Kota impianku!

Satu-satunya jalan sembuh dari patah hati adalah dengan daimoku yang tuntas untuk menghapus kesedihan.

Iya, sy akan melakukannya! ^_^

29 Mei 2012 – Kututup dua tahun di Jogja dengan perasaan demikian. Perasaan ini muncul karena memiliki teman-teman terbaik di sampingku, esp teman-teman kos D, kampus A, kerja T dan Gakkai Y. Senang memiliki kalian semua. Aku tidak akan menjalankan masa depanku dengan seseorang yang sebenarnya aku selalu takut dengan apa yang akan kudapatkan ketika bersama dengannya. Mungkin saja itu bukan kebahagiaanku 🙂

“Fokus kuliah, baru urusan cinta”, seorang temanku berkata. Setuju, teman! Fokus menjadi Maya yang bahagia sekarang 🙂

Waktu memang berlalu dengan sangat cepat. Kegembiraan terasa cepat dan penderitaan terasa lama. Kini, dua tahun masih terasa seperti dua jam total penerbangan di hari pertama aku datang – Sabtu tahun 2010 dengan rincian Palembang-Jakarta selama 1 jam dan Jakarta-Yogyakarta selama 1 jam. Sesampainya di Airport Adi Sucipto, aku seperti berada di negeri asing saja dengan rasa takjub yang tak kunjung hilang bahkan sampai hari ini. Kota impianku! Ya, aku telah hidup selama dua tahun di kota impian yang telah kunantikan sejak tahun 2001 dan aku puas! Misi terakhirku adalah mengakhirinya hingga akhir tahun dengan indah.

Tiga bulan selanjutnya hingga bulan Agustus, yang kuingat adalah aku begitu sungguh-sungguh belajar di sini karena hanya ada dua pilihan saja saat itu. Jika lulus program matrikulasi pra-S2, aku akan tinggal selama 2 tahun di Jogja. Jika tidak, aku tidak tau apa yang harus kulakukan karena aku tak membuat plan B untuk gagal. Tiga bulan itu juga aku bangun setiap pukul 5 pagi untuk berdaimoku selama 1 jam. Wow. Tiga bulan itu adalah masa lalu. Sekarang, aku harus menarik kebiasaanku kembali untuk diterapkan pada tiga bulan ke depan di saat sekarang – 2012. Chant more, study more!

Berbicara tentang kesuksesan dan kemenangan, kita bisa berbicara perbedaan antara champion dan winner. Jika aku tak salah menafsirkan perkataan Ms. Seko Ong, champion adalah orang yang selalu menang, bukan kadang menang dan kadang kalah. Teringat juga aku dengan perkataan salah satu pendamping OSISku di zaman SMA bahwa meski kalah dalam peperangan, kita tak boleh kalah dalam pertempuran. Hidup harus terus berlanjut, maka hanya ada satu pilihan yaitu terus maju menuju target selanjutnya! Menang melawan kenegatifan diri sendiri! Fightooo….

Advertisements

Dialog Hati

Senang berbincang banyak padamu pada malam itu.

Apa yang hendak kukatakan, sudah kukatakan.

Apa yang hendak kau dengar, pun sudah kau dengar.

Kita sama-sama saling mengerti.

Cinta memang masih ada di antara dua hati kita yang berbeda ini.

Kau masih seperti yang dulu,

tapi aku sudah berubah.

Terima kasih telah mengajarkan cinta padaku, sayangku.

Jika tidak dengan kau, izinkan kubagi cintaku pada orang lain,

layaknya kau yang telah memulainya.

Helm cinta kasih

Helm cinta kasih adalah sebutan Dhika untuk helm teratasku – helm berwarna merah tanpa kaca penutup. Helm ini punya kisahnya sendiri. Dia dikirim dari Palembang tak berapa lama aku tinggal di Jogja. Ya, mungkin sekitar bulan Juni 2010. Sebelumnya, dia pun kubeli tanpa sengaja. Mamaku, setelah kubonceng dalam jarak yang lumayan jauh bahkan setelah melewati pos polisi mengatakan, “May, ternyata mama tak pakai helm”. “Ya ampun!” Aku shock!. Langsung kuputar balik motorku mencari penjual helm terdekat dan kutemukan dia yang warnanya mencolok. Bulan Septembernya, helm ini kutinggalkan bersama Meme, seorang teman karibku di masa SMP yang sekarang sudah menikah dengan lelaki Jogja. Saat itu, Meme yang baik hati mengantarkanku ke stasiun Lempuyangan untuk berangkat menuju Bumi Ayu dengan kereta api ekonomi. Helm dibawa pulang dan disimpan di rumahnya hampir dua bulan hingga lewat masa awas Gn. Merapi.

