Batal ke Kerinci

Kemungkinan besar, aku tak jadi menjelajahi Gunung Kerinci hikz…hikzz…hikzzzz….
Akhirnya, buat rencana baru.
Lebaran nanti, antara tanggal 18-23, aku bersama teman-teman kantor (kalau jadi) akan ke Medan atau Padang. Hanya bisa pilih salah satu. Lagi-lagi rugi deh…. rugi karena liburnya sebentar, so jalan-jalan jadi gak efektif, gak bisa sekalian hukzzzz….

Denger-denger dari teman Bandung,
akhir tahun ada Festival Gunung Puntang.
Pengen ikut………. tp ada Diksar Dempo.

Terus,
sempat dapat info kalau Yayasan Survival Indonesia mengadakan “Kartini Jungle Survival” tiap tahun. Pengen juga ikut….

Wah, banyak kemauan neh.
Harus berjuang mewujudkannya!

Jalan Pagi

Semangat memulai pagi hari dengan olahraga telah kumulai sejak hari ini.
Setiap pukul 05.30 – 06.30 dari hari Senin-Jumat, aku akan lari pagi…. uhui….
Setiap Sabtu, aku akan belajar berenang…

Motivasi awalnya adalah: KERINCI!
Secara tak sengaja, kubaca status facebooknya Thea Arabella, koordinator untuk tim Survival sewaktu acara Jambore Petualang Indonesia 3 di Ranca Upas Kemarin.
Dia menulis: “Kerinci…. Kerinci…. Kerinci……”
Aku langsung terhipnotis untuk ikut merasakan indahnya Kerinci sebagai gunung ke-2 yang akan kudaki…
Aku pasti akan banyak merepotkan mereka bila fisikku lemah dan hal tersebut harus segera diatasi.

Maka, jadilah olahraga sebagai rutinitas baruku.

Sekelumit oleh-oleh dari Jambore Petualang Indonesia III

Sedikit foto untuk mengawali narasiku:


KAWAH PUTIH, CIWIDEI




RANCA UPAS, CIWIDEI


MAPERPA, SUMEDANG

 

Ranca Upas, 8-9 Agustus 2009

Sebulan silam, aku menghadap ke Ketua STT Musi dan berkata bahwa keinginanku untuk mengikuti Jambore Petualang Indonesia sangat besar meskipun kontribusi secara langsung terhadap STT Musi tidak ada. Namun, demi pengembangan diri, aku pun nekat menghadap beliau dengan ichinen positif. Setelah kupikir-pikir, bukan hanya persoalan pengembangan diri, namun getaran, hasrat, keinginanku berpetualanglah yang mendorongku untuk mengikuti acara tersebut.

23 tahun, seringkali aku camping dan travelling ke beberapa kota di Indonesia, namun baru 1 kali “muncak” di Dempo dan 2 kali di Kaba. Makanya, setiap ada kesempatan berpetualang, akan kuambil! Dalam jiwaku, nafsu dan emosi untuk berpetualang sangat besar. Namun, seorang pekerja yang terikat waktu sangatlah sulit membagi waktu.

Kuliah, aku mengikuti banyak kegiatan outbound, aku sempat menjadi tim dan volunteer di beberapa EO dan organisasi semacam itu.
Di semester 7, aku memutuskan untuk mengambil kuliah Sastra Inggris di STBA Methodist.
Dan, tanpa disengaja, doaku terjawab. Aku bisa menjadi anggota MAPALA. Mahasiswa Pecinta Alam.
Bahagianya diriku, meski mengikuti Diksar yang sengsara, pelatihan terberat yang pernah kuterima!

Berawal dari tahun 2007 itulah, nafsu terpendam untuk berpetualang kembali bangkit dan akhirnya mengantarkan kami bertiga, dengan modal nekat, berangkat untuk mengikuti JPI di Ranca Upas, Bandung.

