Film dan Buku #1

Dear mom… Buenos Aires is behind us
behind is as also the miserable life
the faculty, the exams and the dissertations that make you sleepy
Before us lies all of Latin America
From now on we will only trust in “La Poderosa”
I wish you could see us. We look like adventurers and inspire admiration and envy everywhere

Jika saja kuturuti isi surat (metafora) Ernesto ‘Che’ Guevara kepada ibunya dalam film The Motorcycle Diaries, bisa-bisa folder tesisku tak akan pernah ada. Sekarang juga belum ada.

La Poderosa (the Powerful) adalah motor tua –Norton 500– yang rusak ditengah perjalanan ketika dikendarai oleh Che Guevara dan Alberto Granado. Kisah mereka dalam perjalanan sejauh 8000 km menyusuri Amerika Latin tersebut sangat kusuka karena menegaskan kembali apa yang kuyakini, yaitu pembentukan karakter dan kepribadian seseorang dapat diperoleh melalui perjalanan.

“Every generation needs a journey story; every generation needs a story about what it is to be transformed by geography, what it is to be transformed by encounters with cultures and people that are alien from yourself, and you know that age group 15 to 25, that’s the perfect generation to get on a motorcycle, to hit the road, to put on your backpack and just go out.”

José Rivera, screenwriter
Satu lagi hiburan pembelajaran yang kulakukan pada hari ini adalah menyelesaikan membaca buku, buku tentang presentasi ala Steve Jobs yang tentu saja isinya sangat bermanfaat.

Hari ke-13: Usai

Hari ke-1: Gairah dari Lembah, mulai kurekam jejak emosiku yang tak menentu. Hanya bertahan 3 hari, lalu usai. Hari ke-4 hingga 12, kuhabiskan semua waktuku untuk bersilaturahmi dengan dunia nyata. Hari ini, aku menulis kembali.

Keluarga, teman karib, terlebih lagi suasana. Kutinggalkan sementara di Palembang bersama rasa rinduku. Udara pertama yang kuhirup sekembalinya di Jogja berada di titik koordinat 07° 47′ 10″S 110° 26′ 10″E = -7.78611111111 S, 110.436111111 E (coord.). Titik tersebut tetap, namun apa yang ada dan terjadi di titik tersebut tidak pernah sama. Perbedaannya meliputi cuaca, waktu, orang-orang dan benda-benda yang kutemui. Apapun. Satu hal memang hanya terjadi pada satu waktu, bukan?

Hari ke-3: Packing

pulang-tidak-pulang-tidak. Kuputuskan untuk pulang bertemu papa, mama, satu-satunya adik lelakiku dan handai taulan. Tradisi makan malam dan kumpul bersama di malam Imlek sangat melekat di keluarga kami. Menyenangkan sekali. Packing kulakukan seusai ujian akhir semester tiga. Riwayat tiga mata kuliah yang kuambil: satu tidak mengikuti UAS, satu terlambat hadir 1 jam saat UAS, satu lagi hanya bisa mengerjakan 50% soal UAS. Sangat memalukan mengenaskan. Tanggal 24 Mei 2010 pukul 11.01 PM kubaca sms yang sekarang kubaca dalam buku harianku: “Ok May, perkuat jiwamu sehingga kamu selalu bisa mengubah racun menjadi obat. Selamat berjuang.”

Hari ke-1: Gairah dari Lembah

Hidup seperti naik gunung dan sekarang aku berada di lembah menuju puncak. Tak akan berlama-lama, hanya sedang mengumpulkan gairah kembali untuk bangkit. Di lembah ini, aku menjawab “YA” untuk sebuah pertanyaan, “Kenapa tak kurekam saja perjalanan hari demi hari hingga gairahku terkumpul?”

Jika Anda tidak mempunyai gairah, Anda tidak akan punya energi, dan jika Anda tidak punya energi, maka Anda tidak mempunyai apa-apa. -Donal Trump

Hari ini, masih saja gagal bangun pagi. Sore hari kucoba mulai melakukan sesuatu: membaca. Buku yang kubaca mengenai Steve Jobs sebagai komunikator yang piawai, ditulis oleh Carmine Gallo – seorang kolumnis di businessweek.com. Apa yang kubaca dan kupahami dari buku ini, sangatlah menarik. Konsep lama yang dipertegas kembali melalui sosok Jobs. Targetku, esok sudah usai kubaca buku ini.

Hari-hari sialku #1

Lagi-lagi, hari-hari sialku masih terus berlanjut. Aku berpikir selama masih tetap bekerja di perusahaan sekarang, hidupku tak pernah bisa damai, tak pernah bisa fokus mengerjakan tesis yang sudah tertunda satu semester. Terus kumaki semua hal dan sepertinya, semuanya memang salah. Sial!

Seperti biasa, karena tidur subuh saat ayam-ayam berkokok, aku pun bangun tengah hari. Sukses ke kantor tanpa kehujanan dan sebelumnya pergi ke Samsat – mengurus sedikit masalah dengan para polisi berkaitan dengan legalisir faktur kendaraan -, membuat laporan-laporan, dan pulang kehujanan. Pasti hujan! Tapi kali ini curah hujan cukup besar, membuat air pasang dari bundaran UGM, Gejayan terus ke ring road utara. Mogoklah motor tuaku di depan UII Ekonomi! Berjalan kaki di tengah hujan, perbaiki di bengkel, lalu mogok lagi tepat di depan kos coklatku. Kumasukkan ke garasi dan terpeleset karena sandal jepit berpadu dengan licinnya lantai. Kumaki lagi: Sial!

Selesai mandi. Kuliahat ke plafon. Bocor pula! Menetes air itu seperti air terjun, disangkanya kamarku adalah kolam!