Bertemu dengan sang proses

3 bulan telah berlalu. Semua terjadi begitu cepat. Gagal wisuda bulan April. Bekerja part-time di perpustakaan kampus, bla…bla…bla…

Sang proses berawal dari 1 minggu lalu, ketika saya iseng-iseng melamar kerja di perpus, eh… ternyata diterima. Di balik penerimaan kerja itu, ada cerita yang sangat menarik dan menguak luka batin yang telah lama terkubur. Kembali, hati kepercayaan (baca: iman) saya diuji.

5 tahun lalu, pada bulan Mei 2003, saya memutuskan untuk mengenal Budhisme Nichiren Daishonin. 1 tahun berikutnya, saya memutuskan untuk meninggalkan Katolik setelah 9 tahun bergelut dengan-Nya, setelah menerima Sakramen Permandian dan Penguatan.
Dosakah saya? Murtad-kah saya?

Pada kegiatan Retret kelas 3 SMA, saya pernah mendengarkan kesaksian seorang suster. Beliau adalah muslim dan panggilan iman-lah yang mengantar beliau menjadi seorang biarawati.
Pada kasus ini, muslim menganggap sang suster murtad, tetapi katolik menyambut gembira kedatangan saudara barunya.

Bagaimana dengan saya? Apa yang dikatakan oleh katolik dan budhisme terhadap saya? Apakah manusia berhak menghakimi manusia lainnya atas hal-hal yang mereka sendiri tak tau?

Selama 1 tahun waktu itu, saya benar-benar down. Terlalu banyak masalah, terutama yang berhubungan dengan ‘gangguan-gangguan tak kelihatan’, yang katanya halusinasi dan juga pencarian saya terhadap kebenaran hidup. Tetapi saya sembuh melalui Budhisme.

Pergulatan batin ini terus berlanjut sampai sekarang. Saya tak bisa lepas 100% dari dunia katolik. Lingkungan, teman-teman, kuliah, semua kehidupan saya dikelilingi oleh orang-orang katolik. Di mana tempat saya? Semua hal tersebut seringkali membuat keraguan dan kesedihan yang mendalam di hati saya.

Tak ada cara lain selain berdaimoku (baca: berdoa). Saya selalu memegan prinsip 4G (Gohonzon, Gongyo, Gosho, Guidance of Sensei) untuk menguatkan hati kepercayaan saya hari demi hari. Benar-benar saya belum menemukan cara lain untuk tetap berada di jalur yang telah saya pilih ini!

Sebuah Gosho, yang dikutip dari Majalah Soka Spirit, perihal Perbincangan antara Arif Bijaksana dan Orang Bodoh, telah memperbarui kembali tekad saya untuk berjuang terhadap pemahaman Budhisme yang benar!

Baik dalam dunia sekuler maupun agama, sejelas yang terlihat, orang baik adalah langka sementara orang jahat jumlahnya banyak. Jika demikian, mengapa Anda bersikeras untuk merendahkan yang sedikit dan mendukung yang banyak? Debu dan pasir sangat berlimpah, namun beras dan biji-bijian adalah jarang. Kulit kayu tersedia dalam jumlah besar, sedangkan rami dan kain sutera sulit didapatkan. Anda harus mengutamakan kebenaran ajaran di atas segalanya; tentu Anda tidak seharusnya mendasarkan penilaian Anda pada jumlah pengikut“.

Maka, saya menerima proses tersebut, yang dianggap sebagai jalan yang harus saya tempuh! Saya juga ingin melihat hasil akhir dari proses ini! Gohonzon, berilah saya kekuatan untuk sekali lagi mengatasi tantangan ini! Nam-myoho-renge-kyo 3x

Siapa yang percaya bahwa hidup kita diatur?

Siapa yang percaya bahwa hidup kita diatur?
Tuhan, siapa itu, apa itu?
Yang mengatur kehidupan kita,
diri kita atau kekuatan luar atau kombinasi dari keduanya?

Nasib, karma,… apalagi itu?

.N A S I B.
dibentuk dari: Pikiran – Perkataan – Perbuatan – Kebiasaan – Watak – NASIB

Dalam Majjhima Nikaya 135, Buddha Sakyamuni mengatakan, bahwa:

Semua makhluk adalah:

  • Pemilik karmanya sendiri
  • Pewaris karmanya sendiri
  • Lahir dari karmanya sendiri
  • Berhubungan dengan karmanya sendiri
  • Terlindung oleh karmanya sendiri

Perbuatan menentukan apakah seseorang itu hina atau mulia.

Dari pasase tersebut, saya mulai belajar bahwa kita adalah arsitek diri kita sendiri, kita adalah nahkoda kapal kita sendiri! Kita yang menentukan kebahagiaan kita sendiri! Kau adalah apa yang kau pikirkan!

Sejak dahulu, saya mencari tau apa itu agama, bagaimana menyikapinya dan agama seperti apa yang harus saya anut.

Agama itu kita yang memilih, atau malahan kita yang dipilih sebagai penganutnya?

Hal-hal semacam inilah yang mendorong saya dalam menciptakan blog pribadi!! Dahulu, saya suka sekali menulis buku diary, namun pegal2 juga tangan saking banyaknya ungkapan hati.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya mampu menumpahkan seluruh isi hati saya pada blog ini!

I give my very best to help all of my friends and my visitors to have a happy life through out my blog! I appreciate with your comment and i hope we can share each other about anything that can help develop ourself. Thank you very much, friends 🙂

hehehe mungkin saat ini kita beranggapan bahwa membahagiakan diri sendiri saja sulit, lho koq ini orang bercita-cita membahagiakan orang lain? Segera hilangkan pikiran yang terlintas dalam benakmu sekarang juga!

Dari Gosho Zenshu, pg 761, tertulis: “Joy means that both oneself and others experience joy“.

Dari Gosho tersebut, Ikeda Sensei, memberi bimbingan, sbb: “When we transcend self-centeredness and pray for our friends, for all people, we will be able to build an eternal palace within our lives“.

Baiklah, teman. Kebahagiaan yang didapat dengan membantu orang lain pasti akan menjadikan diri kita lebih bahagia. Memang sulit untuk sampai ke tahap berpikir seperti itu.

So, mari kita sama-sama belajar dan berbagi pengalaman spiritual kita dalam blog ini. Mari kita memulai pertualangan pikiran ini dengan bahagia!