Menjelajahi Pulau Jawa di Akhir 2009 (Bagian I)

22 Desember 2009 hingga 4 Januari 2010
Perjalanan Timur ke Barat di Kepulauan Jawa.
Palembang-Yogyakarta-Surabaya-Malang-Kebumen-Bandung-Palembang
—ditulis seingatku saja—

Museum Sampoerna, Gunung Semeru, Penanjakan, Gunung Bromo, Savana, Goa Liah, Goa Petruk, Pantai Logending

22 Desember 2009 Pukul 10.00 WIB

Bus Putra Remaja jurusan Palembang-Yogyakarta perlahan bergerak dari M.Isa (pangkalan bus), menjemput para penumpang, hingga keluar perbatasan Palembang di pukul 13.00 WIB. Dibutuhkan kesabaran menunggu dan aku pun sempat tertidur. Maklum saja, liburan hari pertama langsung berangkat, sehingga istirahat pun kurang. Kursi sebelahku kosong hingga MUBA, sehingga aku bisa tidur dengan leluasa, menguasai kedua kursi ^^
Melintasi Lampung dan menyeberangi Selat Sunda di waktu malam, hingga tiba di Jakarta saat subuh masih harus dilanjutkan dengan melewati Bandung, Cirebon, dan kota-kota kecil lainnya menuju Yogyakarta. Bus berhenti tiga kali agar sopir dan penumpangnya dapat beristirahat dan makan. Yang tak terlupakan adalah ketika bus berhenti di sebuah warung peristirahatan di Jalur Pantura. Saat itu, terik matahari membuatku gerah, panas dan ingin rasanya mandi.
Melakukan perjalanan seorang diri sangat mengasyikan. Hanya diriku dan pikiranku yang bermain bersama.
Tgl 23, kira-kira pukul 16.00 WIB, aku berhenti di Kutoarjo, tidak di Yogyakarta, karena seorang teman, Cempluk, telah menungguku di stasiun Kutoarjo. Bersama-sama kami menuju Yogyakarta dengan KA Prambanan Ekspres (Prameks). KA Prameks membuatku kagum dengan pintu otomatis dan kenyamanannya, maklum di Palembang tidak ada. Aku pun langsung membayangkan apabila ikat pinggang besi membelit Utara hingga Selatan Sumatera, pastilah transportasi bukan masalah besar lagi.
Suasana dalam KA Prameks

 

Hijaunya sawah menemani perjalanan antara Kutoarjo-Yoyakarta
Pukul 18.30 WIB, kami sampai di Stasiun Kota Yogyakarta. Stasiunnya bersih dan dipenuhi kios-kios yang berjualan sovenir khas kota Yogya. Aku sempat sikat gigi, cuci muka dan bersih-bersih di WCnya yang bersih. Kupikir kami akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan KA dari stasiun ini. Ternyata tidak. Stasiun ini hanya diperuntukkan bagi KA VIP. Tidak dengan KA “Gaya Baru Malam Selatan (GBMS)”, kereta api ekonomi khusus untuk rakyat yang murah meriah, yang hanya berhenti di stasiun Lempuyangan.

 

Stasiun Kota

 

Dari stasiun kota, kami makan malam di “Angkringan Lek Man”. Cempluk mengatakan bahwa Angkringan Lek Man ini adalah tempat makan favorit anak-anak Jpers. Aku pun diperkenalkan dengan “kopi arang”, kopi dicampur arang. Kopinya terlalu manis, dan kurasa tidak berbeda dengan kopi biasa. Mungkin karena baru sekali minum, jadi belum terasa bedanya. Cukup banyak lauk yang kami ambil, tetapi harga yang dibayar relatif murah dibandingkan makanan di emper-emper kota Palembang. Delapan ribu rupiah untuk berdua. Di sepanjang trotoar, anak-anak muda lesehan, makan-minum sembari mengotak-atik laptop dan mungkin saja mereka asyik berselancar di dunia maya dengan fasilitas hotspot gratis yang disediakan oleh Pemerintah sana. Betapa rasa aman menjadi daya tarik tersendiri di Yogya. Selanjutnya, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di trotoar Malioboro. Banyak turis mancanegara dan domestik. Kami tak membeli apapun. Selanjutnya, kami berjalan kaki hingga Stasiun Lempuyangan. Kami melewati pondok kecil para tukang ojek yang sedang bermain musik rakyat . Kreatif sekali cara mereka memanfaatkan waktu kosong sambil menunggu “giliran mengangkut” penumpang.

