Kuliah saja

Ehm… hari ini,
kuliah ‘Introduction of English Literature’,
setelah itu, langsung ke SD Methodist 1, ada sesuatu yang harus diselesaikan.
Jam 15.00, gladi-bersih Pelantikan Pengurus Senat Periode 2008-2009 di STT Musi.
Lagi-lagi menjadi MC.
Koq bisa sama ya? Singkatan namaku kan juga MC.
Sama dengan ‘Master of Ceremony’, hehehehe…

Sejujurnya, aku cukup sedih juga,
dimana-mana yang namanya kaderisasi di zaman sekarang cukup sulit!

Lalu, sorenya kuliah lagi, Structure dan Pronounciation.
Dosen Pronounciation kami cukup tua, sekitar 70an,
jadi kalau kuliah,
aku selalu duduk tepat dihadapannya,
karena suaranya kecillll sekali….
sehingga seringkali terdengar ucapan: ‘Pardon, sir… Pardon???? excuse me, sir,….’
hahahaha kami sekelas berpikir,
ada baiknya kalau bapak itu mengurus cucu saja di rumah 🙂
…..hahahaha lagi-lagi buat karma mulut ni….
bercanda pak, bercanda!

Besok sore akan bimbingan bab I dengan Pak Hendra.
Selasa kemarin batal karena kuliah Filsafat sampai jam 11.00,
sehingga tak sempat lagi.
Sudah berhenti kerja part-time,
ehhh ternyata masih susah juga bagi waktu.
Sekali ini, benar-benar harus ditekadkan!
Stop aktivitas panjat-panjatan dan organ-organisasian.
Fokus…fokus!!!
Harus wisuda tahun ini. Harus!

Membodohi Tuhan-mu

Hal lucu yang pernah dilontarkan seorang dosenku di kelas adalah tentang Membodohi Tuhan-mu. Beliau pernah membahas tentang Sholat-Belajar dan Berdoa minta nilai bagus.

Pertama,
kuliah malam yang hanya 90 menit untuk 2 sks sebenarnya tidak layak untuk menyandang gelar S1.

Inilah gambarannya:
Jam pertama dimulai dari jam 16.30,
tetapi realisasinya, perkuliahan dimulai dari jam 17.00-18.00.
Lantas jam kedua dimulai pukul 18.30-19.30,
telah dipotong waktu sholat, 30-45 menit.
Jam ketiga mulai dari jam 19.30 sampai dosennya merasa cukup,
biasanya jam 20.30 pun sudah pulang.
Tetapi ada segelintir dosen yang benar-benar tepat waktu dan disiplin.
Untungnya, 5 dari 10 dosenku orang-orang baik hahahahaha

Dosenku berkata:
SHOLAT MAGHRIB dan BELAJAR sama pentingnya.
Belajar juga ibadah.
Yang menjadi masalah, perjalanan mahasiswa ke Masjid lebih lama daripada
waktu sholat sendiri sehingga akhirnya menjadi tidak efisien.

Kalau kau bodoh, kau akan lebih banyak berbuat dosa.
Aku sempat shock waktu mendengar kata-kata ini.
Ada yang setuju?
Apakah ada korelasinya?

Kedua,
kebanyakan mahasiswa kuliah hanya mencari nilai saja.
Padahal kalau mencari ilmu, nilai pasti akan mengikuti,
seperti kau menimbang.
Angka di timbangan akan mengikuti berat barang yang kau timbang, is that right?
Semester sisipan pun dijadikan ajang perbaikan nilai,
bukan perbaikan kemampuan.

Nilai kecil, lalu kau berdoa mati-matian supaya dapat besar.
Sama saja kau menyuruh Tuhan-mu berbohong, menipu,
kau suruh Tuhan-mu merubah nilaimu,
kau sogok Tuhan-mu!
sama seperti dosen-dosen murahan yang kerjanya makan sogokan.

Ngomong-ngomong,
Aku menganggap nilai-nilaiku didapat dari hasil doa juga 🙂
Yang paling kuingat adalah kuliah ‘Komunikasi Data’ di STT.
Soal ujian yang keluar sama persis dengan materi yang telah kupelajari semalaman.
Sepertinya tak masuk akal, tapi nilaiku 100.
Aku bukanlah orang yang rajin menghapal sama persis dengan buku,
namun lebih senang meng-improvisasi sendiri dengan bahasaku sendiri.
Yang penting, jawaban kita tepat sasaran…

hahahaha hidup…hidup…hidup…
1000 orang 1000 sifat.
Dosenku yang satu ini adalah seorang pemikir.
Semua hal harus dipikirkan.
Beliau mengajarkan bahwa kita harus dapat mempertanggungjawabkan semua perkataan kita.
Tak boleh ada satu kata pun yang tak kita mengerti dalam ucapan kita.
“Jangan seperti beo”, ujarnya.