Selama masa ketiadaan helm, kupinjam helm nomor 4 pada Dara – penghuni kamar terujung yang jendelanya menghadap ke luar rumah. Dara juga adalah penghuni pertama kamar nomor 1 yang kutempati sekarang. Setelah Dara, ada Bimbi yang tinggal di kamar tersebut. Setelah Bimbi, akulah yang menempatinya sebagai penghuni ke-3 di kamar nomor 1.

Helm nomor 4 tersebut akhirnya kubeli dari Dara seharga Rp.100.000,-. Helm ini sudah memiliki kerusakan permanen pada kaitan click di bawah dagu. Kacanya sudah sedikit lecet dan banyak tempelan di sana-sini, termasuk tempelan foto Barack Obama yang disampingnya tertulis Indonesia. Tidak apa-apa toh aku membutuhkannya. Tak enak saja hati ini jika meminjam barang selama berminggu-minggu sehingga keputusan terbaikku adalah dengan membelinya. Saat itu, entah karena kemalasan atau ketiadaan waktu yang membuatku tak mengambil helm di rumah Meme.

Continue reading

16 dan 17 Mei 2012

Dua hari ini kuberaktivitas seperti biasa. Masih saja bergumul bersama buku, film dan tesis, juga kegiatan insidensial seperti survei lokasi untuk kegiatan Hari Wanita SGI dan jalan-jalan sebagai bonusnya 🙂

Berbicara soal buku, buku Peaks and Valley ini bagus sekali, sama bagusnya dengan buku Who Moved My Cheese yang pernah kubaca dari pengarang yang sama – Spencer Johnson, M.D., mungkin sekitar 5 tahun lalu. Buku ini dibeli seharga Rp. 15.000,- saja sewaktu promo buku di Gramedia Sudirman – Yogyakarta. Buku ini membuka wawasan baru kita dalam memandang kehidupan yang bagai rekaman detak jantung, yang bila garis lurus digambarkan sebagai kematian. Puncak, lembah dan dataran. Intermezo: berbeda loh antara dataran dan daratan. Sewaktu menulis tadi, hampir saja aku terjebak dengan dua makna kata tersebut.

Bagaimana keluar lebih cepat dari lembah, bertahan lebih lama di puncak, memperbanyak puncak dan mengurangi lembah. Tiga point yang menjadi bahasan dari buku setebal 144 halaman ini memang layak disebut sebagai permata kecil dan berharga. Selamat membaca.

Petualangan membacaku baru sampai di halaman ke-77 dan tiba-tiba aku teringat satu hal. RJ pernah mengatakan bahwa hidup bagaikan mendaki dari satu puncak ke puncak lainnya, naik dan turun bagaikan jari tangan. Jika kita ingin mencapai satu puncak yang lebih tinggi, kita pasti akan menuruni lembah terlebih dahulu dan yang paling penting adalah kita tau puncak seperti apa yang akan kita tuju sehingga kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang kita lakukan sudah mengarah ke sana?” Satu lagi dia mengatakan bahwa sebelum kita menuju ke puncak selanjutnya, kita harus selalu ingat untuk kembali ke start point dari hati kepercayaan kita.

Semakin membaca dan melakukan tindakan, kutemui kebenaran apa yang pernah dikatakan olehnya, juga oleh salah satu pembicara yang akan membawakan Seminar Hari Wanita di Jakarta tanggal 19 dan 20 nanti. Namanya adalah Seko Ong. Tahun 2010 lalu, aku pernah mengikuti seminarnya yang begitu menginspirasi. Tahun ini pun aku tak akan melewatkannya.

