Membodohi Tuhan-mu

Hal lucu yang pernah dilontarkan seorang dosenku di kelas adalah tentang Membodohi Tuhan-mu. Beliau pernah membahas tentang Sholat-Belajar dan Berdoa minta nilai bagus.

Pertama,
kuliah malam yang hanya 90 menit untuk 2 sks sebenarnya tidak layak untuk menyandang gelar S1.

Inilah gambarannya:
Jam pertama dimulai dari jam 16.30,
tetapi realisasinya, perkuliahan dimulai dari jam 17.00-18.00.
Lantas jam kedua dimulai pukul 18.30-19.30,
telah dipotong waktu sholat, 30-45 menit.
Jam ketiga mulai dari jam 19.30 sampai dosennya merasa cukup,
biasanya jam 20.30 pun sudah pulang.
Tetapi ada segelintir dosen yang benar-benar tepat waktu dan disiplin.
Untungnya, 5 dari 10 dosenku orang-orang baik hahahahaha

Dosenku berkata:
SHOLAT MAGHRIB dan BELAJAR sama pentingnya.
Belajar juga ibadah.
Yang menjadi masalah, perjalanan mahasiswa ke Masjid lebih lama daripada
waktu sholat sendiri sehingga akhirnya menjadi tidak efisien.

Kalau kau bodoh, kau akan lebih banyak berbuat dosa.
Aku sempat shock waktu mendengar kata-kata ini.
Ada yang setuju?
Apakah ada korelasinya?

Kedua,
kebanyakan mahasiswa kuliah hanya mencari nilai saja.
Padahal kalau mencari ilmu, nilai pasti akan mengikuti,
seperti kau menimbang.
Angka di timbangan akan mengikuti berat barang yang kau timbang, is that right?
Semester sisipan pun dijadikan ajang perbaikan nilai,
bukan perbaikan kemampuan.

Nilai kecil, lalu kau berdoa mati-matian supaya dapat besar.
Sama saja kau menyuruh Tuhan-mu berbohong, menipu,
kau suruh Tuhan-mu merubah nilaimu,
kau sogok Tuhan-mu!
sama seperti dosen-dosen murahan yang kerjanya makan sogokan.

Ngomong-ngomong,
Aku menganggap nilai-nilaiku didapat dari hasil doa juga 🙂
Yang paling kuingat adalah kuliah ‘Komunikasi Data’ di STT.
Soal ujian yang keluar sama persis dengan materi yang telah kupelajari semalaman.
Sepertinya tak masuk akal, tapi nilaiku 100.
Aku bukanlah orang yang rajin menghapal sama persis dengan buku,
namun lebih senang meng-improvisasi sendiri dengan bahasaku sendiri.
Yang penting, jawaban kita tepat sasaran…

hahahaha hidup…hidup…hidup…
1000 orang 1000 sifat.
Dosenku yang satu ini adalah seorang pemikir.
Semua hal harus dipikirkan.
Beliau mengajarkan bahwa kita harus dapat mempertanggungjawabkan semua perkataan kita.
Tak boleh ada satu kata pun yang tak kita mengerti dalam ucapan kita.
“Jangan seperti beo”, ujarnya.

Terus terang,
sudah menulis panjang-lebar,…
tapi aku merasa gak nyambung antara judul dengan isinya… :p
Anda juga berpikir begitu kan?
Ayo..ngaku..ngaku…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.