Tanggal 6-7 Agustus 2009,

Terima kasih Kak Budi yang telah rela mengantarkanku ke Stasiun Kertapati untuk berangkat ke Lampung bersama kedua seniorku, Mbak Ayak dan Mbak Wulan dengan Kereta Api kelas ekonomi seharga Rp. 15.000,- saja.
Terima kasih Bang Fuad yang menjadi teman ngobrol sepanjang perjalanan dan mengantarkan kami ke Mobil Travel seharga Rp. 25.000,- untuk perjalanan dari Stasiun Tanjung Karang ke Pelabuhan Bakahuni.
Namun, nasib sial membawa kedua HP seniorku di Musholla Kapal dengan karcis Rp. 10.000,-, hilang begitu saja…
Lihatlah, hanya Rp. 50.000,- yang dihabiskan untuk biaya “ngeteng” dari Palembang ke Pelabuhan Merak.
Dari Merak, kami naik Bus Arimbi VIP seharga Rp. 45.000,- ke Terminal Leuwi Panjang, Bandung.
Dari sana, barulah naik Damri seharga Rp. 5.000,- ke Terminal Ciwidei dan akhirnya, biaya terakhir yang harus dikeluarkan untuk sampai ke Ranca Upas juga sebesar Rp. 5.000,-.
Sangat murah, namun dibutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan!

Ternyata perjalanan panjang selama +/- 25 jam membuahkan hasil yang memuaskan.
Pertama, menambah pengalaman “ngeteng”, kita jadi tau ongkosnya.
Kedua, bertemu dengan beragam macam orang, mengobrol bareng dan mengetahui buah pemikirannya.
Ketiga, banyak tukang ngamen yang “kreatif”, dan masih banyak lagi.

Pemandangan alam di sepanjang perjalanan sangat berbeda dengan kota Palembang yang tak ada gunung.
Sesampainya di Ranca Upas, kami langsung konfirmasi kedatangan dan membangun kemah di Subcamp Air, No. A.4.D. Menjadi peserta pertama yang hadir di kapling air di tengah sengat matahari membuat perkenalan pertama kami dengan Pak Pay menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Selanjutnya, makan siang dengan lauk “ayam goreng, sosis, mi dan nasi”. Meski kemah, makan harus tetap bergizi dunk ^^

Perlahan-lahan Camp Air terisi oleh teman-teman dari Malang, Yogyakarta, Bandung, Makasar, dll. Lantas, tanpa mau membuang waktu, kami bertiga bersama empat teman dari Jogja berekreasi ke Kawah Putih. Ongkos Rp. 1.000,- menghantarkan kami ke pintu gerbang masuk Kawah Putih, bayaran Rp. 10.000,- untuk masuk ditambah Rp. 20.000,- untuk sewa mobil ke Kawah termasuk mahal bila dibandingkan mengendarai kendaraan sendiri. Lagi-lagi, impianku sejak tahun lalu untuk menginjak Kawah Putih tercapai. Bahagianya ^^ Aku harus minta maaf dulu dengan Ci Lenny karena mendahuluinya ke sana, padahal sudah janji mau pergi barengan hehehe…

Sepulang dari sana, lokasi perkemahan yang dibagi menjadi Subcamp Air, Tanah dan Udara sudah nyaris penuh. Namun, acara baru dimulai esok hari. Satu hal lagi yang harus kutambahkan adalah aku begitu terpesona dengan sepeda bongkar-pasang yang dibawa oleh teman dari Bandung yang tendanya tepat di depan tenda kami. Dengar-dengar, sepeda rakitannya seharga Rp. 8 juta. Lumayan juga kan?

Malam hari terasa sangat dingin. Jaketku yang sangat tebal pun tak bisa menahan hawa dingin yang sangat menusuk. Syukurlah, Mbak Wulan miminjamkanku sarung tangan. Ranca Upas dikelilingi oleh 3 gunung dan terletak di lembah, makanya atmosfer tempat itu selalu berkabut dan dingin sekali.

Satu hal yang tak terlupakan adalah perasaan saat itu. Kami benar-benar bersyukur bahwa Srikandi Flam’s-NL bisa sampai di Ranca Upas dengan selamat. Terima kasih Gohonzon, padahal selama kegiatan, tak pernah gongyo!

