai, lantas (9) apa yang bisa kulakukan terhadap teman yang tidak cocok denganku? dan bagaimana sikapku dalam (10) menghadapi sikap iri hati? Berbanggalah selalu dengan kerja kerasmu! Orang yang menonjol mau tak mau akan diiri dan dibenci, maka tidak usah khawatir – itulah hidup. Seseorang pernah berkata: “Kita hidup di dunia yang orang berkarakter tanpa cela pun tak akan terhindar dari fitnah dan kecaman.”.

Subtopik persahabatan ini juga memberikan pandangan (11) bagaimana kalau aku lebih suka menyendiri daripada berkelompok? Kadang-kadang hubungan kita dengan orang lain bisa begitu rumit sehingga kita ingin berteriak, “Coba aku bisa hidup di tempat yang tidak ada orang lain!” Kecuali kita berniat menjadi pertapa, maka keinginanmu mustahil terwujud. Ada pepatah Mongolia yang mengatakan bahwa, “Seratus teman lebih berharga daripada seratus batang emas”. Orang-orang yang mempunyai teman bisa disebut kaya.

Nichiren mengajarkan bahwa jika kita berteman dengan seseorang tetapi tidak tega mengoreksi orang itu, kita malah menjadi musuhnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mau (12) menasihati teman bila pemikiran mereka salah dengan hanya satu cara yaitu menjalin persahabatan yang tulus dengan mereka per individu🙂

*********************************
Bab 3 | Cinta

Cinta harus menjadi penuntun hidup kita yang inspirasional, kekuatan pendorong bagi kita untuk bertahan hidup dengan berani.

Bersimpati atau berkencan dengan seseorang akan membuat hidupmu lebih mengasyikkan! Sepertinya begitu. Namun, apakah orang tersebut menginspirasikanmu untuk bekerja lebih keras? Apakah kehadirannya dapat membuatmu bertekad untuk lebih bergiat dalam kegiatan di sekolah, menjadi seorang teman yang lebih baik, seorang anak yang lebih bijaksana? Apakah dia menginspirasikanmu untuk merealisasikan tujuan masa depan dan berusaha meraihnya? Ataukah orang itu justru menjadi perhatian utamamu dan mengesampingkan segalanya?

Demikianlah sedikit pertanyaan yang perlu ditanyakan pada diri sendiri untuk mengetahui apakah si doi adalah (1) cinta sejati kita. Daisaku Ikeda menjelaskan secara terperinci mengapa (2) tidak perlu tergesa-gesa menjalin sebuah hubungan. Sudah terlalu banyak orang yang memangkas kecemerlangan mereka yang menjanjikan guna mengejar percintaan belaka. Budhisme mengajarkan bahwa ada saat tersendiri untuk masing-masing hal di dalam kehidupan – saatnya muda, saatnya memasuki dunia dewasa, saatnya hamil, dan seterusnya. Bergerak maju selangkah demi selangkah ke dalam setiap tahap itu sesuai dengan kewajaran dan akal sehat yang dijadikan landasan Budhisme.

Subtopik ketiga dari sembilan subtopik tentang cinta adalah jawaban dari kegelisahan para remaja yang kadang-kadang ketika berkutat dalam sebuah hubungan, kita seperti tidak menjadi diri sendiri dan berusaha keras untuk menjadi orang yang diinginkan oleh orang lain. Maka dari itu, sangat penting untuk (3) tetap jujur terhadap diri sendiri.

Daisaku Ikeda juga memberikan pendapatnya tentang masalah (4) ketergantungan pada cinta yaitu orang-orang yang merasa harus selalu berada dalam sebuah hubungan, yang tidak tahan untuk hidup ngejomblo.

Hal-hal lain yang menjadi pembicaraan hangat adalah seputar (5) melindungi diri dari seseorang yang hanya memanfaatkan kita, misalnya remaja putra yang hanya memanfaatkan remaja putri sebagai pemuas dorongan seksual belaka. Penting untuk (6) tetap bijak karena cinta ideal hanya akan terpupuk di antara dua orang yang tulus, matang, dan mandiri. Oleh karena itu, perlu sekali untuk memoles diri dengan sebuah prioritas dan tidak terlalu dihanyutkan oleh percintaan.