Pada gambar di atas, ada satu potret tertulis CV. Mitra Transport. Ya, kubeli tiket travel Jogja-Jkt untuk esok hari di sana. Tiket kali ini mengalami kenaikan harga sebesar Rp. 20.000,-, mungkin karena bertepatan dengan long weekend.

Continue reading

Bukan “Melankolia Pasar Bubrah”

Akhir April 2012 tertanggal 28 dan 29. Weekend. Cuaca sangat cerah. Berdua saja, aku dan Adhi mendaki Gn. Merapi yang timurnya mengarah ke Klaten, baratnya mengarah ke Magelang, dan selatannya mengarah ke Sleman. Kami mendaki dari balik kota Yogyakarta, yaitu dari utara – Boyolali, via Selo yang jalurnya bersih karena terbebas dari aliran lava pada saat meletusnya Merapi di akhir 2010. Waktu tempuh dari kosku di daerah Condong Catur, Jogja menuju basecamp di Selo dengan mengendarai motor adalah 2,5 jam. Satu jam setengah perjalanan di awal sangatlah membosankan karena panasnya mentari yang berpadu dengan suasana perkotaan monoton di sepanjang ring road – Magelang – Muntilan. Namun satu jam sisanya, Adhi dengan terampil melewati lika-liku perjalanan yang berkelok tajam diiringi sapaan lembut udara pegunungan dan kabut tipis di hutan sebelah kanan jalan. Motor metic miliknya mbak Dwi yang kami pinjam sangat efektif karena bisa memuat 2 carrier seukuran 80L dan 35L. Satu carrier besar yang dipinjam dari PT diletakkan di depan, satu lagi kupakai dengan tali bahu yang dikendorkan sedikit sehingga bisa disenderkan bagian bawahnya pada jok. Tidak perlu ilmu pengendalian tubuh dan tidak perlu kesemutan terlalu lama karena posisi yang tak nyaman. Dalam perjalanan, kami sempatkan berhenti di satu warung makan pondokan sebelah kiri jalan. Terlihat sekilas warungnya menawarkan makanan yang lezat. Memang lezat. Kami membeli dua porsi ayam bakar+nasi beserta 1 porsi ikan goreng kecil untuk makan malam nanti – di gunung itu. Aku lupa jenis ikannya.

Di bawah ini adalah foto hasil packing beberapa logistik dan perlengkapan yang kami bawa. Tentunya tenda dome, nesting, flysheet, kompor butterfly dibawa oleh Adhi. Carriernya pastilah lebih berat dibandingkan dengan yang kubawa. Terima kasih juga atas pinjaman carriernya, Adhi 🙂

Packing

Pukul 12.30pm, kami tiba di basecamp. Adhi sempat minum segelas teh hangat dan kami mengobrol dengan 2 orang. Satu bernama Koplo – mahasiswa di Solo yang akan mengadakan penghijauan di lereng merapi bersama teman-temanya pada keesokan harinya. Satu lagi, seorang gadis asal Jakarta yang mendaki dalam rombongan besar. Selain itu, aku juga sangat senang mengamati ibu-ibu yang sedang memasak menggunakan kayu bakar, seperti biasanya. Di samping kanan basecamp, selada hasil panen tertata rapi di halaman. Para wanita sedang memasukkan selada  yang hijaunya menggoda ke dalam plastik-plastik besar dan para lelaki sedang memindahkan kantongan plastik tersebut ke atas mobil pick-up yang siap mengangkutnya entah ke mana. Mungkin saja ke pasar. Samping kiri basecamp ada kios kecil yang berjualan sovenir dengan 1 rak kaca alumunium. Sisa ruang di area basecamp ini dipenuhi oleh motor-motor yang diparkir dengan rapi. Dari basecamp, kami menuju pintu rimba yang terdapat icon New Selo. Baru sebentar jalan menandjak, telapak kakiku sakit. Mungkin penyesuaian saja. Sempat menepi sebentar, lalu lanjut berjalan lagi. Sesampainya di sana, kulaksanakan ritual wajib di awal pendakian: pipis di toilet yang ternyata tidak gratis, namun tetap saja gratis karena kukatakan pada sang penjaga, “Maaf mas, saya tidak bawa uang di kantong.”

