Selamat Tinggal Seperempat Abadku #1

25 TAHUN.

WOW!

Hanya kata WOW saja yang menggambarkan perasaanku. Sesungguhnya aku masih merasa seperti seorang gadis remaja. Kenakalannya, semangatnya yang berapi-api, rasa ingin taunya yang besar….. kecuali satu hal: kedewasaan dan pandangan masa depan.

Wuihhhh, aku tuliskan kata “gadis remaja” dengan rasa mual yang tertahankan haha =))

Aku akan mulai berdongeng. Cermati baik-baik…

Papaku selalu mengatakan, “Tidak apa-apa nakal, asalkan tak kurang ajar”. Masa kecil kulewati ditemani kata-kata itu. Kutambahkan, “Lebih baik nakal di masa kecil sehingga tak akan melakukan kenakalan di usia muda dan tua”.

Papa dan mamaku hanya datang ke sekolah pada 2 moment besar di masa SD hingga SMA: moment pengambilan rapot dan satu peristiwa penting yang mengubah hidupku. Peristiwa itu terjadi di kelas 6 caturwulan ketiga. Singkat cerita, orang tuaku dipanggil ke sekolah untuk yang pertama kalinya akibat kenakalanku. Penanganan masalah kenakalan murid di sekolah harus disikapi dengan bijaksana dan sendiri kualami ketidakbijaksanaan para guruku. Sebagai guru yang digugu dan ditiru, seyogyanya belajar membedakan arti kata “nakal” dan “kurang ajar” serta memiliki kemampuan “mendengarkan”. Dari peristiwa itu, kubertekad bahwa aku akan menjadi seorang guru yang tak tertular sikap kurang tepat mereka. Terima kasih, guruku🙂

Tak terlukiskan bagaimana bahagianya kulewati masa kecilku. Bermain puas, berkotor-kotoran, dan belajar menjadi sahabat yang baik. Hingga SD, hanya terdapat tiga ruang gerakku: sekolah, rumah dan lingkungan sekitar, serta tempat kursus.

Di sekolah dari kelas 3 SD hingga 6 SD aku ikut ekstrakulikuler Pramuka, Paduan Suara, Olahraga (seperti kasti, bulu tangkis dan permainan), dan Drama (kelas 6 SD). Sepulang sekolah di sore hingga azan mahgrib, aku bermain bersama para tetangga, mulai dari permainan perempuan hingga permainan yang kelaki-lakian. Terakhir adalah kegiatan yang tak kusukai: kursus. Aku tak pernah serius dan sekarang baru kurasakan akibatnya. Kuhilangkan kata-kata “Andaikan…” yang mengindikasikan rasa penyesalan, maka kursus yang menarik minatku hanyalah kursus mengetik dan komputer. Belajar pengenalan DOS, Lotus dan Wordstar. Mengapa suka komputer? Karena komputer bisa membuatku bermain dengan cara baru🙂

Satu foto yang mewakili masa kecilku: sepeda. Aku suka jalan-jalan dengan sepeda untuk menemukan tempat-tempat baru. Aku berpetualang ditemani ketakutan ketika nyasar dan kesakitan ketika jatuh. Aku bersepeda hingga pernah masuk rumah sakit akibat stang sepeda yang menusuk perutku. Aku benar-benar anak yang berbakat merepotkan orang tua. Syukurlah orang tuaku sangat penyabar ^_^

Begitulah masa-masa SD yang penuh keceriaan, penuh petualangan dan persahabatan. Aku belajar tentang persahabatan dengan sangat baik di masa-masa SD, terlebih lagi aku mulai belajar mengenali karakter setiap orang yang kutemui. Panjang sekali jika harus didetailkan. Satu kegagalan terbesarku adalah tidak mempelajari bahasa inggris dan mandarin secara sungguh-sungguh di masa itu. Selebihnya, hidupku sempurna. Sekarang aku bisa bilang sempurna, namun saat SMP, rasa itu belum begitu jelas ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s