Remaja tertarik pada banyak hal, termasuk seks yang merupakan bagian alami dari pertumbuhan sebagai manusia. Pertanyaan para remaja yang kebingungan seperti, (7) “Kekasihku ingin berhubungan seks denganku. Aku mencintainya dan tak ingin kehilangan dia. Apa yang sebaiknya harus kulakukan?” dijawab secara bijak oleh Daisaku Ikeda: “Bibit kebahagianmu di masa depan tergantung pada prilakumu hari ini, kerangka pikiranmu saat ini. Oleh karena itu, sebaiknya pikirkan jenis persahabatan seperti apa yang kau inginkan dengan teman-temanmu, kekasihmu, dan siapa saja yang penting bagimu. Apabila kau jatuh cinta, ingat-ingatlah akan hal ini. Pada akhirnya, hubungan yang paling baik adalah baik kau maupun pasanganmu dapat terus mengembangkan diri.”, juga “ Jika kekasihmu benar-benar memperhatikanmu, ia tidak akan memaksamu untuk melakukan apa pun yang tidak kau inginkan. Dengan berkata “tidak” secara tegas, kau akan dapat melihat ketulusan hatinya yang paling jujur.”

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika terjebak dalam seks bebas dan mendapatkan seorang teman yang hamil atau teman-teman yang sekarang masih beruntung, namun tetap berhubungan seks dan tidak hati-hati, kita ingin menghibur mereka namun kita tidak tau (8) apa yang harus disampaikan kepada mereka. Kehamilan yang tidak diinginkan adalah sebuah tragedi. Kita tidak hanya bersimpati dengannya, melainkan harus tetap menjaga persahabatan yang tulus dan memberinya kekuatan agar Ia yang mungkin kehilangan arah mampu mengubah situasi sedih tersebut menjadi sesuatu yang menggembirakan karena dalam keadaan apa pun, kita harus selalu mempunyai harapan.

Pertanyaan terakhir yang menutup persoalan cinta adalah bagaimana (9) mengatasi patah hati yang membuatku benar-benar depresi. Ada sebuah kalimat, “Bila kau sedih, menangislah – menangislah sampai air matamu membersihkan semua penderitaan.” Seberangilah sungai penderitaan, namun jangan sampai tenggelam di sungai itu. Jika kesedihan digunakan sebagai sumber untuk bertumbuh, kau akan menjadi orang dengan kedalaman pikiran yang lebih luas – dirimu yang lebih baik. Ini adalah hasil panen dari penderitaan dan kesengsaraanmu.

Angkatlah kepalamu tinggi-tinggi.

Karena kau telah hidup dengan sekuat tenaga, kau adalah pemenang.

*********************************

Bab 4 | Belajar

Tetaplah maju, kendati hanya satu atau dua langkah, asalkan kau jujur terhadap diri sendiri.

Bagian ini menyediakan subtopik terbanyak dibandingkan yang lain, yaitu sejumlah lima belas. Bisa dilihat bahwa jumlah tersebut ikut membenarkan bahwa belajar adalah hal yang sangat penting dilakukan oleh anak muda. Berawal dari mengetahui (1) tujuan belajar, kita akan dituntun dalam diskusi berikutnya tentang (2) pembagian waktu antara sekolah, pekerjaan rumah, tugas rumah dan tuntutan-tuntutan lainnya. Di sisi lain, ada juga remaja, yang karena berbagai alasan, lebih memilih untuk (3) drop out dari sekolah dan mencari tantangan di tempat lain.

Menjadi remaja berarti bergulat dengan segala macam masalah, yang berarti memecahkan masalah tersebut kendati penuh rintangan, bergeser ke samping awan gelap keputusasaan dan bergerak maju menuju matahari, menuju harapan. Kekuatan dan ketahanan seperti itu adalah keunggulan dari masa muda. Oleh karena itu, (4) nilai pelajaranmu pada umur enam belas atau delapan belas atau berapalah, hanyalah salah satu cara untuk menggali permata yang penting dalam hidupmu. “Studimu, tentu saja penting”, Daisaku Ikeda mengatakan. Tetapi nilai-nilaimu sekarang tidak menghukummu dengan masa depan yang kurang cemerlang.