Terus terang,
sudah menulis panjang-lebar,…
tapi aku merasa gak nyambung antara judul dengan isinya… :p
Anda juga berpikir begitu kan?
Ayo..ngaku..ngaku…..

Rapat, mading, dompet

Hari yang indah dan penuh kesibukan 🙂
Kadang kubertanya dalam hati,
apa semua kesibukan itu benar-benar berguna untuk perkembangan hidupku?
Teman2ku menganggapku adalah tipe orang yang susah menolak jika dimintai tolong.
Sepertinya, benar!
Tulus atau pun tak tulus!
Pasti kutolong!
hehehe, tenang saja! Kebanyakan tulus koq 🙂
Hal inilah yang mengakibatkanku seringkali kerja bakti di sana-sini.

Sudah umur 22 tahun, mau jadi apa aku ke depannya nanti?
ke depan? umur segitu saja sudah jauh ke depan,
depan yang mana lagi?

Mengawali pagi hari dengan kuliah TPMI (Teori Pranata Masyarakat Inggris) dan SPM (Sejarah Peradaban Modern) hingga pukul 11.30, lalu pulang untuk makan siang.
Jam 13.00 Rapat Mapala di STBA, namun sebelumnya ke STT Musi dahulu.
Ternyata mb Narni lupa mematikan rice cooker nya…
wah…wah..wah. untung saja tak terjadi apa-apa.
Aku jadi ikut deg-degan pula,
apalagi kemarin si Tata pakai acara menghilang pula,
padahal aku sudah berpikir yang negatif-negatif tentang Tata,
ehh… ternyata bokapnya salah baca sms.

Setelah mengantarnya kembali ke Musi,
aku langsung mengikuti rapat di STBA dengan membolos rapat persiapan Outbound KMBP.
Toh akhirnya aku juga bertanya agenda rapat yang telah dibahas 🙂

Selanjutnya, pukul 14.30, kembali ke STT, bersama dengan adik2 tingkat membuat Mading ‘Musi English Club’ dengan tema ‘Success People’.
Sudah dikerjakan hingga pukul 16.30,
masih belum selesai 😦

—Rapat Mapala Flam’s-NL—
Seperti biasa, kampus sunyi…
yang tertinggal hanyalah anak2 Mapala.
Agenda rapat bulanan:
1. No Anggota Penuh Angkatan ke-12
2. Resufle susunan kepengurusan
3. Peralatan
4. Kas

Gile,…
Akhirnya baru dapat nomor anggota, setelah sekian lama…
Nomorku: FL.A12.07.08.062.86
Terima kasih 🙂
Sekarang sudah lengkap, syal dan nomor anggota.
Yang kurang, baju lapangan doang 🙂


syal Flam’s-NL

Untuk agenda ke-2,
karena sudah menjadi anggota penuh,
aku pun berkenan untuk menggantikan Mbak Wulan,
sebagai Ketua Biro Humas karena beliau baru saja wisuda 🙂

—Buat Mading—

ehm… sudah bela-belain kuliah Sastra Inggris,..
tapi masih pas-pasan kemampuannya hahaha :p
Setidaknya, ada kemajuanlah,
meskipun lambat.. ‘beguyur’
Beguyur artinya terus maju setahap demi setahap, tanpa berhenti, seperti air yang mengalir.

Sepulang dari Sodaikai,
aku ke Gramedia,
lihat-lihat doang, siapa tau ada buku yang bagus.
Ya… bukan mau dibeli, tapi dicatat di HP judul atau nama pengarangnya,
trus tanya dengan Om Google,
siapa tau bisa diberikannya cuma-cuma, kan lumayan…

Lalu, sekilas mataku tertuju ke dompet diskon 50%
hahaha kebetulan memang mau beli dompet,
jadi kubeli saja satu, Rp. 16.000,- doang.


Dompet baru

Lumayan kan?

Zaimu, berbohong, waltzing matilda

Zaimu dengan uang hasil perjudian,
tidak diperbolehkan dalam Soka Gakkai.
Hal itu hanyalah menambah karma buruk saja.

Berbohong demi kebaikan,
apapun alasannya juga membuat karma buruk.

Akhirnya,
aku mendapat kepastian jawaban.

Semester lalu, sewaktu kami berdiskusi dalam mata kuliah ‘Fenomenologi Agama’,
temanku, seorang muslim mengatakan bahwa:
dalam Islam, diperkenankan berbohong untuk 3 alasan tanpa berdosa.
Namun Budhisme, sama dengan Kristen, tidak diperkenankan sama sekali.