Keesokan harinya, aku bangun jam 6 pagi. Seharusnya, bisa lebih cepat untuk mengambil foto yang bagus sewaktu sun-rise. Jam 9 pagi, pembukaan dan dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan pilihan. Kami mengambil materi Survival. Mengasyikan! Terlalu panjang untuk diceritakan secara detail.
Malam harinya, aku pun menyaksikan hal yang menegangkan. Bertemu dengan Riyanni Djangkaru, mimpi pun tak pernah! Namun, aku benar-benar mengidolakan host legendaries Jejak Petualang TV7 tersebut! Alasan utama adalah: Koq mau-maunya cewek terjun ke dunia yang seperti ini? Yang penuh mara-bahaya dan memacu adreanalin. Dia hebat! Yang lebih hebat lagi adalah Mas Dody, produser Jejak Petualang. Aku baru mengenalnya, namun sudah jatuh hati huehehehehehe…..
Overall, malam itu sangat dingin, namun aku merasa hangat. Hal itu berarti, kita mampu mengontrol rangsangan di luar diri kita seperti rasa dingin, takut, nyeri, dll melalui pikiran! Camkan itu, penting!

Rahasiaku adalah, hingga hari ini, 3 hari sesudah acara, otakku masih penuh keinginan berpetualang dan ingin mengikuti jejak Riyanni! Bukan menjadi dirinya, tapi meniru sikapnya! Wah, alangkah hebatnya dia!
MEREKA, mereka yang hebat, tak hanya dia.
Ada Kang Bongkeng dan Kang Herry Macam, para sesepuh Wanadri. Two thumbs up buat mereka. Bravo! Mas Aji juga, ya, semuanya hebat!
Aku yakin kehebatan itu diperoleh karena mereka tekun dan kerja keras!
Tak ada yang express, semuanya process!

Dua hari berada di sana sudah cukup untuk saling mengenal satu sama lain, bertukar informasi dan menjadi dekat.

Hari Minggu, 9 Agustus 2009 dimulai dengan penanaman pohon Ekaliptus bersama Duta One Man One Tree, Mas Denny. Awalnya, kusangka “bule” hehehehe, ternyata “Indo”. Wah, keren banget dan aku pun sempet foto berdua dengannya (huek narsis mode: on). Liputan keseluruhan acara ini dapat ditoton di stasiun TV Trans 7 jam 16.00 WIB tanggal 17 Agustus 2009 dalam program Jejak Petualang. Ada fun games juga, namun kami tak mengikutnya, malah sibuk berfoto-foto dengan teman-teman di Subcamp Air. At last, acara ditutup dengan pembagian puluhan doorprice. Benar-benar banyak, namun aku tak kebagian hahaha…. Syukurlah kemarin malam, kebagian satu buah kaos dari Indonesia Bertindak…

Sekitar jam 16.00 waktu itu, acara ditutup dan kami bertiga bersama 3 mapala dari GAPURA (Univ. Baturaja) dan seorang dari VIRUS BIRU (Master Komputer) serta beberapa panitia seksi keamanan langsung bertolak ke Sumedang, kampus Winaya Mukti, MAPERPA (Mahasiswa Pertanian Pecinta Alam). Aku sempat menginap 2 malam di sana, sedangkan teman-teman yang lain lebih lama karena mereka akan mendaki Gunung Salak dan Gunung Ciremai. Ingin sekali sebenarnya pergi bersama mereka, namun aku harus bisa menahan diri. Tanggung jawab yang diemban harus dipertanggungjawabkan. Izinku hanya sampai tanggal 12, maka aku pun pulang seorang diri dengan bus Harum Sari di tanggal 11 dengan harga tiket Rp. 230.000,-. Beberapa kali naik Harum Sari, aku menyadari bahwa bus tersebut adalah bus favoritku. Maka, kurekomendasikan buat teman-teman yang akan berpergian untuk naik bus ini saja hahahaha…. (minta bagiannya dunk, om pemilik bus ^^)

Akhirnya, sekarang aku sudah ngantuk dan malas menulis lagi. Maklum, belum istirahat dengan pulas sama sekali sejak tanggal 6 silam.

Target kami, putri sriwijaya adalah: Sebelum lulus kuliah, Rinjani harus digapai!
Oleh karena itu, aku bertekad untuk belajar berenang dan menyelam dalam waktu dekat ini!