Salah satu tujuan dari belajar tekun di masa sekolah adalah untuk (5) berusaha masuk ke universitas favorit. Tidak ada jalan pintas dalam belajar. Belajarlah dengan sangat giat hingga kau bisa mengejutkan semua orang. Tujuan belajar bukanlah universitas yang kau masuki, tetapi menguasai sesuatu yang dapat memperkaya dirimu.

Musuh paling besar dari belajar adalah rasa takut, yaitu (6) takut gagal. Setelah berhasil mengatasinya dan lulus sekolah, kita juga akan dihadapkan dengan pilihan (7) kerja atau kuliah? Daisaku Ikeda menjelaskan bahwa masa muda adalah saat tepat untuk belajar. Tak diragukan lagi, belajar sekarang nantinya akan menjadi aset berharga dalam hidup. Ada banyak orang yang pendidikannya hanya SMU dan kini memberikan sumbangan berarti bagi masyarakat. Bagaimana pun, keputusan tersebut harus diambil dengan hati-hati setelah dibicarakan bersama keluarga.

Lantas, bagaimana jika kita memiliki (8) keluarga yang terlalu miskin untuk menguliahkanku? atau bagaimana jika (9) orangtuaku ingin aku berkuliah, tetapi aku lebih memilih sekolah kejuruan? Demikianlah pertanyaan lainnya dari remaja yang dijawab secara lugas oleh Daisaku Ikeda.

Untuk mendapatkan kepuasan sejati dibutuhkan latihan dan usaha. Salah satu caranya adalah dengan menyadari (10) pentingnya membaca. Dengan membaca, kehidupan mereka akan lebih diperkaya dan cara pandangnya pun akan lebih luas. Menemukan sebuah buku yang bagus bagaikan menemukan seorang guru yang hebat. Dengan membaca, kita bisa menjalin kontak dengan ratusan dan bahkan ribuan kehidupan, dan berhubungan erat dengan para orang bijak dan ahli filsafat sampai dua ribu tahun yang lalu. Dan mereka yang telah mencicipi kenikmatan ini, yang melihat buku sebagai teman, adalah orang-orang yang kuat. Daisaku Ikeda juga akan berbagi dengan kita (11) bagaimana cara agar kita lebih senang membaca.

Semakin banyak masalahmu, mestinya kau semakin banyak membaca sejarah. Dengan (12) mempelajari sejarah akan membawamu kembali pada kejadian dan kehidupan orang yang dapat menerangi hidup. Mengenal sejarah berarti mengenal diri sendiri. Semakin kita mengenal diri sendiri dan sifat manusia, maka semakin akurat gambaran kita tentang sejarah. Menurut pandangan Budhis, sejarah adalah catatan kecenderungan manusia, hukum sebab dan akibat. Sejarah adalah ilmu pengetahuan seputar kegiatan manusia, statistik ras manusia.

Para remaja juga ada yang berpendapat bahwa (13) semakin aku belajar sejarah, semakin aku tahu bahwa yang diajarkan itu tidak benar. Bagian ini memberikan beberapa contoh kebalikan dari kebenaran yang menjadi pendapat umum dalam sejarah sehingga kadang kala kebenaran yang jauh lebih penting sama sekali tidak tercatat. Misalnya, sudut pandang dari laporan orang Eropa dan orang Islam pada periode Perang Salib dan laporan penemuan benua Amerika. Daisaku Ikeda mengatakan bahwa, “Satu kejadian sejarah bisa mengandung banyak arti yang berbeda, tergantung cara menafsirkannya, tergantung kau berada di pihak yang mana. Kedua gambaran ini bisa sama-sama benar, tetapi kebenarannya terletak kurang lebih di tengah-tengah.”