Icon New Selo

Continue reading

Writing Quotes dari Wordpress

Kucoba merangkum apa yang tercantum di samping kiri screen setiap kali usai posting tulisan. Inilah quotes tersebut, dimulai ketika published tulisan yang ke-35:

  • The best style is the style you don’t notice. (Somerset Maugham)
  • I love being a writer. What I can’t stand is the paperwork. (Peter De Vries)
  • The best time for planning a book is while you’re doing the dishes. (Agatha Christie)
  • I try to leave out the parts that people skip. (Elmore Leonard)
  • Writing is a struggle against silence. (Carlos Fuentes)
  • Every writer I know has trouble writing. (Joseph Heller)
  • There are three rules for writing a novel. Unfortunately, no one knows what they are. (W. Somerset Maugham)
  • I am a drinker with writing problems. (Brendan Behan)
  • I have made this letter longer, because I have not had the time to make it shorter. (Blaise Pascal)
  • The only reason for being a professional writer is that you can’t help it. (Leo Rosten)
  • If the writing is honest it cannot be separated from the man who wrote it. (Tennessee Williams)
  • To send a letter is a good way to go somewhere without moving anything but your heart. (Phyllis Theroux)
  • Proofread carefully to see if you any words out. (Author Unknown)

Outliers | Tracking the X factor of success

Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers mengamati pola kesuksesan individual maupun kelompok dan membuat sebuah pernyataan akhir, yaitu bahwa sebenarnya orang-orang yang kita anggap outlier bukanlah outlier sama  sekali.

Mengapa demikian? Karena tidak hanya kekayaan dan kecerdasan saja yang memengaruhi kesuksesan seseorang, namun ada banyak faktor yang terlibat di dalamnya, seperti faktor kebudayaan, tempat tinggal, sejarah keluarga, dan tanggal lahir. Sukses itu rumit, tidak instan dan tidak ada faktor x yang berupa keberuntungan. Malcolm Gladwell akan menelusuri jejak-jejak rahasia kesuksesan tersebut dalam halaman demi halaman dan contoh demi contoh yang terbagi menjadi dua bagian besar dari buku ini, yaitu KESEMPATAN dan WARISAN BUDAYA.

Misteri Roseto – bagian pendahuluan mengawali cerita kita tentang perbedaan kesehatan penduduk sebuah desa kecil di Pennsylvania, Italia yang bernama Roseto. Orang-orang di desa tersebut meninggal karena usianya yang sudah uzur. Itu saja. Kondisi tersebut mendorong sebuah penelitian yang secara tidak sengaja dilakukan oleh dr. Wolf  dan seorang sosiolog bernama John Bruhn. Mereka mendapati bahwa untuk memahami kesehatan orang-orang Roseto yang sangat prima, mereka tidak boleh hanya memikirkan berbagai pilihan dan tindakan pribadi seseorang saja, namun harus menghubungkannya dengan masyarakat sekitar. Mereka harus melihat ke luar individu itu. Mereka harus memahami budaya yang menjadi bagian dirinya, siapa teman serta keluarganya, dan asal kota keluarganya. Mereka harus menghargai pemikiran bahwa nilai dari dunia yang kita diami dan orang-orang di sekeliling kita memiliki efek yang sangat besar atas siapa diri kita.

Warga Roseto hidup sehat karena tempat asal mereka, karena dunia yang telah diciptakan untuk mereka sendiri di kota kecil mungil di perbukitan. Mereka telah menciptakan sebuah struktur sosial yang hebat dan protektif yang mampu melindungi mereka dari tekanan dunia modern. Di desa tersebut tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, tidak ada kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit kejahatan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang hidup di garis kemiskinan. Mereka memiliki etos egaliter di dalam hidup bermasyarakat, yang mendorong orang-orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaannya dan menolong orang-orang yang kurang sukses menguburkan kegagalannya.

Di bidang pekerjaan Wolf, mereka memiliki sebuah nama untuk tempat seperti Roseto – sebuah tempat di luar pengamatan manusia yang normal, di mana aturan normal tidak ditemukan di tempat itu. Roseto adalah sebuah outlier.

Continue reading