Terima kasih untuk ber-Jambore

Aku hanya memindahkan tulisan Mas Aji Rachmat, sang ketua JPI 3 yang telah dikirimkan lewat Facebook via Jejak Petualang Community:

…. persaudaraan 1100 Petualang Indonesia (peserta, panitia, narasumber, tim pendukung dan tamu undangan) kembali rekat saat beraktifitas sambil menikmati dinginnya Ranca Upas di ajang Jambore Petualang Indonesia…

Alhamdulillah acara berlangsung lancar tanpa halangan berarti…
para peserta menikmati kegiatan pilihannya, 1000 pohon telah ditanam, keakraban sangat terasa dalam beragam canda dan tawa dan permainan serta ratusan hadiah dari sponsor pun telah diperebutkan….

Semangat dan antusiasme semua partisipan sangat LUAR BIASA..
tanpa kehadiran teman teman dan keterlibatan total para peserta di acara yang kami gelar, JPI ini bukan berarti apa apa…. diskusi, tanya jawab, kesediaan membawa peralatan, dialog yang tak kunjung habis hingga saling tukar pengalaman diantara partisipan menjadi penyemangat kami sebagai panitia….

Para narasumber, intepreter dan bahkan para tamu undangan pun terlibat aktif mensukseskan acara ini….

Bakosurtanal yang juga memberi kejutan dengan mengirim tim terbangnya memantau JPI, SIOUX yang membawa “anak anak ularnya”, penulis pengelana yang mengajak menulis indahnya alam, mas Roy Genggam dengan Keluarga Cemara yang berbagi tips fotografi di alam, serta Eiger Adventure ServiceTeam yang membangun kawasan survival sebagai tempat berlatih bertahan hidup di alam.

Begitu juga teman teman Tree Climbers Organizations yang menggelar pengetahuan tanaman obat dan tim dari RIMPALA yang menemani peserta untuk intepretasi hutan, tim JP community dengan ramah mengajak para keluarga bermain main dilokasi serta tim B2W dan Polygon yang menelusuri jalur bersepeda ke situ patengang….

semua lengkap hadir dan bersemangat…
Kesempatan untuk berinteraksi tidak dilewatkan begitu saja oleh para peserta dengan narasumber yang profesional ini…

para tamu yang hadir…
Kang Heri Macan Ketua Yayasan Survival Indonesia, Kang Bongkeng – wanadri yang juga sesepuh EAST, host legendaris kita Riyanni Djangkaru, host JP Syifa Kumala serta host petualang liar Ulung Putri serta crew Jejak Petualang Trans7 meliput acara… saksikan liputan jambore petualang ini pada tanggal 17 Agustus 2009 yang akan datang pukul 16.00 di Program Jejak Petualang Trans7.

Terima kasih dan penghormatan yang tulus kami sampaikan kepada para tamu yang hadir… karena hanya itu yang bisa kami berikan…

Gak ketinggalan rombongan keluarga Indonesia Bertindak, teman teman dari WWF,Walhi, Greeners Magazine,Jakarta Green Monster, Green Map serta Greenpeace yang berbagi isu konservasi serta cinta Indonesia nya ke peserta. Kolaborasi Petualang dan kalangan konservatoris harus terus menerus di failitasi ke depan….

Kehadiran dan totalitas semua pihak terlihat akrab di ranca upas…
Kolaborasi kerja, loyalitas dan dedikasi tim panitia sangatlah solid dan tak kenal lelah… Dukungan para narasumber serta tim support sangatlah besar untuk berbagi pengetahuan dengan peserta….

Salam Khusus Kepada para panitia inti JPI…..

Salute buat semua lini panitia…
Teman teman telah bekerja dengan sangat baik….
Meski sibuk bekerja profesional di kantor masing masing,teman teman bisa mengatur irama kerja yang selaras dengan pelaksanaan jambore..

Meski tim panitia ini berasal dari beragam komunitas, satuan dan latar belakang, tapi terlihat tak ada sekat struktur yang tampak.
Semua mengerjakan yang harus dikerjakan dan yang perlu dikerjakan.
Semua mengambil andil untuk berperan maksimal.
Semua menjadi satu demi menyelesaikan yang sudah kita mulai bersama…..