Selain sejarah, subtopik belajar yang menjadi bahasan adalah (14) seni yang bisa mengubah hati. Seni adalah kebebasan manusia di dalam diri. Memisahkan kehidupan dari seni adalah sesuatu yang mustahil. Perkembangan politik dan ekonomi boleh saja mendominasi berita, tetapi kebudayaan dan pendidikan adalah kekuatan yang sebenarnya membentuk sebuah zaman, karena kedua unsur itulah yang mengubah hati manusia. (15) Bagaimana kita bisa menghargai seni sekalipun tidak ikut kelas seni adalah hal yang mungkin diperoleh dengan memulainya hanya dengan menikmati seni yang akan mengembangkan dan memperkaya pikiranmu.

*********************************

Bab 5 | Pekerjaan

Saat kau mengejar sesuatu dengan tekad bulat, kau tidak akan menyesal meski gagal. Dan apabila berhasil, kau bisa meraih hal-hal yang hebat.

Bagaimana (1) menentukan karir? Satu puisi dari penyair Jepang Takuboku Ishikawa menurutku bisa menjawab pertanyaan tersebut:

Bila aku mempunyai pekerjaan

Yang bisa kujalani dengan senang hati

Nanti kalau sudah kupenuhi

Aku sudah siap untuk mati

Jika kau sulit menentukan pilihan, kenapa tidak mencoba pekerjaan yang paling mudah didapat, sesuatu yang kau kuasai? Dengan begitu kau mendapat pengalaman praktik dan mencari tahu apa keahlianmu. Memperoleh pekerjaan hanyalah permulaan dari pengungkapan kemampuanmu yang sebenarnya, sama sekali bukan tujuan akhir. Setiap orang memiliki misi yang unik yang hanya bisa dipenuhi oleh orang itu. Yang harus dilakukan adalah (2) menemukan misimu dengan kata kunci mendaki gunung yang tepat berada di hadapanmu. Ketika kau sampai di puncaknya, pandangan baru yang luas akan terbentang di hadapan. Sedikit demi sedikit, kau akan mengetahui misimu.

Dalam memilih pekerjaan, kita sering dihadapkan dengan sebuah kata (3) “talenta”. Kita merasa biasa-biasa saja seperti tidak punya keahlian atau bakat istimewa. Namun, hal tersebut tidaklah benar. Semua orang mempunyai talenta tersendiri, talenta bawaan sejak lahir. Cara menemukannya adalah dengan sekuat tenaga menghadapi apa saja yang ada di depanmu. Potensimu yang sebenarnya akan muncul ketika kau berusaha sekeras mungkin dalam studi, olahraga, aktivitas ekstrakulikuler, atau apa saja yang sedang kau lakukan.

Selain talenta, terdapat juga beberapa hal yang harus diperhatikan saat berusaha mencari (4) pekerjaan yang cocok dan ketika kita ingin (5) berganti karir karena mungkin saja ketika kita mulai mengikuti satu mimpi, kita berubah pikiran dan ingin mengejar jalur yang berbeda.

Kutipan kalimat dalam buku The Lower Depths karya Maxim Gorky: “Jika pekerjaan itu menyenangkan, maka hidup adalah kenikmatan! Jika pekerjaan adalah sebuah tugas, hidup adalah perbudakan.” Sikapmu terhadap pekerjaan – termasuk kuliah, yang menyita sebagian besar waktumu – sangat menentukan kualitas hidupmu. Wow! Sesaat aku terdiam ketika berhasil memahami kalimat tersebut. Kegagalan memahami makna pekerjaan, bisa menuntut kita untuk (6) tidak bekerja sama sekali. Seberapa pentingkah kita (7) menghasilkan uang dalam pekerjaan kita? dan apakah (8) bekerja untuk suatu tujuan mulia lebih baik daripada hanya mempunyai pekerjaan yang biasa-biasa saja? Daisaku Ikeda menjelaskan bahwa yang penting kau memainkan bakat unikmu dengan bebas dan tidak terkekang, bahwa kau hidup dengan cahaya penuh dari dirimu. Dengan begitu kau menjadi betul-betul hidup🙂

*********************************

Bab 6 | Impian dan Tujuan

Siapa saja yang pernah membuat resolusi tahu bahwa kekuatan tekad lama-lama menurun. Menyadari bahwa kita menjadi malas adalah bukti bahwa kita telah dewasa

Josei Toda, mentor dari Daisaku Ikeda pernah memberikan dorongan semangat kepada Ikeda muda tentang (1) impian besar: “Anak muda menyimpan impian yang terlalu besar itu sama sekali tidak apa-apa. Yang kita raih dalam hidup yang hanya satu kali ini hanyalah sebagian dari yang ingin kita raih. Jadi bila kau memulai dengan harapan yang terlalu rendah, pada akhirnya mungkin kau tidak mendapatkan apa-apa.”

