Menggali Informasi dari Internet

Awalnya tulisan ini akan kuikutsertakan dalam lomba karya tulis, namun kubatalkan. Akhirnya, kutuliskan di sini saja.

Hidup manusia yang dipenuhi rasa ingin tahu, haus menggali ilmu, dan bersosialisasi dengan manusia lain merupakan pendorong utama berkembangnya Internet hingga di luar batas berpikirnya manusia seperti perkataan Walt Disney: “Apa yang bisa dimimpikan, pasti bisa direalisasikan”. Kita juga tak pernah menyangka mimpi Bill Gates “satu komputer di setiap rumah” menjadi “satu komputer satu orang” di abad ke-22.

Teknologi canggih yang muncul di era ini bukan hanya komputer, namun komputer yang terkoneksi dengan Internet. Internet pertama kali dihasilkan dari penelitian untuk kepentingan telekomunikasi militer Amerika Serikat pada saat perang dingin dengan Uni Soviet di tahun 1960-an. Puncak penelitian pada saat itu adalah keberhasilan ARPANET dalam mengoneksikan 4 komputer pada tahun 1969 akhir.

Bandingkan dengan saat ini, Internet telah berhasil menghubungkan 2.267.233.742 pengguna dan mengalami pertumbuhan sebesar 528,1% dari tahun 2000 berdasarkan data dari Internet World Stats pada tanggal 31 Desember 2011. Untuk wilayah Asia, Indonesia merupakan Negara terbesar ke-4 dengan jumlah pengguna Internet 55.000.000 dan urutan ke-2 untuk pengguna Facebook, yaitu 43.523.740 pengguna.

Dengan persentase pengguna 22,4% dari populasi masyarakat Indonesia, maka mau tidak mau kita harus peduli dengan Internet jika kita peduli dengan Bangsa Indonesia. Salah satu bentuk kepedulian kita adalah menginformasikan hal-hal positif yang bisa diperoleh dari Internet. Dengan penggunaan yang tepat, Internet dapat memudahkan hidup kita.

Mengapa kita Harus Peduli dengan Internet?

Semua yang baik tersedia di Internet. Semua yang buruk juga tersedia di Internet. Kitalah yang menentukan, mau memanen pengetahuan baik atau pengetahuan buruk dari ladang informasi yang bernama Internet. Dengan kalimat ekstrim, bisa dikatakan bahwa “tidak ada cara lain untuk memperoleh pengetahuan yang murah namun berkualitas selain dari Internet”.

Internet merupakan sebuah solusi yang ditawarkan untuk mempersempit rentang pengetahuan antara si kaya dan si miskin. Dengan infrastruktur yang memadai, semua orang bisa memperoleh manfaat dari Internet.

Pengguna Indonesia khususnya memanfaatkan Internet untuk tiga hal utama, yaitu melakukan pencarian dengan menggunakan mesin pencari (search engine), memanfaatkan e-learning sebagai oase ilmu pengetahuan dan bersosialisasi di dunia maya melalui media jejaring sosial (social networks).

Search Engine Menjawab Rasa Ingin Tahu Pengguna

Dalam buku The Search, John Battele menjelaskan secara terperinci bagaimana perkembangan teknologi pencarian telah mengubah cara hidup kita menuju budaya instan. Mesin pencari adalah program komputer yang dirancang untuk melakukan pencarian atas berkas-berkas yang tersimpan dalam layanan www, ftp, publikasi milis, ataupun news group dalam sebuah ataupun sejumlah komputer server dalam suatu jaringan.

Salah satu mesin pencari di dunia yang terkenal adalah Google. Google bisa dikatakan sebagai mesin pencari umum karena dapat mencari semua jenis file melalui sumber-sumber sekunder yang diberikan. Google bermain peran layaknya Tuhan yang memberikan jawaban atas pertanyaan kita, namun solusi yang diberikan terlalu banyak dan tidak langsung menjawab kebutuhan kita. Pencarian dilakukan atas dasar kebutuhan, namun terkadang yang menjadi masalah adalah: kita tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Maka tidak heran ketika kita menanyakan “Who is President of Indonesia?”, jawaban yang diberikan oleh Google terlalu banyak, bahkan jawaban-jawaban yang tidak berhubungan sama sekali seperti berita seputar Presiden Indonesia.

Dalam hal ini, kita pada akhirnya tergoda untuk mencari dan membaca informasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan karena rasa ingin tahu yang menyebar terlalu luas.  Contoh lain dampak hasil pencarian Google adalah ketika digunakan oleh anak-anak di bawah umur dalam melakukan pencarian kata kunci yang berbau kekerasan dan pornografi. Google akan memberikan peluang lebih besar menuju tautan lain yang artinya membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak tersebut dalam pencarian informasi negatif.