Hari ini, aku mampir ke Perpustakaan Musi karena sudah hampir seminggu tak ke sana.
Meskipun hanya bekerja selama 1 bulan,
tapi banyak sekali hal-hal positif yang bisa kudapatkan dari sana.
Sudah baca buku gratis, diupah pula 🙂

Lantas, seperti biasa,
dalam seminggu, aku pasti bertandang ke rumah mb Narni.
Hari ini, terlalu lama di sana,
sehingga akhirnya hanya sempat mengikuti 10 menit kuliah Psikologi,
tanpa diabsen.
Kuliah jam ke-3, Vocabulary pun tak kuliah,
karena dosennya, Pak Iwan sedang sibuk mempersiapkan seminar esok hari.
Sukses ya, Pak.
Pola pikir beliau juga menarik.
Beliau adalah salah satu guru berpotensi lainnya yang kukenal.

Ini adalah video dari lagu ‘Waltzing Matilda‘,
yang akan dinyanyikan untuk Ice Breaking, esok hari oleh Pak Iwan:

 

Be Your Self!

Untuk sahabatku:

Kita adalah diri kita.  Hidup kita adalah milik kita. Adalah penting bagi kita untuk membuang jalan kebinatangan yang pengecut, yakni sikap dimana kita selalu mengkhawatirkan apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain atau bagaimana kita tampak bagi orang lain. Dan sebaliknya, kita harus menjalankan hidup dengan keyakinan dan kepercayaan diri. (Daisaku Ikeda)

Tahun lalu,
sewaktu aku membantu Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang,
dalam kegiatan Latihan Kepemimpinan di Belitang-OKU Timur,
di akhir acara aku menyampaikan kata-kata tersebut.

Terus terang,
kata-kata tersebut sangat menyentuh di hati terdalamku
sejak seniorku mengirimkannya lewat email hingga sekarang.

Yang terpenting adalah,
tak hanya mengagumi, namun menerapkannya dalam keseharian hidup kita!
Intinya hanya satu: “Be Your Self!”.

Kunjungan anggota, tugas jiwa, berita duka

Terima kasih Gohonzon,
Yang Arya Bikhu Watanabe dan Pak Pontoh tiba di Palembang,
tadi siang pukul 12.30.

—KUNJUNGAN ANGGOTA—

Beberapa tahun lalu, kami biasa kunjungan anggota 3 mobil.
Semobil isinya Bikhu, penerjemah, 2 ibu dan seorang bapak yang menyopir,
Semobil isinya rombongan Bapak-Ibu,
Semobil lagi isinya rombongan Generasi Muda.
Ramailah sudah…
Itulah Palembang.
Kalau tak ramai, tak asik.
Makan tak makan, tetap kumpul.

Waktu itu masih banyak GM yang masih sekolah dan belum bekerja mantap,
tapi sekarang semuanya sudah menjadi sangat sibuk.
Alhasil, sekarang tak satu pun GM yang ikut kunjungan anggota.
Satu sisi, aku bersyukur bahwa semua telah mendapat pekerjaan yang baik!
Sisi lain, aku menyayangkan bahwa tak banyak yang menomorsatukan tugas jiwa.
Toda Sensei berani mengatakan bahwa, “Shinjin adalah badan, bisnis adalah bayangan!”
Apakah kita sudah berani membuat pernyataan seperti itu juga?

Uang itu selalu ada dan terus berputar dalam setiap bisnis dan berbagai hal. Apabila shinjin kita kuat & berjuang dengan sungguh-sungguh untuk kosenrufu, kita dengan sendirinya masuk ke dalam perputaran uang tersebut.

Sekarang…
Jangankan tiga mobil anggota,
kadang-kadang malah sewa.
Apakah ini menandakan kemunduran?
Kukira tidak!
Tak bisa kita menilai hal kompleks itu hanya dari satu sisi,
bagaikan orang buta yang memegang gajah!

Seniorku pernah menyampaikan kata2 ibu Kaneko,
“Tidak menang tidak apa, tapi tidak kalah”.
Ada yang sudah mengerti maksudnya?

Hal yang harus dibenahi adalah,
meningkatkan niat dan keberanian dari anggota
untuk melaksanakan shakubuku sendiri,
tanpa perlu beramai-ramai menunggu instruksi sang pemimpin!
Harus berani untuk berdiri seorang diri!

BERDIRI SEORANG DIRI tidaklah sama dengan BERDIKARI!