Penemuan tujuan dan mimpi dimulai dengan langkah pertama, yaitu di mana mencarinya. Dari situ, kita lanjutkan selangkah demi selangkah – naik secara berkesinambungan lewat usaha setiap hari. (2) Memfokuskan diri, (3) percaya pada kemampuanmu, (4) mengikuti kata hati dan (5) jangan pernah menyerah adalah beberapa hal yang didiskusikan oleh para remaja bersama Daisaku Ikeda. Kendati mengalami kegagalan, sepanjang kau bisa melihat mimpimu, kau tidak punya alasan untuk menyerah. Mereka yang terus-menerus mengejar mimpi mereka, apa pun rintangannya, adalah para pemenang dalam hidup, karena mereka menang melawan kelemahan-kelemahan mereka sendiri.

Dalam topik ini, Daisaku Ikeda mendorong para remaja untuk (6) selalu tegar saat menghadapi masalah. Salah satu alasan seorang Budhis menyebut Nam-myoho-renge-kyo setiap hari adalah untuk mengembangkan keinginan dan disiplin yang kuat, serta kemampuan untuk mengatasi setiap masalah secara serius dan bertekad mengatasinya.

Pada saat tekadmu mengendor, buatlah resolusi baru. katakan pada diri sendiri, “Oke, aku akan memulai lagi dari awal!” Apabila kau jatuh tujuh hari, bangunlah untuk jatuh yang kedelapan kalinya. Jangan menyerah. Bila kau berkecil hati, angkat saja dirimu dan perbarui tekadmu setiap saat.

Selain (7) meneguhkan tekad, (8) keberanian juga merupakan hal yang sangat penting. Apakah kita mempunyai keberanian atau tidak berkaitan penting dengan arah hidup kita. Orang yang mempunyai keberanian akan berbahagia.

Syair Goethe tentang keberanian di bawah ini merupakan syair favoritku sejak sembilan tahun lalu:

Kekayaan hilang – kehilangan yang sedikit!

Refleksikan saja pada diri sendiri

dan dapatkan lagi yang baru.

Kehormatan hilang – kehilangan yang lebih banyak!

Buatlah saja sebuah reputasi yang baik

dan orang akan berubah pikiran.

Keberanian hilang – semuanya hilang!

Lebih baik tidak pernah dilahirkan sama sekali.

Sisi lain dari keberanian adalah welas asih. Keduanya adalah dua sisi dari uang logam yang sama. Keberanian sejati selalu disokong oleh welas asih. Keinginan seorang ibu membesarkan anak-anaknya menjadi orang dewasa yang baik, sekeras apa pun usahanya, sudah merupakan bentuk keberanian yang sangat mulia. Perasaan seorang ibu untuk anak-anaknya adalah contoh sempurna dari (9) keberanian dan welas asih. Keberanian adalah kebajikan yang terpenting untuk diperjuangkan.

*********************************

Bab 7 | Kepercayaan Diri

Saat kau membangun tekad kuat ini di dalam hati, kau sudah setengah jalan menuju kemenangan

Sebelas subtopik akan menemani kita hingga taraf kepemilikan kepercayaan diri secara teori dan semangat yang membara dalam hati hingga keinginan satu-satunya yang kita miliki setelah membaca bagian ini adalah mempraktikkannya dalam keseharian hidup kita. Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri? (1) Milikilah harapan! Pertama-tama, Daisaku Ikeda mengajak kita untuk memahami bahwa hidup itu panjang. Tidak perlu cemas tiada akhir mengenai segala rintangan atau masalah. Apalagi, jangan sampai berputus-asa atau terkalahkan oleh ketidaksabaran. Tidak ada keadaan yang tanpa harapan. Kesalahan terburuk yang bisa diperbuat saat muda hanyalah melepaskan sebuah mimpi, tidak menantang dirimu saat takut gagal.

“Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain! Jujurlah terhadap diri sendiri dan teruskan belajar sekuatmu.”, pesan Daisaku Ikeda kepada para remaja. Budhisme mengajarkan konsep “menyadari potensi yang melekat pada dirimu.”. Oleh karenanya, kita harus mempercayai (2) potensi sejati dan selalu mengarahkan diri untuk mengungguli keterbatasan dalam situasi kita sekarang.

Ketika menghadapi masalah, melarikan diri terkadang menjadi solusi yang paling mudah. Boleh-boleh saja karena kebebasan itu ada. Namun kebebasan tersebut sangat kecil dan tidak berarti. (3) Dalam menghadapi masalah, daripada melarikan diri, kuncinya adalah dengan terus mencari matahari, bergerak terus ke arah matahari, menantang penderitaan dan rasa sakit yang menjadi bagian dari proses pendewasaan. Hidup itu adalah sebuah peperangan untuk meraih kebebasan tertinggi dan tak terbatas. Tidak benar bahwa kepribadian itu ditentukan oleh nasib atau keturunan yang tidak bisa kita apa-apakan. Terpenting adalah terus (4) berusaha sebaik mungkin. Kedua unsur (5) pembawaan dan pengasahan sama-sama sedikit berperan. Kendati kepribadian kita yang terdalam tidak akan berubah, sisi lain kadang-kadang bisa begitu berubah sampai orang di sekitar kita sama sekali tidak mengenali diri kita.

Subtopik menarik selanjutnya yang seringkali menjadi perbincangan, bahkan oleh orang-orang dewasa adalah tentang (6) mengubah karma. Sederhananya, prinsip ini menjelaskan bahwa kehidupan setiap saat adalah efek kumulatif sebab dari perbuatan di masa lampau.  Menurut Budhisme, pada saat kita berbuat sesuatu, berkata sesuatu, atau berpikir sesuatu, suatu pengaruh akan tercatat di dalam kedalaman diri kita. Lalu begitu hidup kita menemukan keadaan yang tepat, pengaruhnya menjadi tampak. Kabar baiknya, tidak seperti takdir, karma kita bisa diubah dengan sebab yang kita buat mulai dari saat ini dan seterusnya. Entah kita menjalani Budhisme atau tidak, kita sangat bisa memperbaiki situasi sekarang dengan bertekad kuat untuk membuat sebab yang lebih baik mulai dari sekarang.

Kita bisa lebih berfokus pada kebaikan daripada keburukan dengan (7) mencermati makna kegagalan. (8) Menghadapi kritikan secara positif akan banyak membantu kita dalam mengembangkan diri sendiri.

Daisaku Ikeda juga mengungkapkan cara untuk mengatasi (9) perasaan malu. Bahkan menurutnya, sikap takut-takut dan malu adalah tanda-tanda dari sifat yang lembut dan sensitif. Melegakan bukan? Sebagai contoh cara menaklukan sifat (10) pemalu, mudah takut dan seringkali cemas dengan pendapat orang lain mengenai diri kita, Daisaku Ikeda memaparkan tiga langkah yang diterapkan oleh Ny. Eleanor Roosevelt hingga akhirnya menjadi seorang wanita yang paling dihormati dalam sejarah Amerika. Wow!

*********************************

Bab 8 | Welas Asih

Mereka yang menggunakan kekerasan dan merendahkan kehidupan orang lain sebenarnya merendahkan diri sendiri dan menghancurkan hidup mereka sendiri.

Terdapat sembilan subtopik diskusi welas asih antara para remaja dan Daisaku Ikeda. Welas asih adalah unsur terpenting yang pantas dijadikan landasan dari semua hal karena welas asih menyangkut hidup kita terhadap orang lain. Dampak keberadaan kita pada dunia yang kita tinggali adalah terdapat atau tidaknya welas asih dalam diri kita. Bila terdapat, dunia akan semakin positif. Bila tidak, yang terjadi adalah sebaliknya.