Menjadi panitia adalah proses pembelajaran….
Komunikasi, koordinasi, benturan, beda pendapat bahkan rasa sakit hati, dihargai dan tidak dihargai adalah tahapan yang wajib dilalui…
Terima kasih untuk tetap komit pada tujuan kita….
tetap loyal pada pimpinan dan pada pekerjaan masing masing…

Teman teman panitia…
3 bulan lebih kita berkolaborasi menggelar event ini…
3 bulan lebih kita saling menutup kekurangan dan membangun sistem..
dan terbukti, formasi Panitia JPI ini sangatlah hebat ..
tim eksekutor yang paling solid yang pernah ku ajak kerjasama..

Atas nama diri pribadi selaku ketua panitia, Aji mengucapkan beribu permohonan maaf karena selama persiapan pastilah banyak melakukan kekhilafan, salah kata, salah sikap dan salah perlakuan yang kurang berkenan di hati teman teman…

Terima kasih..
semoga pengalaman ini berguna bagi kita semua dan memberikan bekal berharga untuk menghadapi dunia profesional.. amin.

Kepada para narasumber, intepreter, tamu undangan, Eiger Adventure dan semua sponsor, tim pers dan media, moderator beragam milist, pimpinan LSM dan semua pihak yang tak bisa kami sebutkan satu persatu… Terima Kasih..

Dedikasi dan dukungan semua pihak untuk Jambore kali ini menyuntikkan semangat kerja panitia dan mampu menghadirkan serta memuaskan para peserta. kolaborasi ini mungkin yang pertama kita lkukan, tapi berharap bukan jadi yang terakhir…

Maaf jika ada banyak khilaf..
saran dan masukan selalu kami tunggu dengan hati terbuka… 🙂

Kepada para peserta, para Petualang Indonesia….
Salam Hangat… salam Jambore….

Terima kasih telah memenuhi undangan kami….
Maaf jika kurang dapat memberikan pelayanan yang baik selama JPI, karena kesibukan panitia dalam menyelenggarakan kegiatan jadi kurang dapat meluangkan waktu untuk bercanda tawa di perkemahan kemarin..

Terima Kasih teman…
terima kasih karena telah menjadikan JPI ini pilihan kegiatan teman teman akhir minggu kemarin. Terima kasih telah berbagi dana, menyumbangkan tenaga, menyisihkan waktu dan kreatifitas untuk berkumpul bersama di jambore..

Terima kasih telah menjadi saudara baru kami.. keluarga besar jejak petualang community… kami tak kan lupa… 😉

Alhamdulilllah….
misi umum JPI tercapai…
JPI telah mendatangkan jpers (jejak petualang ers) se Indonesia…
JPI mempertemukan tokoh petualang senior dan petualang muda…
dan JPI telah membangun komitmen untuk berjiwa petualang yang bersemangat konservasi sembari mencintai Indonesia…..

JPI memang sudah berakhir….
tapi perjuangan belum selesai….
belum genap upaya kita untuk menjaga silaturahmi…
belum pupus upaya kita untuk bersemangat dalam berpetualang…

Semoga ini menjadi tolak awal hubungan yang lebih harmonis antar komunitas, kelompok pegiat alam, jajaran lembaga swadaya serta kalangan konservatoris ke depan….

Jika ada kebaikan dalam jambore kemarin, itu hanya karena turunnya Ridho dan Rahmat Allah SWT yang memberikan kemudahan, kelancaran, kelebihan dan kenikmatan yang Wajib kita syukuri… ..

Jika ada kekhilafan, itu adalah kekurangan panitia yang wajib untuk diberi pendapat, ide, saran, kritik dan masukan yang bisa di kirim ke email : jamborepetualang@gmail.com

. kami tunggu dan berharap ini menjadi mesukan agar kegiatan ke depan lebih baik…

Saudaraku….
Sampai kita jumpa lagi di lereng gunung yang anggun….
Sampai kita jumpa di hutan yang perkasa..
sampai jumpa di dasar gua yang indah dan megah..
sampai jumpa lagi di tepi pantai dandasar lautan yang luas
dan sampai jumpa lagi di jambore petualang yang akan datang…

Demi persaudaraan kita dan demi kejayaan Indonesia…
Amin….

Rasa terima kasih tersampaikan dengan haru dari lubuk hati yang paling dalam….