Sesampainya di Lempuyangan, kami duduk beralaskan lantai karena kursi sudah penuh terisi. Di dekat kami ada beberapa orang muda, yang menurutku adalah mahasiswa yang akan berlibur ke Malang. Mereka terlihat bahagia sekali dengan canda tawanya. Untuk membunuh waktu kosong, Cempluk asyik facebook-an dan chatting sekalian mencari teman-temannya yang bisa menemani perjalanan kami ke Semeru nanti. Setelah delay 1 jam, akhirnya pada pukul 22.30, kami pun langsung berdesak-desakan memasuki gerbong KA GBMS. Maklum saja karena jurusan KA ini adalah Jakarta-Surabaya, jadi setibanya di Yogyakarta, penumpang pun membludak hingga toilet dan perbatasan gerbong pun ditempati, termasuk kami berdua yang mendapatkan tempat di dekat pintu masuk. Carrier pun menjadi kursi.

Dari arah barat akan tiba KA Gaya Baru Malam Selatan menuju Surabaya di Jalur 1

Tiket yang telah “lecek”, terbawa-bawa selama perjalanan, dihantam air dalam carrier yang hampir selalu basah

 

Tgl 24 dini hari, kursi-kursi mulai kosong karena banyak penumpang yang sudah turun di stasiun-stasiun sepanjang jalan. Pukul 05.00 WIB, kami tiba di stasiun Wonokromo. Kami bersih-bersih lagi di WCnya yang bersih dan membayar dua ribu rupiah per orang. Dari sana, kami berjalan kaki menuju rumah Mas Wahyu yang entah di mana. Melewati jembatan merah, jalan-jalan lebar dan udara yang dingin serta hati yang bertanya-tanya, “Apakah daerah ini aman?”. Aku hanya mengikuti Cempluk saja. Nantinya aku pun tau bahwa jarak yang kami tempuh lumayan jauh karena teman-temanku yang lain cukup terkejut mendengar bahwa kami jalan kaki memikul carrier yang lumayan berat. Sesampainya di sana, kami ngobrol-ngobrol sebentar, lantas aku pun tertidur pulas. Kuduga, Cempluk tetap terjaga.
Agak siang, aku langsung mandi sesudah bangun dari tidur yang nyenyak. Mandi, pakai salep muka dan siap pergi. Maksudnya, pergi kemana pun juga. Tak mau menyia-nyiakan waktu. Teman-teman mereka berdatangan dan kami pun saling berkenalan. Di antara semua lelaki itu, ada Nurul yang perempuan ^^ Kami terutama aku, deg-degan karena ada kabar bahwa Semeru ditutup. Akhirnya, atas saran mereka, aku menelepon Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan menanyakan kepastian pendakian. Mereka mengatakan BISA. Senangnya hati kami. Terima kasih Gohonzon, terima kasih 🙂

Hari Ini

Hari ini, Minggu (lagi)…
Tak ada yang istimewa, kecuali bangun siang,
dilanjutkan pertemuan pemudi dan daerah.

Semua utang nilai mahasiswa sudah dibayar,
tak ada yang tertinggal lagi.
Lega dan puas.

Masih teringat jelas dan terasa sekali,
kekesalanku ketika Dosen lama mengeluarkan nilai,
apakah mahasiswaku merasakan hal yang sama?
Minta maaf ya ^^
Aku merasa mengulang hal yang kukutuk dulu.

Hanya butuh setahun untuk melupakan rasa menjadi mahasiswa,
dunia dosen terlalu nikmat untuk sejenak memikirkan para mahasiswa.
Seorang mantan dosen yang paling sering menyadarkanku berkata bahwa,
aku kehilangan idealisme seorang mahasiswa ketika duduk di bangku dosen.
Terima kasih telah mengingatkanku!

Rasa bangga terhadap mantan dosen-dosenku yang berjiwa pendidik pun mulai merasukiku lagi.
Rasa keibuan dan kebapakan yang diberikan, bimbingan dan perhatian serta semangat yang ditularkan mereka kepada kami.
Aaahhh, mampukah aku meneladani sikap mereka?