Mulailah dari (1) memperhatikan orang lain, terutama terhadap mereka yang kurang beruntung. Perhatian yang meski sesaat bisa meninggalkan kesan yang tidak terhapuskan. Menjadi penuh perhatian adalah urusan hati. Walaupun demikian, menjadi baik hati itu tidak sama dengan menjadi penuh perhatian. Menjadi penuh perhatian berarti mengambil tindakan dari perasaan baik hatimu.  Memperlakukan orang secara adil yang menunjukkan (2) kebaikan yang tulus terletak pada  pengambilan tindakan pada saat yang genting. Nantinya, tidak menutup kemungkinan jika kau ditolak atau malah diejek karena berusaha menolong orang lain. Tidak ada yang tahu bagaimana orang akan bereaksi. Pada dasarnya, yang penting adalah niatmu. Tumbuhkan keberanian untuk mengikuti kata hati saat kau (3) membantu orang lain. Perhatian adalah kekuatan, jadi semakin besar perhatianmu pada orang lain, semakin kuatlah dirimu.

Tsunesaburo Makiguchi, presiden pertama Soka Gakkai yang merupakan organisasi awam dari pemeluk Budhisme Nichiren Daishonin percaya bahwa orang yang baik tapi tidak berani, gagal melawan kejahatan, pada dasarnya dikalahkan oleh kejahatan tersebut. Cara terbaik menolong orang lain adalah dengan (4) menunjukkan kepedulian. Bp. Makiguchi sering meminta digolongkannya kebaikan ke dalam perbuatan baik yang kecil, sedang, dan besar. Contohnya, memberi uang pada temanmu yang membutuhkan adalah perbuatan baik yang kecil, sementara membantu temanmu yang mencari pekerjaan merupakan perbuatan baik yang sedang. Namun, jika temanmu menderita karena sering tidak bertanggung-jawab dan malas, maka hadiah uang atau pekerjaan tak akan membantu. Kebaikan yang besar berarti membantu dalam menghadapi dan menumbangkan sifat malas yang menjadi sumber penderitaan temanmu itu. Oleh karenanya, pelaksana Budhis menemukan bahwa perbuatan yang paling penuh perhatian dan kasih sayang adalah berbagi ajaran Budhisme dengan orang lain.

Banyak remaja yang ingin entah bagaimana caranya bisa benar-benar (5) menyentuh hidup orang lain. Di sisi sebaliknya, terdapat remaja yang masih terus bergelut dalam keputus-asaan karena merasa dirinya selalu diejek, misalnya karena cacat tubuh yang diderita. (6) Mengatasi sikap yang kurang peka dan memperjuangkan hak asasi manusia harus dibangun oleh para remaja sehingga dapat memperlakukan mereka sebagaimana manusia pada umumnya yang harus dihormati. Terlalu banyak diskriminasi dan gangguan terhadap orang-orang  di lingkungan sekitar kita, bahkan banyak anak muda yang senang dan bangga berbuat kasar membuat diskusi ini semakin menarik karena Daisaku Ikeda akan berbagi dengan kita bagaimana cara (7) menghentikan ulah si pengganggu, (8) menghadapi kekerasan, hingga cara mengatasi (9) kekerasan terhadap wanita.

*********************************

Bab 9 | Memandang Secara Keseluruhan

Mereka yang pintar bergaul dengan segala macam orang, memandang mereka itu sama, sebagai sesama manusia, itulah karakter yang sejati.

Dunia ini penuh dengan kebencian. Apa yang bisa kita perbuat? Pertanyaan remaja tersebut akan menggiring kita ke (1) pengertian tentang kesamaan hak. Dunia dimana yang kuat memangsa yang lemah disebut sebagai dunia kebinatangan dalam Budhisme. Kita akan terperangkap selamanya di dalam ketidaksetaraan, ketidakbahagiaan, dan kekerasan apabila kita hanya menganggap manusia sebagai alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Tiga halaman lebih ditulis oleh Daisaku Ikeda untuk menjawab persoalan ini. (2) Keberanian adalah kuncinya. (3) Hak asasi manusia memampukan semua orang untuk berkembang, menunjukkan potensi sejatinya sebagai manusia dan memenuhi misinya di dunia ini.  Menjunjung hak asasi manusia dan menghormati orang lain adalah salah satu tugas terpenting kita.