Ketua Panitia

Aji Rachmat
www.ajirachmat.multiply.com

Ranca Upas,…. sebentar lagi aku akan datang…!

Sedikit kutipan dari inbox message Facebook ku untuk menggambarkan kegiatan Jambore Jejak Petualang hari Sabtu-Minggu nanti :

“NOL DERAJAT” DI JAMBORE PETUALANG INDONESIA

JAMBORE PETUALANG INDONESIA
Ranca Upas, Bandung Selatan, 8 – 9 Agustus 2009
http://jambore.jejakpetualang.org

Salam Petualang Indonesia
Segenap panitia menghaturkan terima kasih buat temen temen yang sudah menyelesaikan pendaftaran peserta Jambore Petualang Indonesia melalui proses administrasi yang cukup panjang dan melelahkan kemarin… kami tunggu teman teman di Ranca Upas… 🙂

So… Apakah sekarang Pendaftaran JPI udah ditutup ?
Belum kok.. Jangan kuatir… Pendaftaran peserta JPI masih dibuka..
Kapling tapak kemah kita tersisa sekitar 50 titik lagi yang masih kosong nih…

Pendaftaran langsung di toko toko outdoor mitra JPI akan kami tutup tanggal 5 Agustus, jadi langsung aja menuju ke http://jambore.jejakpetualang.org aja….

Buat yang udah kirim formulir tapi belum menyelesaikan pembayaran harap segera transfer fee kalian ke rekening panitia yang sudah ditetapkan….

Buat yang udah transfer dan udah melakukan konfirmasi, jangan khawatir… itu sudah pasti masuk database kita kok. Simpan aja struk/bukti transfernya dan bawa saat daftar ulang di hari pelaksanaan. Data base kita akan membantu mengarahkan kapling mana jatah temen temen tinggal di Ranca Upas nantinya.. 🙂

dan.. buat temen temen yang akan melakukan pendaftaran langsung di lokasi, harap tetap mengirimkan data peserta terlebih dahulu ke email info@jejakpetualang.org atau melalui sms ke 0813 8020 8334 agar kita punya data rekap awal…. ditunggu ya.. 🙂

“Nol Derajat !”
Pengen merasakan serunya sensasi alam yang mendekati suhu “Nol derajat” ?

Bumi perkemahan Ranca Upas yang dulunya berupa rawa (ranca) adalah kawasan Perhutani di ketinggian sekitar 1740 mdpl. Suhu bisa sangat dingin dan bahkan bisa tembus dibawah Nol Derajat dipagi hari, berangin dan berkabut tebal di saat saat tertentu. Jangan kaget kalau nemuin bunga es muncul di atap tenda dome kita ntar…

seru kan ? bakal jadi pengalaman yang mengasyikkan kalau kita udah siap berkawan dengan dingin dari sekarang… 🙂 So… selain peralatan perkemahan yang memadai, properti standard pribadi yang kudu temen temen siapin antara lain :

1. Pakaian ganti
2. Jaket tebal dan hangat
3. Balaklava/tutup telinga
4. Sleeping Bag
5. Matras dan alas tidur
6. Kaos kaki tebal
7. Sarung tangan tebal
8. Lipgloss
9. Sunblok
10. Obat obatan khusus (jika ada)
11. Serta peralatan pribadi lain….

Murah !
Cuman bayar 300ribu per tim (3 orang/tim), dapet T- Shirt keren dari EIGER, gelang, id card, welcome drink saat daftar ulang, bibit pohon dan souvenir tambahan lain dari sponsor plus juga kesempatan dapetin ratusan doorprice dan hadiah fun games tersedia di depan mata… 🙂

Full Doorprice !!….
Ratusan doorprice dari sponsor dan mitra jambore akan bertaburan untuk para peserta dan partisipan….sebut saja.. Helm sepeda, helm motor, T Shirt, tas, jaket, blocknote, stiker, pin, botol minum, gantungan kunci, daypack, gelas mug, kartu perdana, sandal gunung, dan bahkan ada handphone plus kamera digital akan jadi “rebutan” kalian yang aktif dan berusaha keras menunjukkan kehebohan petualangnya…. 🙂

