KEPOMPONG yang sekarang telah menjadi ULAT

Aku membagi proses kehidupanku dalam beberapa tahapan.
Di masa kecil, waktu lagi imut-imutnya,…. wekz…. hingga masa SMA kelas 2,
adalah masa-masa bermain, memuaskan diri terhadap masa kecil yang sangat bahagia. Prilaku nakal namun tetap sopan, rasa ingin tau dan kebebasan yang sebebas-bebasnya selama kurun waktu 17 tahun.
Ada beberapa hal yang selalu kuingat.
Pertama, papaku selalu berkata, “Wajar saja kalau anak kecil itu nakal, asal tidak kurang ajar. Artinya, dia tidak idiot!”
Wah aku suka sekali dengan kalimat tersebut. Setidaknya, aku ada kalimat pemungkas untuk pembelaan diri hahahahaha….
Kedua, karena aku terlalu nakal dan ‘tak bisa diam’, maka penyesalan terbesarku adalah mendapati diriku tidak pernah serius belajar. Makanya, di tahap kedua kehidupanku, aku mulai merombak total diriku. Melakukan revolusi manusia.

Tahap kedua, dimulai dari kesadaran akan makna dan misi kehidupan pribadiku.
Oleh karena itu, dengan memegang prinsip bahwa “Belajar adalah sebuah proses terus-menerus hingga akhir hayat”, maka aku pun mulai serius belajar.
Tahap kedua, dimulai dari tahun 2004 hingga 2008.
Sangat singkat, ya memang sangat singkat.
Namun jangan hanya melihat waktu, tapi lihatlah kualitas hidupnya,
terutama di tahun 2008.
Di rentang waktu tersebut, aku benar-benar mulai belajar bagaimana cara hidup yang benar dan menyadari bahwa hidup haruslah bernilai.

Saat ini adalah tahap ketiga, yaitu peristiwa ketika aku sudah mulai memasuki masa kerja, proses pendewasaan diri di umurku yang ke-23. Lagi-lagi aku mengikuti suara hatiku.
“Anak muda tak boleh tidak sabar”, Ikeda sensei berkata.
Maka, sembari berdoa, aku menjalani hidupku setahap demi setahap dengan memulai karir menjadi seorang dosen.
Cita-cita masa kecilku tercapai.

Dahulu,
setelah lulus dari SMP, aku ingin menjadi guru SMP.
Lulus dari SMA, ingin menjadi guru SMA,
sampai-sampai ingin kuliah FKIP jurusan Bahasa Indonesia,
karena itu adalah pelajaran kesukaanku.

Namun,
nasib berkata lain.
Aku kuliah jurusan Teknik Informatika yang benar-benar di luar dugaanku,
dan aku pun ingin menjadi seorang Dosen.
Tak bisa hanya berteori,
kita harus terjun ke lapangan jika ingin mengubah sesuatu.
Bergaul dengan para mahasiswa sangat menyenangkan.

Kutipan yang sangat bagus kudapatkan sewaktu acara seminar Jurnalistik oleh Media Indonesia bekerja sama dengan STT Musi: “Journalism is not a job, it is a way of life”
Guru pun begitu.

“Be a teacher is not a job, it is a way of life”.

Aku bertekad bahwa di tahap ketiga kehidupanku,
aku harus mengerucutkan, mengkristalkan strategi yang akan kucapai untuk menggapai misi hidupku, yaitu melalui strategi sutra bunga teratai.

Inti dari strategi sutra bunga teratai adalah DAIMOKU. Menyebut “Nam-myoho-renge-kyo”.
Setidaknya, itulah yang kuyakini.

Untuk tahapan selanjutnya, belum kupikirkan.
Yang pasti, akan ada waktu untuk menikah, mengurus anak dan suami, pensiun dini, bla..bla..bla…
Aku lebih suka memikirkan misi atau garis besarnya saja, lalu merancang strategi setahap demi setahap, sembari melihat peluang kiri dan kanan. Kesempatan tidak akan datang dua kali.

Beda pilihan beda masa depan.
Ayo, jangan salah memilih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.