—TUGAS JIWA—

Aku paling mengagumi anggota Soka Gakkai.
Selain berjuang untuk kebahagiaan diri sendiri,
mereka juga berjuang untuk kebahagiaan orang lain,
karena mereka menganggap kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaannya,
dan penderitaan orang lain adalah penderitaannya.
Mereka yang menyadari hal tersebut sebagai tugas jiwa,
memang benar-benar berjuang sekuat tenaga!
benar-benar…
benar-benar…
Itulah para “Bodhisatva yang Muncul dari Bumi”.

—PERTANYAAN—

Karena besok Bikhu akan kembali ke Jakarta dan aku tak memiliki banyak waktu untuk mengajukan pertanyaan, maka kuminta tolong kepada Bapak ku untuk bertanya kepada beliau. Pertanyaannya, adalah:

  1. Budhisme, agama atau filosofi
  2. Zaimu dengan uang judi
  3. Pengaruh terkabulnya doa dengan persembahan altar
  4. Berbohong untuk kebaikan

Aku harus selalu belajar.
Di masyarakat, belajar untuk pengetahuan kita.
Di Budhisme, belajar untuk memperkuat jiwa kita.
Toda sensei mengatakan: “Belajar seperti tulang punggung kita,
yang bisa membuat kita berjalan dan memandang ke depan.”

Mari kita belajar dan mempraktekkan pelajaran kita!

—BERITA DUKA—

Telah meninggal seorang Bapak, yang dikenal sebagai BHS.
Dulunya anggota NSI dan tak aktif lagi bertahun-tahun
hingga menemukan Soka Gakkai dan aktif selama +/- 1 tahun,
lantas 2 tahun terakhir ini tiada kabar lagi.
Terakhir, diketahui Pak B kembali ke Panti Sosial,
menjalani hidup seperti yang
dilakukannya sebelum mengenal Soka Gakkai.
Meninggal dengan sedikit tragis. Menyedihkan!

Cerita berawal di tahun 80an, ketika Pak B dan Pak CH,
ber-bonceng-an motor dan terjatuh.
Karena terkena karat yang tak lantas diobati dan tetanus,
kaki Pak CH pun harus diamputasi.
Dan tahun 90an, meninggal karena dibunuh oleh pembunuh bayaran
yang disewa oleh istrinya sendiri.
Sewaktu aku berkunjung ke Penjara Pakjo,
aku bertemu istrinya namun kami tak saling kenal.

Pak B pun menjadi sakit,
sehingga akhirnya tinggal di Panti Sosial selama bertahun-tahun,
tanpa masa depan yang jelas, tanpa ada yang memperdulikan dia.

Aku mengenal keduanya, meskipun hanya sekilas.
Keduanya baik dan pernah berkesan di hatiku.
Namun, keduanya memiliki nasib yang sama.

Menyesal bahwa malam ini aku tak sempat melayat karena ketidaktahuanku.
Dan, akhirnya aku hanya bisa bertekad untuk mengirim doa.
Berdoa agar keduanya memiliki jodoh yang kuat terhadap Budhisme ini
di kehidupan mendatang dan dapat menuntaskan misinya!
Nammyohorengekyo.

Pomda

Terima kasih Gohonzon,
karena presentasi makalahku berjalan lancar,
meskipun tak terlampau banyak yang kuketahui tentang G8.

Terima kasih karena Bp. Robinson,
dosen bahasa indonesia-ku tak datang,
sehingga bisa latihan panjat tebing di Stisipol Candradimuka.
Padahal, seharusnya rugi dong 🙂
Seirama dengan yang disampaikan oleh Bp. Ali setiap kali
kuliah Reading Comprehension,
bahwa seharusnya mahasiswa merasa dirugikan!

Rencananya, aku akan turun di POMDA untuk panjat tebing ganda campuran.
Namun, sejujurnya, fisikku, terutama kekuatan tangan tak sekuat yang
diperlukan untuk memenangkan lomba.
Ya, aku memang selalu menghindari kompetisi.
Apa ini yang namanya kalah sebelum berperang?

Terima kasih atas hari ini,
terima kasih karena seusai kuliah,
aku bisa tetap bertukar pikiran dengan Bp. Ali, selama 30 menit.
Setiap kali kami berdialog,
aku selalu mendapatkan masukan2 yang sangat berharga.
Terima kasih, Bp. Ali.

Target esok hari,
adalah harus bimbingan Bab I dengan Pak Hendra.
Harus tercapai!
Skripsiku adalah prioritas utama!

Besok pun, Yang Arya Bikhu Watanabe dan Bp. Pontoh datang ke Palembang.
Dan aku sudah berencana untuk izin kuliah jam pertama untuk bisa mengikuti pertemuannya 🙂