Ada gelaran fun games peringatan 17 Agustus an juga ntar lho……
Fun games yang bernuansa ala kampung ini bakal memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI di JPI hari kedua….
and tau kah Anda ? semua hadiah lomba di fun games akan di support penuh dari EIGER ADVENTURE yang so pasti keren habis… fun games terbuka buat semua partisipan dan narasumber tuh…

Heboh dan Seru kan ? gak akan rugi ikut JPI pokoknya …. 🙂
yang rugi yaaa… yang gak pada ikutan… – seneng bikin iri lagi hehehe… 😀

by the way……
“Mengembangkan Jiwa petualang yang bersemangat konservasi” adalah misi utama pelaksanaan Jambore Petualang kali ini…

Selain penghijauan 1000 pohon yang didampingi para Duta OMOT – One Man One Tree – atas suport dari Dephut RI, di area Ranca Upas besok JPI juga menggelar aktifitas kampanye bersama WWF untuk “menghijaukan pepohonan”dan “membirukan lautan” Indonesia dalam bentuk pembubuhan cap jempol kanan dan cap jempol kiri di Panel “Monumen Tanah Airku”.

Panel ini akan digelar dalam kawasan Global Development Village Jambore Petualang Indonesia yang bernuansa konservasi… tentang Monumen tanah Airku, ada artikel singkat yang bisa di klik di sini..

Gak hanya itu, kita juga memberikan kesempatan buat para peserta JPI untuk aksi mendukung program pelestarian alamnya WWF dengan donasi Rp 5.000,00 per orang secara sukarela yang dalam bentuk pembelian stiker panda besar – WWF. Siapin juga uang donasinya ya.. 🙂

Untuk berlaku konservasi, Panitia JPI berniat mengurangi penggunaan plastik selama pelaksanaan kegiatan…. Setidaknya, kantong plastik yang biasa kita pake packing dan wadah barang barang selama berpetualang akan kita kurangi jumlahnya buat mendukung kampanye “Petualang TANPA Plastik” nya JPI…
Para peserta mau ikutan nyoba ? Monggo… 🙂

Jangan lupa !
Siapin spidol, kaos oblong dan kamera kalian ya….

Siap siap tuk berburu tanda tangan dan foto bareng artis petualang cause para Duta OMOT yang keren keren, Syifa Kumala, Ulung Putri, Septi dan Riyanni Djangkaru akan menemani kita ber jambore besok…. gak ketinggalan juga para tokoh senior petualang yang super sibuk bisa meluangkan waktu untuk hadir menularkan semangat mereka…

Dan satu tim Program Jejak Petualang akan meliput JPI untuk keperluan episode tayangan reguler … beberapa stasiun TV Swasta juga udah konfirm hadir buat menayangkan aktifitas para peserta selama di JPI dalam program beritanya… kalangan pers media cetak, online dan radio pun akan meliput sepak terjang temen temen di JPI…
heboh kan ? 😀

Satu lagi.. Insya Allah, jika tidak ada halangan pada Tanggal 4 Agustus Panitia JPI akan mengadakan Pers Konference yang difasilitasi Departemen Kehutanan RI. Nantikan berita – berita terbaru dari Panitia menjelang pelaksanaan kegiatan di TV, Radio dan majalah, tabloid, koran serta media online kesayangan kalian… 🙂

sebelum JPI dimulai, ada yang mau beli oleh oleh ?
Merchandising JPI juga udah bisa dipesan dari sekarang tuh…..
Pesan sekarang, kuatir kehabisan ntar…. tapi kalau pun udah habis jangan kuatir juga, kita bisa terima orderan lagi.. tapi dikirim setelah jambore kelar ya..

Katalog Merchandise JPI bisa dilihat langsung di http://jambore.jejakpetualang.org/index.php/jambore/katalog-mechandise-1.html

Kepada semua pihak….
Panitia menyampaikan permohonan maaf sebesarnya jika ada khilaf dalam mempublikasi ulang materi tentang JPI ini di beragam jaringan komunitas on line secara simultan… Panitia juga menghaturkan terima kasih kepada semua pihak atas perhatian dan perkenannya mendukung pelaksanaan JPI 2009 ini…

Mohon doa dan restu, semoga gelaran event petualang tahun ini dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan. Amin….