Berbicara persoalan manusia secara umum, ada istilah yang populer saat ini, yaitu menjadi (4) warga dunia. Tentu saja bukan kefasihan berbahasa asing yang menjadi tolak ukurnya. Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “Apa urusan menjadi warga dunia ada hubungannya denganku?”. Tentu saja ada. Mau tak mau kita sekarang hidup di dalam sebuah dunia yang semakin terintegrasi.

Sumbangsih yang bisa kita lakukan, terutama dalam masalah hak asasi manusia adalah dengan (5) mengambil langkah pertama. Mulailah dengan bacaan yang bagus. Kita akan menemukan banyak persoalan tentang hak asasi manusia yang terurai dalam karya-karya itu. Langkah pertama untuk mendapatkan hak asasi manusia adalah dengan menghargai dan menerima kepribadian orang lain. Hak asasi manusia adalah matahari yang menerangi dunia. Begitu juga dengan cinta, kebaikan, dan perhatian manusia. Buatlah matahari cinta manusia bersinar di hatimu seperti yang diekspresikan oleh Francis William Bourdilon dalam puisinya,

Malam hari memiliki seribu mafia

dan siang hari hanya satu.

Namun cahaya dunia yang terang mati

bersama matahari yang sirna.

Pikiran memiliki seribu mata

dan hati hanya satu.

Namun cahaya dari seluruh kehidupan mati

ketika cinta berakhir.

Perdamaian adalah dasar utama dari makna menjadi manusia. Memperoleh seorang teman sejati adalah satu langkah menuju perdamaian dunia dan dengan memperluas lingkaran persahabatan, kita dapat menciptakan tataran masyarakat yang damai. Sekarang, aku jadi lebih mengerti (6) peran persahabatan dalam menciptakan dunia yang damai🙂

Setelah berbicara panjang-lebar mengenai hak asasi manusia, empat topik terakhir kita adalah diskusi yang terkait dengan alam. (7) Perhatian terhadap alam bermakna penting bagi kehidupan kita. Perusakan terhadap alam adalah perusakan terhadap umat manusia. Udara yang kita hidup, air yang kita minum, tanah tempat kita menanam makanan, beragam produk yang berasal dari hutan seperti kebutuhan sandang, pangan, papan semestinya dipandang sebagai ibu kita – ibu tanah, ibu laut, ibu bumi. Tidak ada yang lebih jahat daripada menganggu ibu seseorang. Jangan pernah membiarkan hidup kita bertentangan dengan alam karena masalah lingkungan akan menyangkut semua orang. (8) Mencintai alam dipandang sebagai penghormatan yang mendalam bagi kehidupan karena intisari dari Budhisme adalah jiwa Budha yang terdapat pada setiap tanaman dan pohon, bahkan sampai pada partikel debu yang terkecil. Karena kemajuan teknologi semakin cepat, semakin penting pula bagi tiap orang untuk mengembangkan kesadaran dalam melindungi lingkungan,  yaitu dengan (9) ikut melestarikan alam. Dalam hal ini, (10) peran individu, yaitu usaha setiap individu penting sekali.

“Bumi adalah warisanmu, jadi bertindaklah. Kalian yang belum melupakan keindahan dan keajaiban Bumi, berbuatlah sesuatu! Perjuanganmu melindungi abad kedua puluh satu, abadmu, abad kehidupan, sudah dimulai.” Demikian harapan Daisaku Ikeda yang percaya bahwa ketika kita mengembangkan perhatian yang mendasar dan nyata di seluruh masyarakat, maka perang dan penindasan atas hak asasi manusia akan lenyap. Begitu juga dengan perusakan lingkungan🙂

*********************************

Catatan: Semua yang ditulis adalah ringkasan pribadi dariku. Tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan penafsiran dari apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Daisaku Ikeda dan apa yang telah dimengerti olehku. Semoga kesalahannya sedikit. Itu saja yang kuharapkan dan semoga tulisan ini menginspirasi kita semua dalam berkarya!

Info buku lebih lanjut bisa dilihat dan dibeli di sini, selain di toko buku nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s