Menghadapi permasalahan tersebut, saat ini berkembang teknologi mesin pencarian terbaru yang hasilnya mendekati apa yang benar-benar kita butuhkan, yaitu mesin pencarian berbasis semantik (semantic search engine). Salah satu contohnya, yaitu: WorframAlpha yang lebih dikenal sebagai computational knowledge engine. Ketika kita memasukkan input yang sama seperti tadi, maka hasil yang diperoleh hanya satu nama yaitu: Susilo Bambang Yudhoyono. Mesin pencari ini juga dapat menjawab permasalahan matematika yang rumit, kimia, astronomi, bahasa, bahkan mencari chord musik.

Dua jenis mesin pencari, yaitu Google dan WolframAlpha adalah contoh yang mewakili teknologi pencarian terkini dan telah membuktikan bahwa Internet memegang peranan yang sangat penting dalam memuaskan rasa ingin tahu kita.

e-learning Sebagai Solusi Perolehan Ilmu Pengetahuan yang Gratis

Khan Academy merupakan salah satu website yang menyediakan materi pembelajaran ilmu pengetahuan dasar yang berkualitas, gratis dan sangat menarik. MIT Opencourseware dan IlmuKomputer.com juga merupakan penyedia materi pembelajaran di bidang ilmu komputer yang gratis. Bahkan Perguruan Tinggi di Indonesia sudah membuka diri untuk berbagi repositori tugas akhir dan penelitian, seperti Institut Teknologi Surabaya yang meraih peringkat satu penyedia repositori terbaik di Indonesia menurut Webometrics. Sumber pengetahuan yang bisa kita gali di Internet sangat banyak dan tak terbatas. Kita selalu dapat menemukan podcast, e-book, video bahkan materi pembelajaran dinamis berbasis animasi dan simulasi seperti website penyedia e-learning for kids. Internet memudahkan hidup kita sebagai pelajar dan orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Hanya saja, hal yang perlu diperhatikan adalah: kebutuhan kita akan informasi harus menjadi prioritas utama dibandingkan keinginan kita karena informasi yang tersedia di Internet sangatlah banyak dan dapat membuat kita tersesat.

Bersosialisasi dengan Media Jejaring Sosial

Prinsip mendasar adanya media jejaring sosial adalah kebutuhan manusia untuk bersosialisasi dan rasa tanggung jawab untuk saling berbagi karena berbagi akan memperkaya semua orang dengan pengetahuan baru.

Menurut Wikipedia, media jejaring sosial bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis, misalnya media komunikasi seperti blog (wordpress dan blogspot), microblog (tumblr dan twitter), social networking atau yang lebih dikenal sebagai situs jejaring sosial (facebook, myspace, dan google+). Selain itu, terdapat juga media kolaborasi dengan fungsi spesifik, seperti: content management systems/CMS (drupal, joomla, dan wordpress), social bookmarking (delicious), dan research collaboration (mendeley). Kita juga bisa berbagi dokumen dengan menggunakan dropbox.com dan google docs serta berbagi file multimedia seperti video melalui youtube dan vimeo, berbagi audio dengan soundcloud, berbagi foto dengan devianArt dan Picasa ataupun berbagi slides presentasi dengan SlideShare.

Dari semua jenis media jejaring sosial, satu hal penting yang perlu kita garisbawahi adalah dampak penggunaannya yang berlebihan sehingga dapat mengarah pada epidemic narsisme seperti yang dikatakan oleh Twenge dan Campbell dalam bukunya The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement. Dalam bukunya, dikatakan bahwa salah satu dari empat fenomena sebagai akar yang menghasilkan epidemi narsisisme adalah merebaknya dunia cyber dan kompetisi untuk mendapatkan perhatian. Fenomena narsisisme menjadi semakin menggila apabila kita tidak menempatkan situs jejaring sosial semestinya. Tergila-gila untuk selalu diperhatikan, memuja diri, dan prilaku stalking (menguntit) sangat mudah dilakukan pada situs jejaring sosial.

Kini, newbie yang baru memulai penggunaan Internet, biasanya memulai dari jejaring sosial. Kita harus dapat mengarahkan para newbie dalam pemanfaatan Internet untuk lebih banyak menggali pengetahuan yang telah tersedia dibandingkan hanya melakukan tindakan yang selalu mengarah pada diri sendiri.

Ke Depan, Kita Harus Bagaimana?

Tantangan ke depan akan semakin besar, terutama dalam pembangunan infrastruktur yang memadai untuk akses Internet yang cepat, pembangunan situs-situs oleh orang Indonesia sendiri, juga penyuluhan dalam penggunaan sumber daya yang dimiliki Internet agar pemanfaatannya lebih maksimal.

Pada dasarnya, Internet hanyalah alat bantu dalam menjawab kebutuhan kita. Mesin pencari membantu kita dalam pencarian, e-learning membantu kita dalam perolehan pengetahuan dan situs jejaring sosial memungkinkan kita untuk saling berbagi banyak hal. Bijaksana dalam berInternet akan membantu pertumbuhan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s