Sampai Jumpa di Ranca Upas kawan…

Salam Petualang Indonesia..
Panitia Jambore Petualang Indonesia

KEPOMPONG yang sekarang telah menjadi ULAT

Aku membagi proses kehidupanku dalam beberapa tahapan.
Di masa kecil, waktu lagi imut-imutnya,…. wekz…. hingga masa SMA kelas 2,
adalah masa-masa bermain, memuaskan diri terhadap masa kecil yang sangat bahagia. Prilaku nakal namun tetap sopan, rasa ingin tau dan kebebasan yang sebebas-bebasnya selama kurun waktu 17 tahun.
Ada beberapa hal yang selalu kuingat.
Pertama, papaku selalu berkata, “Wajar saja kalau anak kecil itu nakal, asal tidak kurang ajar. Artinya, dia tidak idiot!”
Wah aku suka sekali dengan kalimat tersebut. Setidaknya, aku ada kalimat pemungkas untuk pembelaan diri hahahahaha….
Kedua, karena aku terlalu nakal dan ‘tak bisa diam’, maka penyesalan terbesarku adalah mendapati diriku tidak pernah serius belajar. Makanya, di tahap kedua kehidupanku, aku mulai merombak total diriku. Melakukan revolusi manusia.

Tahap kedua, dimulai dari kesadaran akan makna dan misi kehidupan pribadiku.
Oleh karena itu, dengan memegang prinsip bahwa “Belajar adalah sebuah proses terus-menerus hingga akhir hayat”, maka aku pun mulai serius belajar.
Tahap kedua, dimulai dari tahun 2004 hingga 2008.
Sangat singkat, ya memang sangat singkat.
Namun jangan hanya melihat waktu, tapi lihatlah kualitas hidupnya,
terutama di tahun 2008.
Di rentang waktu tersebut, aku benar-benar mulai belajar bagaimana cara hidup yang benar dan menyadari bahwa hidup haruslah bernilai.

Saat ini adalah tahap ketiga, yaitu peristiwa ketika aku sudah mulai memasuki masa kerja, proses pendewasaan diri di umurku yang ke-23. Lagi-lagi aku mengikuti suara hatiku.
“Anak muda tak boleh tidak sabar”, Ikeda sensei berkata.
Maka, sembari berdoa, aku menjalani hidupku setahap demi setahap dengan memulai karir menjadi seorang dosen.
Cita-cita masa kecilku tercapai.

Dahulu,
setelah lulus dari SMP, aku ingin menjadi guru SMP.
Lulus dari SMA, ingin menjadi guru SMA,
sampai-sampai ingin kuliah FKIP jurusan Bahasa Indonesia,
karena itu adalah pelajaran kesukaanku.

Namun,
nasib berkata lain.
Aku kuliah jurusan Teknik Informatika yang benar-benar di luar dugaanku,
dan aku pun ingin menjadi seorang Dosen.
Tak bisa hanya berteori,
kita harus terjun ke lapangan jika ingin mengubah sesuatu.
Bergaul dengan para mahasiswa sangat menyenangkan.

Kutipan yang sangat bagus kudapatkan sewaktu acara seminar Jurnalistik oleh Media Indonesia bekerja sama dengan STT Musi: “Journalism is not a job, it is a way of life”
Guru pun begitu.

“Be a teacher is not a job, it is a way of life”.

Aku bertekad bahwa di tahap ketiga kehidupanku,
aku harus mengerucutkan, mengkristalkan strategi yang akan kucapai untuk menggapai misi hidupku, yaitu melalui strategi sutra bunga teratai.

Inti dari strategi sutra bunga teratai adalah DAIMOKU. Menyebut “Nam-myoho-renge-kyo”.
Setidaknya, itulah yang kuyakini.

Untuk tahapan selanjutnya, belum kupikirkan.
Yang pasti, akan ada waktu untuk menikah, mengurus anak dan suami, pensiun dini, bla..bla..bla…
Aku lebih suka memikirkan misi atau garis besarnya saja, lalu merancang strategi setahap demi setahap, sembari melihat peluang kiri dan kanan. Kesempatan tidak akan datang dua kali.

Beda pilihan beda masa depan.
Ayo, jangan salah memilih!